NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Aku Tidak Merindukannya!

Setelah kejadian di meja makan, Alissa dan Sean saling mendiami. Bahkan Alissa sudah tidak pernah bertemu dengan Sean lagi sejak insiden itu. Terlebih, perempuan itu lebih suka mengurung dirinya di kamar.

"Huek...huek..!!"

Entah sudah berapa kali Alissa bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.

"Astaga. Aku mual sekali..." lesu perempuan itu. Badannya terasa lemas karena berulang kali memuntahkan isi perutnya.

Duduk lesehan pada lantai, Alissa sandarkan punggungnya pada dinding kamar mandi. Dia paham jika ini adalah gejala normal pada orang hamil. Tapi dia tidak akan menyangka akan sesulit ini.

"Apa kau marah padaku?" Alissa bergumam. Mengusap perutnya lembut.

"Kau marah padaku karena mengatakan ingin meniadakannmu?"

Karena sebelum insiden dia dan Sean bertengkar, Alissa tidak pernah merasa mual. Dan keesokan pagi setelahnya, tiba-tiba dia merasakan gejolak dari perutnya. Sampai sekarang, setiap pagi Alissa selalu merasakannya. Bukankah...itu sedikit aneh.

"Oh, astaga. Aku tidak menyangka mengandung bisa sesulit ini." Alissa mengeluh. Bahkan kandungannya belum membesar sehingga akan menyulitkan pergerakannya.

Tanpa bisa dicegah mata Alissa memanas. Perutnya mual. Badannya lemas. Bahkan dia tidak nafsu untuk makan apapun.

Dalam situasi seperti ini, tidak ada yang mendampingi. Dia sendirian. Alissa merasa kesepian. Bukankah seharusnya suaminya mendampinginya.

Tunggu---apa yang baru saja Alissa pikirkan. Suaminya. Maksudnya, Sean begitu? Tidak. Alissa tidak perlu didampingi oleh Sean. Dia tidak perlu didampingi oleh siapapun.

"Apa yang kau pikirkan Alissa." gumam perempuan itu sembari mengusap matanya.

"Ingat, dia adalah orang yang di masa depan akan membunuhmu."

Percuma jika terus menerus berdiam diri. Alissa memutuskan untuk beranjak. Mungkin sedikit udara segar akan bisa membantu memperbaiki mood-nya yang tidak stabil ini. Itu sebabnya, perempuan itu memilih untuk keluar kamar.

"Nyonya. Susu anda..." Alissa berhenti di pembatas antara dapur dan ruang tengah.

Meskipun Sean tidak pernah memunculkan wajahnya, tapi laki-laki itu tetap memerintahkan pelayan agar membuatkan susu untuk Alissa setiap harinya. Tepatnya, untuk anak yang Alissa kandung.

Alissa menerima gelas yang pelayan berikan. Sean benar. Kandungannya membutuhkan nutrisi. Dia tidak ingin egois dengan tidak mau meminum susu hamil hanya karena dirinya tidak suka. Maka, meski dengan terpaksa, Alissa selalu menghabiskan susu yang pelayan buatkan.

"Terimakasih."

"Anda ingin sesuatu Nyonya? Mungkin makanan asam?" tawar pelayan itu menjawab ucapan terimakasih dari Alissa.

"Kau punya?" tanya Alissa. Sejujurnya, sudah dari kemarin dia ingin memakan mangga muda. Tapi keinginan itu terpaksa ia pendam karena bingung ingin mengadu kepada siapa.

Pelayan itu mengangguk. "Ada mangga muda. Mau saya kupaskan untuk anda?"

Mendengar itu, seketika mata Alissa berbinar senang. Sepertinya takdir sedang memihaknya saat ini. Sehingga tanpa ia sebutkan, pelayan malah menawarkan sesuatu yang ia idam-idamkan itu.

"Aku mau. Bisa tolong nanti bawa ke taman? Aku ingin mencari udara segar di sana."

"Baik, Nyonya." pelayan itu mengangguk patuh.

"Tunggu! Bisa...kau sebutkan namamu?" cegah Alissa ketika sang pelayan hendak berlalu.

Pelayan itu sedikit mengernyitkan kening bingung. "Saya...Elis Nyonya." Apakah Nyonya Alissa lupa dengan namaku?

Oh, jadi namanya Elis.. Sudah lama Alissa ingin tahu nama pelayan yang kerap membawakan susu untuknya itu.

"Oke, antarkan manggaku ke taman ya Elis!"

"Baik Nyonya."

Elis menatap punggung Alissa yang semakin lama semakin mengecil. Ketika sudah memastikan jika Nyonyanya sudah tidak berada dalam radius dekat, Elis menyalakan earphone di telinganya.

"Nyonya sudah meminum susunya Tuan. Nyonya meminta mangga muda yang kemarin anda bawa."

.

.

Alissa duduk pada kursi besi taman. Tempat yang kemarin menjadi saksi bisu atas tuduhan Sean kepadanya.

