Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Sang Naga di Tiga Penjuru
Gema dari hancurnya altar batu di Gunung Penanggungan tidak hanya menggetarkan gua purba itu, tetapi juga mengirimkan gelombang energi murni yang merambat melalui urat-urat bumi Nusantara. Getaran itu sangat halus, namun bagi mereka yang telah mencapai puncak ilmu batin, getaran itu terdengar seperti dentuman genta raksasa.
Di tiga penjuru mata angin yang berbeda, tiga tokoh legendaris yang telah lama mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia, serentak membuka mata.
1. Resi Brahmana di Puncak Gunung Lawu
Di sebuah tempat yang selalu tertutup kabut tebal, Resi Brahmana yang sudah tua, seorang pendeta pejuang yang usianya sudah melampaui satu abad, sedang bermeditasi di atas selembar daun jati yang kering.
Tiba-tiba, ia merasakan tanah di bawahnya berdenyut. Mata tua yang tadinya terpejam itu terbuka, menampakkan pupil yang jernih layaknya mata bayi. Ia menoleh ke arah timur.
"Naga Bumi telah bangkit," gumamnya dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Setelah ratusan tahun membatu, ia akhirnya memilih tangan untuk digenggam. Namun... hawa ini aneh. Ada ketajaman hawa dingin dari utara yang menyatu dengan kehangatan bumi Jawa. Siapakah pemuda yang mampu menjinakkan naga itu?"
2. Nyai Ageng Sasmita di Pesisir Kidul
Jauh di selatan, di sebuah gubuk yang bertengger di atas tebing curam yang menghantam samudra, Nyai Ageng Sasmita sedang menenun kain sutra. Ia adalah maestro ilmu meringankan tubuh yang konon bisa berjalan di atas buih ombak.
Saat getaran itu sampai, alat tenunnya berhenti bergerak. Benang-benang sutranya bergetar hebat. Nyai Ageng berdiri, melangkah ke tepi tebing, membiarkan angin laut memainkan rambut putihnya yang panjang.
"Seekor naga baru telah lahir," desisnya sambil tersenyum tipis. "Gajah Mada pasti sudah merasakannya. Majapahit akan segera berguncang. Entah ini berkah atau kutukan, tapi aku bisa merasakan bahwa pedang itu kini berada di tangan seseorang yang sedang menanggung beban ketidakadilan yang luar biasa."
3. Kyai Guntur Langit di Hutan Larangan
Di pedalaman hutan yang gelap, di mana sinar matahari pun sulit menembus rimbunnya pohon-pohon purba, Kyai Guntur Langit—seorang ahli senjata yang pernah menjadi rekan seperjuangan Gajah Mada—sedang menempa sebilah keris.
Saat pedang Naga Bumi dicabut oleh Lin Feng, api di tungku tempa Kyai Guntur mendadak meluap setinggi atap, berubah warna dari merah menjadi keemasan. Ia menjatuhkan palunya dengan bunyi denting yang keras.
"Tuannya... ia telah datang," ucap Kyai Guntur dengan napas memburu. "Bukan keturunan raja, bukan pula pangeran Majapahit. Getaran ini berasal dari seseorang yang hatinya tulus namun terluka. Pedang Naga Bumi tidak pernah salah pilih. Ini adalah pertanda bahwa tikus-tikus korup yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang istana harus mulai menyiapkan liang lahat mereka."
Pertanda Bagi Majapahit
Ketiga pendekar sakti ini, yang masing-masing merupakan tetua dari aliran persilatan yang berbeda, menyadari bahwa roda takdir telah berputar. Mereka tahu bahwa kemunculan kembali Pedang Naga Bumi berarti sebuah perubahan besar akan segera melanda ibu kota Trowulan.
Tanpa saling berkomunikasi, ketiganya mulai memerintahkan murid-murid kepercayaan mereka untuk turun gunung. "Cari pemuda pembawa pedang naga itu," perintah mereka hampir serentak. "Jangan ganggu dia, tapi lindungi perjalanannya. Sebab di tangannya, nasib keadilan dua negeri kini dipertaruhkan."