Beberapa tahun lalu, berbagai celah ruang-waktu bermunculan, dan Blue Star pun memasuki era supranatural. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membangkitkan “panel permainan”.
Lu Heng secara tak terduga membangkitkan kelas Summoner. Namun, makhluk-makhluk panggilannya tampaknya… agak tidak biasa.
……
【Si Bulat Daging】: Sebagai keturunan Dewa Jahat, setiap kali ia dimakan, ia justru menjadi semakin kuat. Ia juga mampu membuat musuh terjerumus ke dalam kekacauan persepsi.
【Anjing Mesum】: Sebagai kaki tangan yang setia, ia dapat berpindah tempat secara instan dan menampar orang, bahkan memutus semua skill lawan.
【Prajurit Medis】: Memiliki kemampuan menukar kondisi luka, dan juga bisa diam-diam mencuri organ milik orang lain.
【Zirah Keadilan】: Makhluk simbiotik yang dipenuhi energi positif. Bukan hanya memiliki daya tempur yang sangat tinggi, ia juga dapat berdiri di puncak moral untuk mengecam musuh, membuat lawan…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Back Dragon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Mentor Memang Pantas Disebut Mentor
“Brengsek!” Wajah Lu Heng berubah drastis. “Ini namanya merampok terang-terangan, kan?!”
“Aduh, mau bagaimana lagi, itu sudah peraturan dari pihak kepala sekolah, kamu jangan salahkan aku.” Sang mentor berkata tak berdaya.
“Besok kamu cari kepala sekolah dan transfer saja uangnya.”
“Perlu kamu tahu, tiang kayu itu dulunya dua ribu per buah. Sudah dipakai delapan tahun di sekolah kita, dan hari ini semuanya kamu hancurkan. Ganti rugi dua ratus per buah itu sudah termasuk murah.”
Lu Heng mengepalkan tinjunya.
Sial! Sekarang saja aku masih berutang beberapa ribu uang sekolah ke kepala sekolah, sekarang malah nambah utang ganti rugi tiang kayu lagi.
Cepat atau lambat aku pasti pindah sekolah!
“Tapi bagaimanapun juga, untuk semangat juangmu, aku cukup puas.” Mentor berkata dengan nada terhibur. “Aku keluar uang pribadi bantu kamu lima ratus.”
Ekspresi Lu Heng langsung melunak. “Mentor, memang cuma Anda yang baik. Jauh lebih baik daripada kepala sekolah itu.”
“Hmm, kamu ini Bintang Luar Biasa. Lagipula kamu punya hak bimbingan pribadi, jadi tentu aku harus lebih memperhatikanmu.” Mentor tersenyum.
“Begini saja, daripada menganggur, aku akan membimbingmu soal beberapa hal tentang peningkatan level.”
Lu Heng langsung girang.
Akhirnya mau mengajarkan sesuatu yang benar-benar berguna!
“Aku dengar kemampuanmu adalah seorang Summoner?” tanya mentor.
Lu Heng mengangguk. “Betul!”
Mentor berpikir sejenak. “Aku dengar beberapa hari lalu kamu ikut lomba memasak, lalu diam-diam menambahkan kotoran ke bahan makanan juri. Kenapa kamu melakukan itu?”
Lu Heng buru-buru menjelaskan, “Mentor, itu bukan kotoran, itu makhluk panggilanku…”
“Eh eh eh, tidak penting, tidak penting.” Mentor melambaikan tangan. “Aku cuma mau tanya, kenapa kamu menyuruh teman-temanmu makan benda itu?”
Lu Heng berdeham pelan. “Karena itu bisa menaikkan level hewan peliharaanku. Setiap kali makhluk itu dimakan sepotong, dia bisa menambah satu poin kekuatan mental.”
Mentor mengangguk serius. “Kalau begitu memang harus diberi makan. Bahkan harus lebih sering.”
“Seorang Luar Biasa harus rela melakukan apa pun demi naik level. Hajar saja!”
Lu Heng terharu. “Nah, ini baru orang yang mengerti aku.”
Mentor berpikir sejenak lalu memberi ide. “Begini saja, kamu pergi ke kantin dan beri makan ‘itu’, usahakan sebanyak mungkin murid memakannya!”
Lu Heng tercengang. “Tapi Mentor, kalau ketahuan menyuruh teman makan kotoran, habislah aku. Kepala sekolah pasti tidak akan membiarkanku.”
“Kepala sekolah tidak membiarkanmu? Kalau dia tidak membiarkan, lalu kamu berhenti begitu saja?” Wajah mentor mendadak serius. “Kuberitahu kamu, mati pun kamu harus tetap memberi makan!”
Lu Heng terkejut. “Kalau aku ketahuan dan dikeluarkan dari sekolah bagaimana?”
Mentor melambaikan tangan. “Tidak mungkin dikeluarkan. Bahkan tidak sampai peringatan keras! Paling cuma diberi tahu, tidak boleh lagi menyuruh teman makan kotoran.”
“Ini bukan pelanggaran berat, Nak. Ada tingkatannya! Kamu tidak membunuh orang, tidak merusak aset sekolah secara serius. Masa sampai dikeluarkan?”
“Kalau ketahuan kepala sekolah, dia paling hanya bersikap galak dan bilang jangan lagi menyuruh murid makan kotoran.”
“Dan dia cuma akan ngomel saja, tidak mungkin terus mengawasimu. Sekolah punya banyak urusan. Masa dia sebagai kepala sekolah terus memperhatikanmu?”
