"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
"Aku akan akuisisi perusahaan Basuki," kata Dexter.
"Tapi perusahaan itu milik mamaku. Karena mama terlalu percaya dengannya, akhirnya dimanfaatkan oleh Basuki brengsek itu," kata Kiandra.
"Tidak lama lagi, semuanya akan menjadi milikmu. Rumah, perusahaan dan semua peninggalan ibumu akan kembali kepadamu," kata Dexter.
Kiandra menatap Dexter. Dia tidak menyangka, jika orang yang ada disampingnya begitu perhatian. Bahkan, orang itu rela melakukan semuanya untuknya.
"Mandilah, setelah itu giliranku yang mandi," kata Dexter. Kiandra mengangguk, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Dexter mengambil ponselnya yang berdering dari dalam sakunya. Dia kemudian menjawab panggilan telepon itu.
"Halo Ma, ada apa?"
"Halo sayang, kalian datang kemari ya, kita makan malam bersama."
Dexter menoleh ke kamar mandi. Pintunya tertutup rapat. "Iya Ma, nanti aku bilang ke Kiandra."
"Mana Kiandra? Mama ingin bicara."
"Kiandra sedang mandi, Ma. Sudah dulu ya Ma."
Belum sempat Arsy berkata, sambungan telepon sudah terputus secara sepihak. Tidak berapa lama pintu kamar mandi pun terbuka.
"Bersiaplah, malam ini kita ke rumah mama."
"Baiklah." Sebenarnya Kiandra ingin istirahat cepat. Tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan suaminya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya.
Kini gantian Dexter yang mandi. Sementara Kiandra berpakaian dan merias wajahnya. Kemudian dia menyiapkan pakaian untuk Dexter.
Dexter tersenyum ketika keluar dari kamar mandi. Karena melihat pakaian casual yang sudah tersedia untuknya.
"Terima kasih sayang," kata Dexter. Kiandra mengangguk, tidak dipungkiri jika dia tersipu mendengar kata sayang dari mulut suaminya.
Ini bukan yang pertama kalinya, sudah beberapa kali Dexter memanggilnya sayang. Kiandra sendiri tidak tahu, apakah panggilan sayang itu tulus dari hati suaminya atau tidak?
Yang pasti, dia merasa senang dengan panggilan itu. Tidak berapa lama mereka pun sudah siap.
Kiandra pun berpamitan kepada Nisa sebelum mereka berangkat. Nisa turut bahagia melihat Kiandra terlihat bahagia bersama suaminya.
"Maaf, aku tidak tahu pakaian seperti apa yang kamu sukai?" ujar Kiandra.
"Asal kamu yang pilih, semuanya cocok buat aku," kata Dexter.
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya. Sebelum jam delapan malam, mereka harus sampai di sana.
Setibanya di rumah orang tuanya. Dexter dan Kiandra pun masuk setelah mengucapkan salam.
Arsy sangat senang dengan kedatangan Kiandra. Bagaimana dia menyayangi Darlena, seperti itu juga dia menyayangi Kiandra.
"Kalian sudah datang?" tanya Arsy.
"Iya Ma," jawab Kiandra.
Kiandra dan Dexter menyalami dan mencium tangan Arsy. Kemudian mereka berpindah kepada Zio.
"Mana istrimu?" tanya Dexter pada Denzel.
"Ada di kamar," jawab Denzel singkat.
"Darlena lagi tidak enak badan," kata Arsy.
Ya, semenjak hamil, Darlena diminta untuk tinggal bersama mertuanya. Apalagi ketika Denzel bekerja, jadi Arsy lah yang menjaganya.
Darlena merasa beruntung, karena mertuanya begitu baik dan perhatian kepadanya. Ibu mertua, tapi seperti ibu kandung bagi Darlena.
"Boleh aku menemuinya?" tanya Kiandra.
"Pergilah, temui dia di kamar," jawab Denzel.
Dexter mengantar Kiandra ke kamar Denzel. Hanya sampai di pintu, kemudian ia kembali ke ruang tamu kumpul bersama keluarganya.
Kiandra masuk setelah mengetuk pintu. Dilihatnya Darlena sedang berbaring ditempat tidur.
"Hai," sapa Kiandra.
Darlena menoleh, karena posisinya membelakangi Kiandra. Tadi Darlena berpikir itu adalah suaminya yang masuk.
Namun ketika mendengar suaranya berbeda, Darlena langsung berbalik badan dan menoleh ke arah suara.
