NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : lele Pitbull

Pagi hari yang cerah bara ingin ke Pasar Induk dengan The Black Chariot-nya yang berisik. Kali ini, bak belakangnya bukan berisi ayam, melainkan Akuarium Raksasa (drum plastik biru yang dipotong atasnya).

Isinya: 50 Ekor Lele Dumbo Mutan.

Lele-lele ini bukan lele biasa. Akibat diet protein tinggi dan ramuan Verdant Fury, ukuran mereka sekarang sebesar paha bayi. Kumis mereka panjang. Warna kulitnya hitam pekat berkilau, dan mereka sangat agresif.

"Tenang, Pasukan Air!" bentak Bara sambil memukul pinggir drum dengan centong kayu.

Cipak! Cipung!

Air muncrat ke mana-mana. Seekor lele mencoba melompat keluar untuk menggigit telinga Bara.

"Duduk! Eh, menyelam!" perintah Bara. Lele itu seolah mengerti dan masuk lagi.

Bara menggelar lapaknya.

"IKAN LELE PREMAN YOK MARI-MARI"

Daging Padat, Anti-Lembek. Cocok untuk Pecel Lele Bintang Lima.

Hati-hati: Bisa Menggigit.

Ibu-ibu pasar mengerubungi, tapi tidak berani mendekat terlalu rapat.

"Mas, ini lele apa ular kobra? Kok kumisnya tegak gitu?" tanya Bu Tejo.

"Ini Lele Bodyguard, Bu. Makan satu, suami Ibu langsung berani ronda malam sendirian," promosi Bara.

Dagangan mulai laris. Orang penasaran dengan lele raksasa ini. Bara sibuk menimbang lele yang meronta-ronta di timbangan, membuat jarum timbangan goyang dangdut.

Tiba-tiba, kerumunan ibu-ibu membelah seperti Laut Merah.

Tiga sosok pria berjalan dengan gaya slow motion (yang dipaksakan).

Sebut saja namanya bang Codet: Ketua. Pakai jaket kulit sintetis yang sudah mengelupas di bagian ketiak (panas-panas begini pakai jaket kulit, baunya aduhhh). Ada bekas luka codet di pipi (padahal itu bekas jatuh dari sepeda waktu TK).

Si Kriting: Rambut kribo, pakai kaos singlet yang kekecilan, memamerkan tato naga yang lebih mirip cacing kepanasan.

Si Gembul: Badan besar, tapi mukanya baby face. Dia makan cilok sambil jalan.

Mereka adalah Trio Macan Ompong. Preman lokal yang kerjaannya minta jatah preman alias "Uang Keamanan".

Bang Codet berhenti di depan meja Bara. Dia meletakkan kakinya di atas peti kayu kosong dengan gaya Captain Morgan.

"Ehem," deham Bang Codet keras-keras.

Bara tidak menoleh. Dia sibuk bergulat sama lele. "Diam kamu, Le! Jangan nyiplak air ke mata pelanggan!"

Bang Codet merasa dicuekin. Harga dirinya terluka.

"WOY! TUKANG IKAN!" gebrak Bang Codet ke meja.

Seekor lele kaget, melompat, dan menampar tangan Bang Codet dengan ekornya. PLAK! Lendir lele menempel di jaket kulitnya.

"ANJIR! LELE KURANG AJAR!" Bang Codet mundur, jijik.

Bara akhirnya menoleh, membetulkan kacamata hitam patahnya. "Oh, maaf Bang. Lele saya sensitif sama bau... kulit sintetis murah. Ada perlu apa?"

Si Kriting maju, membusungkan dada (yang rata). "Lu anak baru ya? Di sini ada aturannya! Kalau mau jualan aman, harus bayar Iuran Kebersihan dan Keamanan. Setor 50 ribu per hari!"

"50 ribu?" Bara tertawa renyah. "Mahal amat. Emang Abang bersihin apa? Dosa saya? Kalau iya, saya bayar sejuta deh."

Orang-orang pasar mulai terkikik. Wajah Bang Codet merah padam.

"Ngelunjak lu ya! Lu mau lapak lu gue acak-acak?! Mau gue bikin lele lu jadi pepes?!"

Si Gembul membuang tusuk ciloknya. "Hajar aja, Bos! Biar dia tau siapa kita!"

Bara menghela napas panjang.

"Hah... lagi-lagi kekerasan fisik," gumam Bara.

Tangannya perlahan merogoh saku celemeknya. Dia mengambil sebuah tabung bambu kecil (bekas tempat tusuk gigi) yang berisi serbuk berwarna putih kehijauan.

Itu adalah Serbuk Kaku Raga (Rigor Mortis Powder).

Bahan: Ekstrak Bunga Terompet (Lumpuh otot) + Getah Pohon Upas (Dosis mikro) + Bubuk Gatal dari bambu (Untuk efek komedi).

