NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : (Warning 21+) Nafsu yang Menular

Malam semakin larut, namun kantuk enggan menyapa Bela. Pikirannya masih melayang pada nomor telepon "Loker AP" yang diberikan Cika, sampai sebuah suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.

'Tok... tok... tok...'

Bela tersentak, namun ia memilih memejamkan mata erat-erat, berpura-pura telah hanyut dalam mimpi. Ia merasakan kasur di sampingnya bergerak pelan. Cika beranjak dari ranjang dengan gerakan sangat hati-hati, seolah-olah tidak ingin membangunkan Bela, padahal dalam remang kamar kecil itu, Bela masih terjaga sempurna.

Pintu terbuka sedikit, dan detak jantung Bela seolah berhenti saat mendengar suara bariton seorang pria menyahut dari ambang pintu.

"Belum bobo, Sayang?"

Sial! Itu pasti pacar Cika. Suara pintu tertutup dan kunci yang berputar pelan menandakan pria itu sudah masuk. Kamar kos yang sempit itu hanya diterangi cahaya remang-remang dari lampu tidur yang diletakkan agak jauh di sudut ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kusam.

"Hmmm... kangennn," suara Cika terdengar manja, jauh berbeda dari suaranya saat bicara dengan Bela tadi sore.

Lalu, sebuah suara kecupan yang begitu keras dan basah terdengar jelas, bergema di ruangan yang sunyi itu. Bulu kuduk Bela merinding. Kamar kos ini sangat kecil, pintu masuk berada di samping dinding pembatas WC, sementara pintu kamar mandi itu sendiri menghadap tepat ke arah kasur. Di dekat pintu masuk, ada area kecil yang berfungsi sebagai dapur dengan kulkas mini. Ruang gerak di sini sangat terbatas, membuat setiap suara sekecil apa pun terdengar seperti teriakan.

Bela membalikkan tubuhnya sedikit, mencoba mengintip. Lewat pantulan cahaya lampu di dinding, ia melihat dua sejoli itu mulai saling membelit. Begitu mereka bergerak mendekat ke arah ranjang, Bela buru-buru membalikkan posisi tubuhnya kembali menghadap tembok, menarik selimut tipisnya hingga ke dagu. Posisi tidurnya berada di ujung tembok, meninggalkan ruang kosong di sampingnya—tempat Cika tidur tadi.

"Siapa tuh?" suara pria itu terdengar rendah, ia menyadari keberadaan gundukan di balik selimut.

Bela memejamkan mata erat-erat hingga kelopaknya gemetar. Jemarinya mencengkeram kuat ujung selimut, berusaha menenangkan deru napasnya agar tidak terdengar mencurigakan.

"Temen gue, lagi numpang aja," ucap Cika santai, seolah keberadaan Bela tidak lebih dari sekadar perabot tambahan.

"Oh... kirain mau threesome," celetuk pria itu sambil tertawa kecil, suara tawanya terdengar cabul di telinga Bela.

"Ihhhh... nggak sukaaaa!" rengek Cika sambil memukul pelan dada bidang di hadapannya.

"Main, nggak?" tanya cowok itu kemudian. Meskipun suaranya dikecilkan, dengan jarak sedekat ini dan suasana yang sunyi senyap, Bela mampu mendengar setiap kata dengan sangat jelas.

"Takut gue, nanti dia bangun," bisik Cika ragu.

"Ssttt! Main pelan aja, nggak apa-apa," ucap cowok itu. Bela mendengar suara gesekan kain, disusul suara napas yang memburu.

"Main pelan ya..." tambahnya sambil meremas bagian dada Cika dengan gemas.

"Shh... ahhh!" desahan Cika lolos begitu saja.

Akhirnya, mereka kembali mulai bercumbu. Suara decapan khas ciuman yang dalam dan panas memenuhi ruangan. Bela diam terpaku, memaki dirinya sendiri karena harus terjebak dalam situasi seperti ini untuk kedua kalinya. Ia tidak heran jika Cika memiliki kehidupan bebas, tapi ia tidak menyangka akan dipaksa menjadi penonton bisu yang terbaring kaku di atas ranjang yang sama.

Awalnya mereka hanya berdiri di dekat area dapur kecil itu. "Isap, Sayang," perintah lelaki itu dengan nada rendah yang memerintah.

Bela sebenarnya sangat penasaran apa yang sedang terjadi di belakang punggungnya, namun rasa takutnya jauh lebih besar daripada rasa ingin tahunya. Ia mendengar suara yang aneh, suara kerongkongan Cika yang seperti sedang melahap sesuatu dengan susah payah. Ada suara hisapan yang dalam sampai membuat pria itu mendesah keenakan. Tak lama, terdengar suara tamparan kecil di kulit yang justru membuat desahan semakin kencang lolos dari mulut Cika.

