Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumit
Rendra menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang mewahnya. Matanya menatap langit-langit. Hampa. Terlintas bayangan Adit yang menyapa Dawai di depan sekolah saat pulang sekolah. Keduanya sempat mengobrol sejenak sebelum akhirnya pacar Dawai datang.
Rendra kesal melihat mangsanya dikelilingi banyak cowok. Sebenarnya baru pertama kali ini Rendra merasa begitu kesal. Dibandingkan permainan-permainannya sebelumnya, jika targetnya sudah punya pacar, Rendra akan dengan mudah membuat si target berpaling kepadanya. Kali ini, targetnya sungguh diluar dugaannya. Bahkan melirik dirinya saja tidak.
'Sial!'
Rendra memejamkan matanya, memijit dahinya yang terasa cenat-cenut. Teringat jelas bayangan saat Adit memutuskan untuk keluar dari rumah. Saat itu juga dia tahu bahwa Adit bukanlah kakak kandungnya.
"Kakak mau kemana?" tanya Rendra pada Adit waktu Adit sedang berkemas akan keluar dari rumah.
"Kamu jaga ayah ya. Yang baik, yang nurut," pesan Adit pada Rendra sambil berkemas, tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan Rendra.
"Kakak mau kemana?" tanya Rendra sekali lagi, kali ini dengan menghentikan tangan Adit yang sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Adit tersenyum.
"Mulai sekarang, kakak tinggal di luar. Kamu baik-baik ya," pesan Adit.
"Hah? Tinggal dimana? Kenapa? Kakak berantem sama ayah?" tanya Rendra bertubi-tubi, tak paham dengan keputusan kakaknya yang tiba-tiba. Adit tersenyum sambil menggeleng dan melanjutkan berkemas.
"Lalu? Kenapa tiba-tiba?" Rendra semakin tak sabar karena tak mendapat jawaban yang tepat. Adit menghela nafas dan menghentikan aktifitas berkemasnya.
"Sebenernya... Kakak bukan kakak kandung kamu," kata Adit. Mata Rendra membulat. Terkejut.
Selama ini banyak yang bilang mereka tidak mirip sama sekali. Namun, Rendra tak pernah curiga ataupun menduga akan seperti itu faktanya.
"Kakak diangkat anak oleh ayah, setelah ayah kandung kakak meninggal," lanjut Adit.
"Waktu Kakak dateng ke rumah ini, kamu masih bayi. Lucu. Karena Kakak nggak punya sodara, jadi, ada kamu disini Kakak jadi nggak merasa kesepian," kata Adit sambil mengenang masa lalu. Rendra terdiam.
"Jadi, sekarang, sudah saatnya Kakak berhenti merepotkan kalian dan berdiri sendiri," lanjut Adit sambil kembali melanjutkan berkemas.
Rendra bergeming. Kakak yang selama ini dia sayangi, dia andalkan, yang selama ini melindunginya akan pergi dari rumah. Rendra tak pernah membayangkan hal itu akan terjadi.
Rendra kembali membuka matanya. Tangannya mengepal memukul keras kasur empuknya. Entah mengapa dia begitu marah melihat Adit berjalan bersama Dawai di sekolah. Dia seperti merasakan sesuatu di mata Adit saat Adit menatap Dawai.
'Sial!'
***
"Nunggu bus, Miss?" tanya Adit pada Dawai saat di depan sekolah.
"Bukan, Pak. Nungguin pacarnya. Cieeee~" kata Sissy, murid kelas X-7 yang sedang berdiri di samping Dawai menanti jemputan. Dawai hanya tersenyum.
"Eh? Pacar?" tanya Adit memastikan dia tak salah dengar.
"Iya, Pak. Pak Adit mau pdkt sama Miss Dawai ya? Nunggu Miss Dawai putus dulu, Pak," lagi-lagi Sissy yang menjawab sambil terkekeh. Adit hanya tersenyum.
"Cowoknya Miss Dawai keren lhoh, Pak. Tipe-tipe bad boy gitu," Sissy nerocos tanpa aba-aba. Adit melirik ke arah Dawai. Dawai hanya tersenyum.
'Beneran udah punya cowok?'
"Udah lama?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang Adit.
"Naaaah. Ini, Pak, cowoknya Miss Dawai," kata Sissy semangat. Adit spontan menoleh ke belakang.
Adit melihat sosok pria seusianya mengenakan kaos oblong hitam yang ditutupi dengan kemeja putih yang dibiarkan terbuka dipadukan celana jeans dan sneaker. Rambutnya bergelombang, cukup panjang untuk ukuran pria.
