Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noda Lipstik Siapa?
Setelah perdebatan panjang tadi di rumah sakit, mereka tak saling sapa saat di dalam mobil taksi yang dipesan Sarah. Hingga mereka tiba di depan rumah Arjuna, Sarah masih tetap diam dan memilih keluar lebih dulu, membiarkan Aiza repot sendiri karena harus memindahkan Warih ke kursi roda.
Aiza mendorong pelan kursi roda Warih menuju ke teras rumah mewah itu. Senyumnya begitu lebar, merasa bahagia karena bisa membawa sang nenek bersamanya. Namun Agatha tiba-tiba mencegat Sarah yang berjalan lebih dulu di depan mereka. Tatapannya menatap ke arah Aiza dengan tatapan tajam. Namun Aiza memilih tak memperdulikan itu, ia menghampiri Agatha, berniat menyalami mertuanya itu.
“Ma," sapa Aiza. Ia ingin meraih tangan Agatha untuk ia cium, tapi wanita itu dengan angkuhnya menepis kasar tangan sang menantu.
"Nggak usah sok akrab! Ini maksudnya apa? Kenapa bawa menek kamu kesini?” Tatapannya begitu sinis.
Aiza tetap membalasnya dengan senyuman ramah. “Iya, Ma. Rencananya mbah akan tinggal di sini supaya Aiza bisa mengurus mbah 24 jam."
“Apa?!" Agatha lantas terkejut. “Saya nggak salah denger? Kamu mau bawa masuk orang kampung ini ke rumah saya? Atas izin siapa?" tanyanya angkuh.
“Aiza….satu kamu aja udah bikin saya alergi, apalagi ini kamu mau nambah satu lagi. Saya nggak setuju!"
“Bu Agatha….."
Warih yang tak terima cucunya diperlakukan seperti itu pun hendak protes, tapi ia mendapatkan gelengan dari Aiza yang membuatnya menghentikan ucapannya.
“Tapi, Ma, Aiza sudah dapat izin dari papa kok," jawab Aiza.
“Tapi saya enggak! Kalau kamu mau masuk, silahkan tunggu suami saya pulang dari kantor!”
"Ma, tidak bisa begitu dong, Ma!” Agatha hendak pergi, namun Aiza mencekal tangannya.
"Kamu ini apa-apaan sih? Lepaskan saya! Sarah! Tolong urus keponakan kamu ini! Jangan selalu bikin saya pusing!”
Sarah yang begitu patuh pada majikannya itu pun langsung menuruti perintah Agatha, mendekati Aiza dan memegangi gadis itu.
Aiza menoleh pada Sarah dengan tatapan memelas. “Bi….bantu Aiza buat bujuk mama Agatha ya," mohon Aiza.
“Sudahlah, Aiza. Lebih baik kita ngalah saja. Kita bawa pulang mbok ke kampung," bisik Sarah pelan.
“Ndak bisa begitu dong, Bi. Nanti di sana siapa yang rawat mbah?”
"Ya terserah, dari pada nyonya marah,” bisik Sarah.
Mereasa tak mendapat solusi dari Sarah, Aiza hendak berbalik dan mengutarakan lagi keberatannya pada Agatha, namun kedatangan mobil Arjuna membuat ia mengurungkan niatnya.
Pria itu mendekat dan langsung menangkap aroma perdebatan di sana.
"Ada apa ini?” tanyanya. Tatapan dinginnya seolah menyapu satu persatu orang-orang yang ada di sana dan berhenti tepat pada Aiza.
Hanya sekilas, setelahnya ia menatap Agatha seakan meminta penjelasan.
“Ini loh, Jun, istri kamu. Bisa-bisanya dia bawa neneknya ke rumah kita. Mama nggak mau tau ya, tuh nenek-nenek nggak boleh masuk ke rumah. Titik!”
Agatha melengos, memasang wajah angkuhnya lalu pergi.
Arjuna hendak melangkah, dia tak berbicara sepatah katapun, namun Aiza langsung memegang ujung kemejanya.
"Mas, Aiza mohon, izinkan mbah tinggal di sini ya,” mohonnya.
“Kamu nggak denger mama bilang apa?" katanya terdengar datar.
“Tapi aku nggak tega, Mas, kalau mbah tinggal sendirian di kampung.”
Pria itu memejamkan mata frustasi.
"Terserah kamu aja. Bawa dia ke ruang belakang bersama Sarah. Tapi ingat! Jangan sekali-kali bawa dia ke rumah."
Tanpa ingin mendengar ucapan Aiza selanjutnya, Arjuna pun langsung meninggalkan mereka dan masuk ke rumah.
