"Aku hamil" Tiara akhirnya mengatakan rahasia yang di tutupinya selama beberapa minggu ini pada atasan sekaligus kekasihnya, Rex Hamilton, setelah kegiatan panas Mereka berdua yang baru selesai beberapa menit lalu.
Rex yang tengah mengenakan kembali pakaian dalamnya, terdiam sejenak.
"Gugurkan" Ucap Pria itu datar, tanpa melirik Tiara sama sekali.
Rex memang seperti itu, sikapnya dingin dan datar pada siapapun, termasuk pada Tiara yang telah menjadi sekretaris sekaligus teman tidurnya selama 3 tahun terakhir.
"Aku ingin melahirkan anak ini"
Rex menatapnya tajam. Pria itu kemudian menghampiri Tiara dengan langkah pelan tapi penuh ancaman.
"Hanya karena Kamu bisa naik ke ranjangku, bukan berarti Kamu bisa menjadi Nyonya Hamilton. Sadarlah dengan posisimu. Kamu hanyalah simpananku"
"Jika Kamu mau mempertahankan janin sialan itu, maka enyahlah dari hidupku. Tentukan pilihanmu"
"Aku akan mempertahankannya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pukulan Berat
Tiara, Budhe Arni, Anita dan Rizal membeku di tempat selama beberapa detik sebelum raungan Tiara menggema memenuhi lorong rumah sakit itu.
"Nggak mungkin dokter! Anak Saya nggak mungkin meninggal!!! dokter!!! tolong anak saya dok!! Zayn masih hidup, masihhh hidup!!"
"Ya Allah, nduk- kenapa jadi begini Gusti Allah..."
"Tiara... Tiara...." Anita juga mengalami pukulan yang berat mendengar berita duka itu. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi, otaknya seolah berhenti bekerja.
"Saya minta maaf, tapi kondisinya saat dibawa kesini sudah koma, Saya tidak bisa menyelamatkan adik bayinya, Maaf Bu... Saya dan tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin"
Ucap dokter itu dengan penuh penyesalan, laku kembali masuk ke ruangan untuk mengurus sisa tugasnya dan membawa keluar jenazah Zayn.
Tiara tidak bisa menanggung semuanya dan jatuh pingsan. Rizal langsung membawanya ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan.
Sementara Anita dan Budhe Arni saling berpelukan, berbagi kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata atas kematian mendadak bayi kecil keluarga Mereka.
"Ya Allah, Jayn... Cah bagus... Ya Allah cah bagus, cucuku yang nurut ganteng, bangun toh le..." Budhe Arni semakin histeris begitu melihat jenazah Zayn yang sudah dililit kain putih di bagian kaki dan kepalanya.
"Zayn..." Anita mengelus pipi keponakannya itu dengan tangan gemetar. Ia masih tidak mau mempercayai kenyataan bahwa Zayn telah tiada, 2 hari lalu anak itu masih bermain-main di pangkuannya dengan ceria.
"Aku harus menuntut rumah sakit itu, harusss!!!" Anita bergumam, andai saja Zayn mendapatkan penanganan yang lebih cepat, dan entah obat apa yang diberikan oleh dokter tidak bertanggung jawab itu hingga keponakannya tiba-tiba koma dan meninggal dunia.
Sementara disisi lain...
"Pak Rex! Anda baik-baik saja??? Pak!!"
Rex yang tengah berjalan kembali ke ruangannya setelah menyelesaikan rapat terakhirnya tiba-tiba membungkuk seraya memegangi dadanya. wajahnya memerah dan urat-urat di lehernya tampak sangat menonjol.
"Saya, saya nggak bisa nafas, Desmon"
Ucapnya terputus-putus, Desmon pun seketika menjadi panik. Dia berteriak dengan lantang
"Panggil ambulance!! Sekarang!!!"
Karyawan yang berada di meja sekretaris dengan sigap menghubungi ambulance. Sementara Desmon sendiri memapah Rex yang masih kesakitan menuju ke lift.
Saat tiba di rumah sakit, kondisi Rex sudah lebih baik, akhirnya Dia hanya mendapatkan pemeriksaan singkat lalu di perbolehkan pulang.
Dokter mengatakan bahwa Rex mengalami penurunan kesehatan yang signifikan karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol serta kelelahan akibat kurang tidur. Desmon yang mendampingi Rex mendengarkan saran dan masukan dari dokter tersebut dengan seksama, sementara Rex tampak tidak perduli sama sekali.
Disaat yang bersamaan, Desmon menerima panggilan dari Viona, Desmon menjawabnya dengan cepat, beberapa detik kemudian wajahnya berubah pucat lalu menoleh ke arah Rex yang hanya meliriknya sekilas dengan acuh tak acuh.
"Baik Nyonya, Saya dan Tuan muda akan segera kesana"
Tut, Pria itu mematikan teleponnya.
"Ada apa?" Rex bertanya dengan penasaran saat melihat wajah Desmon yang gelisah.
"Nyonya Eveline mengalami kecelakaan Tuan, dan saat ini beliau sedang kritis"
"Apa?"
