apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menyadari
" Hiks... hiks... Kakak, buka pintunya! Mei Mei janji akan nurut. Buka, Kak!"Tangis Thalia pecah di depan pintu lift, Jemari mungilnya terus memukul-mukul pintu lift dengan keputusasaan yang nyata.
Beberapa menit yang lalu, ia masih mengira bahwa kakak yang menamainya itu hanya bercanda kalau ia akan meninggalkan nya
Tapi saat ia melihat Nana masuk ke dalam dinding yang tiba-tiba terbuka, membuat nya seketika merasa kehilangan, dan dengan cepat ia mencoba mengejar, namun dinding itu menutup rapat tanpa menyisakan gagang pintu sedikit pun untuk ditarik.
Dunia ini terasa jahat bagi Thalia. Aroma obat-obatan yang tajam menusuk indra penciumannya, menciptakan rasa mual yang melilit perut. Di tengah kepanikan itu, seorang suster mendekat, menyentuh sebuah tombol ajaib yang membuat dinding logam itu kembali bergeser.
"Silakan," ucap suster itu dengan senyum ramah yang justru membuat Thalia terkejut
Bukannya masuk, Thalia malah terpaku menatap ruang kosong nan sempit di balik pintu itu. "Bibi... ini tempat apa? Di mana Kakak yang masuk tadi?" tanya Thalia polos.
Suster itu tersentak. Bibi? Sejak kapan seorang suster seperti nya di panggil bibi, karena orang awam sekalipun tidak ada yang memanggil nya dengan sebutan bibi
Apakah gadis cantik ini pasien kejiwaan yang tersesat? batin sang suster sembari memindai sosok Thalia dari ujung rambut hingga kaki seragam pasien yang di kenakan ia lah pasien rumah sakit tempat nya mengabdi. Tak ingin berurusan dengan kerumitan, suster itu segera menekan tombol penutup saat melihat seseorang berlari ke arah mereka. Dan ia bertanya tentang keadaan pasien itu pada orang yang baru mendatangi mereka.
▪️▪️▪️
"Tha!" sebuah suara yang akrab memanggil dari kejauhan.
Thalia menoleh. Begitu melihat sosok Nana, ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa nyeri yang berdenyut di punggung tangannya yang baru saja dicabut infusnya secara paksa Ia menghambur ke pelukan Nana, mendekap erat seolah wanita itu adalah satu-satunya jembatan menuju keselamatan.
Namun, di tengah dekapan itu, Thalia merasakan sesuatu yang janggal. Ia melepaskan pelukan, menunduk menatap tubuhnya sendiri dengan raut wajah yang berubah drastis.
"Kenapa?" tanya Nana, bingung melihat perubahan ekspresi sahabatnya.
"Kakak... dada Mei Mei kok begini?" tanya Thalia tanpa dosa, jemarinya menyentuh dadanya sendiri dengan bingung.
Nana ternganga. "Kamu... sesak napas?"
Thalia menggeleng pelan, wajahnya memerah karena kebingungan yang teramat sangat. "Kenapa dada Mei Mei seperti ada yang menonjol"
Nana memijat pangkal hidungnya, mencoba meredam ledakan emosi. Ia menarik napas panjang, berusaha menyesuaikan gaya bicaranya agar lebih lembut, meski batinnya menjerit karena situasi yang kian absurd.
"Lah, memang kamu sudah dewasa. Memangnya seingat Lo , umur lo berapa sekarang Tha ?"
"Mei Mei 13 tahun... tahun ini, Kak," jawab Thalia yakin, menatap Nana dengan mata bulat yang bening.
"APA? TIGA BELAS TAHUN?!" Gelak tawa Nana pecah seketika, memantul di dinding-dinding koridor lantai khusus yang sunyi. Ia tertawa hingga air matanya keluar, tidak menyangka bahwa benturan di tangga bisa membuat jiwa mahasiswi tingkat akhir mundur ke masa sekolah
"Duh, kamu nggak bercanda kan?" tanya Nana setelah tawanya mereda, memastikan kewarasan Thalia yang tersisa.
