NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN DENGAN AYAH RAFI

Hari itu berbeda dari biasanya. Saat aku sampai di tempat rahasia membawa bekal kue bolu yang dibuat Mama, Rafi tidak ada di sana.

Aku menunggu sebentar, lalu melihat batu merah kecil yang diletakkan di bawah pohon cemara—tanda dia ingin bertemu, tapi mengapa dia tidak datang?

Aku berjalan perlahan ke arah rumah Rafi, berusaha menyelinap tanpa dilihat oleh penjaga di depan gerbang.

Namun saat aku ingin masuk ke dalam halaman belakang, tangan kuat menyentuh bahuku dan membuatku berhenti.

“Anak kecil, kamu tidak boleh masuk kesini,” suara yang keras dan tegas terdengar di belakangku.

Aku berbalik dan melihat salah satu penjaga yang selalu berdiri di depan rumah Rafi. Wajahnya sangat serius dan matanya menatapku dengan tidak ramah. Aku merasa ingin menangis, tapi berusaha untuk tetap kuat.

“Aku mau cari Rafi. Dia bilang mau bertemu tapi tidak datang,” ujarku dengan suara sedikit gemetar.

Sebelum penjaga bisa menjawab, suara lain terdengar dari arah rumah. “Biarkan dia saja.”

Pak Bara datang menghampiri kita dengan wajah yang tetap serius, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak kubaca. Dia melihatku dengan seksama, lalu mengangguk perlahan.

“Kamu adalah teman Rafi yang bernama Caca bukan?” tanyanya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.

Aku mengangguk dengan cepat, masih merasa sedikit takut. “Ya, Pak. Rafi tidak datang ke tempat kita dan aku khawatir.”

Pak Bara menghela napas panjang. “Rafi sedang tidak enak badan. Dia demam tinggi dan sedang berbaring di kamarnya. Kamu boleh masuk untuk mengunjunginya, tapi harus mengikuti aturanku ya.”

Aku mengangguk dengan gembira dan mengikuti Pak Bara masuk ke dalam rumah. Kali ini penjaga-penjaga tidak lagi menatapku dengan pandangan tidak ramah, bahkan salah satunya memberikan senyum kecil padaku.

Kita naik tangga ke kamar Rafi yang terletak di lantai dua. Saat pintu kamar terbuka, aku melihat Rafi berbaring di atas ranjang besar dengan wajah yang pucat dan pipinya kemerahan. Mama Lila sedang duduk di sisi ranjangnya sambil menyeka dahinya dengan kain basah.

“Rafi, ada teman yang datang mengunjungimu,” ujar Pak Bara dengan suara yang lembut—suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya.

Rafi membuka matanya perlahan dan tersenyum ketika melihatku. “Caca… kamu datang…”

Aku berlari ke arah ranjang dan duduk di sisi bawahnya. “Kamu kenapa tidak datang ya? Aku khawatir banget! Aku membawa kue bolu favoritmu yang dibuat Mama.”

“Aku minta maaf… aku merasa sangat lelah dan panas badan sejak pagi,” jawabnya dengan suara yang lemah.

Mama Lila tersenyum padaku dan mengambil kue yang kubawa. “Kamu sangat baik untuk datang mengunjungi Rafi, Caca. Aku akan memasak sup ayam hangat untuknya, kamu mau ikut makan tidak?”

“Aku mau, tapi aku ingin menemani Rafi dulu ya, Mama Lila,” jawabku dengan senyum.

Setelah Mama Lila dan Pak Bara keluar dari kamar, aku mengambil tangan Rafi dengan lembut. “Kamu sakit parah banget ya. Kamu harus minum obat dan istirahat banyak-banyak.”

“Terima kasih sudah datang, Caca,” ujar Rafi dengan senyum lemah. “Aku merasa lebih baik sekarang karena kamu ada di sini.”

Kita berbincang sebentar sampai Rafi merasa mengantuk dan tertidur lagi. Aku duduk diam di sisi ranjangnya, melihat wajahnya yang masih pucat. Saat itu pintu kamar terbuka perlahan dan Pak Bara masuk dengan membawa segelas teh hangat.

