Kisah putri Prince Richard Carrington dan Princess Alisha Léopold
Zayn selalu percaya cerita Putri dan Kacang Polong untuk mencari putri yang tulus tapi tidak percaya gadis-gadis jaman sekarang. Akhirnya dia memakai sayembara mencari pasangannya. Naasnya saat dia sudah mengadakan sayembara, Zayn kecelakaan. Di hari H nya, semua princess yang diundang langsung menatap sinis ke Zayn. Kecuali Anette Carrington. Princess Inggris dan Belgia itu pun menerima lamaran Zayn.
Dari merasa iba, Anette dan Zayn jatuh cinta. Namun hubungan mereka terancam saat rahasia besar Zayn mulai terungkap. Bagaimana sikap Anette ke suaminya?
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegasan Sheikha Maryam
"Aisyah!"
Aisyah yang sedang bekerja di depan laptopnya, menoleh ke ibu mertuanya. Sheikha Maryam tidak akan pernah datang ke sayap tempat tinggalnya kalau tidak ada kepentingan.
"Umi ...."
"Umi mau bicara sama kamu!" ucap Sheikha Maryam dingin.
Aisyah pun menghampiri Sheikha Maryam dan wanita paruh baya itu mengajak Aisyah ke dalam ruang kerja Zafar.
Hawa menutup pintu dan memberikan kesempatan ibu mertua dan menantu itu berbicara empat mata.
Sheikha Maryam langsung duduk di kursi kerja Zafar sementara Aisyah tetap berdiri di depan meja kayu itu.
"Kamu kan? Yang menyuruh Ali meletakkan piring milik Zayn ke Anette? Kamu tahu Anette alergi nanas dan kamu sengaja bukan?" tembak Sheikha Maryam dingin. Nadanya terdengar tegas dan sorot matanya tajam.
"Siapa yang bilang?" jawab Aisyah mengelak.
"Tidak ada tapi Umi tahu! Kamu sengaja kan Aisyah?" Sheikha Maryam bertanya dengan nada tinggi.
"Kok Umi nuduh saya sih! Umi memang lihat?"
"Hei! Memang Umi tidak melihat! Tapi kamu lupa, semua ruangan ada CCTV kecuali kamar tidur dan kamar mandi! CCTV kami canggih, ya Aisyah! Dan Umi bisa mendengar semuanya!" bentak Sheikha Maryam.
Aisyah memucat.
"Apa sih masalah kamu dengan Anette? Baru dua hari Anette menikah dengan Zayn, kamu sudah kelihatan benci! Ada apa? Apa Anette menyenggol kamu?"
Aisyah menggigit bibir bawahnya.
"Apa? Kamu cemburu? IYA?" bentak Sheikha Maryam. "Kamu cemburu apa sih? Zafar yang akan menggantikan Abinya! Kamu akan jadi Sheikha Abu Dhabi! Apa?"
"Ini! INI YANG AKU TAKUTKAN! UMI LEBIH MEMILIH PUTRI YANG TIDAK BISA BAHASA ARAB ITU!" balas Aisyah.
"Anette memang tidak bisa bahasa Arab tapi dia bisa bahasa Perancis, Jerman, Belanda, Italia, Gaelic, Jepang dan Indonesia. Kamu? Bisa bersaing?" balas Sheikha Maryam pedas. "Kalau hanya bisa bahasa Arab, Anette bisa belajar! Anette bisa mengaji! Anette bisa baca huruf Hijaiyah! Kamu? Selain Arab dan Inggris, kamu bisa bahasa apa lagi?"
Aisyah terdiam.
"Kalau kamu mau tidak tersaingi, jadilah orang baik! Bukan menjatuhkan diri kamu sendiri jadi berperilaku rendah seperti itu! Kamu itu dokter anak, kamu punya karier! Anette melepaskan karier nya di Inggris demi Zayn! Lihat perbedaannya!" Sheikha Maryam pun berdiri. "Kalau kamu masih kamu masih mau menjadi menantu aku, jaga sikap kamu! Ini peringatan pertama dan terakhir!"
Sheikha Maryam pun berjalan keluar, meninggalkan Aisyah yang terdiam. Dia menoleh ke arah pintu yang terbuka dan matanya tampak kesal.
Tidak mungkin Sheikha Maryam akan melepaskan aku dari istri Zafar. Aku akan mempertahankan posisiku!
***
Kamar Zayn dan Anette
"Salah Net. Bacanya ما ھی جنسیتک؟
maa hiya jinsiyyatuka, apa kebangsaan kamu," ucap Zayn membetulkan lafal Anette saat mereka berada di dalam kamar.
Anette membaca ulang dan Zayn tersenyum senang karena sudah benar.
"Jadi kalau ini macam kamu baca ayat Al Qur'an ... Ma nya agak panjang bacanya," senyum Zayn.
"Perasaan dimana-mana suami istri itu sebelum tidur ada pillow talk, bukannya belajar bahasa Arab," kekeh Anette sambil memegang iPadnya.
