NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KABAR YANG MELEDAK DI SEKOLAH

Suara sirine ambulans yang meraung membelah keheningan RS Medika Karya bener-bener bikin suasana makin mencekam.

Ibu Rian lari histeris, air matanya nggak berhenti ngalir pas liat putranya terbaring lemes di atas brankar yang didorong gercep sama para perawat nuju lorong IGD. Visual Rian yang penuh darah bener-bener jadi nightmare buat ibunya.

"Rian! Rian! Kamu kenapa bisa begini, Nak?" tangis Ibu Rian pecah, dia nyoba ngeraih tangan putranya yang dingin dan pucat.

"Maaf, Bu. Silakan tunggu di luar sampai tindakan medis selesai. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," cegat seorang dokter dengan tegas sebelum pintu ruang operasi tertutup rapat.

Dengan tangan gemetar dan perasaan yang hancur, Ibu Rian langsung menghubungi suaminya, ngabarin tragedi yang nimpa anak tunggal kesayangan mereka.

Sementara itu di sekolah, hilangnya Rian jadi tanda tanya besar yang bikin vibes koridor kerasa sepi. Ponsel Rian mati total, bikin Arini terus-menerus natap layar HP-nya dengan gelisah—berharap ada satu notifikasi masuk, tapi hasilnya nihil.

Beberapa hari berlalu, setelah ngelewatin masa kritis yang ajaibnya pulih lebih cepet dari perkiraan medis—seolah Rian punya healing power sendiri—dia akhirnya diperbolehkan pulang buat rawat jalan.

"Kamu kenapa bisa sampai begini sih, Nak?" tanya Bunda lembut sambil ganti perban di lengan Rian yang luka. "Lain kali kalau naik motor itu hati-hati. Bunda cemas sekali, takut kamu kenapa-napa. Kamu itu harta Bunda satu-satunya."

Rian tersenyum tipis, nyoba buat stay cool biar bundanya nggak makin kepikiran. "Aku nggak apa-apa, Bun. Kemarin aku cuma... lagi banyak pikiran saja. Maafin aku ya sudah bikin Bunda khawatir."

Rian terdiam sejenak, natap langit-langit kamarnya sebelum mutusin buat spill rahasia hatinya. "Aku menyukai seseorang di sekolah, Bun. Namanya Arini. Dia cantik, pintar, anak kelas IPA Kimia. Kemarin aku kepikiran dia terus."

Mata Bunda langsung berbinar denger pengakuan jujur anaknya. "Arini?"

"Iya, Bun. Namanya Arini. Dia bener-bener beda dari cewek lain yang pernah aku temui," jawab Rian dengan binar mata yang mendadak cerah.

"Ya sudah, semoga kamu mendapatkan cintanya ya. Kalau sudah sembuh, Bunda mau dong dikenalkan sama Arini. Penasaran Bunda secantik apa bidadari yang bikin anak Bunda sampai hilang fokus begini," goda Bunda.

Rian terkekeh kecil, ngerasa sedikit malu. "Aku masih coba mendekati dia, Bun. Aku sudah kasih tahu kalau aku suka sama dia, tapi sepertinya dia masih ragu."

Bunda tersenyum manis sambil ngelus bahu Rian. "Pasti dia akan menyukaimu juga. Anak Bunda kan paling ganteng satu sekolah."

"Memang iya, Bun? Bunda nggak objektif nih karena aku anak Bunda," canda Rian.

"Iya dong! Bunda bisa lihat dari penerawangan Bunda," ucap Bunda sambil ngedipin mata. Rian ketawa. Ternyata, bakat "menerawang" itu emang legacy alias turunan genetik dari sang Ibu.

"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya. Bunda mau masak opor kesukaanmu dulu," pamit Bunda. "Sekalian Bunda mau mengabari sekolah kalau kamu kecelakaan dan belum bisa masuk dulu. Biar pihak sekolah nggak bingung."

Deg! Jantung Rian serasa berhenti berdetak. Dia baru inget kalau statusnya saat ini masih dalam masa skorsing yang dia rahasiain dari rumah. Kalau Bunda ke sekolah, rahasia itu bakal meledak!

"Eh, nggak usah ke sekolah, Bun! Aku kabari lewat teman saja, lebih praktis!" cegat Rian gercep dengan muka panik.

"Memangnya nggak apa-apa begitu? Prosedur sekolah kan harus surat resmi," tanya Bunda heran.

"Iya, Bun, aman kok. Nanti biar Gery yang urus semuanya. Dia kan sohib aku yang paling bisa diandalkan," jawab Rian nyoba setenang mungkin. "Boleh aku pinjam HP Bunda? Mau mengabari teman, soalnya HP-ku hancur parah kemarin pas kecelakaan."

"Iya sayang, ini pakai saja," Bunda nyerahin ponselnya sebelum jalan ke dapur.

Rian segera cari nomor yang udah dia hafal di luar kepala. Nomor Arini. Tangannya gemetar pas mulai ngetik pesan singkat yang penuh perasaan.

“Rin, maaf tadi malam teleponnya terputus. Aku cuma mau bilang, jaga diri baik-baik di sekolah ya. Jangan dekat-dekat sama cowok lain... karena penerawanganku bilang, aku akan segera kembali untuk melindungimu. Tunggu aku ya.”