"Bang, sebelum Abang mengobrak-abrik lapak saya, boleh saya tawarkan bedak gratis? Muka Abang berminyak banget, tuh," kata Bara santai.

"Bedak ndasmu!" Bang Codet mengayunkan tinjunya ke arah wajah Bara.

Bara tidak menghindar. Dia cuma meniup ujung tabung bambu itu ke arah wajah mereka bertiga.

Fyuuuhhh...

Serbuk halus beterbangan, terhirup oleh hidung mereka dan menempel di pori-pori wajah.

Satu detik.

Bang Codet bersin. "Hachim!"

Dua detik.

Si Kriting menggaruk hidungnya. "Kok gatel..."

Tiga detik.

Efeknya bekerja.

Tiba-tiba, sinyal syaraf dari otak ke otot mereka terputus sementara. Otot mereka mengalami kontraksi kaku instan (Lockdown).

Bang Codet membeku dengan pose tinju melayang di udara, satu kaki masih di atas peti kayu. Matanya melotot, mulutnya mangap.

Si Kriting membeku saat sedang menggaruk hidung, jarinya masuk setengah ke lubang hidung.

Si Gembul membeku saat mau mengambil cilok lagi di saku celananya, posisinya membungkuk aneh seperti orang sakit pinggang.

Mereka jadi Patung.

"Lho? Kok nggak bisa gerak?!" teriak Bang Codet panik, tapi bibirnya kaku, jadi suaranya seperti robot rusak. "M-m-mas... a-a-apa i-ini..."

Bara keluar dari balik mejanya, menepuk-nepuk pipi Bang Codet yang kaku. Plok-plok. Keras seperti batu.

"Ini namanya Seni Instalasi Patung Pasar," jelas Bara pada penonton yang bengong. "Lihat detailnya? Ekspresi ketakutannya sangat natural."

Bara mengambil spidol papan tulis. Dia menggambar kumis kucing di wajah Bang Codet yang tidak bisa melawan. Lalu dia menggantungkan kantong kresek berisi sampah ikan di tangan Si Kriting yang sedang ngupil.

"Nah, sekarang kalian sedikit berguna. Jadi gantungan barang," kata Bara.

Ibu-ibu pasar meledak tertawa.

"Hahaha! Sukurin! Bang Codet jadi pajangan!"

"Mas, boleh foto nggak?"

"Silakan Bu, tiket foto 5 ribu, gratis pegang lele," jawab Bara.

Di Dalam Mobil Mewah

Di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam mengkilap terparkir. Kaca jendela belakang turun sedikit.

Clara duduk di sana, memegang berkas pesanan. Dia melihat seluruh kejadian itu.

Awalnya dia khawatir Bara akan dihajar. Supirnya bahkan sudah bersiap turun bawa kunci roda.

Tapi kemudian... Puff. Tiga preman besar itu membeku jadi patung tanpa disentuh sedikitpun.

Mata Clara membulat. Mulutnya sedikit terbuka.

"Gila..." desis Clara.

"Itu... dia pake apa, Nona?" tanya supirnya bingung. "Santet? Tenaga dalam? Totok syaraf?"

Clara, yang lulusan luar negeri dan sangat logis, otaknya hang.

"Dia cuma niup... terus mereka kaku? Itu pasti neurotoxin kerja cepat. Tapi... darimana dia dapet racun militer kayak gitu di pasar ikan?!"

Clara menatap Bara dengan pandangan baru.

Bukan cuma pedagang udang. Bukan cuma cowok aneh yang ngomong sama ayam.

Dia berbahaya. Dan seksi.

"Dia bisa melumpuhkan tiga orang dalam 3 detik tanpa merusak properti dan tanpa berkeringat," analisis Clara. "Orang ini... aset berharga."

Clara membuka pintu mobil. Dia harus bicara.

Bara sedang sibuk melayani ibu-ibu yang beli lele (sambil menjadikan Si Gembul yang membungkuk sebagai meja kasir darurat—meletakkan uang di punggungnya), ketika wangi parfum mawar itu tercium lagi.

"Kamu bikin keributan lagi," suara dingin Clara terdengar.

Bara menoleh. "Ah, Nona Clara. Klien VIP-ku. Maaf, toko sedang ada... dekorasi baru." Dia menunjuk tiga patung preman itu.

Clara menatap Bang Codet yang penuh coretan kumis kucing. Preman itu matanya bergerak-gerak panik memohon pertolongan, tapi badannya kaku total.

"Kamu apakan mereka?" tanya Clara datar.

"Sedikit Muscle Relaxant dosis tinggi. Racikan herbal. Efeknya cuma 1 jam kok. Habis itu mereka lemas kayak jeli seharian," jelas Bara jujur.

