Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
apakah pak Ilham tahu?
Irfan menghampiri pak Ilham lalu dia langsung mengotak-atik laptop yang terhubung aksesnya dengan CCTV sekolah. Tentu ketika Irfan sedang sibuk Guno langsung pergi menghindari mereka takutnya jika dokumen itu kembali dan kebusukannya terbongkar, mereka pasti akan langsung memojokkan Guno.
Guno berjalan sembari sesekali melirik ke belakang karena takut mereka memanggil namanya. Namun, secara kebetulan Guno malah bertabrakan dengan seorang perempuan yang Guno kejar selama ini, Tama.
Bruk!!!!
Dua-duanya jatuh ke lantai dan orang-orang yang melihat mereka langsung menyorakinya.
" Ciyeeeeee!!!!!!! "
Pun dari mereka tidak ingin ketinggalan momen
" Awas-awas kita rekam! Romeo dan Juliet sedang bertabrakan! "
Dan salah satu siswa yang ikut melihat mereka pun merekam kejadian tersebut, Guno tidak marah karena hal ini tidak disengaja dia malah membiarkan mereka merekam kejadian ini agar Guno terlihat seperti guru yang berwibawa dan bijaksana. Tentu ketika tahu siapa yang dia tabrak, Guno langsung berdiri dengan sigap ia membereskan semua dokumennya yang jatuh dan dia membantu Tama berdiri dengan cara menarik lengannya.
" Kamu gakpapa? "
Namun Tama hanya menunduk dan diam lalu mata Guno melihat ke lengan Tama yang barusan Guno tarik.
" Kenapa tanganmu? "
Tama menggelengkan kepalanya lalu berlari, hal ini mencuri perhatian Guno. Yang tadinya dia akan pergi ke kelas sebelas malah balik mengikuti Tama ke ruang UKS.
Tama mencari kotak obat, dia berjalan ke lemari besar hingga lemari kecil tapi tak ada hasil dan Guno yang memperhatikannya dari belakang hanya diam saja.
Tama kesal hingga ia menghentakkan kaki kanannya ke lantai.
" Ih! " Ucapnya sembari mengepalkan kedua tangannya.
Guno mengela nafas lalu tangan kanannya membuka laci yang berdiri tepat di sampingnya.
srek!!
Ada kotak P3K di sana, diambilnya oleh Guno.
" Kamu cari ini? " Tanya Guno pada Tama yang kemudian dia berbalik arah dan melihat kotak yang dipegang Guno.
Perlahan Tama menganggukkan kepalanya lalu Guno menyuruh Tama untuk duduk dikursi panjang yang tersimpan tepat dibelakang Guno. Guno menepuk - nepuk kursi itu sembari matanya menatap Tama yang berdiri sedikit kaku.
" Duduk disini, aku obati "
Tama melihat luka ditangannya dan Guno dengan sabar menunggu Tama duduk dikursi ini. lima menit berlalu Tama berdiri mematung, entah apa yang ada dipikirannya yang jelas Guno pun membatin sembari melihat paras cantik seorang Tama.
" Kalau gue yang maju nanti gue kena kasus lagi! Yang cctv saja masih dibuat deg-degan sampai sekarang, apalagi ini kalau gue inisiatif "
Tama menghembuskan nafasnya lalu secara perlahan dia melangkah ke arah Guno kemudian dia duduk tepat disamping Guno. Tama memperlihatkan lukanya itu kepada Guno. Nampak ngeri dan sepertinya sangat sakit.
Dengan nada bicara yang tenang Guno bertanya
" Kenapa? "
" Dipelintir Iwan "
" Kok bisa biru? "
" Diserempet pas pulang "
" Kapan? "
" Tiga hari yang lalu "
" Disengaja? "
" Iya "
" Kok waktu diruang musik ini gak kelihatan? "
" Bapak lupa ya, baju saya waktu itu lengan panjang "
Guno menghela nafas kemudian tanpa basa basi lagi dia langsung mengobati luka Tama.
" Ini aku cuma kasih obat merah dibagian barednya, nanti pulang aku bawa kamu ke dokter "
" Saya! "
" Hem?"
" Bapak harus bilang saya, kalau aku.. rasanya kurang enak didengar "
" S-s-saya "
" Iya saya! "
Guno mengangguk paham kalau Tama tidak nyaman jika dirinya terlalu mengakrabkan diri pada Tama dengan kata AKU.
