Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisabet — Api yang Mulai Bergerak
Pesan itu dibaca.
Tidak langsung dibalas.
Namun Elisabet tahu—Leo sudah menerima.
Pria itu tidak pernah cepat membalas jika sesuatu benar-benar berbahaya.
Malam turun perlahan di rumah megah itu. Lampu-lampu taman menyala, penjagaan diperketat dua kali lipat—perintah Elisabet sendiri. Ia tidak lagi peduli apakah Marcellina menyadari perubahan ini atau tidak.
Di ruang kerja kecilnya, Elisabet membuka laptop lama ayahnya.
Laptop yang selama ini dianggap rusak.
Ia memasukkan satu flashdisk hitam—yang ia temukan di balik map emas.
Layar menyala.
Bukan data biasa.
Ini arsip hidup.
Rekaman suara.
Transkrip pertemuan.
Daftar transaksi.
Elisabet membuka kembali ponselnya.
Nama Leo masih ada di layar.
Jarinya sempat ragu di atas papan ketik.
Untuk sesaat, bayangan masa kecilnya muncul—Leo yang selalu berdiri beberapa langkah di belakangnya, diam, setia, tak banyak bicara. Pria yang selalu ada saat ayahnya tidak bisa.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mengetik.
“Jaga anak-anakku.”
Pesan itu singkat.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada permintaan tambahan.
Namun maknanya terlalu jelas.
Itu bukan permohonan biasa.
Itu adalah titipan.
Itu adalah pesan dari seseorang yang tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini bisa berakhir dengan satu kemungkinan: tidak kembali.
Pesan terkirim.
Elisabet meletakkan ponselnya perlahan, seolah benda itu tiba-tiba menjadi terlalu berat. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, tapi karena keputusan yang akhirnya ia ambil.
“Hidup atau mati…” gumamnya lirih.
“Setidaknya kebenaran tidak mati bersamaku.”
Di luar kamar, langkah penjaga terdengar bergeser. Malam semakin pekat. Rumah megah itu berdiri anggun seperti biasa, tapi di dalamnya—api telah menyala.
Beberapa menit kemudian, di tempat yang jauh dari rumah itu, sebuah ponsel tua kembali bergetar.
Leo membacanya.
Hanya satu baris.
Namun wajahnya langsung berubah.
Ia berdiri dari kursinya, meraih jaket, dan tanpa bicara pada siapa pun, ia mengambil kunci senjata yang selama bertahun-tahun tak pernah disentuh.
...----------------...
Batam — Armand dalam Pengejaran
Pagi belum benar-benar terang ketika kekacauan pecah.
Armand baru saja keluar dari lorong sempit di belakang bangunan tua dekat pelabuhan. Udara Batam lembap, asin, dan berat—seperti firasat yang menempel di kulit. Ia tahu sejak sepuluh menit lalu ada sesuatu yang tidak beres.
Langkah-langkah di belakangnya terlalu teratur.
Bukan warga. Bukan pekerja pelabuhan.
Terlalu rapi.
Terlalu sunyi.
Armand mempercepat langkah, tangannya sudah menyentuh senjata di balik jaket. Detik berikutnya, suara letupan memecah pagi.
DOR!
Peluru menghantam dinding tepat di samping kepalanya. Pecahan semen beterbangan. Armand menjatuhkan diri, berguling ke balik kontainer besi.
“Kontak!”
“Tutup jalur kiri!”
“Dia sendirian!”
Suara-suara itu tidak asing. Nada aparat—atau setidaknya orang-orang yang pernah memakai seragam negara.
Informasi bocor.
Dan bocornya bukan kecil.
Armand membalas tembakan. Satu. Dua. Tiga. Tidak untuk membunuh—hanya untuk menciptakan ruang. Ia bergerak cepat, berganti posisi, memanfaatkan setiap sudut yang pernah ia pelajari bertahun-tahun lalu.
Dulu ia mengajarkan ini pada orang lain.
Kini ia menggunakannya untuk bertahan hidup.
Peluru kembali melesat. Logam beradu dengan logam. Suara teriakan bercampur dengan deru kapal yang mulai hidup di kejauhan.
Armand melompat, berlari, lalu menyelip ke gang sempit yang nyaris tak terlihat. Napasnya berat, tapi pikirannya tetap dingin.
Ia tahu siapa yang memburunya.
Orang-orang yang dulu ia lindungi.
Orang-orang yang dulu ia selamatkan.
Dan kini—mereka takut pada apa yang ia ketahui.
Ponselnya bergetar di saku.
Satu nama muncul di layar.
Elisabet.
Jantungnya berdenyut keras.
Tangannya hampir refleks mengangkat panggilan itu
namun ia berhenti.
Tidak.
Tidak sekarang.
Menghubunginya berarti membuka jejak.
Berarti menarik bahaya langsung ke arah perempuan yang sudah terlalu banyak kehilangan.
