NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:39
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA DI ISTANA DAN HARAPAN BAGI NEGARA

Mentari pagi menyinari Jakarta dengan cahaya yang penuh kemuliaan. Hari ini adalah Hari HUT Republik Indonesia ke-78, dan Qinara—sekarang sudah memasuki usia tigabelas tahun—berada di dalam mobil yang menuju Istana Merdeka. Dia mengenakan baju batik merah-putih yang indah, yang dibuat khusus oleh Bu Minah, ibunya Pak Joko. Tangan dia gemetar sedikit, tapi hatinya penuh kebanggaan dan tekad.

Di sebelahnya duduk Pak Rio, yang telah menyiapkan dia untuk pidatonya. "Qinara, hari ini adalah hari yang akan kamu ingat seumur hidup. Kamu akan berbicara di hadapan presiden dan para pejabat negara. Tapi ingat—kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Ceritakan cerita kamu dengan jujur, dan pesan ayahmu akan terdengar," ucapnya dengan suara lemah tapi tegas.

Qinara mengangguk, memegang kotak pemberian ayahnya yang selalu ada di sisinya. Di dalamnya, ada surat ayahnya, medali "Pahlawan Hukum Muda" yang dia terima dari UI, dan foto anak-anak di Sekolah Hadian. Dia melihat ke luar jendela, melihat jalanan yang dipenuhi bendera merah-putih dan orang yang bersorak menyambut Hari HUT. Semua itu membuatnya merasa bangga menjadi warga Indonesia.

Pak Santoso dan Pak Slamet juga ada di mobil, bersama dengan tiga anak dari Sekolah Hadian—Siti, Dewi, dan Rudi, seorang anak laki-laki yang ingin menjadi dokter. Mereka semua tersenyum padanya, memberinya kekuatan yang dia butuhkan. "Kamu pasti bisa, Kak Qinara! Kita bangga padamu!" teriak Rudi dengan antusias.

Ketika tiba di Istana Merdeka, Qinara terkejut melihat keindahannya. Bangunan yang megah dengan ornamen klasik, taman yang rapi, dan pejabat yang mengenakan jas resmi. Mereka diantarkan ke aula raksasa yang akan menyaksikan upacara. Di dalam aula, sudah ada ribuan orang—presiden, menteri, pejabat tinggi, tokoh masyarakat, dan anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia.

Qinara duduk di baris depan, bersama dengan anak-anak dari Sekolah Hadian. Dia melihat ke arah panggung, di mana presiden akan berdiri dan kemudian memberikan kesempatan kepada dia untuk berbicara. Suasana aula terasa tegang tapi penuh harapan.

Beberapa menit kemudian, presiden memasuki aula, dan semua orang berdiri untuk menghormatinya. Presiden memberikan pidato tentang perjuangan negara dan harapan untuk masa depan. Ketika selesai, dia melihat ke arah Qinara dan menyebut namanya. "Selanjutnya, kita akan mendengar dari seorang anak yang telah menginspirasi banyak orang di negara ini—Qinara, pendiri Yayasan Hadian dan Sekolah Hadian untuk Anak Miskin!"

Suara tepuk tangan yang meriah terdengar dari seluruh aula. Qinara mengambil napas dalam-dalam, berdiri, dan menuju panggung. Ketika dia berdiri di depan mikrofon, dia melihat ribuan mata yang tertuju padanya—termasuk mata presiden yang penuh perhatian. Dia merasa sedikit takut, tapi dia segera mengingat kata-kata ayahnya: "Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah."

"Selamat Hari HUT Republik Indonesia yang ke-78, Bapak Presiden, Bapak Ibu Menteri, Bapak Ibu Pejabat Tinggi, dan semuanya yang hadir," ucap Qinara dengan suara yang jelas dan penuh emosi. "Perkenalkan, nama saya Qinara. Saya berusia tigabelas tahun, dan saya ingin berbicara tentang harapan—harapan yang ayahku berikan padaku, dan harapan yang kita semua miliki untuk negara ini."

Dia mulai menceritakan cerita tentang ayahnya—seorang pengusaha yang bekerja keras, yang mencintai negara dan ingin membantu orang lain. Dia menceritakan tentang kematian ayahnya, tentang bagaimana dia harus berjuang untuk mendapatkan keadilan, dan tentang bagaimana dia menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup dengan bantuan orang-orang yang baik.

"Ayahku selalu mengatakan bahwa anak-anak adalah masa depan negara. Dia berjanji bahwa satu hari dia akan membangun sekolah untuk anak-anak miskin, agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan mencapai impian mereka. Sekarang, sekolah itu sudah ada—Sekolah Hadian untuk Anak Miskin di pinggiran Jakarta. Ada lebih dari 150 anak yang bersekolah di sana, dan mereka semua memiliki impian yang besar—beberapa ingin menjadi pengacara, dokter, guru, bahkan presiden nanti," kata Qinara, melihat ke arah anak-anak yang datang bersamanya.

Dia mengambil foto anak-anak dari kotak pemberian ayahnya dan menampilkannya. "Ini adalah anak-anak dari Sekolah Hadian. Mereka adalah contoh dari potensi yang ada di anak-anak Indonesia. Hanya butuh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang."