"Oh, hai!" sapa Disa pada Sissy. Sissy melambaikan tangan pada Disa sambil tersenyum.
"Saya Disa," kata Disa memperkenalkan diri pada Adit sambil mengulurkan tangan.
"Oh, Adit," kata Adit membalas uluran tangan Disa.
"Pulang?" tanya Disa pada Dawai.
"Mmm..."
"Okelah. Mampir dulu berarti," kata Disa seolah mengerti isi kepala Dawai. Dawai tersenyum.
"Saya duluan ya, Pak Adit, Sissy," pamit Dawai pada Adit dan Sissy.
"Ati-ati, Miss," kata Sissy penuh semangat. Adit hanya mengangguk.
"Mari," kata Disa pada Adit. Adit sekali lagi mengangguk.
Dawai dan Disa berlalu menuju mobil jeep yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Adit mengawasi Dawai yang sesekali tertawa bersama Disa saat berjalan menuju mobil.
"Keren kan, Pak? Tipe saya banget itu," bisik Sissy pada Adit. Adit menoleh ke arah Sissy.
"Belajar dulu yang bener biar nggak gampang ketipu cowok," pesan Adit lalu kembali melihat ke arah Dawai.
"Pak, apa hubungannya belajar yang bener sama ketipu cowok? Emang cowok bakal nanyain akar kuadrat dua lima berapa?" tanya Sissy sebal. Adit kembali menoleh ke arah Sissy dengan tatapan datar.
"Bisa jadi," kata Adit lalu berlalu meninggalkan Sissy yang bengong mendengar jawaban Adit.
Adit berjalan menuju rumah yang dibelinya tak jauh dari SMA Bina Bangsa. Dia terus memikirkan Dawai dan Disa di sepanjang jalan menuju rumahnya. Keduanya terlihat begitu bisa saling memahami.
Kini Adit tahu sosok pria yang selalu mengantar Dawai ke sekolah adalah pacarnya. Selama ini dia kira pria itu adalah kakaknya.
"Pacar," gumam Adit sambil berjalan.
'Tentu saja dia punya pacar. Dia cantik. Baik. Pinter. Pantas aja dia nyuekin Rendra,' pikir Adit.
Adit menghela nafas panjang, bukan karena lelah, tapi karena ada sesuatu yang berat mengganjal di dadanya. Rasanya sesak saat tadi mendengar Dawai memiliki seorang pacar.
Sejak hari Dawai berkata ketus padanya, Adit selalu memikirkan Dawai tanpa sadar. Terkadang dia sesekali mencuri pandang saat di kantor. Atau berusaha mencari bahan obrolan agar bisa berbicara dengan Dawai di kantor.
'Aneh,'
***
"Tadi itu?" tanya Disa pada Dawai saat keduanya di dalam mobil.
"Guru nyebelin yang dulu aku ceritain," jawab Dawai. Disa manggut-manggut.
"Keliatannya nggak jahat," komentar Disa sambil fokus mengemudi.
"Mmm... Iya. Baik sih," kata Dawai akhirnya. Disa tersenyum.
"Eh, tau nggak. Ternyata dia itu kakaknya Rendra, murid yang nembak gue," kata Dawai teringat cerita Ryan tentang Adit dan Rendra.
"Wow!"
"Kakak angkat," kata Dawai.
"Hah?!"
"Kok lo tau?" tanya Disa penasaran.
"Ryan yang cerita," jawab Dawai singkat.
"Mmm... Ryan? Yang ketemu kita waktu nonton itu?" tanya Disa memastikan dia tak salah orang. Dawai mengangguk.
"Ngapain dia tiba-tiba cerita soal itu?" tanya Disa.
"Jadi gini. Nggak tau kenapa, tadi pas aku jalan bareng sama Pak Adit ke kelas yang mau kita ajar, tiba-tiba Rendra tuh nyamperin kita. Dia kek marah gitu, udah kek abis nge-gap-in ceweknya main belakang," kata Dawai.
"Naaah, Pak Adit tuh nenangin Rendra. Tapi Rendra malah bilang hal-hal tentang keluar dari rumah, jadi pewaris, yang gitu-gitu deh, omongan orang kaya aku nggak paham," lanjut Dawai. Disa manggut-manggut.
"Orang kaya tuh kenapa selalu rumit kehidupannya?" tanya Dawai lebih kepada dirinya sendiri.
Disa menoleh ke arah Dawai. Dia melihat sahabatnya yang tengah menerawang jauh. Disa tersenyum, lalu kembali fokus mengemudi.
'Nggak semua orang kaya itu rumit,'
***
semngaatt ya thorrr