NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Kediaman Morris

Ketika Ayuna tiba di kediaman Morris, berbagai pikiran mulai berkelebat di kepalanya.

Ia selalu tahu Renan kaya raya. Namun menyaksikannya secara langsung tetap membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Gerbang besi tinggi terbuka perlahan. Jalan masuk panjang membelah taman luas yang tertata rapi. Bangunan utama berdiri megah, tenang, dan dingin, seperti dunia yang sama sekali bukan miliknya.

Jika Renan sekaya ini, mengapa ia menikahinya?

Pertanyaan itu berputar di kepalanya tanpa henti.

Apakah semata karena anak itu?

Ia tahu Renan punya banyak pilihan. Namun justru karena ia memilih menikah, Ayuna semakin tidak mengerti niat pria itu.

Namun ia tidak memilih jalan itu.

Ia memilih menikah.

Dan justru itu yang membuat Ayuna semakin tidak mengerti niat pria itu.

Apakah keluarga Renan akan menerimanya, atau justru menganggapnya noda?

Mobil berhenti di depan pintu utama.

Begitu mereka turun, beberapa pelayan yang berdiri rapi langsung menunduk hormat.

“Tuan Muda Kedua.”

“Tuan Muda Kedua.”

Renan berhenti melangkah. Tatapannya menyapu para pelayan dengan dingin.

“Kalian tidak lihat saya datang dengan siapa?” tanyanya datar.

Para pelayan tertegun. Pandangan mereka beralih ke Ayuna, ragu, bingung. Tidak ada satu pun yang berani membuka mulut.

Hening singkat tercipta.

Tak lama, Heri yang baru turun dari mobil menghampiri. Pria paruh baya itu menangkap tatapan para pelayan yang kebingungan, lalu berkata dengan suara mantap,

“Mulai hari ini, beliau adalah istri Tuan Muda Kedua.”

Ia menoleh ke para pelayan lain. “Sapa dengan benar.”

Pelayan-pelayan itu tersentak, lalu serempak menunduk lebih dalam.

“Nyonya Muda Kedua.”

Ayuna refleks menarik ujung lengan bajunya. Jantungnya berdetak cepat. Sebutan itu terasa asing. Berat. Seakan langsung menempatkannya di posisi yang belum sepenuhnya siap ia terima.

“Renan…” panggilnya lirih.

Renan menoleh. “Apa?”

“Kamu tidak perlu—”

“Apa?” Renan menyela, suaranya tetap tenang, tapi matanya mengeras sedikit. “Kamu merasa malu menjadi istriku?”

Pertanyaan itu datang terlalu cepat, terlalu langsung.

Ayuna terdiam. Dadanya terasa perih, bukan karena marah, melainkan karena kalimat itu tepat menusuk sisi rapuhnya.

Menjadi istri Renan adalah impiannya sejak mereka berpacaran. Impian yang perlahan ia kubur, hingga akhirnya tak lagi berani ia pikirkan.

“Tidak,” jawabnya pelan.

Renan tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menoleh ke pelayan terdekat.

“Antar Nyonya Muda Kedua ke kamar. Dia perlu istirahat.”

“Baik, Tuan Muda Kedua.”

Perut Ayuna terasa mengencang.

Rumah sebesar ini. Keluarga sebesar ini.

Dan dirinya, seorang yatim piatu tanpa siapa-siapa. Namun mengingat tatapan Renan barusan, ia tidak berani membantah. Ia hanya mengikuti pelayan itu dengan langkah pelan.

Renan menoleh pada Heri yang berdiri di samping.

“Heri.”

“Ya, Tuan Muda.”

“Dia alergi kerang, terutama udang. Dia suka ikan dan brokoli. Makanannya harus ringan. Dia tidak suka bawang bombay dan sawi.”

Heri mengangguk cepat, mencatat di kepalanya.

Renan terdiam sesaat, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah, lebih tegas, “Dan pastikan apa pun yang disajikan aman untuk wanita hamil.”

“Ba—” Heri tersentak. “Tuan Muda Kedua...?”

Renan sudah melangkah pergi tanpa menoleh.

Heri berdiri terpaku beberapa detik sebelum buru-buru mengeluarkan ponselnya.

“Tuan Muda Sulung,” ucapnya begitu sambungan terhubung.

“Nyonya Muda Kedua… sepertinya sedang hamil.”

Di seberang sana, Revan terdiam lama.

“Apa?” suaranya akhirnya terdengar, tegang.

Asisten yang berdiri di dekat Revan ikut tersentak.

Masalah apa lagi yang dibuat Renan kali ini?

Revan menutup telepon tanpa berkata apa-apa lagi.

