"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 13 - Nama yang Kembali Dipanggil
Ruang rapat fakultas siang itu lebih ramai dari biasanya. Meja panjang dipenuhi map, botol air mineral, dan beberapa laptop yang masih terbuka. Pendingin ruangan berdengung pelan, bercampur dengan suara kursi yang digeser dan bisik-bisik ringan para dosen yang baru datang.
Maura duduk di sisi tengah, membuka buku catatannya dengan kebiasaan yang rapi. Ia sudah menebak rapat ini tidak akan singkat. Agenda yang dibagikan lewat surel semalam terlalu padat untuk sekadar formalitas.
“Baik. Kita langsung ke agenda utama. Bulan depan universitas kita genap berusia tiga puluh tahun,” ujar Dekan membuka rapat.
Beberapa dosen mengangguk. Ada yang tersenyum kecil bahkan terdengar tepuk tangan dari beberapa orang yang diikuti oleh yang lainnya.
“Perayaan kali ini akan dibuat berbeda. Bukan hanya internal. Semua mahasiswa diperbolehkan hadir dan menonton. Akan ada talk show, orasi inspiratif, dan satu tamu kehormatan,” lanjutnya.
“Semua mahasiswa?” tanya salah satu dosen dari ujung meja.
“Iya. Aula besar. Disiarkan juga secara internal,” jawab Dekan.
Suasana sedikit lebih ramai karena skala acara tahun ini akan sangat berbeda.
“Kalau begitu, tamunya harus figur yang kuat. Bukan cuma akademisi,” sahut dosen lain.
“Betul. Tokoh industri mungkin,” timpal yang lain.
Nama-nama mulai disebutkan dan jujur kebanyakan dari nama itu masih sangat asing untuk Maura hingga satu nama membuatnya menelan ludah kasar.
“Pak Setya Pradana.”
Ruangan mendadak lebih sunyi. Beberapa dosen saling pandang. Ada yang mengangguk pelan. Ada pula yang tampak ragu.
“Kalau beliau, pasti dampaknya besar. Mahasiswa kenal. Media juga. Bahkan saat saya mengajar, ada banyak mahasiswa yang bertanya tentang kehadiran beliau saat acara amal kemarin,” ujar dosen itu lagi.
“Masalahnya, mengundang Pak Setya itu tidak mudah,” sahut dosen perempuan berkacamata.
“Betul. Beliau selektif sekali,” timpal yang lain.
“Dan, jujur saja,” tambah seseorang, menurunkan suara, “auranya cukup... menekan.”
Beberapa tertawa kecil, setengah setuju.
Dekan mengangguk. “Itu yang ingin kita bahas. Pak Setya adalah pilihan ideal, tapi juga paling sulit.”
Pak Hamdani berhenti sejenak, lalu pandangannya beralih ke Maura. Satu per satu kepala menoleh ke arahnya. Maura menyadari itu tidak langsung. Ia baru mengangkat wajah ketika ruangan terasa terlalu sunyi.
“Ada apa?” tanyanya, otomatis.
Dekan tersenyum tipis. “Bu Maura, belakangan ini Anda yang paling sering berinteraksi langsung dengan Pak Setya.”
Maura menghela napas kecil di dalam hati.
“Saya tidak akan bilang dekat. Tapi Anda pernah menjadi perwakilan universitas dalam acara amal sebelumnya,” lanjut Dekan.
“Dan beliau mengenal Anda. Itu sudah menjadi nilai plus,” tambah dosen lain.
Maura menutup bukunya perlahan. “Pak, saya hanya menjalankan tugas waktu itu.”
“Justru itu, karena kamu sudah perah berinteraksi dengan beliau, maka kali ini akan lebih mudah dalam mendekati,” sahut dosen di seberangnya.
Maura nyaris tersenyum pahit.
“Kalau kita mengirim undangan resmi saja, peluang ditolak besar. Tapi kalau lewat orang yang pernah berinteraksi langsung akan lebih mudah.”
Maura bersandar sedikit ke kursinya. “Bapak-Ibu, Pak Setya bukan orang yang mudah,” katanya tenang.
Beberapa mengangguk.
“Itu sudah jelas,” kata seseorang.
“Dan saya tidak yakin, beliau tertarik pada acara seperti ini,” lanjut Maura.
Dekan melipat tangan di atas meja. “Karena itu kita diskusikan.”
“Dengan segala hormat, saya ingin mengajukan keberatan,” kata Maura, kali ini lebih tegas.
Beberapa dosen saling pandang lagi.
