NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Lantai kayu tua apartemen itu mengeluarkan suara ratapan di bawah setiap langkah, seolah-olah lantai itu sendiri adalah organ yang sakit. Suara 𝘬𝘳𝘦𝘬-𝘬𝘳𝘦𝘬 yang parah itu menemani Lisa memasuki ruangan yang pengap. Udara di dalamnya terasa sesak dengan narasi kesedihan—campuran menusuk dari desinfektan murah, debu yang telah menetap selama bertahun-tahun di atas buku dan perabot, dan bau samar namun tak salah lagi dari kematian yang masih segar. Bau itu seperti logam dan tanah basah, tersangkut di belakang langit-langit mulut.

Di pusat ruangan yang berantakan, di atas sofa beludru yang sudah botak, terbujur tubuh seorang pria lanjut usia. Kulitnya seperti kertas perkamen yang dikerutkan, mulutnya terbentuk dalam bentuk 'O' kecil yang kekal, memberi kesan bahwa kematian datang bukan sebagai pencuri, melainkan sebagai tamu yang diterima dengan keluhan yang terpendam.

Petugas forensik, seorang pria muda dengan kacamata dan wajah lelah, menutup kotak peralatannya dengan klak. "Laporan awal sudah jelas, Detektif Ahn. Tidak ada trauma fisik eksternal. Pintu terkunci ganda dari dalam. Dengan riwayat jantungnya... ini textbook. Serangan jantung koroner. Kematian alami dan tenang."

Lisa mengangguk, sebuah gerakan mekanis. Tapi matanya, yang telah terlatih untuk melihat apa yang tidak dilihat orang, telah berpindah. Dari mayat, ke sudut ruangan paling gelap, di balik lemari buku kayu yang miring dengan buku-buku yang berjamur. Di sana, Sam berdiri. Sosoknya tampak lebih padat dalam cahaya redup ini, wajahnya tegang, alisnya berkerut. Ia tidak menatap mayat. Ia menatap sebuah titik kosong di udara, tepat di sebelah sofa.

"Lisa."

Suara Sam masuk ke kesadarannya bukan melalui telinga, tapi seperti getaran langsung di tulang tengkoraknya. Dingin dan jelas.

"Lihat. Sudut kiri. Di balik tirai yang robek itu."

Lisa berbalik, berpura-pura memeriksa rak penuh dengan botol obat. Dia melangkah mendekati jendela, tangannya dengan ahli mengangkat dan memeriksa sebuah bingkai foto berdebu. "Ada apa?" Bisiknya, hampir tanpa suara, hanya gerakan bibir.

"Dia masih di sini." Bisik Sam kembali, dan suaranya gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan gelombang emosi asing yang membanjirinya. "Arwahnya... kakek ini. Dia tidak pergi. Dia berdiri tepat di sebelah sofa, dan Lisa... dia marah. Aku bisa merasakan amarahnya seperti listrik statis di udara, menarik semua kehangatan dari ruangan ini."

Lisa secara halus menggeser pandangannya. Di sebelah sofa, hanya ada udara kosong dan cahaya senja yang berdebu. Tapi kulit di lengan bawahnya langsung merinding. Dingin yang ia rasakan berbeda dari AC—ini menusuk, tajam, dan penuh intensitas, seperti berdiri di depan pintu lemari es yang terbuka ke sebuah ruang hampa.

"Dia... berbicara sesuatu?" Pikir Lisa keras-keras, mengarahkan pikirannya pada Sam sementara jemarinya membalik halaman buku harian yang terbuka di meja kecil.

Sam memejamkan mata sesaat, berkonsentrasi. Wajahnya berubah, mencerminkan usaha untuk mendengarkan. "Dia berteriak terus menerus. 'Bukan jantungku! Bukan jantungku yang berkhianat!'" Sam membuka mata, dan matanya yang hangat sekarang dipenuhi kegelisahan. "Dia menunjuk. Ke arah itu. Botol teh di meja samping."

Lisa menoleh. Di atas taplak meja yang bernoda, berdiri sebuah botol teh hijau plastik merek murah, isinya tinggal seperempat. Cairannya keruh. Benda yang sama sekali tidak mencolok.

"Dia bilang rasanya aneh." Lanjut Sam, suaranya menjadi saluran untuk sebuah kemarahan yang tertahan. "Dia ingat perawatnya. Wanita dengan senyum manis dan tangan dingin. Siang kemarin, sebelum perawat itu pulang, dia melihatnya. Wanita itu mengeluarkan botol kecil dari tasnya, meneteskan sesuatu ke dalam tehnya sambil berpaling. Dia bukan mati karena sakit. Melainkan dia dibunuh. Dikunci di dalam tubuhnya sendiri sementara racun itu memerintahkan jantungnya untuk berhenti."

