Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghinaan terhadap Jhon
...Bab 13...
Dalam lamunannya, Jhon tanpa sadar malah berjalan ke arah meja di mana Tiffany Bellamy, Flo dan Natasha duduk. Hal ini tentu saja semakin memperkuat dugaan ketiga gadis itu bahwa Jhon ini benar-benar seorang lelaki yang tak tau malu sekaligus tak tau diri.
Sebenarnya apa yang mereka pikirkan setengah benar. Tentang Jhon yang tak tau diri, itu memang benar. Karena sampai sekarang dirinya memang benar-benar tidak mengetahui siapa dia. Tapi kalau tidak tau malu, jelas Jhon tau malu. Jika tidak punya malu untuk apa dia berpakaian lengkap?
Semakin lama Jhon semakin mendekat meja ketiga gadis itu sampai pada suatu saat sebuah bentakan menghentikan langkahnya.
"Berhenti di situ!"
Flo lah yang berteriak membuat lamunan Jhon buyar seketika. Baru saja dia memikirkan bagaimana caranya untuk menghasilkan uang. Tapi dirinya sudah dikejutkan dengan suara bentakan.
Bukan hanya dirinya saja yang kaget. Orang lain yang berada di tempat itu juga spontan melihat kearahnya dan ketiga gadis itu.
"Eh..," Jhon yang baru menyadari apa yang terjadi segera menggelengkan kepalanya dengan keras seolah-olah ingin mengembalikan kesadarannya.
"Fany, ini kah orangnya yang berandai-andai untuk mendekati mu? Benar-benar tidak tau diri," suara cibiran Flo yang terkenal memiliki mulut yang cukup berbisa itu membuat semua orang serentak memperhatikan Jhon.
"Maaf. Aku tidak," Jhon ingin membela diri. Tapi kata-katanya sudah di sela oleh Natasha.
"Tidak apa? Langkah mu jelas menuju ke arah kami. Apakah kau pikir kami ini bodoh. Oh aku tau. Mungkin kau ingin mencari perhatian Tiffany kan. Mengapa kau tidak buang air kecil lalu menggunakannya sebagai cermin? Lihat dirimu dan lihat kami. Benar-benar merusak selera makan saja,"
Perkataan pedas dari Natasha semakin membuat heboh ruang restoran tersebut. Ada ramai suara sumbang yang diarahkan kepada Jhon.
Jhon ingin menjelaskan. Akan tetapi dia pun tidak tau harus berkata apa. Hasilnya dia semakin dipojokan oleh kedua sahabat Tiffany.
"Jhon. Aku masih menghargai mu yang katanya adalah anak angkat dari paman Matt. Tapi ingat! Jangan jadikan itu sebagai alasan. Kita tidak dekat dan tidak pula saling kenal. Jadi, sebelum kau semakin terlihat buruk, harap jaga jarak dariku. Dunia kita tidak sama. Kau harus sadar bahwa apapun alasan mu, tetap saja niat mu yang sebenarnya ingin mendekati ku kan? Boleh punya mimpi tapi harus tetap realistis. Kelas mu bukan aku tapi mungkin kalangan kelas bawah. Ingat! Dunia ku tinggi dan kau selamanya tidak akan bisa menggapainya!" Kata Tiffany semakin sewenang-wenang menghina.
Ada kilatan kemarahan dari sorot mata Jhon. Walaupun hanya sekilas saja, tatapan itu sangat dingin dan Tiffany dapat merasakan bahwa jantungnya berdegup kencang seolah-olah ketika dirinya menatap Jhon, bagaikan menatap sosok monster yang sangat mengerikan.
Aura seorang pejuang yang berjalan di tumpukan mayat dan dibaptis oleh darah para lawan tidak dapat disangkal. Bagaimanapun dia adalah dewa kematian yang ditakuti di medan perang. Aura itu secara alami dapat terpancar dengan sendirinya. Itu bukan didapat dengan mudah. Melainkan terakumulasi dari pengalaman sebagai seorang pejuang yang banyak menumpahkan darah.
