NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Robot Ganteng

Ia kemudian melihat lemari pakaian. Gavin membuka pintunya sedikit dan menemukan beberapa butir kapur barus yang diletakkan di sudut-sudut simetris. Gavin menarik napas panjang, menghirup aroma kayu dan kebersihan yang otentik.

"Runa," panggil Gavin dengan suara terharu. "Ibumu memiliki jiwa auditor dalam hal tata graha. Kamar ini... adalah tempat paling teratur yang pernah saya temui di luar rumah saya sendiri. Saya merasa... di rumah."

Aruna tertawa pelan. "Syukurlah kalau kamu nggak pernah mengeluarkan semprotan desinfektanmu malam ini, Mas."

Keesokan paginya, tepat pukul lima lewat tiga puluh menit, Gavin sudah bangun dan rapi. Ia menemukan Bapak Aruna sedang berada di kebun belakang, bersiap memberi makan ayam-ayamnya.

Gavin mendekat, menggulung lengan kemejanya hingga siku. "Bapak, boleh saya bantu?"

Bapak Aruna menoleh. "Lho, Mas Gavin sudah bangun? Ini mau kasih makan ayam. Bau lho, Mas."

"Bau adalah indikator biologis yang wajar, Pak." Jawab Gavin tenang. Ia melihat kandang ayam Bapak. Matanya menyipit melihat tumpukan pakan yang sedikit berantakan. "Pak, kalau boleh saya sarankan, jika kita mengubah sudut kemiringan wadah pakan ini sebesar sepuluh derajat, waste atau pakan yang tercecer bisa berkurang hingga lima belas persen.

Bapak Aruna tertegun, lalu mencoba memiringkan wadahnya sesuai arahan Gavin. Dan ternyata benar, ayam-ayam itu makan lebih rapi. "Wah, Mas Gavin pinter hitung-hitungan ayam, ya?"

Tak berhenti di situ, Gavin membantu Bapak mencangkul tanah untuk menanam cabai. Gavin membuat garis lurus sempurna di atas tanah menggunakan tali rafia agar jarak antar bibit tepat empat puluh sentimeter.

"Biar nutrisi tanahnya terbagi rata secara adil, Pak," jelas Gavin. Bapak Aruna hanya bisa manggut-manggut kagum, merasa mendapatkan asisten ahli pertanian secara gratis.

Siangnya Gavin beralih ke dapur. Ia melihat Ibu Aruna sedang sibuk menata bumbu dapur yang baru dibeli dari pasar. Tanpa diminta, Gavin membantu memindahkan bumbu-bumbu itu ke Dalam toples kaca.

Ia tidak hanya memindahkan, tapi juga membuatkan label kecil menggunakan pulpen dan isolasi kertas. "Garam, Merica..." Ia juga menyusun toples-toples itu berdasarkan frekuensi penggunaan.

"Mas Gavin, kok rapi banget? Ibu jadi malu, biasanya dapurnya berantakan," ujar Ibu Aruna.

"Dapur adalah jantung operasional rumah, Bu. Jika manajemen stoknya bagus, efisiensi memasak akan meningkat dua puluh persen," jawab Gavin tulus.

Saat Aruna datang ke dapur, ia menemukan Gavin dan Ibunya, sedang serius mendiskusikan perbandingan harga cabai di pasar kota dan pasar desa dalam sebuah tabel sederhana yang digambar Gavin di kertas bungkus tempe.

Aruna tersenyum manis. Ia tahu, meskipun cara pendekatan Gavin sangat kaku dan penuh data, orang tuanya bisa merasakan ketulusan di balik angka-angka itu. Gavin tidak mencoba menjadi orang lain, ia hanya mencoba memberikan "keteraturan" terbaiknya sebagai bentuk cinta kepada keluarga Aruna.

Sore itu, udara desa terasa begitu sejuk. Gavin mengenakan kaos polo abu-abu yang pas di badannya dan sepatu kets yang masih terlihat sangat putih (karena ia baru saja menyekanya dengan tisu basah sebelum keluar).

"Runa, menurut peta satelit yang saya pelajari semalam, ada area persawahan dengan sistem irigasi berkelanjutan di sisi timur. Bisa kamu antarkan saya ke sana? Saya ingin melakukan observasi visual," pinta Gavin dengan gaya bicara yang lebih mirip mengajak inspeksi lapangan daripada jalan-jalan sore.

Aruna tertawa, "Bilang aja mau jalan-jalan, Mas. Yuk!"

Begitu mereka keluar dari gerbang rumah, "radar" warga desa langsung menyala. Desa Aruna adalah tipe tempat dimana seekor kucing baru pun akan menjadi topik pembicaraan hangat di tukang sayur besok pagi.

Saat melewati rumah Mbak Yul, seorang ibu muda yang sedang menyuapi anaknya di teras, langkah mereka terhenti.

