Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30- jemputan Arlan
Ban motor sport Arlan berdecit tajam saat ia berhenti mendadak di depan gerbang rumah Calista. Ia tidak turun, hanya membuka kaca helmnya sedikit dan membiarkan mesin motornya menderu rendah, seolah memanggil pemilik rumah untuk segera keluar.
Arlan melirik jam di pergelangan tangannya. "Sepuluh menit. Kalau dia nggak keluar, gue balik," gumamnya dingin. Ia sama sekali tidak berniat turun dari motor dan mengetuk pintu seperti cowok romantis di novel. Baginya, tugas ini hanya karena ancaman Bunda Nada yang ingin mencoretnya dari Kartu Keluarga.
Tak lama, gerbang terbuka. Aluna muncul dengan wajah yang tampak segar, sangat berbeda dengan kondisi Arlan yang telinganya masih berdenyut biru keunguan.
"Lama banget lo. Macet atau emang sengaja?" tanya Aluna sambil berjalan santai menuju motor.
Arlan tidak menoleh. Matanya lurus menatap jalanan di depan. "Naik. Nggak usah banyak tanya. Gue nggak punya waktu buat dengerin ocehan nggak berguna lo," jawabnya ketus, suaranya sedingin es di kutub utara.
Aluna mendengus kesal. "Dih, galak amat? Habis dikuliti ya sama Bunda?" Aluna sengaja mengintip ke arah telinga Arlan yang merah. "Wah, makin biru ya? Kasihan banget Ketua OSIS kita, di sekolah ditakutin, di rumah jadi sasaran jewer."
"Aluna," suara Arlan merendah, tanda peringatan. "Satu kata lagi keluar dari mulut lo, gue turunin lo di tengah jalan tol. Gue nggak peduli meskipun Bunda bakal ngamuk."
Aluna mencibir, tapi akhirnya ia naik juga ke jok belakang. Begitu duduk, Arlan langsung menyodorkan helm tambahan dengan kasar ke arah belakang tanpa melihat. "Pakai. Jangan manja minta dipakein."
Aluna memakai helm itu dengan dongkol. "Gue nggak minta dipakein juga kali! Dasar kulkas rusak!"
"Gue denger, Aluna," sahut Arlan datar. Ia kemudian menarik gas motornya tanpa aba-aba, membuat kepala Aluna tersentak ke belakang.
Di sepanjang jalan, Arlan benar-benar diam. Tidak ada percakapan, tidak ada basa-basi. Ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi, menyalip mobil dan truk dengan lihai namun dingin. Saat Aluna mencoba memulai pembicaraan, Arlan hanya menjawab dengan gumaman pendek "Hm" atau "Gak tahu".
Angin sore menusuk menembus jaket, tapi hawa di antara mereka berdua terasa jauh lebih dingin. Arlan sama sekali tidak berniat menurunkan kecepatan. Ia membelah jalanan dengan tatapan tajam yang fokus ke depan, seolah-olah Aluna yang ada di belakangnya hanyalah beban tambahan yang terpaksa ia bawa.
"Pelan-pelan bisa nggak sih?! Gue nggak mau mati konyol ya!" teriak Aluna sedikit keras agar suaranya menembus helm.
"Berisik," jawab Arlan singkat dan dingin. Bukannya melambat, ia justru semakin lincah meliuk di antara deretan mobil. Baginya, semakin cepat sampai di rumah, semakin cepat pula ia bisa lepas dari tugas menyebalkan ini.
Aluna mencengkeram besi belakang motor dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa ada cowok sekaku dan sekejam Arlan? Padahal mereka tinggal satu rumah, tapi Arlan memperlakukannya lebih buruk daripada orang asing.
"Lo bener-bener nggak punya perasaan ya, kak? Telinga lo biru itu kayaknya emang pantes, biar lo sadar kalau jadi orang jangan jahat-jahat banget!" cerocos Aluna lagi, emosinya sudah di ubun-ubun.
Arlan menarik rem secara mendadak saat lampu merah menyala, membuat tubuh Aluna hampir terdorong ke depan. Arlan menoleh sedikit ke belakang, hanya melalui kaca helmnya yang gelap. "Lo mau pulang dengan tenang, atau mau gue turunin di perempatan ini sekarang juga? Pilih mana?"
Nada suaranya tidak tinggi, tapi sangat mengancam. Aluna terdiam, nyalinya sedikit menciut melihat tatapan mata Arlan yang sangat tidak bersahabat. Ia memilih untuk bungkam dan membuang muka ke arah deretan ruko di pinggir jalan.
Perjalanan berlanjut dalam keheningan yang mencekam.
Begitu motor memasuki gerbang rumah mewah itu, Arlan langsung mengerem tepat di depan teras. Belum juga Aluna benar-benar stabil turun dari jok belakang, Arlan sudah mematikan mesin dan mencabut kunci motornya dengan gerakan efisien.
"Turun. Gue udah selesai sama tugas gue," ucap Arlan datar. Ia melepas helmnya, mengusap rambutnya yang sedikit acak-acakan, lalu berjalan masuk tanpa menunggu Aluna sedetik pun.
Aluna berdiri mematung di samping motor sport hitam itu, menatap punggung tegap Arlan yang perlahan menghilang di balik pintu besar rumah. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.
"Dasar kulkas kutub utara! Awas aja lo ya, gue bakal bikin lo bertekuk lutut suatu saat nanti!" teriak Aluna kesal, meski ia tahu Arlan sudah tidak mendengarnya.
Di dalam rumah, Nada sudah menunggu. "Sudah sampai? Mana Aluna, Arlan?"
semangat nulisnya, Kak 💪