"Kamu meraciknya sendiri?"

"Tentu. Bahan bakunya dari tanaman hias yang Nona injak itu," Bara menunjuk rumput liar di pinggir jalan.

Clara menghela napas. Dia mengambil sapu tangan, lalu mengelap keringat di dahi Bara (tindakan impulsif yang bikin ibu-ibu pasar heboh Ciyeee!).

Bara kaget. "Eh? Bayarannya mahal lho Nona, jasa lap keringat."

"Diam," Clara menarik tangannya cepat, pipinya sedikit merah (sedikit saja). "Saya ke sini mau ambil pesanan udang 10 kilo untuk Golden Spoon. Dan... saya mau tawarkan kerjasama baru."

"Kerjasama apa? Jadi pembunuh bayaran? Maaf-maaf Saja nih ye, Saya sekarang fokus di dunia lendir (lele)."

Clara memutar bola matanya. "Bukan, bodoh... Bos saya punya masalah hama di gudang penyimpanan bahan makanan. Tikus-tikus got yang kebal racun biasa... Kalau kamu bisa bikin racun yang bikin manusia jadi patung... saya yakin kamu bisa atasi tikus juga."

Mata Bara berbinar. "Tikus? Hama? Konoho? Eh salah."

Bagi Bara, itu bukan masalah. Itu Sumber Pendapatan Ekstra.

"Berapa angkanya?" tanya Bara.

"5 juta. Bersih. Asal gudang itu steril dalam waktu cepat."

Bara menyeringai lebar, giginya yang putih kontras dengan wajah preman Bang Codet di sebelahnya.

"Katakan pada Bosmu, anggap saja tikus-tikus itu sudah jadi sejarah. Tapi saya butuh akses ke dapur restoran. Saya mau sisa minyak jelantah sebanyak-banyaknya."

"Buat apa jelantah?"

"Buat bikin Sabun Kematian bagi para tikus. Dan mungkin... sabun cuci piring aroma lemon buat bonus," jawab Bara misterius.

"Cihh Kamu emang gila," Clara menggeleng, lalu memberi kode pada supirnya untuk mengangkut udang pesanan.

Saat Clara pergi, Bang Codet bicara sedikit, bibirnya gemetar.

"M-mas... a-a-ampun... g-gatel..."

"Gatel ya?" Bara tertawa jahat. "Itu bonus. Bubuk bambunya mulai bekerja. Nikmati sensasinya, Bang. Nanti kalau sudah bisa gerak, jangan lupa mampir beli lele ya. Diskon 10% buat member 'Patung Club'."

Hari itu, Bara pulang dengan kantong tebal dan reputasi baru: Dukun Lele Pasar Induk.

Preman pasar? Lewat.

Wanita karir? Terpikat (sedikit).

Dompet? Tebal.

Saatnya pulang ke markas dan meracik racun tikus paling epik dalam sejarah peradaban hama.

1
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Razif Tanjung: terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Gege
pikir ada adegan kultivasi ganda kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu lima some...kan tenaganya berlimpah ruah birahinya naik..mirip epek afrodiak..🤣🤭
Razif Tanjung: jangan tar ke banned🤣🤣🤣
total 1 replies
Gege
naaaah kaaan ada adegan nanti remas remas...pastikan scene remas meremas 2k kata sendiri thoorr...🤣🤣
Razif Tanjung: eittt pelanggaran 🤣🤣
total 1 replies
Gege
kereeen updatenya...apik dan epic... kalo bisa lima kenapa tiga Thor...banyakin hareemnyaah...
Gege
apakah akan ada scene kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu dalam 10k kata thorr?🤣
Razif Tanjung: oh jelas tidak🤭
total 1 replies
Gege
mantaabbb...gassss 10k kata per update thorrr...
Gege
wasyeeek... moga ada alur yang nemuin wanita kena kanker payudara sembuhnya harus dipijat dengan olesan ramua ajaibnya Bara...yoook bikin thorr alurnya
Razif Tanjung: wah kebetulan sekali🤣🤣🤣, tinggal nunggu update ya kak
total 1 replies
Gege
karya yang warbyasaah
Gege
gilaa karya yang warbyasaah...para reader NT wajib sih ini mampir...rugi kalo engga...gasss thorrr
Gege
udah sampe bab 6 ceritanya amajing bangeed...warbyasaah...gass sekali up 10k kata...🤣
Razif Tanjung: wah terima kasih udah mampir saya terharu loh
total 1 replies
Slow ego
gua ikut mampir like👍.
Slow ego
namanya unik🤔
Razif Tanjung: terimakasih banyak kak, apakah ada yang harus saya perbaiki kedepannya, dari sudut pandang kakak yang baca deh
total 3 replies
anggita
mampir like👍, iklan👆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!