" Kalau begitu saya ke kelas dulu ya lima menit lagi bel bunyi, kamu dikelas hati - hati. Kalau butuh apa - apa panggil saya saja atau.. telpon? Kamu bisa telpon saya "
Guno berdiri kemudian dia melangkah pergi tapi baru beberapa centi saja dirinya menjauh dari Tama, suara gadis belia itu menghentikan langkah kakinya " Saya sudah putus dari Iwan, saya bukan milik siapapun pak! " penegasan dari kalimatnya saja membuat Guno bahagia tak karuan, tapi tetap Guno harus menjaga wibawanya. Kepalanya menengok ke arah Tama lalu mengangguk sembari tersenyum.
************************
Jam pelajaranpun selesai kini saatnya bel istirahat pertama dibunyikan.
Tet!!!! Tet!!!!
Masih dengan perasaan gelisah karena kejadian tadi pagi Guno tetap nekat untuk masuk ke kantor guru. Rupanya semua nampak damai bahkan Bu Etik yang katanya tahu kalau Guno mencium Tama di ruang musik, kini beliau sedang anteng saja tuh ngobrol dengan guru yang lain.
Pak Ilham yang punya koneksi memantau cctv juga beliau lagi santai, ngopi sembari baca artikelnya di iPad. Kalau mereka tahu Guno sudah melakukan pelecehan harusnya ketika Guno masuk, mereka langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
Guno menyimpan dokumennya dimeja lalu membuka jas labnya. Ketika dia sudah selesai menyimpan jas lab digantungan baju yang tersimpan dibelakang meja Guno, seketika matanya berpapasan dengan mata Irfan yang dimana dia juga baru masuk kantor setelah mengajar.
Batin Guno bicara " Kenapa, tidak terbukti ya? ".
Guno membuka laci meja kerjanya lalu mengambil satu sachet kopi susu. kemudian dia mengambil cangkir yang tersimpan rapi di dekat dispenser air minum, ketika Guno sedang membuka kopi sachet itu tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh Bu Etik.
" Dar!!!! "
Sontak tubuh Guno terperenjat
" Duh! Ibu! "
" Kopi apa tuh? "
" Susu "
" Biasanya suka yang pahit "
" Lagi suka yang manis Bu "
" Kenapa, karena sekarang pasangannya masih manis ya gak pahit? "
" Pasangan apa sih Bu? Saya jomblo! "
" Hei, jangan kamu pikir saya gak tahu ya pak Guno! Kamu cium Tamakan dikelas, em? "
Deg!
Lagi - lagi jantung Guno berdetak tak karuan
" Saya hanya meniup matanya Bu, kelilipan! "
" em!!!! alasannya gak logis, saya gak buta pak Guno! Kamu cium Tama terus ibu jari kamu masuk ke mulutnya. Tama itu masih sekolah, kudu hati - hati kalau macarin anak sekolah! Mau saya sebarin? "
Bu Etik secara tidak langsung mengancam Guno! Tentu Guno panik dan membungkam Bu Etik dengan menyimpan jari telunjuknya dibibir Bu Etik.
" Syut!!!! "
" Makanya jangan berbohong! "
" Saya gak ganggu kehidupan ibu loh! Apapun yang terjadi dikehidupan ibu saya gak peduli "
" Saya tahu kok kamu gak perlu kasih tahu tapi, semua informasi penting itu keamanannya gak ada yang gratis! "
" Saya harus ngapain? saya harus traktir ibu makan atau apa? "
" Saya gak muluk - muluk! Saya cuma minta... "
Bu Etik kepalanya tengok kanan dan kiri seperti sedang memastikan keadaan, kemudian beliau berbisik.
" Saya cuma minta waktu kamu "
" Waktu? Ibu mau jalan sehari dengan saya? "
Bu Etik mengangguk
" Tapi kenapa? "
" Kok kenapa sih? Ya supaya kemesraanmu dengan Tama tidak diketahui siapapun "
" Ya tapi kenapa Bu harus jalan sama ibu seharian? Umur kita beda jauh loh! "
" Memangnya kenapa? kamu saja dengan Tama beda jauh masa saya nggak bisa, hanya karena saya perempuan tua begitu? "
" Gini deh mending sekarang saya transfer uang ke rekening ibu, daripada saya harus jalan sama ibu seharian, saya nggak bisa bu! "
" Oh begitu!! Baiklah, Pak Ilham!!!!! "
Tiba-tiba perempuan tua yang menyebalkan ini memanggil nama pak Ilham, apa pak Ilham tahu soal CCTV itu dan datanya kembali?