NovelToon NovelToon
My Magic Room

My Magic Room

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irish_kookie

Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan Catherine

Semenjak pulang dari rumah Catherine, Jemima lebih sering menghabiskan waktunya untuk berdiam diri sambil memandangi kalung ovalnya.

Kalung ungu itu masih terasa berat dan panas. Kata-kata Catherine juga masih terngiang jelas dalam ingatannya.

"Nenek memintaku untuk mencari ibu. Bagaimana bisa aku menemukan ibu kalau aku saja tidak tau wajahnya seperti apa. Aaagghhh! Kenapa harus aku?" tanya Jemima mendesis.

Pertanyaan itu didengar oleh Ashley dan Kai. Mereka berdua duduk mengapit Jemima dan merangkul pundak gadis itu.

"Hei, kau bisa memilih, kan? Kau bisa menolak untuk menerima warisan ini," kata Ashley dengan sabar.

Jemima menghela napas. "Entahlah! Nenekku sepertinya berharap sekali kepadaku. Aku tidak tau bagaimana cara melepaskan jiwa-jiwa lemah ini, aku sendiri lemah dan belum menjadi kuat."

Ashley dan Kai saling berpandangan. Permintaan Catherine memang sangatlah sulit, bagaimana seorang Jemima sanggup untuk menuntaskan misi darinya.

"Kau bisa minta tolong kepada kami, Jem. Kalau kau tak sanggup, katakan saja pada nenekmu," kata Kai tulus.

Jemima mengangguk pasrah dan berusaha melupakan sementara permintaan Catherine tersebut.

Beberapa hari kemudian, di suatu pagi, kalung Jemima terasa sangat berat dan panas sekali.

Dia bahkan kesulitan untuk mengangkat kalung itu. "Ada apa lagi dengan kalung ini?"

Jemima bersuara pelan sekali karena Ashley masih terlelap dalam tidurnya.

Tiba-tiba saja, kalung opal itu bercahaya menyilaukan dan seperti biasa, kekuatan tangan gaib seolah menarik Jemima untuk masuk ke dalam lubang waktu.

Jemima pun terjatuh di sofa ungu, tempat dia selalu terbangun setibanya di ruangan ajaib itu.

Namun, kali ini, ruangan itu tidak sepi. Suara orang bercakap-cakap berdengung di telinganya.

Jemima melihat ke sekeliling ruangan itu dan betapa terkejutnya dia saat menyadari ruangan itu sudah berubah menjadi sebuah kafe kecil dengan banyak pengunjung.

"I-inikah jiwa-jiwa yang dimaksud nenek?" kata Jemima. Suaranya tercekat dan oksigen di sekitarnya seolah menguap sehingga membuat dia sulit mengambil napas.

Ruangan itu terlalu ramai untuknya. Jemima berdiri kaku di dekat meja panjang berwarna kayu gelap, sementara puluhan sosok lalu-lalang di depannya.

Mereka bermacam-macam (tetap berwujud manusia) ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang hanya duduk memeluk cangkir kosong dengan tatapan kosong.

Aroma kopi, kayu manis, dan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan bercampur menjadi satu.

"Apa aku di tempat yang benar?" tanya Jemima lagi kepada dirinya sendiri.

Lampu-lampu gantung temaram menggantung rendah. Dindingnya berwarna ungu keputihan, sama seperti sofa tempat Jemima terbangun tadi.

Jemima mencari cermin oval yang biasa dia lihat, dan begitu menemukan cermin itu, dia menghela napas lega.

"Aku sudah berada di ruang yang benar, tapi aku harus apa?" tanya Jemima kepada pantulan di dalam cermin.

Pantulan bayangannya itu tersenyum dan meminta Jemima untuk melihat ke bagian depan, tempat dia terjatuh tadi.

Jemima pun berjalan menuruti pantulan itu. Ada sebuah meja bartender sekaligus mesin kasir di belakang pintu masuk.

Dia juga melihat atas meja cangkir-cangkir keramik dengan motif yang aneh dengan berbagai macam ukuran.

“A-aku harus bagaimana?” bisiknya panik.

Seolah mendengar kebingungannya, sebuah celemek muncul begitu saja melingkari pinggangnya. Jemima tersentak, refleks meraih kain itu.

Belum sempat dia berpikir lebih jauh, seseorang berdiri di hadapannya.

Seorang pria dengan wajah pucat dan mata yang tampak terlalu lelah untuk sekadar hidup.

“Saya mau cinnamon frappuccino,” katanya lirih.

Jemima menelan ludah. “Hah? Ta-tapi, ... Bagaimana cara membuat itu?"

Jemima memang bekerja di restoran, tetapi dia bukan juru masak atau barista.

Yang dia tahu hanyalah menyajikan makanan dan minuman dengan profesional.

Di tengah kebingungan dan kepanikannya itu tangan Jemima tiba-tiba bergerak sendiri.

Dia mengambil gelas berukuran tinggi, kemudian dia mengambil blender dan mencampur-campurkan bahan-bahan yang dibutuhkan.

Tak lama, aroma kayu manis bercampur cokelat karamel memenuhi udara di dekatnya, dan segelas minuman dingin dengan krim karamel tebal kini berada di atas meja.

"Ini untukku, kan?" Pria itu meminumnya perlahan, lalu tersenyum.

Senyumnya damai dan tulus. Setelah itu sesuatu terjadi tubuhnya memudar, seperti asap yang ditiup angin.

Dalam hitungan detik, kursi di depannya kosong, hanya menyisakan kepulan cahaya tipis yang menghilang ke langit-langit kafe.

Jemima terduduk lemas. “Apa yang barusan terjadi?”

Belum selesai dengan perasaan terkejutnya, mata Jemima kini menangkap sesuatu di atas meja kasir.

