NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 13

Hari yang dimaksud akhirnya tiba.

Pagi itu, Zahra berdiri cukup lama di depan cermin kamarnya. Tatapannya menelusuri bayangan diri sendiri. Kemeja putih yang ia kenakan tampak rapi dipadu celana kain hitam yang sederhana. Riasan tipis hanya sekadar menutupi wajah pucat dan lingkar samar di bawah matanya. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, berusaha terlihat seprofesional dan serapi mungkin.

“Cukup,” gumamnya lirih, seolah meyakinkan diri sendiri.

Sebelum keluar kamar, Zahra meraih jaket dan langsung memakainya. Ia tahu betul, pakaian hitam-putih seperti ini pasti akan mengundang banyak pertanyaan dari ibunya. Ia belum siap menjelaskan apa pun, setidaknya belum hari ini. Ia masih berharap dan berdoa, dirinya tidak ditahan atas tindakan impulsif yang ia lakukan hari itu.

Pintu kamar dibuka pelan. Zahra melangkah ke dapur, aroma nasi hangat dan gorengan langsung menyambutnya. Ibu Rini masih berdiri di depan kompor, mengaduk wajan dengan gerakan tenang seperti pagi-pagi sebelumnya.

“Masuk pagi, Nak?” tanya Bu Rini tanpa menoleh sepenuhnya.

“Iya, Bu,” jawab Zahra cepat. “Tapi lanjut sampai malam. Teman Zahra minta tolong gantikan, katanya ada urusan.”

Setengah kebohongan itu terasa pahit di lidahnya. Padahal hari ini jadwalnya shift siang. Namun sidang pagi hari memaksanya memutar cerita.

Bu Rini menoleh, menatap wajah putrinya dengan sorot mata khawatir.

“Jangan sampai kecapekan lagi, Zahra. Kamu belum sehat betul. Lihat tuh, wajah kamu masih pucat.”

Zahra segera tersenyum. Sebuah senyum lebar yang dibuat-buat terlukis di bibirnya.

“Zahra sehat, Bu. Beneran.”

Ia melirik jam tangan di pergelangannya. Waktu terus berjalan, sementara jantungnya berdetak semakin cepat. Zahra segera meraih kotak bekal dari rak piring.

“Nggak sarapan di rumah dulu?” tanya Bu Rini lagi.

“Nggak sempat, Bu.” Zahra membuka penanak nasi, menyendok nasi hangat, lalu mengambil ikan goreng dan sambal yang sudah tersaji di meja.

Belum sempat menutup kotak bekalnya, Bu Rini datang membawa sepiring telur dadar yang masih mengepul.

“Ini juga dimasukin,” katanya sambil tersenyum kecil. “Biar kenyang. Nggak apa-apa, double protein.”

Zahra menatap ibunya, lalu tertawa kecil.

“Ibu tuh, kayak takut Zahra kelaparan seminggu.”

Bu Rini ikut tertawa, lalu mengelus lengan Zahra singkat.

“Namanya juga ibu.”

Tawa mereka pecah sederhana, tapi di balik itu, dada Zahra terasa sesak. Andai ibunya tahu apa yang terjadi dengannya dan ke mana ia akan pergi pagi ini.

Setelah menutup kotak bekal dan memasukkannya ke dalam tas, Zahra mencium tangan ibunya.

“Zahra berangkat dulu ya, Bu.”

“Hati-hati di jalan,” pesan Bu Rini. “Jangan ngebut.”

“Iya,” jawab Zahra pelan.

Begitu melangkah keluar rumah, senyumnya perlahan memudar. Jaket yang ia kenakan terasa semakin berat di pundak. Zahra menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri sebelum menyalakan motornya.

Namun baru saja mesin motor dinyalakan, Zahra teringat sesuatu yang hampir tertinggal. Ia akhirnya kembali masuk ke dalam rumahnya dengan setengah berlari. Ia berlari melewati sang ibu yang berpapasan dengannya di lorong menuju kamar.

“Kenapa?”

Tak lama ia kembali dari kamarnya dengan membawa sebuah paper bag.

“Zahra ketinggalan ini, Bu. Zahra pergi ya, Bu…”

Ia kemudian kembali ke motornya, kembali menyalakan motor matic tuanya. Ia jalankan dengan pelan motor itu keluar dari gang menuju jalan besar.