“Kamu bisa duduk di situ saja, Caca,” katanya dengan suara pelan agar tidak membangunkan Rafi. “Aku ingin berbicara denganmu sebentar di ruang tamu.”

Aku mengangguk dan mengikuti Pak Bara ke ruang tamu yang besar. Dia menunjuk kursi kayu yang nyaman dan menyuruhku duduk. Kemudian dia duduk di kursi di hadapanku dan menatapku dengan mata yang penuh dengan emosi yang sulit kubaca.

“Kamu tahu tidak kenapa aku tidak suka kalau Rafi bermain denganmu?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku tidak tahu, Pak. Apakah karena aku anak kampung yang biasa saja?” jawabku dengan suara kecil.

Pak Bara menggeleng-geleng kepala dan sedikit tersenyum. “Bukan itu masalahnya, Caca. Aku tidak suka karena aku takut kamu akan terkena bahaya karena hubunganmu dengan Rafi. Dunia yang aku jalani sangat berbahaya, ada banyak orang yang ingin menyakitiku dan keluargaku. Jika mereka tahu Rafi punya teman dekat, mereka bisa menggunakan kamu untuk menyakiti dia.”

Aku melihatnya dengan mata penuh pemahaman. “Aku mengerti, Pak. Tapi aku tidak akan pernah menyakiti Rafi. Dia adalah teman terbaikku dan aku akan selalu melindunginya.”

Pak Bara terdiam sebentar, kemudian menghela napas panjang. “Aku melihat bagaimana Rafi berubah sejak bertemu denganmu. Dia lebih sering tersenyum, lebih ceria, dan tidak lagi merasa kesepian seperti dulu. Aku tahu kamu anak yang baik dan tulus terhadap Rafi.”

“Apakah itu berarti aku boleh bermain dengan Rafi lagi, Pak?” tanyaku dengan mata penuh harapan.

“Kamu masih boleh bermain dengannya,” katanya dengan suara tegas. “Tapi dengan syarat kamu harus selalu berhati-hati dan tidak pernah memberi tahu siapapun tentang hubunganmu dengan Rafi. Selain itu, aku akan menyuruh salah satu penjaga untuk mengawasimu ketika kamu bermain bersama, bukan untuk menghalangi, tapi untuk melindungi kamu berdua.”

Aku merasa sangat senang dan langsung berdiri untuk berpelukan dengan Pak Bara. Dia sedikit terkejut, tapi kemudian membungkus tangannya di sekitar tubuhku dengan lembut.

“Terima kasih banyak, Pak! Aku akan selalu menjaga Rafi dan tidak akan pernah membuat kamu kecewa!” ujarku dengan suara ceria.

“Sekarang kamu bisa kembali ke kamar Rafi ya,” katanya dengan senyum. “Kamu bisa menemani dia sampai dia merasa lebih baik. Dan Caca…”

“Ada apa, Pak?”

“Jangan pernah menyerah pada persahabatanmu dengan Rafi ya. Dunia ini sangat keras, dan teman yang baik seperti kamu sangat sulit ditemukan.”

Aku mengangguk dengan tegas dan berlari kembali ke kamar Rafi. Saat aku masuk, Rafi sudah bangun dan sedang melihat ke arah jendela. Dia tersenyum ketika melihatku.

“Kamu dan Ayah bicara apa?” tanyanya dengan suara yang sudah lebih kuat.

“Ayah bilang aku boleh bermain denganmu lagi!” ujarku dengan senyum lebar. “Dan dia akan melindungi kita berdua!”

Rafi tersenyum lebar dan meregangkan tangannya untuk memelukku. “Terima kasih sudah tidak pergi dariku, Caca. Tanpamu aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.”

Di luar jendela, matahari mulai terbenam dan memberikan warna jingga yang indah di langit. Aku merasa bahagia karena akhirnya bisa diterima oleh keluarga Rafi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!