Siapa yang tidak terangsang mendengar suara-suara itu di tengah malam? Bela tidak bisa membohongi dirinya sendiri; ia merasa panas. Kilasan kejadian malam terkutuk yang menimpanya kembali terbayang. Meskipun malam itu ia tidak melakukan apa yang dilakukan Cika sekarang mengisap benda panjang berurat milik pria asing.

Bela mulai bertanya-tanya dalam hati. 'Memang seenak itu ya?' Rasa penasaran itu muncul secara liar di benaknya.

"Shh... ahhh!" suara desahan Cika terdengar lega saat benda itu keluar sempurna dari mulutnya, menciptakan suara letupan basah yang aneh.

'Brukk!'

Bela merasakan guncangan di kasur tepat di sampingnya. Sial! Mereka kini memilih melanjutkan permainan tepat di samping Bela.

"Mau nenen, hmmm..." ucap pria itu dengan suara yang sudah dikuasai nafsu. Ia mulai mengulum payudara Cika, sementara tangannya yang lain memelintir puting di sisi sebelahnya dengan kasar.

Cika mendesah sejadi-jadinya. "Shh... ahh! Enak banget, Sayang!" bisiknya, meski suaranya mulai tidak terkontrol. Suara isapan yang rakus terdengar sangat dekat dengan telinga Bela.

"Jarinya, Sayang..." pinta Cika dengan suara serak. Ia membimbing tangan pacarnya menelusuri bagian sensitifnya yang sudah banjir di bawah sana. Tanpa membuang waktu, pria itu memasukkan dua jarinya sekaligus, mengocoknya dengan ritme cepat hingga menimbulkan bunyi becek yang memalukan.

"Ahhhh! Anjing, enakkk!" racau Cika, setengah berteriak karena kenikmatan yang memuncak.

"Suttt! Nanti temen lu bangun, bego! Hahaha," bisik pria itu sambil tertawa nakal, mencoba menenangkan Cika yang mulai lupa diri.

Tidak bisa dipungkiri, bagian bawah Bela pun ikut basah. Di balik selimut itu, ia merasa terasing sekaligus menginginkan hal yang sama. Ia ingin dijamah. Memori tentang sentuhan kasar namun nikmat dari pria malam itu masih membekas kuat di tubuhnya. Untuk sejenak, ia lupa bahwa ada janin yang sudah mulai hidup di dalam rahimnya. Sensasi biologis ini mengalahkan logikanya.

Kini, kasur mulai bergoyang dengan irama yang lebih berat. Persetubuhan yang sesungguhnya telah dimulai. Bela mencoba membaca setiap gerakan melalui guncangan di belakang punggungnya.

'Plok... plok... plok...' Suara kulit yang beradu dan desahan napas yang tersengal-sengal semakin nyata. Cika meremas bantal kepalanya, menahan teriakan yang nyaris meledak.

"Ahhh! Gede banget... dalam banget, ahh!" racau Cika yang kini benar-benar lupa untuk berbisik.

Adegan panas itu berlangsung lama. Pergantian gaya membuat kasur terus berderit.

"Nungging, Sayang!" perintah pria itu.

Suara perintah itu mirip sekali dengan suara kasar pria yang menjamah Bela tempo hari. Bayangan seks itu terasa begitu nyata dalam benak Bela. Ia sedang birahi, terangsang oleh situasi biadab yang terjadi tepat di sisinya.

Cika sempat mengambil posisi di atas, bergerak naik turun dengan liar, sementara pacarnya berbaring tepat di samping Bela.

"Threesome mau nggak?" tawar pria itu lagi, masih penasaran dengan Bela.

"Jangan gila lah, anjing!" maki Cika sambil mempercepat gerakannya, membuat pria di bawahnya mendesah frustrasi karena keenakan yang luar biasa.

Mendengar ajakan itu, Bela merasa terancam. Tempat ini sangat berbahaya bagi harga dirinya. Namun, tubuhnya berkata lain; ia tenggelam dalam sensasi yang diciptakan oleh suara-suara di sekitarnya.

Hampir dua jam kemudian, barulah mereka pindah ke dalam WC. Sepertinya pria itu sudah melepaskan cairannya dua kali. Namun, permainan ternyata belum berakhir. Melalui pantulan cahaya dari dalam kamar mandi, Bela membalikkan badannya. Ia melihat bayangan dua sejoli itu di dinding kamar mandi. Meski hanya berupa siluet, gerakan-gerakan mereka sangat jelas terlihat.

Bela memandangi bayangan itu dengan napas yang tidak teratur. Dalam kegelapan dan kesendirian di balik selimut, ia mencapai klimaksnya sendiri hanya dengan menonton bayangan dua orang biadab itu. Setelah ketegangan itu terlepas, rasa lelah yang luar biasa menghampirinya. Bela akhirnya tertidur pulas, begitu pulasnya sampai ia tidak tahu kapan permainan Cika berakhir atau kapan pria itu meninggalkan kamar kos tersebut.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!