"Lho, Mbak Runa, ini siapa? Ganteng temen (ganteng banget) kayak artis di tv itu lho," seru Mbak Yul dengan mata yang tak berkedip menatap Gavin.

"Ini Mas Gavin, Mbak. Teman dari kota." Jawab Aruna malu-malu.

Gavin membungkuk kaku. "Selamat sore, Mbak. Saya Gavin. Mohon maaf jika kehadiran saya mengganggu frekuensi ketenangan sore Anda."

Mbak Yul melongo. "Aduh, bicaranya sopan banget, Na! Kulitnya bersih, tinggi... Duh, beruntung banget kamu, Nak. Di kota nyari di mana yang modelnya limited edition begini?"

Aruna cuma tersenyum mendengar perkataan Mbak Yul. "Kami terus dulu ya, Mbak." kata Aruna. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya.

Sepanjang jalan setapak di pinggir sawah, mereka bertemu dengan sekelompok hadis desa yang sedang asyik berswafoto. Bisik-bisik langsung terdengar tajam.

"Ih, lihat deh. Pacarnya Runa. Cakep banget! Kok Runa bisa dapet yang kayak gitu, ya? Padahal dia di kota kan cuma buka toko aksesoris biasa," bisik salah satu gadis dengan nada iri yang tidak disembunyikan.

"Iya, ya. Kayaknya tajir banget itu. Lihat jam tangannya, mengkilap banget!" sahut yang lain sambil menatap Gavin dengan pandangan ingin memiliki.

Namun, di jembatan bambu, mereka bertemu dengan Mbah Darmo, sesepuh desa yang sedang membawa rumput. Mbah Darmo berhenti dan menatap Gavin lama, dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Mas... kamu yang bawa mobil hitam itu, ya?" tanya Mbah Darmo.

"Betul Mbah, nama saya Gavin." Jawab Gavin sambil refleks memegang beban rumput Mbah Darmo agar tidak miring.

Mbak Darmo tersenyum lebar, menampakkan giginya yang tinggal sedikit. "Bagus, bagus, jalannya tegap, matanya jujur. Runa ini anak baik, Mas. Jangan cuma dilihat dari cantiknya, tapi hatinya itu emas. Kamu cocok sama dia. Sing rukun ya (yang rukun ya)."

Gavin mengangguk mantap. "Terima kasih, Mbah. Saya sudah melakukan perhitungan matang, dan Mbak Aruna memang memiliki nilai integritas yang paling tinggi di hati saya."

Mbah Darmo hanya manggut-manggut meski tidak paham apa itu "integritas", tapi ia tahu, Gavin orang serius.

"Ya sudah, Mbah duluan ya," kata Mbah Darmo. Dan diangguki Gavin dan Aruna. "Iya, Mbah. Silahkan." kata mereka kompak.

"Weleh, sampai jawab pun kompak," kata Mbak Darmo sambil geleng-geleng kepala.

Saat sampai di tengah sawah yang hijau royo-royo, Gavin mendadak berhenti. Ia mengeluarkan ponselnya, bukan untuk berfoto selfie, melainkan membuka aplikasi pengukur tingkat kemiringan.

"Runa, lihat! Penataan terasering di sini, memiliki sudut kemiringan yang sangat efisien untuk distribusi air. Tidak heran desamu begitu asri, manajemen alamnya sangat logis," ujar Gavin dengan nada takjub.

Aruna menarik Gavin agar mendekat ke arah pancuran air kecil. "Mas, berhenti mikir soal logis. Coba rasakan anginnya, dengerin suara airnya. Nggak perlu diaudit, cukup di nikmati."

Gavin terdiam. Ia melihat Aruna yang tertawa kecil dengan latar belakang matahari terbenam. Angin memainkan rambut Aruna, dan untuk pertama kalinya, Gavin tidak peduli jika rambut Aruna menjadi sedikit berantakan.

"Kamu benar," gumam Gavin pelan. Ia menatap Aruna dalam-dalam. "Ada beberapa hal di dunia ini yang tidak butuh data untuk membuktikan keindahannya. Kamu... dan sore ini misalnya."

Aruna tersipu. Namun, suasana romantis itu buyar saat segerombolan anak kecil desa berlarian lewat sambil berteriak, "Ciee, Mbak Runa pacaran sama robot ganteng!"

Gavin memperbaiki posisi kacamatanya. "Anak-anak itu... memiliki klasifikasi data yang cukup akurat soal visual saya, tapi sebutan robot itu perlu di koreksi secara administratif."

Aruna tertawa lepas, menggandeng tangan Gavin untuk kembali ke rumah. Ia tahu, di balik tatapan iri atau kagum para tetangga, ia telah menemukan pria yang paling pas untuk mengisi kekosongan hidupnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!