Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Gema Tulang dan Racun Angin
Bab 13: Gema Tulang dan Racun Angin
Panggung bambu berguncang hebat setiap kali kaki Darto menghentak lantai. Pria botak itu bergerak seperti badai yang mengamuk, menerjang lurus ke arah Bara tanpa mempedulikan pertahanan. Dia tidak butuh pertahanan. Kulitnya yang hitam legam memantulkan cahaya obor seperti logam yang dipoles.
"MATI KAU!"
Darto melayangkan tinju kanannya. Pukulan itu begitu kuat hingga menciptakan suara ledakan udara (sonic boom) kecil.
Bara tidak melompat mundur. Dia hanya memutar bahu kirinya, membiarkan tinju Darto menyerempet lengan bajunya.
BRET!
Kain baju Bara robek. Angin dari pukulan itu saja sudah cukup untuk menggores kulit lengan Bara hingga berdarah tipis.
"Licin seperti belut!" geram Darto. Dia langsung menyusulkan tendangan lutut ke arah perut Bara.
Bara menahan lutut itu dengan telapak tangannya.
BAM!
Bara terdorong mundur dua meter. Tangannya terasa kebas. Tulang kering Darto benar-benar sekeras tiang besi.
"Hahaha! Lihat!" teriak Darto bangga. "Seranganmu tidak akan mempan! Raga Besi Hitam-ku sudah mencapai tahap sempurna! Pedang saja patah, apalagi tulang jarimu yang lembek itu!"
Di tribun penonton, sorak-sorai mulai berubah menjadi kecemasan. Murid-murid Kelas Awan menahan napas. Perbedaan kekuatan fisik terlalu jauh.
Rara Anjani, yang duduk di barisan depan, meremas kipasnya. "Jangan adu tenaga, Bara. Dia tipe Tank. Cari titik lemahnya."
Bara mengibas-ngibaskan tangannya yang kesemutan.
"Keras juga," komentar Bara santai.
"Tulangnya dilapisi Prana Bumi yang sangat padat," analisis Garuda. "Kau butuh palu godam untuk memecahkannya dari luar."
"Aku tidak bawa palu," balas Bara. Dia kembali memasang kuda-kuda santai. "Tapi aku bawa lonceng."
"Lonceng?"
"Tubuh manusia itu seperti lonceng besar, Garuda. Keras di luar, kosong di dalam. Jika kau memukul bagian luarnya dengan getaran yang tepat... gema di dalamnya akan menghancurkan isinya."
Bara menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia memusatkan Prana Garuda bukan untuk memperkuat kulit, tapi untuk menciptakan Getaran Frekuensi Tinggi di telapak tangannya.
"Ayo botak," panggil Bara, melambaikan tangan. "Tunjukkan padaku apa lagi yang bisa dilakukan besi rongsokan sepertimu."
Darto meraung marah. Dia menerjang lagi. Kali ini dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, berniat memeluk Bara dalam Cengkeraman Beruang untuk meremukkan tulang punggungnya.
Bara menunggu.
Tepat saat Darto membuka pertahanannya untuk memeluk... Bara melangkah masuk ke dalam jangkauan Darto (In-fighting).
Bara menempelkan telapak tangan kanannya tepat di dada kiri Darto, di atas jantung.
Sentuhannya lembut. Hampir seperti belaian.
Darto menyeringai. "Pukulan banci apa i—"
Mata Bara berkilat emas.
"Teknik Rahasia: Gema Pralaya - Dentang Jantung."
Bara tidak mendorong. Dia menyentakkan pergelangan tangannya dalam jarak nol inchi (One Inch Punch), melepaskan ledakan getaran Prana yang berputar spiral menembus kulit besi Darto.
DUG.
Suaranya pelan. Seperti memukul bantal.
Darto diam mematung. Seringainya masih menempel di wajah.
Satu detik. Dua detik.
Tiba-tiba, mata Darto melotot keluar hingga pembuluh darah matanya pecah. Wajahnya berubah ungu.
"Uhuk!"
Darto memuntahkan gumpalan darah hitam kental bercampur potongan daging kecil.
Dia memegang dadanya, mencoba bernapas, tapi paru-parunya sudah hancur menjadi bubur karena gelombang kejut yang memantul-mantul di dalam rongga dadanya. Jantungnya bengkak dan berhenti berdetak sesaat sebelum memaksakan diri memompa lagi dengan irama yang kacau.