Aiza menatap Warih dengan tatapan sedih. Dia tak tega harus meninggalkan Warih di ruang belakang, yang dimana ruangan itu khusus ruangan pembantu.
“Sudah, Nduk, ndak papa. Mbah bisa tidur sama Sarah. Kamu jangan khawatir, turuti saja suamimu."
“Tapi, Mbah. Ruang belakang itu cukup jauh, Aiza ndak akan dengar kalau Mbah panggil. Gimana kalau nanti Mbah butuh apa-apa?"
Warih meraih tangan Aiza, menggenggamnya dengan penuh keyakinan.
“Kan ada Bibimu, Nduk. Mbah akan aman di sana."
Setelah melihat keyakinan di mata Warih, Aiza akhirnya setuju untuk melepas Warih bersama Sarah.
“Tolong jaga Mbah yo, Bi. Perhatikan makan dan obatnya," pesan Aiza.
“Hem," jawab Sarah singkat. Setelahnya, Sarah pun membawa Warih bersamanya, dibantu Aiza yang juga mengantarkan Warih.
Usai memastikan Warih aman bersama Sarah, Aiza pun kembali ke rumah besar itu. Ia kembali ke kamar dan tak mendapati suaminya di sana. Namun pakaian yang berserakan dan suara gemercik air dari dalam kamar mandi itu sudah bisa dipastikan kalau Arjuna sedang mandi.
Aiza tersenyum tipis menatap pintu kamar mandi yang tertutup itu, lalu beralih menatap pakaian yang berserakan di lantai.
Setelah memungut pakaian itu, Aiza pun membawanya untuk ia cuci.
Ketika ia membuka kemeja putih suaminya, ia terkejut melihat ada noda merah yang menempel di kerah kemeja itu.
Aiza memperhatikannya dengan seksama. Itu bukan noda merah biasa, melainkan noda dengan bentuk bibir yang terlihat begitu jelas.
Aiza menutup mulutnya karena syok, matanya mulai berkaca-kaca setelah menyadari bahwa noda itu adalah noda lipstik.
Tanpa pikir panjang, Aiza langsung membawa kemeja itu pada Arjuna, berniat menanyakannya. Dan kebetulan saat itu Arjuna baru selesai mandi. Ia menatap sinis pada Aiza yang menatapnya aneh.
“Mas, kita perlu bicara," katanya langsung to the points.
Arjuna tak menggubris, ia hanya menatap sinis. Namun Aiza tak peduli, dia akan tetap menanyakan hal yang mengganjal di hatinya itu.
"Mas, ini noda lipstik siapa yang ada di kemeja kamu?” Aiza lantas memperlihatkan noda yang ia maksud.
Arjuna hanya menatap sekilas. Wajahnya datar seperti tanpa rasa bersalah.
"Untuk apa kamu menanyakan itu? Nggak penting.”
Pria itu hendak melengos pergi, tapi Aiza langsung memeluk pinggang Arjuna.
"Mas tolong jawab aku! Apa kamu bersama wanita lain di luar sana? Kalau memang benar, apa alasan kamu melakukan itu? Kamu punya aku yang halal untukmu, Mas. Mas bisa meminta hakmu sekarang kalau Mas mau." Air matanya sudah luruh karena dada yang terlalu sesak. Namun Arjuna terlihat tak peduli. Pria itu malah menghempas kasar tangan Aiza dari tubuhnya.
Pria itu berbalik menatap Aiza dengan tatapan tajamnya.
“Kamu tidak berhak menanyakan hal pribadi saya! Jangan sok nyonya kamu. Dasar wanita kampung!" Arjuna menyeringai, menatap Aiza dari ujung kaki hingga kepala. “Dan kamu bilang apa? Ingin memberikan hakku? Bahkan kau tanpa busana sekalipun, aku tidak sudi menyentuhmu! Dengar itu."
Setelahnya Arjuna langsung pergi. Menutup pintu kamar itu dengan keras sehingga membuat bahu Aiza terjingkat.
Hati Aiza hancur. Bak tersambar petir di siang hari ketika mendengar ucapan sang suami. Aiza sungguh tak menyangka ucapan yang keluar dari mulut sang suami begitu tajam.
Aiza hanya bisa menangis. Ia terduduk pelan di tepi ranjang, mengusap dadanya yang begitu sesak.
“Ya Allah…. Luaskan lagi sabarku. Hamba tau ujian yang Engkau berikan ini adalah bentuk kasih sayang-Mu, hamba ikhlas ya Allah. Tapi hamba mohon, jangan biarkan jin Das1m mencoba merusak rumah tangga hamba."
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