“Kalau dia sudah pergi, besoknya kamu beri makan lagi atau tidak?”
“Kuberitahu kamu, hari kedua lanjut lagi! Dengan berani suruh teman-teman makan! Lalu panen lagi kekuatan mental!”
Lu Heng girang, lalu bertanya, “Kalau ketahuan kedua kalinya bagaimana?”
Mentor semakin percaya diri. “Sini, aku ajari caranya.”
“Pertama, jangan berkilah!”
“Jangan sekali-kali berkilah. Jangan bilang kamu tidak sengaja menaruh kotoran ke makanan teman.”
“Aku akui saja dengan berani!”
“Yang pasti, kalau ketahuan kedua kalinya pun, dia tetap tidak akan mengeluarkanmu.”
“Bagaimanapun juga, kamu adalah Luar Biasa paling berharga di sekolah kita, bahkan Bintang Luar Biasa! Kamu akan mewakili sekolah dalam kompetisi gabungan!”
“Tapi kepala sekolah pasti marah, bilang kamu ini bagaimana sih, sudah dibilang jangan, masih saja menyuruh orang makan kotoran.”
“Mungkin dia juga akan mengancam akan mengeluarkanmu.”
“Nah, kali ini aku beri tahu harus bagaimana. Ikuti aku, buat senyum canggung seperti ini.”
Mentor langsung memasang ekspresi sangat canggung. “Lalu kamu tatap dia sambil tersenyum canggung seperti ini, tidak perlu bicara apa-apa.”
Lu Heng menggaruk kepala. “Tapi Guru, kalau saya tidak bisa tersenyum canggung bagaimana?”
“Tidak…” Mentor sangat percaya diri. “Kamu bisa, kamu pasti bisa!”
“Karena saat seseorang menatapmu dengan mata melotot, sementara kamu masih harus tersenyum, itu pasti terasa canggung.”
“Kamu tatap saja dia seperti itu sebentar, kepala sekolah lama-lama juga reda. Paling cuma peringatan lagi, atau denda sedikit.”
“Oke, urusan selesai.”
“Lalu beberapa hari kemudian bagaimana?”
“Lanjut lagi beri makan!”
“Panen lagi kekuatan mental untuk makhluk panggilanmu.”
“Tapi kalau ketahuan ketiga kalinya, kali ini sikapmu harus tulus.”
“Pertama, pura-pura kasihan. Bilang kondisi keluargamu kurang mampu, tidak sanggup membeli suplemen untuk makhluk panggilanmu, jadi hanya bisa memakai cara seperti ini untuk meningkatkan kekuatan tempur.”
“Lalu bilang juga demi bisa berprestasi di kompetisi gabungan antar sekolah, dan berjanji tidak akan pernah menyuruh orang makan kotoran lagi, tidak akan lagi!”
“Bagaimanapun, kalau terus begitu, kepala sekolah bisa benar-benar mati karena marah. Jadi menurut perkiraanku, tiga kali masih aman.”
“Jadi beranilah pergi memberi makan! Sekarang juga!” Mentor menepuk bahu Lu Heng dan memberinya tatapan penuh keyakinan.
Lu Heng sangat gembira.
Sialan, mentor memang pantas disebut mentor!
Kalau benar dilakukan, tiga gelombang ‘pemberian makan’ ke para murid, bukankah si bakso dagingnya bisa melonjak ratusan poin kekuatan mental?
“Sial! Gas!” Lu Heng tidak banyak bicara lagi, langsung membuka ponsel dan melihat lowongan kerja paruh waktu di dalam sekolah.
Saat awal masuk sekolah dia memang pernah beberapa kali bekerja membagikan makanan. Namun belakangan merasa bayarannya terlalu kecil, jadi ikut si Gendut mencari kerja harian di luar.
Tapi untuk alur kerja sebagai petugas pembagi makanan, dia masih sangat paham.
Benar saja, tak lama kemudian dia menemukan lowongan petugas pembagi makanan di situs resmi sekolah.
Lu Heng sangat senang. Di ponselnya dia langsung mengambil pekerjaan itu, lalu tanpa ragu menuju kantin.
Saat itu pukul sebelas siang. Kantin sudah mulai didatangi beberapa murid untuk makan, meski belum terlalu ramai.
Dia menuju lokasi yang tertera pada informasi lowongan, yaitu jendela nomor sembilan di dalam kantin.
Di sana menjual lauk prasmanan. Ada delapan macam hidangan: empat lauk daging dan empat lauk sayur. Pembeli bisa memilih tiga macam lauk.
Semua hidangan sudah ditata rapi di etalase, tapi belum ada orang yang menjaga.
Tak lama kemudian seorang koki keluar dari dapur belakang dan berkata, “Maaf, hari ini petugas pembagi makanan tidak masuk. Saya yang akan melayani. Kamu mau makan apa?”
“Tidak, tidak, saya lihat di sini sedang mencari petugas pembagi makanan. Saya datang untuk kerja paruh waktu,” kata Lu Heng dengan sopan.
Koki tersenyum dan mengangguk. “Benar, hari ini memang kekurangan orang. Kerja sehari upahnya dua puluh yuan, plus makan siang gratis.”
“Deal!” Lu Heng langsung mengangguk.
Upahnya memang sedikit, tapi dia tidak peduli.
Yang dia pedulikan adalah membuat lebih banyak orang mencicipi potongan daging si bakso.
Koki mengangguk. “Baik, masuklah lewat belakang. Sebentar lagi jam dua belas, orang-orang akan semakin banyak.”
Bersambung.....