“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bridge - CH 6 : FILOSOFI KRIM KOCOK DAN KOPI SACHET
Jam dinding ruko menunjukkan pukul 03.45 pagi.
Suasana di luar masih gelap gulita, tapi dapur Bara’s Kitchen terasa hangat campuran sisa panas oven dan aroma cokelat yang memenuhi ruangan. Tiga loyang kue sudah berjajar di atas meja stainless, mengepulkan uap tipis.
Bara sedang fokus. Tangannya yang biasanya kasar saat memegang kuali, kini bergerak sangat stabil memegang palette knife. Dia sedang mengoleskan whipped cream putih susu ke sekeliling kue cokelat itu.
Sreeek... sreeek... Suara gesekan pisau kue itu satu-satunya bunyi yang terdengar, kayak terapi ASMR di tengah keheningan subuh.
Di pojokan, Lintang dan Mang Ojak duduk selonjoran di atas ubin. Di depan mereka ada tiga gelas plastik berisi kopi hitam sachet yang asapnya masih mengepul.
"Gila ya, Mas Bara kalau udah dandanin kue... mukanya serius banget, kayak lagi bedah jantung," bisik Lintang sambil menyeruput kopinya.
Mang Ojak terkekeh, suaranya parau khas orang kurang tidur. "Bara itu aslinya sayang sama makanannya, Neng. Dia cuma galak sama orangnya, terutama soal duit."
Bara nggak nengok, tapi kupingnya denger. "Gue denger ya. Mang Ojak, cokelat serutnya udah siap?"
"Sampun, Den. Ini, udah melingkar sempurna kayak perasaan Abah ke Si Putih," Mang Ojak nyodorin wadah berisi serutan cokelat.
Bara mulai menaburkan cokelat itu ke samping kue. Pelan. Teliti. Terakhir, dia menaruh ceri merah bertangkai di atas puncak krim yang dia semprot berbentuk mawar.
Selesai.
Kue tart tiga tingkat itu berdiri kokoh. Cantik, elegan, dan kelihatan "mahal". Kontras banget sama pemandangan ruko mereka yang catnya mulai mengelupas.
Bara meletakkan pisaunya, lalu ikut duduk selonjoran di ubin dapur yang dingin. Dia mengambil gelas kopi sachet yang mulai berlemak permukaannya.
"Mas, bagus ya kuenya, jadi pengen nanti kalo nikah pake kue kayak gini," Lintang buka suara sambil ngaduk kopinya pake sedotan plastik. "Tapi, gue liatin ya... krim kocok itu sebenernya rapuh banget kan? Kena panas dikit leleh, kesenggol dikit penyok. Tapi kenapa semua orang pengen kuenya ditutupin ginian?"
Bara menyesap kopinya, matanya natap kue tart yang putih bersih itu.
"Karena orang nggak mau liat 'cacat' di dalemnya, Tang," jawab Bara datar. "Kue itu pas keluar dari oven bisa aja retak, miring, atau gosong dikit. Krim kocok itu fungsinya buat nutupin kenyataan yang nggak estetik. Sama kayak hubungan... banyak manis di luar buat nutupin yang ancur di dalem."
Lintang terdiam. Jawaban Bara terlalu dalam buat jam 4 subuh.
"Terus kopi sachet ini?" tanya Lintang lagi, ngangkat gelas plastiknya. "Ini kan pahit, murah, ampasnya banyak. Kenapa Mas Bara nggak beli mesin kopi yang kerenan dikit?"
Bara menatap butiran ampas kopi di dasar gelasnya.
"Kopi sachet itu jujur, Tang. Lo tau harganya murah, lo tau rasanya standar, tapi dia selalu ada pas lo butuh begadang. Dia nggak butuh dikasih krim kocok buat jadi enak," Bara melirik Lintang. "Kadang, gue lebih percaya ampas kopi sachet daripada janji manis pelanggan yang pesen kue tart lamaran tiga tingkat tapi HP-nya nggak bisa dihubungi."
Mang Ojak yang dari tadi nyimak cuma bisa geleng-geleng. "Den, filosofi Den Bara itu pait banget, kayak belum diaduk kopinya."
"Hidup emang perlu diaduk-aduk, Mang. Kalau nggak, ampasnya numpuk di bawah," balas Bara sambil berdiri.
Tiba-tiba, HP Lintang bunyi. Drttt... Drttt...
"Mas! Alamatnya masuk!" Lintang panik. "Tapi bentar... Jalan Melati nomor 13. Masalahnya, setau gue tuh jalan melati ada 2 di daerah sini!"
Bara langsung siaga. "Dimana aja emang?"
"Yang satu di Perumahan Mewah, yang satu di Kampung Belakang Pasar. Trus ni orangnya nggak bales lagi pas ditanya yang mana!"
Bara memakai jaketnya. "Feeling gue bilang ini orang kaya yang lagi panik. Kita gas ke perumahan mewah. Mang, panasin Si Putih!"