"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadikan Arimbi Pion
Suara-suara laknat dari Dara terdengar oleh Ibu Arumi yang baru keluar dari kamar mandi.
"Siapa sih yang bersuara di garasi, perasaan rumah ini tidak ada orang lain selain aku dan Dara saja. Apa ada hantu, tapi sekarang masih pagi?" Gumam Ibu Arumi takut-takut, tapi tetap berjalan menuju garasi.
Sambil memegang perut yang melilit, Ibu Arumi menuju garasi mobil. Ruangan yang terparkir empat mobil itu mendadak horor karena Dara. Wanita berperut buncit dengan rambut panjang acak-acakan sedang duduk gelisah meliuk-liuk menggesek-gesekkan anunya di atas kursi kayu.
Ahhh..." Racaunya membuat Ibu Arumi melotot tak percaya saking syoknya.
"DARA!" Teriak Ibu Arumi dengan wajah merah padam karena marah.
"Apa yang kamu lakukan? Menjijikkan! Masuk kamar, dan pakai pakaianmu. Beruntung di rumah ini sepi, bagaimana kalau ada yang lihat. Astaga... Kenapa Agung bisa terjerat Kuntilanak bunting." Oceh Ibu Arumi.
"Bu..." Ucap Dara memelas, berharap ada yang membantu menuntaskan hasratnya.
"Jangan bicara lagi Dara, apa yang kamu lakukan sekarang benar-benar membuat Ibu sangat kecewa. Kamu membuat harga diri perempuan jatuh dengan perbuatan menjijikkanmu itu. Ibu jadi penasaran sebenarnya kamu siapa? Kenapa menjerat Agung menjadi selingkuhanmu yang tidak punya kelebihan. Kecuali bisa memberikan Agung anak. Katakan sejujurnya!" Tegas Ibu Arumi.
Wanita tua yang mata duitan itu sebenarnya punya masa lalu yang tak kalah buruk daripada Dara tapi berhasil dia sembunyikan. Makanya dulu dia diceraikan suaminya karena ketahuan hamil saat suaminya saja kerja di luar pulau. Ternyata Ibu Arumi menjadi simpanan Kepala Desa saat masih muda. Hanya Agung yang anak suaminya.
Sedangkan Arimbi anak Kepala Desa tapi tidak diakui oleh Bapaknya. Lain dengan Ambar yang anak...
Tidak jelas anak siapa si Ambar, karena semenjak diusir dari Desa saat hamil besar Arimbi. Ibu Arumi merantau ke Jakarta. Membawa rahasia kelam yang masih tersimpan rapat hingga anaknya dewasa. Tapi entah mau sampai kapan?
Setelah menyeret Dara ke kamar, Ibu Arumi mendesah pelan sambil memijat kening yang berdenyut nyeri. Karena sampai saat ini, baik Arimbi dan Ambar masih tidak tahu siapa sebenarnya Ayah kandungnya.
Jika Arimbi berhasil mendapatkan akta kelahiran resmi dari mantan suaminya. Karena saat melahirkan Arimbi, Ibu Arumi belum dicerai oleh suaminya.
Dengan licik, dia mengurus sendiri akte lahir Arimbi dengan membawa buku nikahnya dengan sang suami. Tapi untuk Ambar, sampai sekarang Ibu Arumi selalu berkelit jika akta lahirnya hilang dan Ayahnya sudah meninggal dunia di luar pulau sehingga sulit untuk mengurusnya. Dan entah mengapa kedua anak gadis Ibu Arumi mudah dibohongi.
Sedangkan Agung, dia tidak peduli. Waktu pengusiran terjadi dia juga masih kecil, intinya ketiga anak Ibu Arumi adalah korban keegoisannya. Yang mungkin suatu saat akan menjadi bumerang untuk mereka semua.
Di kamarnya, Dara sedang terengah-engah karena cengkeraman Ibu Arumi. Dia tidak menyangka akan ada di fase yang sangat memalukan.
"Kenapa rasa itu kembali hadir, padahal aku sudah lama sembuh. Hanya dengan mas Agung aku ingin, tapi sekarang hasrat yang sama kembali datang dan aku tidak bisa jika terus menahannya." Gumam Dara yang ternyata pernah punya penyakit kelainan orientasi seksual bernama Parafilia sejak dia SMA. Puncaknya dia beberapa kali hamil.
Sementara itu di Perusahaan, Dira sedang memimpin rapat pembersihan karyawan. Dengan sikapnya yang tegas, membuat Agung membencinya yang dianggap sok.