Qinara kemudian berbicara tentang kebutuhan untuk membantu anak-anak miskin dan yatim di seluruh negara. "Di banyak daerah di Indonesia, masih ada anak-anak yang tidak bisa sekolah karena tidak punya uang. Masih ada anak-anak yang hidup di kemiskinan dan tidak punya tempat tinggal. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka. Karena jika kita membantu anak-anak ini, kita membantu masa depan negara kita."

Dia melihat ke arah presiden. "Bapak Presiden, saya berharap pemerintah akan memberikan lebih banyak dukungan untuk pendidikan anak-anak miskin dan yatim. Buatlah lebih banyak sekolah, berikan beasiswa, dan pastikan bahwa setiap anak di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang baik. Karena itu adalah cara untuk membuat negara kita lebih kuat dan makmur."

Suara tepuk tangan terdengar lagi, semakin meriah. Presiden tersenyum dan mengangguk, menunjukkan bahwa dia mendengar kata-katanya.

Qinara melanjutkan pidatonya dengan pesan tentang keberanian dan kebenaran. "Saya telah belajar bahwa kebenaran tidak selalu mudah ditemukan, tapi kita harus terus mencari. Saya telah belajar bahwa keberanian bukanlah tidak takut, tapi melanjutkan meskipun takut. Dan saya telah belajar bahwa kasih sayang dan persatuan adalah kekuatan terbesar yang kita miliki."

Dia mengambil surat ayahnya dari kotak dan membacanya: "Warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."

"Ini adalah warisan yang saya ingin bagikan kepada semua orang. Ini adalah warisan yang akan membuat negara kita lebih baik. Selamat Hari HUT Indonesia—semoga negara kita selalu makmur, damai, dan penuh harapan!" ucap Qinara, menutup surat ayahnya.

Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh aula, berlangsung selama lebih dari sepuluh menit. Banyak orang menangis, terinspirasi oleh kata-katanya dan keberaniannya. Presiden berdiri dan menuju panggung, memberikan pelukan kepada Qinara—suatu kehormatan yang jarang diberikan kepada anak seusianya.

"Qinara, kamu adalah harapan bagi negara ini. Kamu telah menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Pemerintah akan mendukung usahamu—kita akan membantu membangun lebih banyak sekolah seperti Sekolah Hadian di seluruh negara," ucap presiden dengan suara penuh emosi. Suara tepuk tangan kembali terdengar lebih meriah.

Setelah upacara selesai, Qinara dikelilingi oleh pejabat, tokoh masyarakat, dan wartawan. Mereka memberikan dukungan, mengucapkan terima kasih, dan menawarkan bantuan untuk yayasan dan sekolahnya. Seorang menteri pendidikan berkata, "Qinara, kamu telah membuka mata kita. Kita akan segera membuat kebijakan baru untuk membantu anak-anak miskin mendapatkan pendidikan."

Qinara tersenyum. Ini adalah hasil yang dia inginkan—perubahan nyata untuk negara dan anak-anak yang membutuhkan.

Sore hari, mereka berjalan ke taman Istana Merdeka, menikmati suasana Hari HUT. Anak-anak dari Sekolah Hadian bermain bersama, sementara Pak Rio, Pak Santoso, dan Pak Slamet berbincang dengan pejabat yang ingin membantu. Qinara berdiri sendirian sebentar, memandang bendera merah-putih yang terbang tinggi.

"Ayah, hari ini aku berbicara di Istana Merdeka. Presiden mendengar kata-kataku, dan pemerintah akan membantu kita membangun lebih banyak sekolah. Anak-anak kita akan memiliki lebih banyak kesempatan. Kamu pasti bangga padaku, kan? Aku telah melakukan semua yang kamu harapkan, dan lebih banyak lagi," bisik dia dengan suara lirih.

Dia merasa kehadiran ayahnya di sana, melindunginya dan merayakan kesuksesannya. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dengan erat, menyadari bahwa semua yang dia miliki sekarang adalah karena cinta dan dukungan ayahnya.

Malam itu, ada pesta perayaan Hari HUT di Istana. Qinara dan anak-anak dari Sekolah Hadian menyanyi dan menari bersama presiden dan pejabat. Semua orang senang, dan suasana penuh kebahagiaan. Qinara melihat sekelilingnya—orang-orang dari berbagai latar belakang, bekerja bersama-sama untuk merayakan negara mereka. Dia tahu bahwa ini adalah makna dari persatuan dan bhineka tunggal ika.

Ketika malam hari tiba, mereka berangkat pulang. Qinara merasa lelah tapi senang. Dia tahu bahwa hari ini adalah titik balik dalam hidupnya—hari di mana suaranya terdengar di tingkat tertinggi negara, dan hari di mana harapan ayahnya untuk negara semakin dekat terwujud.

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai. Qinara siap untuk menghadapinya—dengan keberanian dari ayahnya, dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dan tekad yang kuat untuk membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik bagi semua anak.

Dia tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, tapi dia yakin bahwa dia akan mencapai semua impiannya. Ayahnya selalu menyertainya, dan warisan ayahnya akan hidup selamanya di hatinya, di yayasan, di sekolah, dan di setiap anak yang dia bantu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!