NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waspada

Malam di Desa Sumberjati tidak pernah benar-benar gelap.

Lampu-lampu rumah menyala redup, cukup untuk mengenali wajah, tidak cukup untuk membaca niat. Jovan duduk di tepi ranjang kayu, punggungnya bersandar ke dinding. Bahunya sudah diperban ulang. Rapi. Lebih rapi dari biasanya.

Mika yang melakukannya.

Ia berdiri di ambang pintu kamar, ragu untuk masuk lebih jauh. “Kalau sakit, bilang,” katanya.

Jovan mengangguk. “Aku tahu.”

Ada jeda. Mika tidak pergi. Jovan tidak memanggil. Ruang kecil itu dipenuhi suara malam dengan jangkrik, angin, langkah jauh yang tidak bisa dipastikan arahnya.

Pagi berikutnya, desa bergerak dengan ritme yang salah.

Warung buka lebih lambat. Anak-anak sekolah berangkat berkelompok, tidak lagi sendiri-sendiri. Seorang pria yang biasanya duduk di pos ronda memilih berdiri di seberang jalan, memunggungi rumah Pak Raka.

Tekanan sosial. Jovan mengenalnya baik.

Satu mobil asing melintas perlahan. Tidak berhenti. Tidak menyapa.

Pelat kota.

Jovan mencatatnya.

.

Di kebun, Mika bekerja lebih cepat dari biasanya. Tangannya cekatan, tapi bahunya tegang. Jovan membantu sebisanya, memungut daun, menyingkirkan ranting.

“Kau tidak perlu ikut kalau tidak nyaman,” kata Mika.

“Aku lebih tidak nyaman jika kau sendiri,” jawab Jovan.

Itu membuat Mika berhenti sejenak. Ia menatap Jovan, lalu kembali bekerja. Pipinya sedikit memerah—bukan karena matahari.

Menjelang siang, dua pria tak dikenal muncul di ujung kebun. Pakaian mereka sederhana. Topi menutupi wajah. Mereka berpura-pura melihat tanaman.

Jovan menggeser posisi. Tanpa mendekat. Tanpa memprovokasi.

Salah satu pria menoleh. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

Cukup.

Pria itu mengangguk kecil. Seolah mengonfirmasi sesuatu. Lalu mereka pergi.

Mika menelan ludah. “Mereka bukan orang sini.”

“Tidak,” jawab Jovan. “Dan mereka sudah dapat yang mereka cari.”

“Apa?”

“Keyakinan.”

Di kota, Levis menerima laporan sambil menyeruput kopi.

“Dia tenang,” kata pengamat. “Tidak panik.”

Levis tersenyum. “Bagus. Jovan selalu lebih berbahaya saat tenang.”

“Langkah berikutnya?”

“Kecil saja,” jawab Levis. “Buat desa merasa keberadaannya merepotkan.”

Ia berdiri, menatap jendela. “Orang-orang akan mendorongnya pergi atas nama ketenangan.”

Malam turun lagi.

Jovan berdiri di halaman, menatap gelap. Mika menghampirinya, membawa selimut tipis.

“Kau dingin,” katanya.

Jovan menerima selimut itu. Jari mereka bersentuhan sesaat. Tidak ada yang menarik tangan lebih dulu.

“Jika kau pergi,” kata Mika pelan, “desa ini akan kembali tenang.”

Jovan menatapnya. Lama. “Dan kau?”

Mika menahan napas. “Aku bagian dari desa.”

Jawaban itu sederhana. Tapi Jovan mendengarnya sebagai pengorbanan.

Ia mengangguk. “Kalau begitu, aku harus memilih dengan benar.”

Di kejauhan, mesin mobil menyala, lalu mati. Seseorang menunggu terlalu lama untuk disebut kebetulan.

 .

Mika berjalan ke warung untuk membeli gula. Biasanya ia disapa lebih dulu. Hari ini tidak.

Ibu warung tetap melayani, tapi tangannya lebih cepat dari biasanya, matanya tidak menetap. Mika membayar. Lalu pergi.

Di belakangnya, percakapan kecil yang tertahan mulai muncul pelan.

Bukan tentang harga cabai.

Tentang orang asing yang tidur di rumah Pak Raka.

Siang itu, Pak Raka duduk di teras. Kakinya yang pincang disandarkan pada bangku kecil.

Jovan berdiri di halaman, memperbaiki sesuatu yang tidak benar-benar rusak.

Hanya supaya tangannya punya alasan bergerak.

Pak Raka menatap jalan.

“Ada yang datang lagi tadi pagi,” katanya.

Jovan tidak menoleh. “Siapa?”

