Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pihak Paling Diuntungkan
Di kamar hotelnya, Celine masih memegang ponsel dengan dahi berkerut.
Celine kemudian menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu membuka kembali status Dirga yang sempat dia lihat sebelumnya, pemandangan malam kota Tokyo. Perasaannya mulai tidak nyaman. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Selama ini, dia yakin Dirga tidak mungkin benar-benar pergi jika bukan bersamanya. Dia pikir Dirga hanya memposting foto itu untuk mengelabui ibunya. Namun sekarang, kata-kata Mama Dirga membuat semuanya terasa berbeda.
Rasa ingin tahu Celine semakin membuncah. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.
Tuut … tuut … tuut …
Celine menunggu sambil menatap layar ponselnya dengan tajam. Namun panggilan itu tidak diangkat, lalu terputus.
Celine menghela napas pendek. Rasa curiga di dalam dadanya justru semakin besar.
“Kenapa nggak diangkat …?” gumamnya pelan. Tanpa ragu, dia mencoba menelepon kembali.
Tuut … tuut …
Namun, tetap tidak diangkat. Kini ekspresi wajah Celine mulai berubah. Dia pun beralih, mencoba menelepon Amira.
Sementara itu, di kamar hotelnya, di Tokyo, Amira yang sedang duduk di sofa terkejut ketika ponselnya berdering.
Seketika nama di layar membuat jantungnya langsung berdegup kencang, Bu Celine.
Amira menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat telepon tersebut.
“Halo, Bu?” ucapnya hati-hati. Dari seberang sana, suara Celine terdengar tenang, tetapi ada nada penasaran yang jelas.
“Amira, kamu lagi di mana?”
Pertanyaan itu membuat Amira langsung terdiam. Matanya membesar, otaknya seperti tiba-tiba kosong. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Kalau jujur, semuanya akan terbongkar. Namun jika berbohong, dia takut Celine akan curiga.
“Ehm, saya.”
Tepat pada saat itu pintu kamar mandi terbuka. Dirga keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Melihat Amira yang tampak tegang dengan ponsel di telinga, Dirga mengernyit.
“Siapa?” tanyanya pelan.
Amira menutup mikrofon ponsel dengan tangannya lalu berbisik gugup,
“Bu Celine.”
Dirga langsung menghela napas panjang, jelas merasa kesal. Dia pun melangkah mendekat.
“Ngapain dia telepon?”
Amira menggeleng pelan.
“Bu Celine tanya saya lagi di mana.”
Dirga mendecih pelan. Ekspresi wajahnya berubah jengkel. Tanpa ragu Dirga menarik tangan Amira, agar tidak menutupi mikrofon ponsel, lalu berkata dengan nada cukup keras, seperti sengaja agar Celine mendengar, "Tutup teleponnya, ganggu orang liburan aja.”
Amira terdiam beberapa detik. Dari ponsel terdengar suara Celine memanggil, “Amira? Kamu masih di sana?”
Jantung Amira berdetak semakin cepat. Dia menatap Dirga sekali lagi. Dirga hanya mengangguk kecil, memberi isyarat agar Amira benar-benar mengakhiri panggilan itu.
“Ehm kami sedang di Tokyo, Bu.”
Tepat pada saat itu, juga terdengar suara Dirga.
“Amira!”
Suara langkah kaki mendekat.
“Cepat, katanya mau jalan-jalan,” ujar Dirga dengan nada santai.
Sementara itu, di ujung sambungan telepon, semuanya sudah terdengar. Amira pun buru-buru berkata dengan gugup, “Bu saya tutup dulu ya teleponnya.”
Tanpa menunggu jawaban Celine, Amira cepat-cepat menambahkan,
“Nanti saya hubungi lagi.”
Lalu sambungan telepon pun terputus.
Di sisi lain, Celine masih memegang ponsel di tangannya. Dia tidak bergerak. Matanya menatap kosong ke layar yang kini sudah gelap. Untuk beberapa detik, dia bahkan tidak berkedip.
Ekspresi wajahnya berubah dari kaget, menjadi dingin.
“Jadi benar mereka sedang berada di Tokyo?” gumamnya lirih.
Celine menutup mata sejenak. Dada kirinya terasa aneh, seperti ada sesuatu yang menekan. Namun beberapa detik kemudian dia menghela napas panjang, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Kenapa aku kaget? Bukannya aku harus seneng?”
Celine berjalan perlahan ke arah tempat tidur, lalu duduk di tepinya.
Ponsel masih berada di tangannya.
“Ini kan yang aku mau,” lanjutnya lirih.
“Dirga akhirnya bisa menerima Amira, dan itu artinya aku semakin bebas.”
Kalimat itu terdengar seperti pembenaran untuk dirinya sendiri. Celine pun menggeleng pelan, seolah menolak perasaan itu.
“Ah, bodoh.”
Dia meletakkan ponselnya di samping.
“Aku nggak seharusnya mikirin ini.”
Matanya kembali menatap jendela. Namun, pikirannya terus berputar. Bayangan Dirga dan Amira bersama di Tokyo tadi sempat membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Namun perlahan, ekspresi wajahnya berubah tenang kembali. Celine menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Kemudian sebuah ide lain muncul di kepalanya. Matanya perlahan menyipit.
“Bukannya Mama juga pengen punya cucu?” lanjutnya lirih.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Senyum yang penuh perhitungan.
“Sekalian aja aku manfaatin Amira buat hamil anak Dirga.”
Nada suaranya terdengar begitu dingin. Seolah yang dia bicarakan bukan tentang kehidupan seseorang, melainkan hanya bagian dari rencana hidupnya, yang bisa dia atur sesuka hati.
“Nanti tinggal aku akui aja itu anakku. Dalam permainan ini, aku tetap harus jadi pihak yang paling diuntungkan. Punya anak tanpa harus repot-repot hamil dan melahirkan.”
Celine tertawa kecil. Baginya, kini rencana itu terasa kian sempurna. Dirga tetap menjadi suaminya secara resmi, ibunya Dirga mendapatkan cucu seperti yang sudah lama dia inginkan, dan dirinya tetap bebas mengejar karier dan hidup yang diinginkan tanpa harus terikat oleh kehamilan.
"Kalau semua udah beres, aku tinggal buang Amira."
kau tanam angin kau tuai badai...
andaipun nantinya amira menyerah..kau tak akan dapatkan dirga lagi...
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..