Sebuah buku menu. Namun saat dia membukanya, Jemima sadar kalau ini bukan menu minuman biasa.

Di halaman pertama tertulis, "Yang Mana Jalanmu?"

Di bawah tulisan besar dan tebal itu, ada sederet menu yang aneh.

"Pulang"

"Tinggal"

"Kembali"

"Belum Menentukan Pilihan" dan "Berhenti"

Jari Jemima gemetar. Tamu pria tadi memesan cinnamon frappuccino dan dia hilang karena menu itu ada dalam list menu "Pulang".

Tak beberapa lama, satu per satu, para tamu berdatangan ke meja bar.

Ada yang memilih pulang, wajah mereka berubah lega setelah menyesap minuman yang Jemima sajikan.

Ada yang memilih kembali ke masa lalu, menangis tersedu sebelum akhirnya menghilang.

Ada pula yang memilih belum menentukan pilihan, wajah mereka penuh ragu, tapi mata mereka menyala.

Dan ada satu yang memilih menu "Berhenti"

Jemima hampir menolak walaupun tak paham apa maksud dari menu berhenti itu.

Namun, sang tamu hanya tersenyum tipis. “Terima kasih sudah membantuku menemukan pilihan.”

Perasaan Jemima sudah tak karuan. Dia merasa berat, ingin menangis, tetapi ada rasa bahagia juga , semua emosi berkumpul menjadi satu di hatinya.

Saat kafe akhirnya sepi, Jemima bahkan tidak sadar kapan air matanya jatuh. "Apa ini?"

Tiba-riba saja, ruangan itu bergetar. Cahaya menyilaukan menelan segalanya.

Tak beberapa lama, Jemima terjatuh di kasurnya.

Dadanya naik turun, napasnya terengah. Kalung opal di lehernya terasa ringan dan dingin.

“Astaga! A-apa itu tadi?” Ashley berdiri di ambang pintu kamar, wajahnya pucat. “Jemi, kau tiba-tiba muncul di ranjang, bag-, ... Apakah kau dari ruangan itu lagi?"

Jemima hanya bisa mengangguk lemah. Kepalanya pusing, tubuhnya seperti habis berlari berjam-jam.

"Boleh aku ikut ke sana? Apa ada caranya supaya aku bisa ikut bersamamu?" tanya Ashley memohon.

Namun, Jemima menggeleng. “Ash, kusarankan angan ke sana!" katanya pelan. “Tempat itu sedang aneh seolah menyedot semua energimu."

“Tapi aku mau ikut,” potong Ashley cepat. “Mungkin saja aku bisa membantumu di sana."

Jemima menutup mata. "Baiklah, nanti akan aku tanyakan pada nenekku, ya."

Saat bulan mulai nyaman dengan posisinya, dunia pun semakin sunyi, sebuah suara mobil menderu perlahan di tengah jalan.

Mobil itu kemudian berhenti di sebuah rumah bertingkat dengan banyak pintu.

Jemima tersentak dari tidurnya ketika ponselnya bergetar. Dia menyipitkan mata untuk melihat siapa yang menelepon tengah malam.

"Tuan Lopez? Apa? Kau sudah di bawah? Baik, aku akan turun sebentar lagi," kata Jemima dengan suara serak.

Mendengar teman sekamarnya bergerak, Ashley pun membuka matanya. "Ada apa, Jemi?"

Jemima duduk di tepi ranjang dengan nyawa masih setengah dan meraba-raba sandal dengan ibu jari kakinya.

Dia mengangkat bahunya pelan. "Tuan Lopez menungguku di bawah. Aku juga tidak tau kenapa dia datang malam-malam begini."

Kedua gadis itu pun bersama-sama menuruni tangga dan menemui Adrian.

“Nyonya Wood ingin bertemu,” kata Adrian singkat.

Jemima menguap sedikit dan langsung menutup mulutnya. "Sekarang juga?"

Adrian mengangguk dan meminta Jemima untuk segera masuk ke dalam mobil dan ikut bersamanya.

Ashley ikut bersama Jemima ke dalam mobil. “Aku ikut.”

Jemima hendak menolak, tapi tatapan Ashley terlalu keras untuk dipatahkan. Akhirnya, mereka berangkat bersama.

Rumah Catherine tetap megah dan sunyi seperti terakhir kali Jemima melihatnya.

Begitu duduk di ruang tamu, Catherine langsung berbicara.

“Aku akan pergi berobat selama tujuh hari,” katanya tegas. “Dan selama itu, kau tidak boleh masuk ke ruang ajaib.”

Jemima menelan ludah. “Tapi, Nek, aku sudah masuk. Aku melayani tamu-tamu di sana.”

Catherine membeku sesaat, lalu dia bangkit berdiri. Raut wajahnya ketakutan dan panik. “Tamu? Apakah di sana sudah seperti restoran dan banyak orang datang? Bagaimana bisa secepat itu?"

Jemima tersentak. Ashley refleks menggenggam tangannya.

“Kau tidak boleh bertindak sendiri, Jemima!” suara Catherine bergetar marah. “Ada satu permintaan yang tidak boleh kau layani.”

“Apa itu?” tanya Jemima gemetar.

Catherine menatapnya tajam. “Kau dilarang memberikan atau melayani jiwa yang memilih tinggal! Tinggal berarti dia ada di ruangan itu!"

Hening menyergap ruangan dan untuk pertama kalinya, Jemima benar-benar takut. Dia berusaha mengingat setiap menu para jiwa yang tadi dia layani.

Gadis itu menelan salivanya. "Nenek, aku tidak ingat menu apa saja yang hari ini sudah aku selesaikan."

***

1
Andira Rahmawati
hadir thorr..👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!