"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Plak
Plak
Dua tam-paran mendarat di pipi Hamdan. Pria yang dulu pernah menjadi suami nya itu, benar-benar tidak menyangka jika Seruni berani melakukan hal itu di depan umum.
Ada sedikit rasa terkejut saat itu. Namun ia berusaha untuk mengendalikan diri. Tangan Seruni lumayan membuat pipi nya terlihat memerah.
Seruni pun masih menatap wajah Hamdan dengan rasa marah yang kian memuncak. Nafas nya naik turun. Ia benar-benar tidak bisa memaafkan perkataan Hamdan yang menurut nya sudah kelewatan..
"Kau berani menam-par ku?"
"Aku bahkan bisa membu-nuh mu. Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. Tunggu saja panggilan dari pengadilan untuk perceraian kita. Dan, jangan pernah urusi urusan ku dan juga anak-anak."
"Oke. Siapa takut. Ambil saja anak-anak perempuan yang tidak ada guna nya itu. Aku bisa mendapatkan ribuan wanita cantik yang bisa memberi ku anak laki-laki."
"Oh ya, coba saja. Aku yakin, dengan wanita mana pun kamu menikah. Kamu tetap tidak akan bisa memiliki anak laki-laki, Hamdan. Bukan itu saja, kau tak pantas memiliki anak. Kau bukan lah ayah yang baik."
"Ah, sudah. Ayo Susan, kita pergi. Lama-lama aku muak jika terus melihat wajah nya."
Seruni diam dan kembali duduk. Tidak ia pedulikan Hamdan Dan Susan yang duduk di belakang nya. Seperti nya Hamdan masih penasaran dengan kehidupan Seruni. Ia seperti tidak rela jika Seruni dan anak-anak nya bisa makan enak tanpa ada diri nya.
"Kak Runi, untung lah kakak cepat sadar. Bayangkan kalau kakak seumur hidup dengan laki-laki seperti dia."
Adelia yang menjadi saksi pertengkaran itu, benar-benar tidak habis pikir dengan suami nya Seruni. Laki-laki itu, sungguh tidak memiliki rasa malu.
"Iya, Del. Mungkin dulu nya kakak buta. Dulu, kakak pikir dia adalah laki-laki baik dan santun. Ternyata, uang mengubah segala nya. Ia sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Bagaimana ia telah berjanji dengan orang tua Kakak. Ah, Kakak jadi rindu rumah. Kapan libur, nanti akan pulang ke kampung untuk menjenguk orang tua."
"Adel ikut, ya."
"Ikut? Nanti suami mu gimana?"
"Ya gimana? Dia selalu sibuk dan jarang ada di rumah. Aku kesepian. Untung saja ada anak-anak nya Kak Runi."
"Yasudah, yang penting ada izin dari suami mu kalau memang kamu mau ikut kakak."
"Bu, memang nya kami masih punya nenek dan Kakek?"
"Ya tentu saja. Kakek dan nenek kalian sangat lah baik. Mereka pasti sayang dengan kalian."
"Begitu ya, Bu. Mudah-mudahan saja tidak seperti nenek dan Kakek nya Ayah."
Dua anak itu terlihat murung setiap kali mengingat bagaimana perlakuan mertua nya Seruni. Setiap kali melihat cucu perempuan nya, mereka selalu saja marah-marah .
Pernah, anak-anak itu di biarkan kelaparan seharian saat Seruni sedang membantu mertua nya membuat syukuran. Seruni yang tidak tahu, dan mengira jika mertua nya baik.
Tapi ternyata, anak-anak itu sama sekali tidak di hiraukan. Mereka tidur dalam keadaan lemas di dalam gudang yang sengaja di kunci oleh mertua nya Seruni. Saat wanita itu tahu, ia langsung marah dan pulang.
Seruni juga bertanya pada mertua nya, kenapa mereka tega pada cucu mereka sendiri. Jawaban nya sungguh diluar dugaan. Mereka tidak menyukai anak-anak nya karena berjenis kelamin perempuan. Bagi keluarga mereka, empat anak perempuan berturut-turut adalah lambang kesialan.
