Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-gara Anisa
Tidak ada yang memanggil mereka berdua tapi, James lupa kalo setiap hari Sabtu dan Minggu kedua orang tuanya selalu menginap di mansion Nenek untuk membuat nenek Luna tidak kesepian, padahal pelayan pun sangat banyak di rumah sebesar ini.
Helaan nafas James.
"Kurang ajar kalian!"
Zachary mendekat dan mau memukul wajah angkuh Robert dan Alinka yang menatap Stella jijik.
"Itu semua bohong, kalian percaya apa yang di katakan ya, mengganggu jam tidur orang lain untuk orang yang sudah mati, ini benar tak masuk akal, kita bukan kelompok untuk memiliki waktu bergosip tengah malam!"
"Lalu Anisa lahir dan Shaka yang tak mau memberikan identitasnya sebagai anggota keluarga Oceanus menyamar sebagai gelandangan."
"Para pengurus panti itu tahunya jika itu gelandangan."
Wajah keduanya langsung berubah datar dan kesal.
"Kalian mengaku sekarang aku memang baik hati tapi, putraku tidak."
Stella dengan santai mendekat ke nenek dan membawanya duduk perlahan di sofa.
"Ibu harus mengatur nafas, jangan sampai ibu terbawa amarah, biarkan mereka menyelesaikannya."
"Oh Stella, kau lihat masalah yang James bawa nak... Akhhh waktu tidur cantikku."
Ibu James terkekeh. Mengambil tangan Nenek Luna.
Mengusapnya, menciumnya.
"Ibu jangan ikut berpikir mari lihat dengan santai seperti biasa ibu melihat acara sinetron."
"Iyah ah, benar juga kau..."
Salah satu pelayan mendekat.
"Aku mau teh, bawakan untukku dan Stella teh yang bisanya."
Pelayan itu keluar begitu saja.
Robert dan Alinka merasa semakin tak nyaman karena situasinya membuat keduanya tak bisa mengelak.
"Kalian semua percaya ini tak masuk akal, dimana salahnya kami!"
James diam menatap nya.
Zachary juga diam menatap keduanya bergantian.
Bahkan Nenek Luna Plena juga diam memperhatikan.
Stella selalu terlihat tenang tapi, kali ini Alinka ingin menamparnya.
Robert keras mengatakan kalo semuanya tak ada yang mengatakan namanya dan Alinka karena sejak tadi hanya nama Shaka dan Rosa.
Tangan James terulur meminta Silva memberikan bukti yang sudah di siapkan.
"Ini adalah korupsi yang Alinka lakukan pada perusahaan Fashion Sea."
"Dan ini adalah dana yang Robert keluarkan untuk membangun usaha pribadi dengan uang yang bukan miliknya bahkan menggunakan nama keluarga lain yang sudah tiada untuk melakukan pinjaman pada tempat yang tak resmi. "
"Kalian bahkan mencoba membunuhnya yang bahkan tak tahu apapun, kalian sebegitunya ingin menutupi kesalahan kalian. "
"Siapa yang kau maksud?"
Alinka berteriak tak paham bahkan semuanya jelas diam.
"Kau tidak tahu padahal kau adalah ketua dalam perkumpulan amal juga sosialita dalam kelompokmu yang hampir tak terhitung berapa relasi yang sudah kau capai sampai sekarang!"
James gemas dengan sikap keduanya yang tidak langsung bicara sendiri.
Nenek Luna tidak akan menghukum nya walaupun di tuduh dengan fakta jelas jika pelaku tak bicara dengan mulutnya sendiri ini akan sulit.
Robert terkekeh.
"Anak haram mu adalah putra Shaka dan Rosa apa kau pikir ini adalah masalah cinta segitiga kalian yang menyeret kami dalam tuduhan asal asalanmu!"
"Kau bocah James!"
Robert mendekat dan menatap dengan mata galaknya dari balak kaca mata yang jelas tak membatasi tatapannya.
"Aku tidak bersalah. "
Baiklah katakan James paling berutal dan tak masuk akal. Tinjunya melayang bahkan sekali itu cukup membuat semuanya kaget.
"Kau pengecut, kau berani melakukannya di dalam rumah nenekmu, lalu bagaimana jika didalam lingkungan yang bukan keluarga Oceanus inti jelas kau akan kalah."
Kini aura Zachary menekan keduanya bahkan terasa mencekiknya.
"Kalian curang!"