"Lho ini termasuk pillow talk, sayang ... Dengan versi anti mainstream," cengir Zayn.
"Kira-kira besok kak Aisyah berulah apalagi ya?" gumam Anette.
"Kamu kok senang perang terbuka?" goda Zayn.
"Seru lho!"
Zayn mencium pucuk kepala Anette. "Jangan bar-bar, kalem saja. Oke?"
Anette mengangguk. "Terima kasih kamu ingat alergi aku."
"Nanas, anggur dan bawang goreng. Sebenarnya apa enak bawang goreng?" tanya Zayn.
"Aku lebih cenderung tidak doyan kalau bawang goreng tapi kalau bawang merah mentah, aku doyan! Apalagi kalau dimakan sama sate kambing dengan bumbu kecap dan merica ... Yummmyyyy!" Anette memainkan lidahnya di bibir.
"Kamu mau sate kambing?"
"Versi Jawa. Liburan Natal kemarin, aku dan mas Brayden dan mbak Adrienne, jalan-jalan ke Solo. Kita menikmati sate kambing yang berbeda di Eropa dan Timur Tengah."
Zayn menatap Anette dengan penasaran. "Memang ada yang lebih enak dari olahan kambing disini?"
"Mau aku buatkan? Aku sudah dapat resepnya," kerling Anette. "Nanti kamu akan tahu, kenapa masakan kambing di Indonesia lebih enak!"
"Jadi kamu mau adu rasa?"
"Why not Zayn?" cengir Anette. "Aku masih ada darah Jawa lho."
"Oke, besok buktikan!"
"Siapa takut?"
Zayn mencium bibir Anette. "Maaf, aku belum bisa menunaikan kewajiban aku sebagai suami."
"Apakah tadi saat kita berciuman di kursi roda kamu, punyamu berdiri?" tanya Anette serius. "Bukan maksud gimana tapi ... Jika kamu bisa responsif, berarti itu pertanda yang bagus."
Zayn menggeleng lemah. "Sayangnya ... Tidak terlalu ...."
"Tapi itu bagus Zayn! Kamu terpengaruh tadi dan semua adrenalin serta syaraf kamu berkesinambungan."
Zayn menatap wajah serius Anette. "Oke, aku sedikit bingung dengan kalimat kamu tapi intinya itu tanda yang bagus kan?"
Anette mengangguk. "Pelan-pelan ya Zayn. Insyaallah kamu akan sembuh dan bisa berjalan kembali."
Zayn memeluk erat Anette. "Terima kasih atas dukungan kamu."
"Sama-sama."
***
Keesokan paginya, Anette datang ke dapur istana untuk meminta disiapkan bahan sate kambing versi dirinya. Para pelayan disana auto minta maaf kepada Anette yang sebenarnya sudah melupakan insiden kemarin.
"Tidak apa-apa, wajar kalau berbuat kesalahan tapi jadi poin penting agar tidak mengulangi lagi," senyum Anette.
"Terima kasih Lady Anette. Saya sungguh menyesal hampir membuat anda celaka," ucap Ali yang kena semprot oleh kepala pelayan dan Farouk.
"Sudah ... tidak apa-apa. Kamu kan hanya menjalankan perintah. Jadi sekarang, aku butuh daging kambing segar! Apa ada stok?" Anette menatap semua orang di dapur.
***
"Anette kemana Zayn?" tanya Sheikh Muhammad saat melihat putranya tanpa istrinya.
"Anette ke dapur, Abi," jawab Zayn yang hanya bersama Habas dan Farouk di teras belakang untuk bekerja.
"Ngapain? Bukankah sudah ada koki istana dan tim nya?"
"Apa Abi tahu, Anette suka masak?" senyum Zayn.
Sheikh Muhammad bin Abdul Azis melongo. "Serius?"
"Abi, sepupunya itu Chef Arletta Peterson jadi wajar kalau sudah biasa masak dari kecil. Kan RR'S Meals di London punya keluarga Anette."
Sheikh Muhammad bin Abdul Azis hanya menggeleng. "Dia Lady yang ... Langka, Zayn."
Zayn tersenyum bangga.
"Kalau sudah jadi, Abi mau mencicipi ya?" ucap Sheikh Muhammad bin Abdul Azis.
"Iya Bi."
Suara pintu dibuka kasar, membuat ayah dan anak itu menoleh. Pintu ruang kerja ibunya tampak terbuka dengan kasar dan Zafar keluar dengan wajah gusar.
"Umi kenapa lagi itu?" tanya Zayn. Dirinya belum pernah melihat Zafar tampak segusar dan semarah itu dari ruang kerja ibunya.
"Biar Abi temui Umi. Pasti ada ribut dengan kakak kamu." Sheikh Muhammad pergi ke ruang kerja ibunya dengan cemas.
***
Yuhuuu up Siang yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Aq sotoy
moga kamu bisa introspeksi diri dan masih bisa bertemu anakmu kelak
Betapa sakitnya hati Zafar
makanya jadi orang jangan seralah😅😅😅