Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Hari demi hari pun berlalu.
Rutinitas Alice berjalan seperti biasa—datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, menghindari masalah, dan pulang untuk membantu anak-anak jalanan.
Danzel tetap menjadi satu-satunya teman yang tulus menemaninya. Namun, belakangan ini Danzel semakin sering menyebut nama Rachel di setiap obrolan mereka. Kadang saat pulang bersama, kadang di sela jam istirahat, ia menceritakan hal-hal kecil yang membuatnya semakin yakin akan perasaannya. Alice hanya bisa mendengarkan, tersenyum samar sambil menyembunyikan rasa sesak di dadanya.
Sampai suatu hari…
Jam istirahat
suasana koridor belakang sekolah terasa sepi. Alice sedang berjalan membawa buku ketika suara gitar samar terdengar dari ruang musik. Rasa penasaran membawanya mendekat.
Saat ia mengintip dari celah pintu, pandangannya langsung tertuju pada Danzel. Ia duduk santai di kursi, jemarinya lincah memetik gitar, sementara Rachel berdiri di depannya, memegang mikrofon dan menyanyikan lagu dengan suara yang merdu. ada beberapa anak-anak lain juga memainkan alat musik yang lain.
Mereka berdua terlihat kompak—tertawa ketika Rachel salah nada, lalu mengulang lagi dari awal.
“Ayo sekali lagi, kita harus siap untuk besok,” ujar Danzel sambil menatap Rachel penuh semangat.
Rachel tersenyum, “tapi kalau aku lupa lirik, kau yang tanggung jawab, ya.”
Alice terdiam. Di matanya, mereka tampak seperti dunia yang sulit ia masuki. Gerakan mereka selaras, seolah hanya mereka berdua yang mengerti bahasa musik itu.
Tiba-tiba suara tawa mereka pecah lagi ketika Danzel mencoba bernyanyi namun suaranya fals. Rachel memukul bahunya pelan, “Makanya, fokus jadi gitaris saja!”
Alice menunduk pelan, Ia berbalik pergi sebelum mereka menyadari keberadaannya,
Alice melangkah cepat meninggalkan koridor belakang. Pandangannya tertunduk, langkahnya terburu-buru agar tidak ada yang melihat matanya yang berkaca-kaca.
Namun di tikungan, ia tidak sengaja bertubrukan dengan Rey dan gengnya.
“Hoi, lihat kalau jalan, culun!” seru Mike sambil memegang bahunya.
Alice sedikit terkejut, namun buru-buru menundukkan kepala. “M-maaf…” ucapnya pelan, lalu langsung berjalan melewati mereka tanpa berani menatap.
Rey memperhatikan Alice yang menjauh, wajahnya terlihat murung dan langkahnya tergesa. Ia mengangkat alis, lalu menoleh ke Stella dan Megan.“Lihat itu ekspresinya… seperti...”
“…habis patah hati,” sela Stella sambil menyipitkan mata.
Megan menoleh ke arah lorong yang tadi dilewati Alice, lalu matanya menangkap sesuatu. “Eh, bukannya di sana ada Danzel sama Rachel?”
Semua kepala menoleh. Dari kejauhan, mereka melihat Danzel dan Rachel keluar dari ruang musik, masih bercanda sambil membawa gitar.
Mike bersiul pelan. “Ah… paham sekarang.”
Rey menyeringai kecil. “Sepertinya ‘cupu’ kita baru saja melihat sesuatu yang membuat hatinya hancur.”
Megan melipat tangan, nada suaranya setengah sinis. “Kasihan juga sih… tapi ya mau bagaimana lagi. Dunia Danzel bukan dunia dia.”
Stella hanya tersenyum tipis, tatapannya bergantian antara Alice yang menghilang di ujung lorong dan Danzel yang masih berjalan bersama Rachel. “Sepertinya cerita bakal makin menarik…”
Mereka semua saling pandang, lalu tertawa kecil—bukan tawa lebar mengejek, tapi tawa yang menyiratkan mereka baru saja menemukan sesuatu yang bisa dimainkan nanti.
---
Bel pulang sekolah berbunyi. Suara kursi berderit dan langkah kaki memenuhi kelas ketika para siswa bergegas pulang.
Alice memasukkan bukunya dengan santai, sampai suara Danzel memanggilnya.
“Alice, tunggu sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku katakan… dan aku butuh bantuanmu.”
Alice menoleh, tersenyum tipis. “Katakan saja, Danzel. Apa yang bisa kubantu?”
Danzel menunduk sedikit, lalu berbisik, “Ini tentang Rachel.”
Alice sempat terdiam sepersekian detik, tapi segera menarik napas dan memaksakan senyum. “Oke… lalu?”
“Jadi…” Danzel menghela napas, matanya berbinar antusias. “besok adalah hari dimana band ku akan tampil di sekolah ini, aku sebagai gitaris, Rachel sebagai penyanyi, dan teman teman yang lain sebagai anggota band. kegiatan ini yang membuat aku dan Rachel sangat dekat."
Alice mengangguk pelan, "Jadi?"
"Di momen ini aku ingin memberi kejutan kepada Rachel, aku ingin menjadikan dia pacarku."
Deg.
Alice merasa dadanya seperti diremas. Tapi ia tetap berdiri di sana, tersenyum tipis meskipun hatinya terasa bergetar.
“Aku… paham,” ujarnya pelan.
Danzel menatapnya penuh harap. “Aku ingin semua terasa spesial. hadiah apa yang cocok untuknya?
Alice menatap lantai sejenak, lalu memaksakan senyum lagi. “Mungkin… bunga. Lalu hadiah kecil—cokelat, atau boneka. Yang sederhana tapi manis.”
Danzel tersenyum lebar. “Itu ide bagus, Alice.”
“Hanya…” Danzel menatap langit sebentar, lalu kembali menatap Alice. “Aku tidak tahu harus membeli bunga di mana.”
Alice berpikir sejenak, lalu teringat sesuatu. “Aku punya teman yang menjual bunga. Namanya Rania. Kalau mau, aku bisa ajak kamu ke tokonya.”
“Serius? Wah, terima kasih, Alice!” Danzel terlihat semakin bersemangat. “kita ke sana, ya?”
“Tentu,” jawab Alice dengan senyum yang nyaris pecah menjadi getir. Ia tahu, mengantar Danzel membeli bunga untuk orang lain berarti ia sendiri akan menyiapkan hatinya untuk retak.
Namun di dalam hati, ia berbisik pada dirinya sendiri, *Selama dia bahagia… aku akan baik-baik saja.*