Rahang Lisa mengeras. Gigi gerahamnya menekan satu sama lain. Dia menatap petugas forensik yang sedang memberi instruksi pada rekannya untuk mempersiapkan kantong jenazah.

"Tunggu."

Suaranya memotong ruangan, lebih keras dari yang ia rencanakan. Semua orang berhenti. Petugas forensik itu berbalik, mengernyitkan dahinya di balik kacamatanya.

"Ada masalah, Detektif Ahn? Kami harus segera membawanya. Prosedur."

"Ambil sampel dari botol teh itu." Perintah Lisa, jarinya menunjuk tanpa ragu. "Dan saya ingin autopsi lengkap dengan skrining toksikologi menyeluruh. Khususnya untuk digitalis, glikosida jantung, atau kalium klorida dosis tinggi. Saya punya kecurigaan kuat ini bukan kematian alami."

Petugas forensik itu mendengus, sebuah suara yang penuh dengan kelelahan dan sikap meremehkan. "Detektif, dengan segala hormat, semua gejala dan situasi mengarah pada gagal jantung akut. Riwayat pasien, usia, kondisi ruangan—"

"Saya tidak meminta analisis ulang dari Anda." Potong Lisa, langkahnya mendekat. Dia tidak tinggi, tapi posturnya yang tegas dan sorot matanya yang membara membuat petugas itu sedikit menarik diri. "Saya meminta Anda mengumpulkan bukti potensial. Lakukan, atau saya akan mencatat dalam laporan resmi bahwa permintaan penyelidikan lebih lanjut dari penyidik ditolak oleh tim forensik. Mari kita lihat nanti siapa yang harus menjelaskan pada kepala divisi."

Ketegangan menggantung di udara yang sudah dingin itu. Akhirnya, petugas forensik itu menghela napas panjang, mengangkat tangan dalam kekalahan. "Baik, baik. Sampel dan skrining lengkap. Tapi ini akan memakan waktu, dan jika hasilnya negatif—"

"Tanggung jawab itu di pundak saya." Selesaikan Lisa, memalingkan wajah.

Dari sudut matanya, dia melihat Sam. Arwah pemuda itu menghembuskan napas lega yang tak terdengar, bahunya yang tegap sedikit turun. Kemudian Sam menoleh ke arah pojok sofa, dan mengangguk pelan, dengan hormat, seolah-olah mengantarkan seseorang.

"Dia sudah pergi." Bisik Sam, suaranya kembali lembut, hanya untuk Lisa. "Dia bilang... terima kasih. Sekarang dia bisa benar-benar beristirahat. Rasa sesaknya sudah hilang."

Lisa berdiri di tengah ruangan yang sunyi, sementara petugas forensik dengan kesal mulai memasukkan botol teh itu ke dalam tas bukti. Dia menatap wajah kakek tua di sofa itu. Kini, ekspresi wajahnya yang tadinya seperti mengeluh, terlihat lebih damai dalam matanya. Ataukah itu hanya permainan cahaya dan sugesti?

Harga yang harus dibayar tinggi. Jika laboratorium kembali kosong, reputasinya akan hancur berantakan. Dia akan jadi bahan ejekan, detektif yang mengejar hantu dan racun khayalan. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari keraguan itu: keyakinan membara di mata Sam saat menyampaikan pesan itu, dan amarah dingin yang ia rasakan sendiri di ruangan itu. Itu bukanlah halusinasi. Itu adalah kebenaran yang diteriakkan dari sisi lain kubur, dan kebetulan—atau takdir—telah menunjuknya sebagai satu-satunya yang bisa mendengarnya.

𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶, 𝘚𝘢𝘮. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯. Pikirnya, keras dan jelas, yakin bahwa Sam akan menangkapnya.

Sam menatapnya kembali, dan untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya bukan senyum sedih atau jenaka. Itu adalah senyum yang penuh dengan sebuah kepercayaan yang baru lahir. Di apartemen sempit yang berbau kematian itu, di atas lantai kayu yang merintih, sebuah kemitraan yang mustahil akhirnya menemukan nadinya. Mereka bukan lagi detektif dan arwah yang terikat kontrak. Mereka adalah suara bagi yang tak bersuara, dan mata bagi yang tak terlihat.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!