"B-bagaimana..." Darto terhuyung mundur, darah terus mengucur dari hidung dan telinganya. Kakinya yang tadi kokoh kini gemetar seperti jeli.
"Kulitmu memang besi," bisik Bara di telinga Darto yang berdenging. "Tapi jantungmu tetap daging."
Bara menendang lutut Darto pelan.
BRUK.
Raksasa itu jatuh berlutut, lalu ambruk tertelungkup. Kejang-kejang sebentar, lalu diam. Pingsan total dengan kerusakan organ dalam permanen.
Hening.
Seluruh alun-alun sunyi senyap. Tidak ada yang mengerti apa yang baru saja terjadi. Bara hanya menempelkan tangan, dan Darto muntah darah?
Ki Rangga di tribun VIP berdiri mendadak, kursinya terjungkal. "MUSTAHIL!"
Di sisi panggung, dua teman Darto—Suro dan Gimin—melihat pemimpin mereka tumbang. Wajah mereka pucat, lalu berubah menjadi panik dan ganas.
Misi mereka gagal. Jika Darto kalah, Ki Rangga tidak akan membayar sisa uangnya. Atau lebih parah, Ki Rangga akan membunuh mereka untuk menghilangkan jejak.
"Bunuh dia!" bisik Suro pada Gimin. "Sekarang! Mumpung dia lengah!"
Gimin mengangguk. Tangannya bergerak diam-diam ke balik pinggang. Dia memegang tiga buah Jarum Beracun.
Saat wasit sedang sibuk memeriksa kondisi Darto, Gimin melempar jarum itu ke arah punggung Bara.
Jaraknya dekat. Bara sedang membelakangi mereka. Tidak mungkin meleset.
Wush! Wush! Wush!
Jarum itu melesat tak terlihat.
Namun...
TING! TING! TING!
Tiba-tiba, tiga hembusan angin tajam memotong lintasan jarum-jarum itu di udara. Jarum-jarum itu terpelanting jatuh ke lantai panggung, menancap di kayu. Kayu di sekitar jarum itu langsung menghitam dan mendesis terkena racun ganas.
Bara menoleh perlahan ke arah jarum itu, lalu ke arah Suro dan Gimin.
"Kalian mau main curang di depanku?" tanya Bara dingin.
Suro dan Gimin celingukan, mencari siapa yang menangkis jarum mereka. Angin?
Di atas atap tribun penonton yang gelap, Nimas Sekar menurunkan busur anginnya (Wind Crossbow). Dia menyeringai di balik cadar.
"Satu nyawa lagi, Bara," gumam Sekar.
Bara kembali menatap Suro dan Gimin.
"Wasit!" panggil Bara lantang. "Ada sampah beracun di panggung. Tolong dibersihkan."
Wasit melihat jarum beracun itu dan wajahnya memucat. Penggunaan senjata rahasia beracun dilarang keras di Pencak Dor.
"Diskualifikasi!" teriak wasit. "Tim Kelas Surya didiskualifikasi karena pelanggaran berat!"
"TIDAK BISA!" Gimin mencabut parang besinya, putus asa. "KAMI AKAN MEMBUNUHMU!"
Suro dan Gimin nekat menerjang Bara bersamaan. Mereka tidak peduli lagi pada aturan. Mereka pembunuh bayaran, bukan atlet.
Bara menghela napas panjang. Dia lelah.
"Jaka! Sutejo! Kirana!" perintah Bara. "Habisi mereka."
Tim Kelas Awan yang sejak tadi menunggu komando langsung bergerak.
Jaka menubruk Gimin dari samping, memiting lehernya dengan lengan berotot hasil angkat batu. Sutejo menendang selangkangan Suro dengan sepatu besinya.
Dan Kirana...
Gadis yang dulu lemah lembut itu menarik ketapelnya.
TAK!
Kelereng tanah liat menghantam mulut Suro yang sedang berteriak, pecah di dalam mulutnya. Bubuk merica dan serbuk gatal masuk ke tenggorokan.
"HOEEK!" Suro tersedak, batuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya. Air mata dan ingus keluar tak terkendali.
Dalam hitungan detik, dua pembunuh bayaran sisa itu sudah terkapar di lantai, dipukuli beramai-ramai oleh murid Kelas Awan yang melampiaskan dendam mereka selama bertahun-tahun ditindas.
Bara tidak ikut memukul. Dia hanya berdiri mengawasi, memastikan tidak ada yang mengeluarkan senjata tajam lagi.