Tiffany merasa jantungnya berhenti berdetak. Tapi dia berusaha melawan. Siapa dirinya? Karena terlalu dimanja membuat dirinya menjadi sombong, setiap keinginannya selalu dituruti. Apa lagi jika menilik dari ibunya. Pendidikan awal yang diberikan oleh ibunya yang sangat angkuh itu perlahan membentuk karakter Tiffany sehingga seperti inilah dirinya. Oleh karena itu dia tidak ingin mengalah kemudian kembali membentak. "Apa? Apa kau tidak menerima? Tatapan mu seperti orang yang memiliki niat buruk. Sekali lagi aku katakan, berhenti mengejar ku. Berhenti mencari perhatian ku. Karena level ku terlalu tinggi bagi mu. Terima atau tidak, itu lah fakta!"
Jhon mungkin terlihat kosong. Seperti orang linglung dan bodoh. Tapi dia tau jelas bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepada Tiffany. Entah kenapa, dia merasa bahwa Tiffany ini terlihat biasa-biasa saja. Seolah-olah dalam hidupnya dia terlalu sering melihat gadis cantik.
Ibarat makanan. Orang yang terbiasa makan daging akan merasa bahwa daging seperti apapun akan terasa biasa saja'. Berbeda dengan orang yang jarang makan daging, sekali mendapatkan daging maka dia akan melahapnya dengan rakus. Perasaan Jhon ketika melihat Tiffany hanya biasa saja. Bahkan dari awal pun dia tidak pernah melirik gadis itu. Tiffany saja yang terlalu perasaan dikejar. Akan tetapi, Jhon tidak berusaha untuk menjelaskan dirinya. Kalau dia ikut berdebat dan berusaha menjelaskan, maka masalah ini tidak akan pernah selesai. Bukannya memperbaiki keadaan, malah yang ada nanti suasana akan menjadi semakin keruh. Saat ini yang bisa dia lakukan hanyalah diam.
"Ada apa ini?"
Saat Jhon terdiam, satu suara yang terdengar dibikin Cool terdengar.
Flo, gadis yang pertama kali melihat pendatang baru itu langsung memasang wajah dan senyum manis. Berbanding terbalik dengan raut wajah yang dia tunjukkan kepada Jhon.
"Eh ., Freddy," katanya.
Tiffany dan Natasha juga menoleh ke arah seorang pemuda yang baru datang yang tidak lain adalah Freddy, pemuda yang mencari gara-gara dengan Jhon dan dipermalukan oleh Lee Na.
"Freddy. Untung kau datang. Jika tidak, entah apa yang akan dilakukan oleh orang yang tidak tau malu ini!" Natasha berkata sambil menunjuk ke arah Jhon.
Freddy sebenarnya sudah mengetahui permasalahan mereka. Dia juga tau bahwa orang yang terdiam itu adalah Jhon. Namun dia melirik lalu berpura-pura heran dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Kau lagi? Apakah kau benar-benar berpikir bahwa aku sudah selesai dengan mu?"
Tiffany, Flo dan Natasha seketika melirik ke arah Freddy dan Jhon secara bergantian. Mereka kaget dari mana Freddy mengenal Jhon. Mereka tau siapa Freddy. Pemuda sombong dan sangat pilih-pilih dalam berteman. Kalau Freddy mengenal Jhon, pasti bukan perkenalan yang baik. Mereka harus segera mengipasi api biar marak sekalian. Dengan demikian mereka akan puas dapat membuat Jhon sekarat dihajar oleh Freddy.
"Freddy, kau mengenal orang ini?" Natasha menunjuk wajah Jhon dengan jijik.
Freddy tidak menjawab. Dia malah bertanya. "Ada apa? Siapa yang bisa menjelaskan kepadaku apa yang dilakukan oleh orang ini?"
Kebetulan ini. Freddy dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang sangat tergila-gila kepada Tiffany. Sejak sekolah menengah atas, Freddy sudah mengincar Tiffany. Akan tetapi Tiffany tidak pernah memberikannya kepastian. Sudah tidak terhitung usaha apa saja yang dilakukan oleh Freddy untuk menarik perhatian Tiffany. Kali ini dia mendapatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu kepada Jhon. Karena sejak tadi dia memperhatikan dari jauh tentang pertengkaran mereka. Mengira ini adalah kesempatan, Freddy pun segera mendekat dan bila perlu dia akan menghajar Jhon. Dia ingin bangkit dengan menginjak tubuh Jhon.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪
itu adalah angka keramat 18+++