Sedangkan Arimbi hanya duduk diam, karena tidak tahu harus apa. Arimbi bukan lulusan sarjana terbaik. Bisa lulus kuliah saja waktu itu karena dengan menjadi ayam kampus untuk mendapatkan nilai maksimal.
Otak Arimbi tergolong pas-pasan, mungkin karena waktu hamil dia. Ibu Arumi terlalu banyak berbohong, hingga bayinya lahir menuai karma.
Ibu Arumi waktu melarikan diri dari Desa saat Arumi dalam kandungan 7 bulan baru ketahuan. Hubungan gelapnya dengan Kepala Desa menjadi bahan gunjingan orang sekampung karena saat itu suaminya pulang.
Dan mendapati istrinya sedang bergumul dengan pria lain dengan perut yang besar di kamar mereka. Sempat diarak, menjadi bulan-bulanan warga hingga beberapa kali perutnya kena tendang oleh suami dan istri SAH Pak Kepala Desa. Tapi kandungan Ibu Arumi kuat, hingga hanya mengalami pendarahan ringan jadi tidak sempat mengalami keguguran.
"Kenapa aku juga diturunkan jabatanku? Aku tidak terima." Ucap Agung saat Dira memberikan surat penurunan jabatan kerja menjadi staff biasa.
"Kalau tidak terima, resign saja. Mohon maaf tapi keputusan saya mutlak, tidak ada negosiasi meskipun di rumah kita suami istri." Ucapan tegas Dira membuat Agung diam tapi dalam hati dongkol.
Agung memilih mengundurkan diri, karena dia tidak rela harga dirinya sebagai seorang pria diinjak-injak. Dengan marah, Agung langsung pulang. Sedangkan Dira tersenyum kecut melihatnya.
"Arimbi... sekarang kamu harus menanggung semua hukuman dari kesalahan Kakakmu. Mau mengikuti jejaknya, boleh saja. Tapi bersiap polisi datang menangkapmu. Jangan berfikir untuk lari ya?"
"Tapi ini tidak adil bagiku, mas Agung juga mengambil uang tanpa kamu tahu." Teriak Arimbi.
Rapat pun dibubarkan, karena sepertinya umpan Dira sudah mengenai target. Arimbi akan mengatakan sebuah kebenaran.
"Katakan, sekarang tinggal kita berdua. Tidak perlu menutupi kebusukan Agung. Toh dia tidak membantumu mengganti uang perusahaan yang dia curi."
Arimbi berfikir keras, tapi memang otak setengah onsnya sulit untuk diajak kerja sama, sangat lemot.
"Mas Agung, ambil uang untuk beli apartemen mewah buat Dara..."
"Dara keponakan Ibu, wah dermawan sekali Suamiku itu." Ucap Dira.
"Dara itu selingkuhannya Mas Agung, dan perutnya buncit karena hamil. Dan katanya anak Mas Agung."
"Serius...? Kamu tidak bohong Arimbi?" Tanya Dira ingin memastikan ulang. Sementara ponsel Dira masih merekam.
"Mbak Dira gak marah? Gak cemburu suaminya punya wanita lain?" Bukannya menjawab, Arimbi balik bertanya. Karena merasa heran dengan Dira yang terlihat tidak sedih sama sekali apalagi menangis karena suaminya menghamili wanita lain di belakangnya.
"Sedih? Menangis? Apa aku harus pamer denganmu supaya terlihat lemah? Sudah jangan mengalihkan pembicaraan ini. Apa yang kamu ucapkan benar? Jadi Agung telah membohongi aku?"
"Iya Mbak, Dara itu cuma pelayan restoran yang bermimpi menjadi nyonya di Istana milik kamu."
"Aku bisa membebaskanmu dari hutang, asal kamu bersedia membantu rencanaku."
"Tunggu, perutku tiba-tiba sakit." Ucap Arimbi berlari mencari toilet.
Sedangkan Agung yang baru sampai lift bingung karena perutnya sakit.
Duttt
Bunyi kentut menggema di kotak besi yang berisi lima orang tamu penting Perusahaan yang seketika mabok karena bau busuknya.
"Astaga... Bukankah Anda Suami Nyonya Dira? Kenapa kentut sembarangan sih!"
Sebaliknya, setiap sebab, ada akibatnya.
Masuk akal kan?
Asap sebagai akibat dan api menggambarkan penyebab.
Hmm … kalau dipikir-pikir lagi, setiap fenomena di dunia ini memang berhubungan dengan sebab dan akibat.
Hukum sebab akibat merupakan sesuatu yang berlaku secara universal, dan bsai kita temui dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.
Pada hakikatnya, kita perlu sadar dulu bahwa apa yang terjadi di dalam kehidupan ini, merupakan akibat dari tindakan sebelumnya...🤔
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