Wajah Ki Rangga berubah warna dari merah menjadi ungu, lalu putih pucat.
Rencananya hancur total. Darto kalah. Dua anak buahnya ketahuan curang. Dan yang paling parah: Kelas Awan menang telak di depan ribuan saksi.
"Ini... ini penghinaan!" desis Ki Rangga.
Di sebelahnya, Ki Ageng Seta (Ketua Perguruan) menatap Ki Rangga dengan tatapan tajam dan penuh curiga.
"Ki Rangga," suara Ketua Perguruan terdengar berat. "Murid-murid pindahan rekomendasi Anda itu... kenapa mereka menggunakan racun pembunuh dan gaya bertarung kriminal? Saya butuh penjelasan di ruang sidang tetua nanti."
Ki Rangga menelan ludah. "I-itu... mungkin saya salah memeriksa latar belakang mereka, Ketua. Saya tertipu."
"Kita lihat nanti," Ki Ageng Seta berdiri, berjalan ke tepi podium.
"PEMENANGNYA ADALAH... KELAS AWAN!"
Sorak-sorai meledak. Kali ini bukan ejekan. Penonton bersorak karena pertunjukan yang tak terduga. Rakyat jelata bersorak karena melihat "kaum mereka" mengalahkan bangsawan berlapis emas.
Jaka dan teman-temannya menangis haru, berpelukan di tengah panggung.
Bara tersenyum tipis, lalu melirik ke arah atap tribun yang gelap. Dia mengangguk sedikit.
Di sana, Nimas Sekar membalas dengan lambaian tangan sebelum menghilang.
Anjani turun ke area panggung saat kerumunan mulai bubar. Dia mendekati Bara yang sedang minum air dari kendi.
"Kau menakutkan," kata Anjani jujur.
"Terima kasih," jawab Bara.
"Teknik tadi... getaran?" tebak Anjani.
"Fisika dasar," elak Bara. "Bagaimana taruhanmu? Menang banyak?"
Anjani tersenyum miring. "Aku bertaruh 100 koin emas untuk Kelas Awan. Bandar judinya sekarang sedang menangis di pojokan. Keuntungannya cukup untuk membeli pulau kecil."
"Bagus. Bagi dua," tagih Bara.
"Dalam mimpimu," Anjani tertawa. "Tapi... hati-hati, Bara. Kemenangan ini membuatmu menjadi musuh nomor satu Agnimara secara resmi. Ki Rangga tidak akan bermain sembunyi-sembunyi lagi setelah dipermalukan seperti ini."
Bara menatap ke arah tribun VIP yang kini kosong.
"Aku tahu. Perang dingin sudah selesai. Sekarang perang panas dimulai."
Bara menyentuh dadanya. Di balik bajunya, dia merasakan getaran aneh dari Wesi Winge yang telah dia tempa. Senjata itu seolah haus.
"Biarkan dia datang," kata Bara. "Aku butuh target latihan untuk Kujang baruku."
Malam itu, di ruang bawah tanah istana Kekaisaran Arcapada (jauh dari perguruan).
Seorang pria tua berjubah pendeta sedang memegang bola kristal peramal. Bola itu retak.
"Segel Garuda..." bisiknya dengan suara gemetar. "Ada yang menggunakannya... tapi tidak hancur. Siapa?"
Di belakangnya, seorang Jenderal dengan zirah hitam penuh duri muncul dari kegelapan.
"Ada apa, Paman Guru?"
"Jenderal," kata pendeta itu. "Kirim pasukan Elang Hitam ke Lembah Kabut. Selidiki seorang anak. Ada kemungkinan... benih Raden Wijaya belum sepenuhnya mati."
Jenderal itu menyeringai di balik helmnya.
"Menarik. Perburuan sisa pemberontak dimulai lagi."
Glosarium & Catatan Kaki Bab 13
Sonic Boom: Ledakan suara akibat objek bergerak melebihi kecepatan suara. Di sini digunakan secara hiperbolis untuk menggambarkan kecepatan pukulan.
In-fighting: Gaya bertarung jarak sangat dekat.
One Inch Punch: Teknik legendaris (dipopulerkan Bruce Lee) yang menghasilkan daya ledak besar dari jarak pukulan yang sangat pendek, mengandalkan sentakan pinggang dan pergelangan tangan.
Pasukan Elang Hitam: Unit khusus Kekaisaran yang bertugas memburu musuh negara/pemberontak. Lebih kejam dan lebih kuat dari Catur Wangsa.