Armand menekan tombol tolak, lalu mematikan ponselnya sepenuhnya.
“Maaf…” gumamnya pelan.
“Ini satu-satunya cara.”
Ia melanjutkan bergerak, melompati pagar rendah, masuk ke bangunan setengah runtuh. Di dalamnya gelap dan pengap. Bau karat dan oli menyengat.
Langkah-langkah musuh masih terdengar di luar.
Armand menempelkan punggung ke dinding, menutup mata sejenak.
Bayangan Elisabet muncul—wajahnya, tatapannya, keberaniannya yang selalu lebih besar dari yang ia akui. Lalu bayangan anak-anaknya. Safira. Clarissa. Adrian.
Jaga anak-anak kita.
Kalimat itu terngiang di kepalanya, seperti sumpah yang tidak boleh ia ingkari.
Ia membuka mata kembali.
“Belum hari ini,” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Kalau mereka ingin aku jatuh, mereka harus datang lebih dekat.”
Di luar, suara langkah semakin mendekat.
Dan di Batam pagi itu,
perburuan tidak lagi tentang menangkap satu orang.
Ini tentang siapa yang lebih dulu runtuh
orang-orang yang hidup dari kebohongan,
atau pria yang memilih menjadi bayangan demi melindungi keluarganya.
Batam — Bayangan yang Tidak Pernah Mati
Armand menghitung langkah di kepalanya.
Tiga di kanan.
Dua di kiri.
Satu di belakang—menutup jalur keluar.
Mereka rapi. Terlalu rapi untuk sekadar preman bayaran.
Ia mengintip dari celah dinding retak. Empat orang. Dua bersenjata laras panjang, dua pistol. Salah satu mengenakan jaket hitam tanpa tanda—gaya aparat yang ingin tetap anonim.
“Dia masuk ke gedung ini,” terdengar suara rendah memberi perintah.
“Jangan sampai lolos.”
Armand menarik napas dalam-dalam.
Gedung tua ini dulu gudang logistik. Ia hafal struktur bangunannya—lorong sempit, tangga darurat berkarat, dan satu pintu belakang yang jarang dipakai. Tapi pintu itu juga titik paling berbahaya.
Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan satu benda kecil berbentuk silinder.
Granat asap.
Bukan untuk perang.
Untuk menghilang.
Armand melemparkannya ke arah berlawanan.
PSSSSHHH—
Asap tebal menyebar cepat.
“Tutup mata!”
“Jangan tembak sembarangan!”
Kekacauan tercipta—cukup untuk tiga detik yang ia butuhkan.
Armand bergerak. Cepat. Tanpa ragu. Ia menyusuri dinding, menuruni tangga darurat, lalu keluar lewat celah pagar belakang. Kakinya mendarat keras di tanah basah, tapi ia tidak berhenti.
Pelabuhan sudah di depan mata.
Ia berlari menyusuri deretan truk kontainer, menunduk saat satu peluru melesat dan menghantam besi tepat di atas kepalanya. Percikan api menyala sekejap.
“Armand!” teriak seseorang.
“Kita hanya ingin bicara!”
Armand tersenyum pahit sambil berlari.
“Kalau cuma bicara,” gumamnya, “kalian tidak membawa senjata.”
Ia melompat ke balik truk terakhir, lalu menghilang ke dalam keramaian pelabuhan—pekerja pagi, suara mesin, dan kapal yang bersiap berangkat. Dunia yang bergerak cepat adalah perlindungan terbaiknya.
Ia berhenti di antara dua kontainer, bersandar, menahan napas.
Tangannya gemetar sebentar—bukan karena takut, tapi karena marah.
Informasi bocor.
Dan hanya ada segelintir orang yang tahu keberadaannya.
Nama-nama itu muncul satu per satu di kepalanya.
Mantan pejabat.
Perwira lama.
Dan orang-orang yang dulu bersembunyi di balik Perisai Malam.
“Jadi kalian memilih berburu,” bisiknya.
“Baik.”
Armand menyalakan ponsel cadangan nomor lama, jalur aman. Satu pesan masuk hampir bersamaan.
Tanpa nama pengirim.
“Kamu tidak seharusnya kembali.”
Armand mengetik balasan singkat.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi.”
Ia menekan kirim, lalu mematikan ponsel kembali.
Matanya menatap laut yang bergelombang pelan. Batam tidak berubah—tetap ramai, tetap hidup. Tapi baginya, kota ini kini adalah papan catur yang kembali dibuka.
...----------------...
Di tempat lain, ia tahu Elisabet sedang bergerak.
Ia tahu api itu sudah menyala.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Armand menerima satu kenyataan pahit namun jelas:
Jika mereka memaksa permainan ini dimulai lagi,
maka ia tidak akan lari.
Bukan demi dirinya.
Tapi demi memastikan.
tidak satu pun dari mereka menyentuh keluarganya.
Perburuan berlanjut.
Dan kali ini, bayangan lama tidak berniat menghilang sendirian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...