Di depan sana, gedung pengadilan sudah menunggunya, bersama dengan segala kemungkinan yang belum berani ia bayangkan.

*

*

*

Empat puluh lima menit perjalanan akhirnya membawa Zahra sampai di kantor pengadilan. Motor tua yang setia menemaninya ia parkirkan di area yang telah disediakan. Mesin motor dimatikannya perlahan, seolah ia masih butuh waktu beberapa detik untuk mengumpulkan keberanian sebelum benar-benar masuk ke dalam.

Zahra melepaskan helm, dan menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, entah karena lelah atau karena gugup yang sejak tadi menggerogoti pikirannya. Dengan langkah sedikit ragu, ia berjalan menuju pintu utama gedung pengadilan.

Begitu masuk, suasana berbeda langsung menyergapnya. Udara di dalam terasa lebih dingin, namun justru membuat telapak tangannya berkeringat. Orang-orang lalu lalang dengan wajah serius. Ada yang berbincang pelan, ada pula yang duduk diam menunduk, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Langkah Zahra melambat, matanya menyapu sekeliling, merasa asing sekaligus kecil di tempat sebesar ini.

Ia mengikuti petunjuk arah hingga akhirnya menemukan kursi panjang yang berjajar di lorong depan ruang sidang. Zahra duduk di ujung kursi, punggungnya tegak namun tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Sesekali ia melirik pintu ruang sidang yang masih tertutup rapat, berharap sekaligus takut namanya dipanggil.

Waktu berjalan terasa lambat. Detik demi detik berlalu dengan jantungnya yang berdetak tak beraturan. Zahra menunduk, mencoba mengatur napas, membaca doa-doa pendek yang ia hafal sejak kecil.

“Semoga semuanya baik-baik saja,” bisiknya lirih.

Langkah sepatu terdengar mendekat. Zahra tidak langsung menoleh, mengira itu hanya orang lain yang lewat. Namun langkah itu berhenti tepat di depannya.

“Zahra.”

Suara itu membuatnya refleks mendongak.

Sejenak, Zahra terdiam. Pria yang berdiri di hadapannya tampak begitu berbeda. Seragam polisi lengkap melekat rapi di tubuhnya, lengkap dengan atribut yang membuat posturnya terlihat semakin tegas dan berwibawa. Rambutnya tertata rapi, wajahnya serius namun sorot matanya tetap sama.

“Pak… Zaidan?” ucap Zahra ragu, nyaris tak percaya.

Ia sempat pangling. Biasanya Zaidan selalu datang dengan kaos polo hitam dan celana kasual, tampak santai dan jauh dari kesan resmi. Hari ini, sosok di depannya terasa seperti orang lain. Terasa lebih asing, dan terasa ada jarak.

Zaidan menangkap keterkejutan di wajah Zahra, lalu tersenyum tipis.

“Kamu sudah lama nunggu?”

“Belum… baru juga,” jawab Zahra pelan, meski jantungnya masih berdegup kencang.

Zaidan melirik kursi di sebelahnya.

“Boleh saya duduk?”

Zahra mengangguk cepat. Zaidan pun duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan. Kehadirannya entah kenapa membuat lorong pengadilan yang dingin itu terasa sedikit lebih hangat.

“Hari ini kamu kelihatan tegang,” ujar Zaidan, suaranya rendah namun tenang.

Zahra tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

“Sedikit… atau mungkin sangat.”

Zaidan menatap ke depan, lalu berkata pelan, “Tenang saja. Saya ada di sini.”

Kalimat sederhana itu mampu membuat genggaman tangan Zahra perlahan mengendur. Dan yang terpenting… rasa gugup yang sejak tadi ia rasakan mulai hilang pelan-pelan.

Zahra pikir itu akan berlangsung lama, namun ternyata… ia salah.

Tak lama Zaidan berdiri dan menoleh ke arah Zahra.

“Sudah dipanggil. Saatnya kita masuk.”

Degupan jantung Zahra kembali kencang, bahkan kini berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Ia tidak pernah berurusan dengan hukum. Bahkan untuk kendaraan tuanya saja, masih ia bayarkan pajaknya.

Ia tidak pernah sama sekali diajarkan untuk melanggar hukum. Namun kali ini, Zahra benar-benar merasa jika dirinya berada di ujung akibat sebuah kesalahan yang tidak bisa menahan amarah.

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!