“Saya tidak menolak membantu universitas. Tapi berurusan dengan Pak Setya secara langsung bukan perkara mudah. Beliau sangat sulit. Sangat selektif. Dan... sangat tegas,” lanjutnya Maura yang sempat berhenti karena pemilihan kata yang tepat.
“Itu justru kenapa kita butuh pendekatan yang tepat. Dan Anda sudah pernah melakukannya,” sahut dosen berkacamata.
Maura menggeleng pelan. “Sekali. Dan itu bukan pengalaman yang ingin saya ulang.”
Nada suaranya tetap sopan, tapi jujur.
“Apa ada masalah pribadi?” tanya seorang dosen laki-laki, berhati-hati.
Maura mengangkat wajahnya. “Tidak ada permasalahan apa pun. Hanya saja energi saya langsung terkuras habis saat berdekatan dengan beliau.”
Ia memilih kata itu dengan sengaja.
“Bu Maura, kami tidak memaksa, tapi setidaknya Ibu bisa mempertimbangkannya terlebih dahulu,” kata Dekan, suaranya kini lebih lembut.
Ruangan kembali sunyi.
“Acara ini masih bulan depan. Masih ada waktu. Kalau ditolak, tidak masalah. Kita masih bisa memiliki opsi lain,” lanjut Dekan.
“Yang penting, Pak Setya kita jadikan prioritas utama,” sahut dosen di sebelahnya.
Maura menatap meja beberapa detik. Jari-jarinya saling mengait, menahan geram. Kenapa harus dirinya lagi yang harus berurusan dengan manusia gila itu.
“Dan kalau beliau menolak,” katanya pelan, “itu tidak akan menjadi catatan buruk bagi saya?”
“Tidak, sama sekali tidak,” jawab Dekan cepat.
Maura menarik napas dalam-dalam. Di satu sisi, ini adalah urusan universitas dimana dirinya berada di dalamnya. Namun, di sisi lain ada nama Setya Pradana saja sudah cukup untuk membuat dadanya mengencang.
“Bu Maura, kami percaya pada penilaian Anda.”
“Kalau Anda merasa tidak nyaman, sampaikan.”
“Tapi kalau bisa dicoba, ini peluang besar.”
Maura tersenyum kecil. Senyum orang yang sadar ia sedang didorong pelan-pelan ke tepi keputusan.
“Baik, saya akan mencobanya. Saya harap keputusan apa pun yang akan diberikan beliau, tidak akan berpengaruh pada nilai dan citra saya di sini,” katanya akhirnya.
Beberapa wajah langsung tampak lega.
“Terima kasih, Bu Maura. Kami tahu ini tidak mudah. Dan tentu saja tidak akan ada yang berubah sekalipun beliau menolak undangan ini,” ujar salah satu dosen.
Maura menutup buku catatannya. “Baik, kalau begitu saya sedikit tenang.”
Rapat berlanjut ke agenda lain terkait dengan teknis acara, susunan panitia, anggaran. Tapi bagi Maura, bagian terpenting sudah selesai.
Atau justru baru dimulai. Ketika rapat ditutup dan para dosen mulai beranjak, beberapa sempat menepuk bahunya ringan.
“Kalau butuh bantuan, bilang.”
“Kami dukung.”
“Semoga berhasil.”
Maura hanya mengangguk dengan senyuman profesional. Namun begitu ia keluar dari ruang rapat dan melangkah menyusuri koridor yang lebih sepi, langkahnya melambat. Nama itu kembali bergaung di kepalanya.
Setya Pradana.
Ia berhenti sejenak, berdiri di dekat jendela, menatap halaman kampus yang ramai oleh mahasiswa.
“Satu undangan, dan setelahnya selesai,” gumamnya pelan.
Maura kembali berjalan untuk ke arah parkiran dan semakin ia berjalan, pikirannya semakin meyakinkan dirinya akan penyesalan atas ketersediannya.
“Haduh, kenapa di terima sih,” makinya pada dirinya sendiri.
Entah pada siapa, Maura menendang batu kerikil yang ternyata mengenai salah satu mahasiswanya.
“Aduh, kamu nggak pa-pa? sakit? Saya minta maaf sekali,” sesal Maura.
Mahasiswa itu hanya tersenyum canggung, mungkin takut marah karena ini dosen dan kekesalan yang sudah di ujung batas.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya permisi,” ucap mahasiswa itu.
Maura mendengarnya, mahasiswa itu memaki dengan lirih. Namun, Maura tidak marah karena ini kesalahannya dan kembali bernafas berat teringat masalahnya yang lain.