"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN DAN PENYELAMATAN
Lima pria bertopeng berdiri menghalangi pintu kereta dengan senjata tajam terhunus mengancam. Suasana menjadi sangat tegang dalam sekejap. Di dalam kereta, Lucian dan Cassian langsung mengambil posisi melindungi para wanita di belakang mereka dengan tubuh mereka sendiri.
"Keluar sekarang, atau kami paksa dengan cara yang tidak menyenangkan!" bentak salah satu pria bertopeng dengan suara yang sengaja dibuat serak dan mengancam.
Cassian melangkah maju dengan perlahan, tangannya terangkat dalam gerakan yang terlihat damai tapi matanya sangat waspada, terus mencari celah untuk menyerang balik.
"Kalian tahu siapa kami? Kalian berani menyerang pangeran kerajaan secara langsung?! " Sentaknya pada para komplotan itu.
Pria bertopeng itu tertawa dengan nada yang sangat sinis dan mengerikan. "Kami justru sangat tahu siapa kalian semua. Makanya kami ada di sini sekarang."
Catharina mengamati situasi dengan sangat cepat dan teliti. Lima penyerang yang terlihat terlatih, dua pria yang bisa melawan dengan baik, tiga wanita yang harus dilindungi. Tapi tunggu, di sabuk Seraphina ada pisau kecil yang selalu dibawanya sebagai perlindungan. Dan Victoria pernah bercerita bahwa dia belajar teknik pertahanan diri dari instruktur terbaik.
"Victoria, Seraphina," bisik Catharina sangat pelan sampai hampir tidak terdengar. "Bersiaplah. Saat mereka lengah sedikit saja, kita lawan balik dengan sekuat tenaga."
Victoria mengangguk hampir tidak terlihat sama sekali. Seraphina juga sudah diam-diam meraba gagang pisau kecil di sabuknya.
"Atasan kami sangat tidak suka dengan kampanye kalian yang terlalu berisik dan mengganggu itu," ujar pemimpin penyerang sambil melangkah lebih dekat dengan gerakan yang penuh ancaman. "Jadi kami mendapat tugas khusus untuk membuat kalian semua diam selamanya."
"Alexander yang menyuruh kalian melakukan ini," ujar Cassian bukan dengan nada bertanya, tapi menyatakan fakta yang sudah ia yakini.
"Kami tidak tahu siapa orang itu. Kami hanya mengikuti perintah yang diberikan dan dibayar dengan baik."
Bohong besar. Catharina bisa melihat dengan jelas mata pria itu berkedip cepat saat Cassian menyebut nama Alexander. Jadi ini memang serangan yang diperintahkan langsung.
Tiba-tiba, salah satu penyerang meraih lengan Catharina dengan sangat kasar sampai menyakitkan. Lucian langsung bereaksi dengan cepat seperti kilat, meninju pria itu tepat di rahang dengan kekuatan penuh. Pria bertopeng itu terhuyung ke belakang dengan mulut berdarah.
Dan kekacauan dimulai seketika.
Cassian langsung menyerang dua penyerang terdekat dengan gerakan yang sangat terlatih dan presisi tinggi. Lucian bertarung dengan satu penyerang yang mencoba menarik pedangnya dari sarung. Victoria menendang sangat keras selangkangan penyerang yang mencoba menangkapnya dengan kasar. Seraphina menusuk tangan penyerang lain dengan pisau kecilnya sampai pria itu berteriak kesakitan.
Catharina, yang di kehidupan lamanya pernah mengikuti kelas taekwondo untuk pertahanan diri selama beberapa tahun, langsung menendang sangat keras lutut penyerang yang paling dekat dengannya. Pria itu berteriak kesakitan dan jatuh terduduk.
Tapi lima lawan lima tetap saja tidak seimbang karena para penyerang jauh lebih terlatih dalam pertempuran dan bersenjata lengkap dengan pedang tajam.
Pemimpin penyerang meniup peluit yang menggantung di lehernya dengan keras. Dari balik pepohonan gelap, muncul lima penyerang lagi dengan senjata yang sama mengancamnya.
"Sial!" umpat Cassian dengan keras sambil terus bertarung melawan dua penyerang sekaligus.
Mereka mulai kewalahan dengan cepat. Lucian sudah berdarah cukup banyak di lengan kanannya. Cassian terkena sayatan yang cukup dalam di pipi kirinya. Victoria terbentur sangat keras ke badan kereta saat menghindari ayunan pedang yang hampir mengenai lehernya.