Namun wajahnya sudah berubah.

Jika itu benar, maka ini bukan masalah kecil.

❀❀❀

Pelayan perempuan berjalan sedikit di depan Ayuna, memastikan langkahnya tidak terlalu cepat. Koridor kediaman Morris luas dan tenang, dihiasi lampu gantung dan lukisan klasik di dinding.

Namun semakin jauh mereka melangkah, semakin berat perasaan Ayuna.

Ini bukan sekadar rumah orang kaya.

Ini rumah keluarga Renan.

Dan mulai hari ini, entah bagaimana caranya ini juga rumahnya.

Setidaknya, seharusnya begitu.

“Tuan Muda Kedua meminta Nyonya Muda beristirahat di kamar beliau,” ucap pelayan itu lembut.

“Jika Nyonya Muda membutuhkan sesuatu, tekan bel di samping tempat tidur.”

Ayuna mengangguk kecil. “Terima kasih.”

Pintu dibuka.

Ayuna terdiam.

Kamar itu luas, rapi, dan hangat. Wangi kayu bercampur aroma pinus memenuhi udara. Tidak berlebihan, tidak mencolok, tapi jelas menunjukkan selera pemiliknya.

Namun bukan luasnya yang membuatnya terpaku.

Melainkan kenyataan bahwa ini adalah kamar Renan.

Tempat Renan tidur.

Tempat Renan beristirahat.

Tempat paling pribadi milik pria itu.

Dan ia ditempatkan di sini.

Bukan kamar tamu.

Bukan kamar sementara.

Pelayan meletakkan tas Ayuna lalu pamit.

Pintu tertutup pelan.

Ayuna berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Jantungnya berdetak tidak teratur. Ada rasa gugup, ada kehangatan yang tak ia duga, namun juga ketidakpastian yang sulit dijelaskan.

Ia duduk di tepi tempat tidur. Kasurnya empuk, hangat.

Tubuhnya yang kelelahan akhirnya menyerah.

Hari ini terlalu panjang.

Entah rumah ini akan jadi penjara atau tempat pulang, ia hanya bisa berharap.

Saat pakaian bersih diantarkan, Ayuna berganti lalu berbaring. Tangannya refleks menutupi perutnya. Rasa aman samar menyelimuti kesadarannya, dan tanpa sadar ia tertidur.

Renan tidak langsung kembali ke kamar.

Ia berdiri di balkon lantai dua, menatap halaman yang mulai diselimuti senja. Angin berembus pelan, namun tidak cukup menenangkan pikirannya.

Hari ini terlalu banyak terjadi.

Pernikahan.

Keputusan.

Dan satu kenyataan yang masih terasa tidak nyata.

Ia terlahir kembali.

Renan memejamkan mata sejenak.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ia masih mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini benar-benar nyata.

Di kehidupan sebelumnya, ia kehilangan segalanya.

Dan sekarang, kesempatan itu ada di tangannya.

Ia melangkah masuk ke kamar. Melihat Ayuna tertidur di tempat tidurnya. Alisnya sedikit berkerut, napasnya belum sepenuhnya tenang.

Renan mendekat dengan hati-hati.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihatnya.

Melihat kelelahan yang dulu tak pernah ia pedulikan. Melihat betapa rapuhnya wanita yang dulu ia anggap beban.

Dadanya terasa sesak.

Tangannya terangkat, hampir menyentuh pipi Ayuna, lalu berhenti.

“Maaf…” bisiknya pelan.

“Di kehidupan lalu… aku terlalu bodoh.”

Ia menarik selimut, menutup tubuh Ayuna dengan hati-hati. Duduk di tepi ranjang, menunduk lama.

Ia tidak berharap cinta.

Tidak berharap kepercayaan.

Yang ia inginkan hanya satu.

Jangan menyakitinya lagi.

Perlahan, napas Ayuna menjadi lebih teratur. Kerutan di wajahnya mengendur.

Renan menatapnya lama.

“Aku akan berusaha melakukan yang terbaik,” gumamnya lirih.

“Untukmu… dan untuk calon anak kita.”

Dulu, hatinya sangat kecil, hanya mampu menampung dirinya sendiri. Sekarang, hati kecil hanya menyisakan ruang untuk Ayuna.

Dia akan melakukan segalanya agar Ayuna bisa tersenyum lagi.

Renan teringat senyum manis gadis itu saat pertama kali melihatnya di kampus. Sebuah senyuman yang membuat jantungnya langsung berdetak kencang. Tapi, entah sejak kapan senyum gadis itu sirna. Dan dia tahu itu karena perbuatannya sendiri.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!