Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERBAGI CERITA
"Jangan tinggalkan aku Al. Aku membutuhkan mu". Dengan tatapan memohon Alle mengutarakan isi hatinya.
Mendengar kata-kata itu, Allegri ikut bergabung dengan Alle di atas sofa. Memeluk tubuh Alle dari belakang. Gadis itu tidak menolaknya. Dekapan hangat itu nyatanya sangat ampuh bagi Alle menghilangkan rasa takutnya ketika berulangkali terdengar suara petir yang menggelegar.
"Ternyata kau masih takut dengan suara petir, hem? Siapa yang akan menenangkan mu di saat ada geledek begini? Apa kekasih mu... J-anik?".
Sesaat Allegra memejamkan kedua matanya, merasakan hembusan nafas Allegri yang menerpa belakang telinganya.
"Aku tidak memiliki kekasih. Aku dan James putus seminggu sebelum aku kembali ke Italia".
Untuk pertama kali Alle bercerita tentang hubungan dengan James mantannya. Untuk yang pertama juga gadis itu menceritakan masalah pribadi pada orang lain, dan itu adalah Allegri. Orang yang tadinya sangat ingin ia hindari sejak masih di Amerika tapi nyatanya Allegri mengetahui masalah pribadinya dari mulutnya sendiri.
Alle bisa merasakan dekapan hangat Allegri kian mengetat.
"Apa yang terjadi, kenapa kalian putus? Aku dengar dia teman mu kuliah".
"Ya. Aku memergoki ia bersama teman baikku. Setelah tamat kuliah, kami bertiga bekerja di klinik yang sama di Manhattan. Ternyata mereka mengkhianati ku, menjalin hubungan dibelakang ku. Aku memutuskan kembali ke Italia setelah aku dan James putus. Dengan berbagai alasan dan maaf laki-laki itu ingin kembali. Bagi ku tidak ada tempat untuk pengkhianatan".
Allegri mendengar penuturan Alle. Sebuah senyuman bermakna terlukis di sudut bibir laki-laki itu.
Sesaat hanya ada keheningan dan suara tetesan air hujan di luar pondok. Udara semakin terasa dingin meskipun penghangat ruangan sudah menyala.
"Apa kau menyesal putus darinya?", tanya Allegri sambil mencium harum rambut Alle tepat di depan wajahnya.
"Tidak. Lebih baik aku mengetahui pengkhianatan mereka sekarang dari pada nanti".
"Kau sendiri bagaimana hubungan mu dan Alice. Sepertinya kalian menjalin hubungan serius. Kau bahkan menulis di buku bacaan mu dan mengukir inisial kalian di pondok ini–"
Tiba-tiba Allegri mengungkung tubuh Alle di bawah tubuhnya seraya mengusap lembut wajah gadis itu yang nampak memutih dan terasa dingin. Tindakan spontan Allegri membuat jantung Alle berdebar kencang.
"A-pa yang kamu lakukan Al. Kau sudah memiliki kekasih. Aku tidak mau merusak hubungan kalian. Apa bedanya aku dan Naomi sebagai perusak hubungan seseorang", ucap Allegra menatap manik Allegri yang juga menelisik wajah Allegra.
"Hubungan ku dengan Alice tidak seserius yang kamu pikirkan. Kami jarang sekali bersama. Aku sibuk dengan pekerjaan ku dan dia pun sibuk dengan pekerjaannya yang lebih banyak di lakukan di luar negeri".
"Tapi kalian saling mencintai, seperti banyaknya inisial nama kalian berdua di pondok ini. Bahkan di koleksi buku mu pun kau menulis inisial nama kalian berdua. Dan perkebunan inipun kau namai inisial Allegri-Alice", ucap Allegra menatap lekat manik Allegri yang juga membalas tatapan tersebut dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Inisial itu bukan nama Alice", ucap Allegri menyelami manik hazel Allegra. Mereka begitu dekat.
"Lantas inisial siapa. Kau mencintai wanita lain?".
Sorot tajam Allegri menatap tak berkedip wajah Allegra.
"Ya. Wanita yang selalu aku cintai sejak dulu". Jemari Allegri mengusap lembut wajah Allegra.
"Dan akan selalu ada dalam hatiku, walaupun beberapa tahun yang lalu ia sempat membuat aku kecewa dengan pilihannya. Namun aku tidak pernah bisa membencinya", ucap Allegri dengan perasaan mendalam.