Catharina merasakan kepanikan mulai naik dengan sangat cepat di dadanya. Ini bukan lagi sekadar permainan politik yang bisa diatur. Ini nyawa mereka semua yang benar-benar dipertaruhkan.
Tapi tiba-tiba, suara derap kuda terdengar dengan sangat jelas dari kejauhan. Sangat cepat dan jumlahnya sangat banyak.
"Mundur sekarang! Ada bantuan besar datang!" teriak pemimpin penyerang dengan nada yang mulai panik.
Para penyerang langsung kabur ke dalam hutan gelap dengan sangat cepat dan terorganisir. Dalam hitungan detik saja, mereka semua sudah menghilang tanpa jejak.
Sekelompok ksatria berkuda itu tiba dengan kecepatan tinggi. Di paling depan, Catharina mengenali sosok yang sangat familiar. Duke Raphael dengan armor lengkap yang berkilau, diikuti oleh puluhan ksatria yang membawa lambang keluarga Nightshade dengan jelas.
"Kalian semua baik-baik saja?!" teriak Raphael sambil turun dari kuda dengan cepat dan berlari menghampiri mereka dengan wajah penuh kekhawatiran.
Lucian menopang Catharina yang lututnya tiba-tiba lemas karena adrenalin yang tiba-tiba turun drastis. "Kami selamat semua. Terima kasih sudah datang tepat waktu."
Raphael menatap Cassian yang wajahnya berlumuran darah dari sayatan di pipinya. "Aku mendapat informasi dari mata-mataku yang ada di dalam bahwa ada rencana serangan terhadap kalian. Aku langsung membawa ksatria-ksatriku kemari secepat yang bisa kami lakukan."
"Mata-matamu?" tanya Cassian dengan napas yang masih terengah-engah.
"Aku punya beberapa orang yang sangat terpercaya di dalam lingkaran Alexander. Mereka loyal padaku secara pribadi, bukan padanya." Raphael memerintahkan beberapa ksatrianya dengan tegas untuk mengejar para penyerang yang melarikan diri ke hutan. "Kita harus segera membawa kalian semua ke tempat yang aman. Sekarang juga."
Tidak ada satu orang pun yang protes. Mereka semua naik kuda bersama ksatria Raphael dan bergerak dengan sangat cepat menuju kediaman Nightshade yang letaknya paling dekat.
***
Di kediaman Nightshade, dokter segera dipanggil dan merawat luka-luka mereka dengan sangat hati-hati. Untungnya tidak ada yang terluka parah atau mengancam nyawa. Beberapa sayatan yang cukup dalam, memar di berbagai tempat, dan shock psikologis. Tapi mereka semua berhasil selamat.
Catharina duduk di ruang perawatan dengan perban bersih di lengannya sementara Lucian duduk di sampingnya dengan lengan yang baru saja dijahit dengan rapi. Victoria punya lebam yang cukup besar di punggungnya yang membuatnya sedikit kesulitan bergerak. Seraphina paling beruntung dengan hanya goresan kecil di tangan kirinya.
Cassian dan Raphael berdiri di depan perapian yang menyala hangat, berdiskusi dengan wajah yang sangat serius.
"Ini sudah melewati batas yang bisa ditoleransi," ujar Raphael dengan kemarahan yang sangat jelas di wajahnya. "Alexander benar-benar sudah menyewa pembunuh bayaran untuk menyerang kalian semua!"
"Apa kita punya bukti yang cukup kuat?" tanya Cassian dengan nada yang sangat serius.
"Salah satu penyerang berhasil ditangkap oleh ksatriku. Dia sudah mengaku dengan jelas dibayar oleh Fuke Blackwood, tangan kanan Alexander yang paling dipercaya."
Cassian mengepalkan tinjunya dengan sangat kuat sampai buku-buku jarinya memutih. "Akhirnya kita punya bukti konkret yang tidak bisa dibantah."
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Victoria dengan suara yang sedikit parau.
Cassian menatap semua orang yang ada di ruangan dengan tatapan yang sangat berbeda dari biasanya. Wajahnya yang biasanya hangat dan penuh senyum main- main sekarang terlihat sangat keras dan penuh tekad yang membara.
