NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Setelah meeting berlangsung kurang lebih satu setengah jam, kini Aru, Kenan, dan Joe sudah bergabung di meja Kai untuk makan siang. Berbagai menu khas masakan Padang tersaji lengkap di atas meja,rendang, dendeng, ayam goreng, ayam pop, aneka gulai, hingga sambal merah yang menggoda selera.

Kai duduk tenang di sisi kanan Aru. Wajah bocah itu tampak berseri, matanya tak lepas dari hidangan di depannya. Sejak tadi ia terlihat begitu bersemangat, terutama saat melihat Aru duduk tepat di sampingnya.

Aru memperhatikan Kai sekilas. Ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan saat melihat antusiasme anak itu. Tanpa berpikir panjang, Aru mengambil nasi dan ayam goreng—menu yang sejak tadi ditunjuk Kai dengan jarinya yang kecil.

“Bun…” panggil Kai lirih sambil menarik ujung lengan Aru.

“Hmm?”

“Bunda… suapin pakai tangan ya,” pinta Kai pelan, matanya berbinar penuh harap.

Aru tersenyum lembut.

“Iya, sayang.”

Kai langsung tersenyum lebar.

Dengan sabar, Aru menyuapi Kai perlahan. Setiap suapan selalu disertai hembusan kecil agar tidak panas. Kai membuka mulut lebar-lebar, lalu mengunyah sambil tersenyum puas.

Pemandangan itu tak luput dari perhatian Kenan, Joe, dan Amar. Ketiganya terdiam sejenak, tersentuh melihat bagaimana Aru memperlakukan Kai,begitu alami, seolah itu sudah menjadi kebiasaannya.

Kai makan dengan lahap.

“Enak,” gumamnya cadel sambil mengangguk kecil.

Joe yang sedari tadi menonton akhirnya berdeham. “Fix, ini anak kalau sama Aru makannya langsung ludes.”

Amar mengangguk setuju. “Biasanya setengah piring juga belum tentu habis.”

Kai menoleh ke Joe.

“Uncle diem.”

Joe terkekeh. “Ya ampun, galak amat ni bocah.”

Melihat Kai makan dengan lahap, Joe dan Amar pun ikut tergoda. Tanpa banyak bicara, keduanya langsung menyantap hidangan di depan mereka dengan penuh semangat.

Berbeda dengan Kenan. Ia masih duduk tenang, memperhatikan Aru yang setia menyuapi Kai. Tanpa disadari, senyum tipis terbit di wajahnya. Bahkan diam-diam, Kenan sempat mengabadikan momen itu lewat ponselnya.

Kai yang sudah setengah kenyang menoleh ke arah Kenan. Ia memperhatikan piring papanya yang masih kosong.

“Daddy… belum mam? tanya Kai polos.

Lalu dengan nada polos yang sama,

Kenan tersenyum kecil. “Belum.”

Kai memiringkan kepala, lalu berkata dengan wajah serius,

“Daddy… mau di suapin bunda?”

Joe dan Amar yang mendengar pertanyaan itu langsung tersedak.

“Huk—uhuk!”

“Uhuk…!”

Keduanya buru-buru meraih air minum.

“Ya ampun, Kai,” gerutu Joe sambil mengusap lehernya. “Ngomong tuh dipikir dulu, uncle hampir mati tersedak.”

Kai menatap Joe santai. “Kai tanya Daddy, bukan uncle. Lagian uncle makannya kayak nggak makan seminggu.”

Aru, Kenan, dan Amar hanya bisa menarik napas melihat interaksi keduanya. Joe dan Kai memang selalu seperti kucing dan tikus—tak pernah akur, tapi juga tak bisa jauh.

“Dasar bocah,” balas Joe kesal. “Kalau bukan keponakan sendiri, udah uncle tukar kamu sama rendang.”

Aru menahan tawa. Kenan menutup mulutnya sambil tersenyum.

“Daddy nggak usah disuapin,” lanjut Kai lagi polos. “Daddy udah gede.”

Ia lalu menoleh ke arah Kenan. “Kenapa Bapak belum makan? Apa makanannya kurang cocok?”

Kenan menggeleng pelan. “Bukan begitu. Saya cuma menunggu kamu selesai menyuapi Kai. Nanti kita makan bersama.”

Nada suaranya tenang, tapi tulus.

Joe mendecak. “Alasan klasik.”

Kenan mengabaikannya.

“Tenang saja, Aru. Ini meeting terakhir saya hari ini. Iya kan, Joe?”

Ia melirik Joe tajam dan di bawah meja, kakinya sengaja menginjak kaki Joe.

Joe meringis. “I-iya. Ini meeting terakhir Kenan,” katanya cepat. "Habis ini pulang.”

"Duda sialan,,,,!!!!bisa-bisanya dia bilang ini meeting terakhir nya,apa otak tu anak nggak bekerja yaa,,,jelas-jelas pekerjaan di kantor masih menumpuk. Huft,,,, sabar Joe ini demi masa depan saudara dan keponakan lo yang membutuhkan Aru." batin Joe.