Perempuan itu pandangi bunga mawar yang katanya ditanam untuk Stella dengan kesal.

"Dasar jelek!" ujarnya tiba-tiba. Mendadak dia tidak suka bunga mawar.

"Emm, kira-kira Rion kemana ya?" katanya kemudian dengan mata yang mengedar. Namun sayangnya tidak ada orang di sini.

"Nyonya Alissa, ini mangga muda yang anda minta."

Alissa menoleh mendengar suara itu. Elis telah datang dengan semangkuk mangga muda yang telah dikupas dan diiris kecil-kecil.

"Wah..!" Alissa menerima mangkuk itu dengan semangat. "Terimakasih, Elis!"

"Sudah menjadi tugas saya, Nyonya."

Tak lama, binar antusias dari Alissa hilang. Bibirnya mengerucut lesu. Dan itu tak lepas dari pandangan Elis.

"Anda menginginkan yang lain, Nyonya?"

Alissa menggeleng lesu. "Bisakah kau menemaniku di sini, Elis? Aku kesepian..."

Elis terdiam sejenak, sebelum akhirnya ikut duduk di samping Alissa. Perempuan paruh baya itu mengambil alih mangkuk dari pangkuan istri majikannya. Lalu menyupi Alissa dengan lembut.

"Aku kesepian, Elis." adu Alissa setelah menelan mangga muda yang Elis suapkan.

"Maaf, Nyonya. Tapi saya rasa...anda merindukan Tuan Sean."

Alissa terdiam. Bernarkah yang Elis katakan. Tiba-tiba bayangan wajah Sean muncul dalam pikiran Alissa. Buru-buru Alissa menggelengkan kepalanya, mengenyahkan antagonis itu dari pikirannya.

"Tidak. Aku tidak merindukannya." ujar Alissa membantah perkataan Elis.

Hah, punya majikan, dua-duanya sama-sama kebesaran gengsi.

.

.

"Laporanmu sangat berantakan. Revisi!"

"Kau ini bagaimana?! Begini saja tidak bisa! Mau ku pecat kau hah?!"

"Kenapa di sini ada debu! Di mana tukang bersih-bersihnya!"

"Pindahkan vas bunga mawar itu ke tempat lain! Aku benci melihatnya!"

Ben tidak berani berbicara barang sepatah katapun. Sudah beberapa hari ini atasannya sangat menyeramkan.

Tidak. Sean memang menyeramkan. Namun beberapa hari ini, Laki-laki itu berkali-kali lipat menyeramkannya.

Dia tidak segan membentak, memarahi, bahkan memecat para pegawai hanya karena masalah sepele. Bahkan setitik debu saja bisa menjadi alasan amukan laki-laki itu.

"Ben." panggil Sean dengan intonasi dinginnya.

"I--iya Tuan." mendadak Ben lupa caranya berbicara.

"Aku tidak suka punya bawahan yang gagap."

Salah lagi, salah lagi. Jika bukan gaji besar, sudah dari dulu Ben resign menjadi asisten pribadi Sean.

"Maaf Tuan. Ada yang bisa saya kerjakan untuk anda?"

"Kumpulkan semua kariawan. Kita akan rapat. Entah darimana kau merekut para manusia bodoh itu."

"Baik Tuan." meski kesal, tapi ketakutan Ben jauh lebih besar. Maka dari itu, ia keluar dari ruangan Sean untuk menjalankan perintah dari sang atasan.

Sepertinya akan ada pemecatan besar-besaran.

Sepeninggal Ben, Sean hanya diam. Pikirannya ribut mengingat pertengkarannya dengan Alissa. Ia ambil gelas berisi air putih sebelum menengguknya tak santai.

Brak.

Sean letakkan gelas itu pada meja kasar. Nafasnya memburu penuh amarah.

"Alissa..." desis laki-laki itu menajam.

"Aku tidak ingin hamil!"

 "Aku tidak ingin hamil! Aku tidak sudi hamil anakmu! Aku ingin anak ini tiada!"

"Jika aku tidak punya hati, lalu kau apa Sean?!"

"Saat kau menganggap istrimu sendiri seperti pela-cur, itukah yang dinamakan punya hati?!"

"Saat kau memperlakukan istrimu seperti budak, itukah yang dinamakan punya hati?!"

"Saat kau lebih membela perempuan lain daripada istrimu sendiri, itukah yang dinamakan punya hati, Sean!!?"

"Saat kau ingin membunuh istrimu sendiri, itukah yang dinamakan punya hati!!?"

Pyarr!!

Seakan tidak bisa menahan emosinya lagi, laki-laki itu lemparkan gelas pada lantai hingga pecah berkeping-keping.

Ucapan Alissa waktu itu benar-benar melukai egonya. Perempuan itu sudah melakukan tindakan illegal dengan menantang seorang Sean Balrick.

"Alissa, kau melakukan kesalahan besar dengan menantang diriku..."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!