"Besok pagi, aku akan menghadap dewan dengan membawa semua bukti ini. Aku akan secara resmi menantang klaim Alexander untuk tahta. Dan aku akan mengungkap semua yang sudah dia lakukan dengan sangat detail."
"Ini akan menjadi perang terbuka yang sangat sengit," ujar Seraphina dengan kekhawatiran yang jelas di wajahnya.
"Perang sudah dimulai sejak dia memerintahkan serangan ini terhadap kita," jawab Cassian dengan nada yang sangat tegas. "Bedanya sekarang, aku tidak akan bermain bertahan lagi. Aku akan berjuang untuk tahta dengan segala yang aku miliki."
Catharina berdiri dengan sedikit susah payah, meski tubuhnya masih terasa sakit di mana-mana. "Dan kami semua akan berjuang bersamamu dengan sepenuh hati."
Satu per satu, yang lain juga berdiri meski dengan gerakan yang sedikit kaku. Lucian dengan lengannya yang diperban, Victoria dengan punggung yang memar, Seraphina dengan tangan yang digores, bahkan Raphael yang berdiri dengan armor yang masih melekat di tubuhnya.
"Untuk kerajaan yang jauh lebih baik," ujar Victoria dengan suara yang penuh tekad.
"Untuk masa depan yang jauh lebih adil bagi semua orang," tambah Seraphina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Untuk rakyat yang sangat layak mendapat pemimpin yang benar-benar baik," ujar Lucian dengan mantap.
Raphael mengangkat gelas anggurnya yang berisi cairan merah pekat. "Untuk Pangeran Cassian, calon Raja yang sebenarnya dan yang paling layak."
Mereka semua menyatukan gelas mereka di udara, membuat perjanjian yang sangat serius di malam itu.
Esok hari, pertempuran yang sesungguhnya akan dimulai dengan sangat sengit.
Dan mereka semua siap menghadapinya dengan kepala tegak.
Bersama-sama, apa pun yang akan terjadi.
***
Malam semakin larut dan semakin dingin. Satu per satu mereka beristirahat di kamar tamu yang disediakan dengan sangat baik oleh Raphael. Tapi Catharina tidak bisa tidur sama sekali. Pikirannya terus berputar tanpa henti tentang kejadian yang hampir merenggut nyawa mereka tadi malam.
Dia berjalan ke balkon kamar dengan langkah pelan dan menatap langit malam yang penuh dengan bintang yang berkilauan.
"Tidak bisa tidur juga?"
Catharina menoleh dengan cepat. Lucian berdiri di pintu balkon dengan lengan yang masih diperban dengan rapi.
"Terlalu banyak yang terjadi dalam satu hari ini," jawab Catharina sambil tersenyum tipis yang sedikit dipaksakan.
Lucian berjalan mendekat dengan pelan dan memeluk Catharina dari belakang dengan lembut, dagunya bertumpu dengan nyaman di pundak Catharina.
"Aku sangat takut kehilanganmu tadi," bisiknya dengan suara yang sangat pelan dan bergetar. "Saat penyerang itu meraih lenganmu dengan kasar, aku merasa seluruh duniaku hampir runtuh dalam sekejap."
Catharina berbalik dalam pelukan Lucian dengan gerakan yang sangat hati-hati, menatap dalam mata pria yang dicintainya itu.
"Tapi kita berhasil selamat. Kita masih di sini, masih bernapas, masih bersama."
"Kali ini kita beruntung. Tapi lain kali, kita mungkin tidak akan seberuntung ini lagi."
"Maka kita harus jauh lebih hati-hati dari sekarang. Dan kita harus menang dengan sangat cepat sebelum Alexander punya kesempatan untuk menyerang lagi dengan cara yang lebih berbahaya."
Lucian mencium kening Catharina dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. "Setelah semua kekacauan ini selesai, setelah Cassian resmi menjadi Raja dan kerajaan akhirnya aman, aku ingin kita segera menikah. Aku tidak mau menunda lagi, bahkan sehari pun."
"Aku juga. Aku sangat ingin menjadi istrimu yang sah. Ingin memulai hidup baru kita bersama-sama."
"Janji padaku?"
"Aku berjanji dengan sepenuh hati."
Mereka berdiri di balkon yang dingin, saling berpelukan dengan erat di bawah langit yang penuh bintang yang berkilauan, saling menyalurkan kekuatan dari cinta mereka yang sangat dalam untuk menghadapi badai yang pasti akan datang.
***
BERSAMBUNG