Thalia hanya membalas dengan anggukan mantap, wajahnya terlihat sangat tulus sekaligus terluka karena ditertawakan.
"tunggu Lo tadi ngaku nama Lo mei mei dan usia Lo 13 tahun Lo yakin, coba periksa kartu identitas Lo " .
Sebenarnya, Nana berniat meninggalkan Thalia agar keluarga suaminya yang mengurus. Namun, membayangkan ke bingung sahabatnya itu jika sahabatnya benar amnesia membuat nya tak tega , setidaknya ia harus menjelaskan sesuatu pada keluarga suaminya terkait keadaan Thalia yang sekarang.
Ia tak tega. Meskipun pernikahan Thalia dan Cavin Vior adalah sebuah kesalahan, Thalia tetaplah sahabatnya.
"Oke, sekarang kamu tunggu sebentar. Kita kembali ke kamar," ujar Nana sembari menggandeng tangan Thalia erat, seolah takut gadis itu akan hilang lagi ditelan pintu lift. "Aku mau mengurus kepulanganmu dan mengabari mertuamu kalau kamu ikut pulang denganku dulu. Biar mereka menjemput mu dari rumah ku aja.
Secara materi Nana masih beruntung karena orang tua nya masih meninggalkan warisan, meskipun sama sama yatim piatu, sedangkan sahabatnya Thalia saat pertama kali ia bertemu ia tinggal di salah satu panti asuhan, berhubungan dia udah besar dan bisa mandiri makanya pihak panti membebaskan nya.
awalnya Thalia juga pernah kos di dekat kampus namun masalh biaya terpaksa ia harus kerja part time hingga ia bertemu dengan salah satu teman universitas yang sama dengan nya hingga akhirnya mereka akrab,lambat laun Nana mengusulkan Thalia keluar dari kos dan tinggal bersama nya.
Aku juga akan mengirim lokasi,apa enggak usah pulang aja kali ya " bimbang sendiri saat Nana menimang apa ia akan menunggu Thalia di jemput atau bawa pulang hari ini bersama nya .
Thalia mengekor patuh, langkahnya Kecil-kecil
Nana menyadari bahwa menghadapi Thalia yang sekarang menuntut kesabaran seluas samudra.
Di hadapannya, raga itu memang milik wanita berusia 20 tahun sang sahabat meskipun ia masih sedikit ragu tentang kenyataan sahabatnya yang ingatan nya hilang total, namun jiwanya telah menyusut, kembali menjadi bocah 13 tahun yang rapuh. Amnesia bukan sekadar menghapus memori, tapi mental sahabatnya berubah seperti anak kecil
ia mencoba memancing ingatan sahabatnya tapi hasilnya nihil sahabatnya itu seperti orang baru dengan wajah yang serupa.
Setelah perdebatan panjang di rumah sakit, Nana akhirnya membawa Thalia kembali ke apartemen lama mereka satu-satunya tempat yang masih menyisakan jejak kehangatan sebelum Thalia terikat dalam pernikahan yang kurang sehat karena ketidak Adilan..
Ia menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Tentang pernikahan Thalia yang hambar dengan Cavin Vior, pria yang sebentar lagi akan menjadi masa lalu melalui proses perceraian.
ya sebelum insiden kecelakaan Thalia pernah bilang kalau suaminya akan membebaskan nya dari ikatan yang tak mereka inginkan.
Tentang betapa Thalia dulu adalah wanita tangguh yang menyimpan luka di balik senyum baby face-nya.
Thalia mendengarkan dengan tatapan kosong, sesekali mengangguk kecil, seolah sedang mendengarkan dongeng tentang orang lain.
Namun, saat giliran Thalia bercerita, giliran Nana yang dibuat mematung.
Kisah yang meluncur dari bibir Thalia bukan lagi tentang bangku kuliah atau tugas akhir. Ia bercerita tentang menteri, kaisar, pangeran, dan selir dengan istilah-istilah yang hanya ditemukan dalam literatur kerajaan kuno. Baginya, ia adalah Xiao Mei, anak bungsu yang terjebak di tubuh orang dewasa