Alinka melihat nenek dan Stella tenang menikmati tehnya.
"Kalian pikir anak itu tak butuh kasih sayang dan tak butuh orang tuanya, aku tak bisa bayangkan Shaka yang ternyata di bunuh kalian karena mau menjaga kami dan kalian juga membuat gadis tak bersalah mati mengenaskan bahkan tak tenang selama sepuluh tahun. "
Ayahnya benar-benar menangis dan itu membuat Stella langsung memeluknya.
Membayangkan Anisa yang ternyata masih sangat kecil harus ada di tempat tak layak karena perbuatan mereka.
Stella benar-benar marah tapi, memilih diam.
"Ini tak benar kalian harus percaya dengan kami."
Robert sudah tak bisa lagi bicara dengan benar.
"Sejak awal kami bahkan tak mendapat kesempatan berada di dekat keluarga inti Oceanus bertahun-tahun dan kalian malah menuduh kami, anak sialan itu Anisa harusnya mati saja sebelum bertemu denganmu, James!"
Nenek bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Alinka tak sadar jika Robert baru saja mengatakan isi hatinya dan Robert sadar ucapannya barusan saat Nenek dan James benar-benar keluar dari ruangan.
Bahkan tangan James juga tak tahan untuk membunuh mereka tapi isyarat mata nenek untuk ikut pergi dengannya membuat James mengalah.
Nenek Luna dan cucunya sudah membuat percikan kebencian dalam diri Alinka dan Robert jadi semakin besar.
Langkah nenek yang perlahan kini berhenti dan James di sampingnya.
"Sejak awal aku mengambil Shaka masuk kerumah ini adalah untuk menjadikannya contoh terbaik untuk kau tiru, kau dulu begitu sulit di atur sampai ibumu pun hampir lepas kendali mendidik mu. "
"Ayahmu menolak kehadiran Shaka tapi, Shaka terus membuktikan dirinya bisa. "
"Aku tahu, nak... Rosa Alba menolakmu mendekatinya karena ia kemungkin sudah dalam situasi dimana pilihannya hanya apa yang ia percaya dan itu Shaka. "
"Sejujurnya jika aku tidak menjadi seorang nenek mu sekarang mungkin aku tak terlalu sulit, Yaah takdir menempatkan aku sebagai Luna Plena Oceanus di antara kalian setelah ayahku dan kakekku. "
"James... Jaga Anisa dengan baik jangan sampai aku mendengar hal yang lebih menyusahkan dari ini. "
"Urusan mereka berdua biar aku yang selesaikan dan semua yang berkaitan, kau bahkan melewati hari setahun Anisa ada bersama mu. "
James terdiam, tubuhnya kaku kaget.
Apa yang James ingat sampai lupa hal itu.
"Silva sudah menyemangati anak itu untuk bicara denganmu, aku pun berkunjung kerumahmu untuk bicara dengannya tapi, kau tahu... Anak sekecil itu aku tak yakin ia memang anak kecil umumnya ia terlalu mengkhawatirkan apa yang terjadi pada mu di bandingkan perasaannya, ia mementingkan orang sekitarnya walau terlihat tak perduli di hadapan orang yang baru ia temui, anak itu kuat dan pemberani. "
Nenek berbalik mengangkat tangannya memukuli James bertubi-tubi sampai melindungi wajahnya dari tangan neneknya.
"Sekarang kau pulang dan rayakan ulang tahunnya, menyebalkan saja, kau menganggu tidur cantikku, astaga anak dan ayah tak jauh beda... Sialnya kena darah kakek ku kental sekali pada mu dan ayahmu itu sih. "
James pergi dari sana yang hanya diantar nenek sampai pintu depan lalu berbalik meninggalkan James yang bahkan belum masuk mobilnya.
"Kamila!"
Asisten yang selama ini selalu di sampingnya.
"Bersihkan keluarga Oceanus dalam sehari jika ada yang tak mau menurut kau bisa menyeret mereka dengan masalahnya sekaligus ke pengadilan. "
Perintah nenek Luna di angguki Asistennya yang langsung menelpon semua orang yang bersangkutan.
James baru melangkah menaiki tangga mansionnya dan mendengar penjelasan Canaria saat membukakan pintu depan bersama Sol, kalo Anisa diam di kamar sampai lima hari bahkan hanya minta makan sedikit saja dan belajar makan sayuran tanpa mengeluh.