Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 The Silent Guardian
Sore itu, "The Vintage Page" sudah sepi. Liora mencoba meraih sebuah buku di rak teratas, namun dunianya mendadak berputar hebat. Rasa sakit yang tajam seperti dihantam palu godam menghujam perutnya. Keseimbangannya hilang, dan tubuh ringkih itu ambruk ke lantai kayu yang dingin.
Jacob, yang ternyata diam-diam masih mengawasi toko atas perintah tersembunyi Eleanor, segera berlari masuk. Ia menemukan Liora tergeletak tak berdaya dengan wajah yang tidak lagi pucat, melainkan membiru menahan sakit.
"Nona Liora!" Jacob berseru, ia segera mengangkat kepala Liora ke pangkuannya.
Saat itulah Jacob menyadari sesuatu yang mengerikan. Pakaian bagian perut Liora basah, bukan oleh air, melainkan oleh rembesan darah segar yang menembus perban. Jacob yang pernah memiliki latar belakang medis militer segera memeriksa luka itu. Matanya membelalak lebar.
"Ini... ini jahitan operasi besar," gumam Jacob tidak percaya. Pikirannya langsung melayang pada operasi transplantasi hati Nyonya Eleanor yang baru saja terjadi secara anonim.
Jacob segera membuka tas Liora untuk mencari ponsel atau kartu identitas, namun ia justru menemukan lembaran catatan medis rumah sakit dan botol-botol obat penahan sakit berdosis tinggi. Di sana tertera jelas: Donor Organ – Liora Elowyn.
"Ya Tuhan..." Jacob menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. "Jadi itu Anda? Selama ini... pendonor itu adalah Anda?"
Liora mengerang kecil, matanya terbuka sedikit. Melihat Jacob, ia langsung mencengkeram lengan jas pria itu dengan sisa tenaganya.
"Jacob..." bisik Liora parau. "Jangan... jangan beri tahu dia."
Jacob menggeleng kuat, matanya mulai berkaca-kaca. "Nona, ini gila! Tuan Leo baru saja menghina Anda dengan sangat kejam! Dia mengutuk Anda di depan wajah Anda sendiri! Dia harus tahu bahwa nyawa Ibunya ada karena pengorbanan Anda! Saya akan meneleponnya sekarang!"
Jacob merogoh ponselnya, namun Liora menahan tangan Jacob dengan kekuatan yang muncul dari keputusasaan. "Saya mohon... Jacob, saya mohon dengan sangat."
"Tapi kenapa, Nona?! Kenapa Anda membiarkan diri Anda dihina seperti sampah padahal Anda adalah penyelamatnya?" suara Jacob meninggi karena rasa haru dan amarah yang bercampur.
Liora tersenyum lemah, air mata mengalir dari sudut matanya yang lelah. "Jika dia tahu... dia akan merasa berhutang budi. Dan saya tidak ingin dia merasa terikat pada saya karena rasa bersalah. Saya ingin dia tetap membenci saya... karena kebenciannya jauh lebih mudah saya tanggung daripada rasa kasihannya."
Jacob tertegun. Ia menatap gadis di depannya dengan perasaan takjub yang luar biasa. Ia telah melayani keluarga Caelum selama belasan tahun, melihat ribuan orang memperebutkan kekayaan dan perhatian mereka, namun baru kali ini ia melihat seseorang yang memberikan nyawanya hanya untuk dibalas dengan makian—dan tetap memilih untuk bungkam.
"Kenapa ada orang sebaik Anda di dunia yang sejahat ini, Nona?" bisik Jacob, air matanya akhirnya jatuh. "Bagaimana bisa Anda tetap melindungi pria yang setiap harinya mencoba menghancurkan Anda?"
"Karena Nyonya Eleanor berhak untuk hidup," lirih Liora. "Dan Tuan Leo... dia hanya seorang pria yang tidak tahu cara mencintai. Tolong, Jacob. Janji pada saya. Jangan biarkan dia tahu sampai... sampai saya benar-benar sudah tidak ada."
Jacob terdiam seribu bahasa. Ia menggendong tubuh Liora yang terasa sangat ringan, seolah-olah tulang-tulangnya terbuat dari kaca. Ia membawanya ke klinik terdekat secara sembunyi-sembunyi, merawat luka itu tanpa melibatkan nama Caelum.
Malam itu, Jacob berdiri di kantor Leo, menatap bosnya yang sedang menenggak wiski dengan wajah angkuh, masih merutuk tentang "kebusukan hati" Liora. Jacob hanya bisa menunduk dalam, mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia menyimpan rahasia paling menyakitkan di dunia, sebuah kebenaran yang ia tahu akan menghancurkan jiwa Leo Alexander Caelum berkeping-keping suatu saat nanti.
"Jacob menyadari bahwa pria paling kaya di kota ini sebenarnya adalah pengemis cinta di depan seorang gadis yang tidak memiliki apa-apa selain ketulusan."
"Liora memilih untuk menjadi pahlawan yang tidak dikenal, karena baginya, pengakuan adalah beban, sementara ketulusan adalah kebebasan."
"Kesalahan terbesar Leo adalah ia mencari musuh dalam diri seseorang yang justru sedang menjadi malaikat pelindung bagi hidupnya."
"Terkadang, orang yang paling diam adalah mereka yang menanggung luka paling dalam demi kebahagiaan orang lain."