"Nyonya meminta Anda segera datang ke rumah sakit XX"
"Baiklah, ayo..." Ucap Rex seraya berdiri dan pergi dari ruangan dokter itu. Desmon cukup terkejut melihat reaksi bos besarnya yang tidak biasa itu. Desmon lalu berpamitan pada dokter yang memandanginya seraya tersenyum.
"Terima kasih dokter, Saya permisi" Desmon menganggukkan kepalanya lalu berlalu dari ruangan itu juga menyusul Rex yang lebih dulu pergi.
"Silahkan, hati-hati di jalan" Ucap sang dokter seraya menggelengkan kepalanya melihat Rex yang sama sekali tidak berbasa-basi dengannya.
"Anak muda jaman sekarang memang agak lain, ckck"
*
*
*
Berita tentang meninggalnya Zayn langsung menggemparkan seisi kampung. Orang-orang yang biasa membeli nasi bungkus di warung Budhe Arni setiap lagi tentu saja ikut bersedih.
Zayn anak yang sangat lucu, menggemaskan dan penurut. Banyak dari para tetangga itu yang sering menggendong Zayn dan mengajaknya bermain saat Budhe Arni sibuk melayani, atau saat Tiara sibuk melakukan pekerjaan rumah.
"Ya Allah, mbak Arni, kok bisa begini... Kemarin cah bagus masih sehat-sehat saja kok tiba-tiba meninggal ki piye toh mbak"
Budhe Arni hanya menggelengkan kepalanya yang saat ini terasa sakit akibat menangis sejak pulang dari rumah sakit dengan membawa jenazah cucu tercintanya.
Sementara itu, Anita masih mendampingi Tiara yang tampak seperti cangkang kosong tanpa nyawa. Tatapannya kosong, cahaya di matanya menghilang sepenuhnya.
"Dek... Kamu harus kuat, harus sabar...."
Tiara tidak juga bersuara. Kenyataan ini terlalu pahit untuk di terima, rasa sakit ini terlalu sulit untuk di cerna.
"Mereka harus bertanggung jawab mbak... Harus..." Ucap Tiara, tangannya terkepal erat, urat-urat di lehernya tampang menonjol disertai sorot matanya yang memerah penuh amarah.
Anita bisa mengerti kemarahan Tiara, dokter dan rumah sakit itu memang salah satu penyebab Zayn meninggal dunia. Meski kematian adalah takdir, tapi apa yang terjadi pada Zayn juga akibat kelalaian pihak rumah sakit beserta dokternya yang lamban serta tidak bertanggung jawab.
Anita masih menyimpan bukti pembayaran, obat serta resep yang di berikan oleh dokter wanita itu. Padahal dia juga sedang hamil, tapi bisa-bisanya tidak memiliki empati sama sekali terhadap sesama Ibu.
"Kita akan urus itu nanti, sekarang Kita fokus sama pemakaman Zayn ya, Kamu nggak bisa menahan Zayn terus Tiara, Dia juga pasti akan sedih dan sakit melihat Kamu begini, Kamu harus melepaskan Zayn dek... Kasian, Zayn harus segera dimakamkan..."
Mengingat pemakaman lagi, hati Tiara seakan diremas hingga hancur. Tubuh kecil yang sekarang tertutup kain itu sudah waktunya untuk di sholatkan dan diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tiara menarik nafas dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga agar mampu merelakan putranya sepenuhnya untuk segera dikebumikan.
Tiara mengangguk, Anita kembali memeluknya, lalu mengatakan kepada ustadz dan perwakilan keluarga untuk segera men-sholatkan Zayn dan memakamkannya sebelum hari semakin gelap.
Tiara menunggu di rumah seraya melafalkan do'a- do'a bersama dengan ibu-ibu serta para wanita yang bertakziah ke rumah Budhe Arni. Sementara Zayn baru selesai di sholatkan dan kini saudara jauh Budhe Arni yang membawa jenazah Zayn dalam gendongannya menuju pemakaman.
Anita memapah Tiara untuk melangkah di belakang rombongan para pelayat, sementara Budhe Arni tidak bisa ikut karena tidak sadarkan diri.
Tiara menatap proses pemakaman Zayn tanpa berkedip, Ia juga melihat untuk terakhir kalinya wajah pucat putranya sebelum jenazahnya di tutup papan hingga sedikit demi sedikit tertutup tanah.
Air matanya kembali menetes meski tatapannya tetap datar dan kosong saat melafalkan nama yang tertulis di batu nisan kayu : Zayn Adrian (Putra Mutiara Andari)
'Mama akan menuntut keadilan untuk Kamu nak, Mama janji Zayn, orang-orang yang tidak bertanggungjawab itu akan mendapatkan hukumannya'
terima kasih ya,udh buat tia tegas dan tdk menye menye. suka dgn karakter tia yg sekarang.
jgn jatuh ke lubang yg sama dan jatuh cnta lgi dgn tirex,manusia kaku,egois,kasar dan mulut tajam dan tdk peka.
lgi an ya,gw heran ama lu rex,kaga ad jiwa kebapakan lu dah,sama jayden aj kaya kaga ad ikatan batin ,minimal dekat dan sayang. darah daging sndri . 😒😒