"Jangan dekat-dekat," kata Darlena ketika Kiandra hendak mendekatinya.
Kiandra pun menghentikan langkahnya. Dia sempat bingung, dia tidak tahu jika ngidamnya Darlena berbeda dari orang lain.
"Maaf, aku tidak tahu jika kamu tidak boleh didekati," ucap Kiandra.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Bahkan suamiku sendiri pun tidak boleh mendekat," ungkap Darlena.
Sebenarnya Darlena ingin dimanja-manja. Tapi, ada kalanya ketika suaminya atau orang lain mendekatinya, dia merasa mual.
Namun, ketika Arsy yang mendekatinya, Darlena tidak kenapa-kenapa. Itulah yang membuat Darlena merasa heran.
"Sejak kapan?" tanya Kiandra.
"Baru kemarin yang seperti ini. Padahal sebelumnya tidak," jawab Darlena.
Darlena merasa sedih, karena dialah yang mengusir suaminya keluar dari kamar. Namun, Darlena tidak bisa apa-apa, karena itu di luar kendalinya.
Pintu kamar kembali di ketuk. Kiandra pun bangkit untuk membuka pintu. Ternyata pelayan yang datang.
"Nyonya muda, makan malam sudah siap. Nyonya muda diminta untuk makan," kata pelayan.
"Baik Bik, terima kasih," ucap Kiandra. Kiandra pun pamit keluar kepada Darlena.
Darlena hanya mengangguk saja. Kemudian dia ke posisi semula setelah pintu kamar tertutup.
Di meja makan, keluarga suaminya sudah menunggu. Kiandra pun duduk di samping Dexter.
"Bagaimana sayang?" tanya Dexter.
"Darlena tidak mau ada yang dekat-dekat dengannya," jawab Kiandra.
Dexter sudah tahu, karena adiknya sudah menceritakan semuanya. Tapi mereka berharap, Kiandra pengecualian. Ternyata sama saja.
Arsy dan Zio saling pandang. Kemudian keduanya tersenyum mendengar putra sulungnya memanggil Kiandra dengan sebutan sayang.
"Sepertinya ada kemajuan," bisik Zio. Arsy tersenyum, kemudian mereka pun segera makan.
Setelah selesai makan, mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Arsy meminta Kiandra dan Dexter untuk menginap.
"Aku terserah suamiku, Ma," kata Kiandra. "Tapi aku tidak bawa pakaian ganti," tambah Kiandra.
"Pakaian banyak. Mama sudah sediakan di kamar kalian," kata Arsy.
Kiandra menoleh ke Dexter. Dexter hanya mengangguk saja. Akhirnya mereka pun setuju untuk menginap di sini.
"Mama dengar kamu bekerja sebagai cleaning service. Apa iya?" tanya Arsy.
"Benar Ma. Jangan salahkan Dexter, semua itu kemauan ku sendiri," jawab Kiandra.
"Kenapa harus cleaning service? Kenapa tidak menjadi sekretaris atau jabatan yang tinggi?" tanya Zio.
Kiandra menjelaskan, dia mau bekerja seperti itu karena keinginannya sendiri. Dia hanya ingin seperti orang biasa yang bekerja dari bawah.
Setelah cukup lama mereka mengobrol, Kiandra dan Dexter pun pamit ke kamar. Sedangkan Denzel sudah sejak tadi masuk ke kamar.
Denzel pasrah kalau istrinya tidak mau dekat-dekat dengannya. Yang penting dia bisa tidur sekamar dengan istrinya.
"Dexter, kamu yang bilang ke mama kalau aku kerja sebagai cleaning service?" tanya Kiandra saat mereka di dalam kamar.
"Enggak perlu dikasih tahu, mama juga jago mencari informasi seseorang," jawab Dexter.
Kiandra menatap Dexter dalam-dalam. Dia berpikir, sehebat apa mertuanya itu? Bahkan, ibu mertuanya juga jago berkelahi.
"Oh iya, aku lupa. Mama keturunan keluarga Henderson," kata Kiandra.
Dexter tersenyum, kemudian tanpa ragu ia memeluk Kiandra dari belakang. Kiandra tersentak kaget. Beruntung dia masih punya kesadaran diri.
Jika tidak. Sudah pasti dia dengan refleks membanting Dexter ke lantai. Walau debaran jantungnya berpacu dengan cepat. Tapi Kiandra mencoba bersikap tenang dipeluk oleh Dexter.