Matahari tepat berada di atas kepala, sign kalau jam istirahat udah tiba. Di pinggir lapangan basket SMA Tunas Bangsa, Gery berdiri gelisah sambil sesekali melirik jam tangannya yang udah nunjukin waktu makan siang.

"Mana sih si Rian? Katanya mau nekat ke lapangan jam istirahat walau lagi di-skor. Gaya-gayaan mau sat-set tapi nggak muncul," gumam Gery kesal sambil nendang kerikil. Dia bener-bener nggak tau kalau sahabatnya itu lagi terkapar lemes di rumah abis duel sama truk kemarin sore.

Di selasar kelas, Arini keluar dengan langkah gontai. Matanya secara refleks nyapu setiap sudut sekolah, mulai dari parkiran motor gede sampai koridor panjang depan kantin. Ada sesuatu yang kosong, kayak ada missing piece di harinya.

Enggak ada Rian... batin Arini lirih. Oh iya, dia kan masih di-skors. Aku jadi kangen. Enggak ada dia, nggak ada yang bikin aku kesal sekaligus lucu. Sekolah jadi terasa hambar banget.

Arini baru nyadar, kehadiran cowok "peramal" yang tadinya dia anggep aneh itu udah jadi warna tersendiri. Hidupnya yang kaku jadi lebih berwarna sejak ada Rian.

"Rin! Ngapain kamu berdiri di sini kayak patung? Ayo ke kantin, laper nih!" suara Yusa tiba-tiba ngebuyarin lamunan Arini.

Pas di koridor, ponsel Arini bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang nggak dikenal. Begitu baca isinya, sudut bibir Arini otomatis terangkat. Dia langsung tau itu dari Rian. Siapa lagi cowok yang hobi ngomongin "penerawangan" selain dia?

"Kenapa senyum-senyum sendiri, Rin? Dapet chat dari siapa?" tanya Yusa yang sejak tadi merhatiin gerak-gerik Arini dengan tatapan curiga.

Arini cepet-cepet nyembunyiin layar ponselnya. "Nggak apa-apa kok, cuma info random saja," jawabnya singkat, nyoba nutupin rasa lega yang luar biasa di hatinya.

Sementara itu di kamarnya, Rian ngumpulin sisa tenaganya buat menelepon Gery. Suaranya terdengar parau dan berat pas panggilan terhubung. "Ger... gue kecelakaan. Ponsel gue hancur berkeping-keping."

"Apa?! Lo kecelakaan, Yan? Serius?! Jangan bercanda lo, nggak lucu!" Gery teriak kaget sampai anak-anak yang lewat pada nengok.

"Iya, gue serius. Tubuh gue baru mendingan sekarang. Baru sanggup pegang HP Bunda," keluh Rian.

Gery menghela napas panjang, campur aduk antara kesel dan sedih. "Pantas saja gue nungguin lo dari kemarin di lapangan nggak muncul-muncul! Lo emang beneran peramal ya, ngeramal diri sendiri masuk RS? Ya sudah, pulang sekolah gue langsung ke rumah lo."

"Iya, Ger. Thanks ya. Tolong kabari Arini... tapi jangan bikin dia panik banget," pesen Rian sebelum nutup telepon.

Mendengar kabar itu, Gery nggak bisa diem. Dia langsung lari nuju kelas Arini dengan napas terengah-engah. Dia mau kasih tau kabar ini biar mereka bisa jenguk bareng-bareng. Begitu sampai depan kelas, Gery masuk dengan wajah pucat dan keringat bercucuran.

"Ger, lo kenapa sih lari-lari kayak dikejar setan?" tanya Yusa bingung liat tingkah sohibnya yang berantakan.

Gery nggak langsung jawab. Dia megangin lututnya, nyoba ngatur napas yang putus-putus. "Rin..." panggilnya ke Arini.

"Lo kenapa sih, Ger? Ada apa?" Siska ikutan heran.

"Rian... Rian..."

"Rian kenapa? Ngomong yang bener dong!" tanya Siska nggak sabar.

"Rian kecelakaan parah!"

Wajah Arini mendadak pucat pasi, dunianya serasa runtuh seketika. "Apa? Kecelakaan? Kapan?!" Jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Iya, Rin! Dia baru aja telepon gue. Sekarang lagi rawat jalan di rumahnya," jelas Gery.

Arini ngegeleng nggak percaya, dia natap ponsel di tangannya. "Tadi Rian kirim pesan ke aku, tapi dia nggak cerita apa-apa kalau dia kecelakaan... Dia cuma bilang suruh jaga diri..." air mata Arini mulai menggenang.

"Rian kecelakaan hebat, Rin. Teman-teman sekelas gue sepakat mau jenguk dia pulang sekolah nanti. Lo mau ikut?" tanya Gery.

Tanpa pikir panjang, Arini langsung nyambar tasnya. "Ya sudah, kalau gitu aku ikut sekarang juga. Aku mau lihat keadaan Rian dengan mata kepalaku sendiri!"

Yusa yang liat Arini sepanik itu ngerasa cemburu berat. "Kamu yakin, Rin? Kondisinya kan baru mendingan, mungkin dia butuh istirahat. Bareng aku saja ya, aku antar kalau kamu maksa mau ke sana," tawar Yusa, nyoba ambil kesempatan.

Tapi Arini udah nggak peduli sama Yusa atau image-nya. Fokusnya cuma satu: Rian. "Aku bareng kamu saja ya, Ger. Ayo cepet!" ucap Arini tegas ke Gery.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!