Jadi, Ibu nya Hamdan, sengaja mengurung anak-anak itu tanpa di beri makan. Supaya tidak mengganggu kelancaran acara yang sedang ia rencanakan.
Sejak saat itu lah, Seruni tidak pernah mau lagi menginjakkan kaki nya di rumah mertuanya yang besar itu. Walaupun sama-sama tinggal di komplek perumahan, tapi rumah mertua nya bahkan lebih besar dari rumah Seruni dan suami nya.
Seruni tidak pernah iri ataupun marah. Ia malah mendukung suami jika ingin berbuat baik pada orang tua. Sudah sebaik itu, tapi Seruni masih juga di anggap buruk. Entah sampai kapan, Hamdan akan sadar dan menyesali semua perbuatan nya.
*****
Dua bulan berlalu. Bisnis Seruni sudah mulai memperlihatkan hasil. Ia juga telah membeli satu ruko kecil dari hasil gaji nya selama ini. Rencananya, ruko itu akan di jadikan rumah makan sederhana.
Seruni saat ini sudah memiliki beberapa karyawan yang bisa membantu nya. Rata-rata karyawan nya adalah para tetangga yang ingin memiliki penghasilan lebih tapi tidak terikat dengan waktu kerja.
Kasus perceraian Seruni dan Hamdan juga hampir selesai. Tinggal menunggu beberapa panggilan lagi.
Sebenarnya, semua akan mudah jika Hamdan langsung setuju. Pria itu sengaja memperlama proses perceraian dan membuat Seruni kesal.
"Halo, ada apa?"
"Seruni, saat ini aku sedang dalam perjalanan ke rumah orang tua mu. Seperti nya, mereka berdua belum tahu jika kita akan bercerai."
Panggilan dari Hamdan, membuat Seruni benar-benar marah. Apa hubungan nya semua itu dengan orang tua nya Seruni. Seruni begitu kesal. Hamdan berani sekali melibatkan orang tua nya.
"Jangan libatkan orang tua ku, Hamdan."
"Justru mereka harus terlibat. Mereka harus tahu tentang perceraian kita. Supaya jika suatu hari nanti mereka meminta uang ku, mereka sudah tidak berhak lagi. Aku sudah kaya. Jadi, tidak level memiliki mertua miskin seperti orang tua mu."
"Kau kaya? Ingat, Hamdan. Sewaktu-waktu semua itu akan hilang karena kesombongan mu. Jangan macam-macam dengan orang tua ku."
"Aku tidak peduli."
Hamdan langsung mengakhiri panggilan nya. Seruni yang saat itu hampir selesai mengerjakan pesanan nasi kotak, terpaksa bekerja dengan cepat lalu menjemput anak-anak nya.
Ia meminta tolong pada tetangga nya untuk mengatasi semua pesanan mereka dalam beberapa hari ini. Seruni akan pulang kampung mendadak.
Ia menghubungi Adel dan meminta tolong pada wanita itu untuk mengantar nya. Karena jika naik bis, pasti akan memakan waktu lama.
Adelia sangat senang. Ia sama sekali tidak keberatan dengan ajakan dan bantuan dari Seruni. Bahkan bukan hanya Adelia saja. Abang nya yang merupakan Presdir di perusahaan tempat Seruni bekerja, pun minta ikut..
Alasan nya, Pak Adam itu terlalu was-was jika membiarkan adik nya menyetir sendiri ke kampung halaman nya Seruni. Alhasil, dia menjadi satu-satunya pria di dalam mobil itu.
"Maaf, Pak Adam. Saya jadi merepotkan anda."
"Tidak apa, Bu Seruni. Saya sudah tahu permasalahan nya dari Adel. Saya berhak ikut campur karena Bu Seruni dan Pak Hamdan adalah karyawan saya."
"Baik. Terima kasih, Pak Adam."
bersinar 😮