Aru mengangguk. "Ya sudah kalau begitu, tapi kalau seandainya pak Leo sudah lapar silakan makan dulu aja. Kalau nunggu saya kayaknya agak lama, Saya masih harus menyuapi Kai.”

“Iya,” sahut Kenan singkat, tapi tetap tidak menyentuh makanannya.

Beberapa menit kemudian, Kai akhirnya selesai makan. Ia menyandarkan punggung ke kursi sambil mengusap perutnya.

“Perut Kai jadi besar,” katanya puas. “Soalnya Aru suapinnya enak.”

Aru terkekeh. “Kenyang, ya?”

Kai mengangguk. “Kenyang… tapi enak.”

Aru tertawa kecil. “Makannya kebanyakan.”

Joe ikut nimbrung. “Perut kecil isinya banyak. Ajaib.”

Kai melirik Joe. “Uncle juga.”

Joe mendengus. “Anak siapa sih ini.”

“Sudahlah, Joe. Malu sama umur lo yang udah nggak muda itu,” ucap Kenan sambil melerai perdebatan Joe dan Kai. “Daripada lo ribut terus sama bocah, mending lo ajak Kai main keluar. Gue sama Aru mau makan. Kasihan Aru dari tadi cuma lihat muka lo yang sok imut itu.”

Kenan sebenarnya sudah lelah melihat tingkah Joe yang tak pernah mau mengalah dengan Kai.

“Mata lo buta, ya? Setampan gini lo bilang gue tua?” balas Joe kesal. “Ck! Kalian bapak dan anak sama aja. Dua-duanya bikin darah tinggi!”

Kenan sama sekali tak menggubris omelan Joe.

Sementara itu, Aru yang menyaksikan perdebatan konyol tersebut hanya bisa tersenyum kecil, menikmati suasana hangat yang tanpa sadar membuatnya merasa nyaman.

“ Kai, kamu sudah kenyangkan?”tanya Kenan.

Kai mengangguk. “Kenyang, Dad.”

“Kalau begitu,” lanjut Kenan, “kamu main keluar sebentar sama Uncle Joe dan Om Amar. Daddy sama Bunda mau makan dulu.”

Kai langsung menggeleng, lalu memeluk lengan Aru.“Mau sama Bunda.”

Aru menunduk, mengusap punggung Kai.

“Main sebentar ya. Bunda nya mau makan dulu.”

Kai menoleh ke Aru. Aru tersenyum dan mengangguk kecil.

“Oke,” jawab Kai patuh.

Joe berdiri. “Ayo, pangeran kecil.”

Amar langsung menggendong Kai.

“Kita lihat ikan di luar, ya.”

Kai melambai kecil ke Aru.

“Bunda jangan pergi.”

Aru tersenyum. “Bunda di sini.”

Kini, hanya tinggal Aru dan Kenan di ruangan VIP itu.

Aru mendadak merasa canggung. Jantungnya berdetak lebih cepat saat menyadari mereka benar-benar hanya berdua. Kenan melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung, memperlihatkan lengan kekarnya. Kacamata yang bertengger di hidungnya justru menambah kesan dewasa dan karismatik.

Aru menelan ludah.

"Astaghfirullah… kenapa auranya begini, sih?" batinnya panik.

Tiba-tiba Kenan menarik kursi dan duduk di samping Aru.

“Pak Kenan!” Aru refleks terkejut. “Bapak… kok pindah?”

Kenan tersenyum santai. “Di sana sepi. Lagi pula, lauknya sudah habis diserbu Joe dan Amar.”

Aru hanya bisa tersenyum kaku.

Saat mengambil nasi, tanpa sengaja tangan mereka menyentuh centong yang sama. Aru langsung menarik tangannya, wajahnya sedikit memanas.

“Silakan Bapak dulu,” ucapnya gugup.

“Tidak. Kamu saja dulu,” balas Kenan.

Aru menggeleng. “Bapak saja.”

Kenan terkekeh kecil. “Kalau begitu… kamu ambilkan nasi untuk saya saja. Biar cepat.”

Aru terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia mengambilkan nasi untuk Kenan dengan hati-hati.

“Cukup?” tanyanya.

“Cukup.”

“Mau lauk apa?”

“Rendang dan ayam pop.”

Aru menuruti permintaannya.

“Terima kasih, Aru.”

"Gue udah kayak makan dilayani sama istri aja.

Oke, Aru. Saya pastiin, suatu hari nanti kamu bakal melayani Saya makan… bahkan menyuapi Saya dengan tangan kamu sendiri."batin Kenan puas.

Aru juga mengambil makanannya sendiri. Mereka mulai makan bersama, menggunakan tangan, obrolan ringan mengalir perlahan, mencairkan kecanggungan.

Obrolan ringan pun mengalir—tentang Kai, tentang pekerjaan, tentang hal-hal kecil. Canggung perlahan berubah menjadi nyaman.

Kenan melirik Aru sesekali, dan Aru pura-pura tidak menyadarinya.

Di luar ruangan, tawa kecil Kai terdengar samar.

Di dalam, sesuatu mulai tumbuh… perlahan, hangat, dan tak tergesa.

Untuk pertama kalinya, makan siang itu terasa… hangat.

Bersambung................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!