Pak Raka menghela napas.

“Orang kecamatan, katanya. Tapi sepatu mereka bersih sekali.”

Jovan mengerti. “Bicara apa?”

“Mereka bilang desa harus hati-hati menerima orang luar.”

Jovan diam. Pak Raka melanjutkan, suaranya datar.

“Mereka tidak menyebut namamu. Tapi semua orang tahu yang dimaksud siapa.”

Jovan mengangguk pelan.

Tekanan paling efektif memang selalu tanpa nama.

Sore, kepala dusun datang.

Ia berdiri di pagar, tidak masuk.

Sikapnya sopan, tapi jaraknya bicara lebih jujur daripada kata-kata.

“Jovan,” katanya.

Jovan menatapnya.

“Kami tidak mau masalah.”

“Aku juga.”

Kepala dusun tersenyum kecil, lelah. “Masalah tidak selalu minta izin untuk datang.” Jovan tidak menyangkal.

“Ada orang kota yang bertanya,” lanjutnya. “Mereka bilang kalau kau pergi, semuanya selesai.”

Jovan menahan napas.

Kepala dusun menunduk sebentar. “Aku cuma menyampaikan. Bukan mengusir.” Tapi kalimat itu justru terdengar seperti pengusiran yang dibungkus kain.

Malamnya, Mika duduk di dapur.

Jovan masuk tanpa suara.

Mika tidak menatapnya dulu.

“Warung hari ini dingin,” katanya.

Jovan duduk pelan. “Mereka mulai takut.”

“Takut padamu?”

“Takut pada apa yang mengikutiku.”

Mika mengepalkan tangan di pangkuannya. “Aku tidak suka desa ini dipakai begitu.”

Jovan menatap meja. “Levis tahu caranya. Dia tidak perlu masuk ke desa. Dia cukup membuat desa mendorongku keluar.”

Mika menelan ludah. “Lalu kau akan pergi?”

Jovan tidak menjawab cepat.

Ia hanya berkata pelan, “Aku harus menghentikan ini sebelum mereka menjadikan kalian alasan.”

Mika akhirnya menatapnya.

“Kami bukan alasan.”

Jovan memandang balik, tenang. “Tapi mereka akan membuatmu jadi itu.”

Sunyi jatuh.

Di luar, suara motor lewat perlahan. Tidak berhenti. Tapi cukup dekat untuk terasa seperti pesan.

Mika berdiri, mengambil cangkir yang tidak ia minum.

Tangannya sedikit gemetar.

“Kalau kau pergi,” katanya, “desa akan kembali seperti semula.”

Jovan menatap selimut yang tergantung di kursi. “Tidak.”

Mika membeku.

“Kalau aku pergi,” lanjut Jovan, “desa hanya akan belajar bahwa tekanan selalu berhasil.”

Mika tidak punya jawaban.

Karena itu bukan kalimat keras.

Itu hanya kenyataan.

Pak Raka muncul dari ruang tengah, langkah pincangnya terdengar pelan.

Ia tidak langsung bicara. Hanya duduk.

Beberapa detik mereka diam seperti dua orang yang sama-sama mengerti bahwa desa ini sudah bukan tempat aman untuk diam terlalu lama.

Pak Raka akhirnya berkata, suaranya rendah. “Kau dengar sendiri.”

Jovan mengangguk.

“Mereka tidak berani mengusir,” lanjut Pak Raka, “tapi mereka ingin kau pergi.”

Jovan menatap lantai.

“Levis selalu pakai orang lain sebagai tangan.”

Pak Raka menarik napas panjang. “Kalau kau pergi sekarang, kau pikir ini akan selesai?”

Jovan menjawab tanpa emosi.

“Tidak.”

Pak Raka mengangguk kecil.

“Bagus. Dan persiapkan dirimu untuk menjadi orang desa. Dan jangan bertindak bodoh.”

Lalu, Pak Raka dan Mika menuju kamar mereka, tersisa Jovan di ruang tengah.

Di kamar, Mika duduk di tepi ranjang, memeluk lutut.

Ia tidak menangis. Tapi matanya tidak berkedip lama.

Ia mendengar suara langkah Jovan di luar.

Ia tahu Jovan tidak akan pergi malam ini. Dan justru itu yang membuatnya takut. Karena jika Jovan tidak pergi…maka sesuatu akan datang.

Di luar rumah Pak Raka, angin lewat pelan di antara bambu.

Dan di ujung jalan desa, jauh dari lampu, seseorang menyalakan rokok sebentar.

Bara merah kecil menyala.

Lalu mati. Seperti tanda.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!