Allegra mendorong tubuh Allegri agar menjauh darinya. "Aku mau ke kamar mandi", ujar Alle. Gadis itu langsung pergi tanpa melihat kearah Allegri yang menatapnya.
Allegri tersenyum, menatap lekat punggung Alle hingga masuk ke kamar. Ia memilih kamar mandi yang ada di sana.
Alle menutup rapat pintu kamar. Menyandarkan punggungnya di balik pintu. Entah lah mendengar pengakuan Allegri beberapa saat yang lalu membuat dadanya bergemuruh. Ada wanita lain.
Sampai-sampai Alle menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Untuk yang pertama kali ia merasakan debaran jantungnya berdegup kencang, namun ada rasa kecewa mendengar pengakuan Allegri bahwa laki-laki itu mencintai wanita lain sedalam itu.
"Ya Tuhan ada apa dengan ku, kenapa kata-kata Allegri membuat ku merasa sakit. Ia berhak mencintai siapapun. Kami hanya berteman saja", gumam Allegra pada diri sendiri.
Ia terdiam di balik pintu. "T-api...?"
Alle mengusap dada atasnya. "Kenapa aku merasa sakit begini? A-pa aku cemburu pada gadis itu?".
Sesaat gadis itu kembali terdiam. Kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak...ini bukan cemburu. Aku tidak pernah menyukai Allegri. Beberapa hari terakhir ia baik pada ku, perhatian dan memperlakukan aku dengan lembut. Tapi... bukan berarti ia telah berubah menjadi suka pada ku. Ia begitu karena kedekatan keluarga kami. Menghormati orang tua ku", ujar Alle yang kini duduk di tepi tempat tidur yang ada di kamar itu sama sekali Alle tidak masuk ke kamar mandi. Itu hanya alasan semata.
"Al mencium ku tadi juga karena terbawa suasana saja..."
Allegra menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu terbaik. Gadis itu memejamkan matanya begitu mendengar langkah mendekati kamar. Alle tahu itu pasti Allegri yang akan melihatnya karena sudah terlalu lama pergi ke kamar mandi.
Benar saja yang membuka pintu kamar, Allegri. Laki-laki itu tersenyum melihat Allegra ternyata sudah tertidur di kamar. Al mengambil selimut tebal di lemari. Menyelimuti tubuh Alle.
Laki-laki itu tidak pergi, ia duduk di tepi tempat tidur. Menatap intens wajah polos Alle.
Allegra bisa merasakan usapan lembut jemari Allegri pada wajahnya.
"Kau sangat cantik Allegra".
"Beberapa tahun yang lalu kau membuatku kecewa karena keputusan mu untuk pergi, Alle. Aku mengejar mu ke bandara, supaya kau membatalkan penerbangan mu dan merubah rencana mu melanjutkan sekolah di Amerika, tapi sudah terlambat".
"Bahkan kau tidak pernah kembali ke Messina sekedar menghabiskan masa liburan mu. Kau benar-benar melupakan kami. Aku mencari tahu keadaan di sana, menurut Gabriel kamu baik-baik saja. Aku senang kalian berdua masih saling berhubungan, aku bisa bertanya tentang mu dengan adikku", ucap Allegri menatap lekat wajah cantik Alle yang nampak begitu lelap dengan nafas terdengar teratur. Tak sedikitpun merubah posisi tidurnya.
"Aku sangat senang ketika mendengar kau akan kembali, Alle. Kamu tidak tahu aku sangat merindukan mu.."
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi Allegra. Tidak akan!!", ucap Allegri menarik selimut hingga dada Alle.
Allegra membuka matanya begitu merasa Al keluar kamar itu.
Gadis itu mendengar semua yang di katakan Allegri barusan. Ungkapan perasaan laki-laki itu untuknya.
"Beberapa tahun yang lalu Al, menyusul ku ke bandara?", gumam Allegra menatap langit-langit kamar sambil mengigit bibir bawahnya. "Ia tidak mau aku pergi? Benarkah yang aku dengar?"
"Ia kecewa dengan keputusan ku?".
"A-pa artinya???"
"Aku harus bertanya langsung padanya. Allegri harus memberi tahu aku, apa maksud perkataannya?". Alle bangun sambil berpikir.
Sesaat kemudian gadis itu kembali merebahkan tubuhnya. "Besok saja aku bertanya padanya..."
...***...
To be continue
Kalau ada typo nanti di revisi ya. Yang penting up dulu sebelum kerja. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian🤗