Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penegasan..
Tidak terasa sudah sebulan lamanya Indira menjadi ibu susu Arjuna.
Setiap malam,setiap pagi,bahkan setiap siang Arjuna akan menyusu kepadanya.
Saat jam kantor siang,Arjuna akan menyempatkan diri pulang sejenak kerumah,atau kalau tidak mendatangi Indira ke sekolah.
Seperti hari ini,saat Arjuna selesai memimpin rapat,tiba tiba tenggorokannya terasa panas.
Stok asinya tidak ada,karena memang dia belum menyuruh Indira untuk menyetok asi untuk nya.
Uhukkk...uhukkkk..uhukkk..!
Tenggorokan nya tercekat,ada rasa panas menjalar di kerongkongan nya.
"Dani..! kemari..! cepat..!" pekik nya memanggil sang asisten pribadinya.
"Iya tuan,," dengan sigap asisten itu membantu tuan nya duduk di kursi.
"Cepat,,antarkan aku ke sekolah Indira..!" Dani yang sudah tahu rahasia tuannya langsung paham.
"Baik tuan,,ayo kita pergi." Dani menuntun tuannya keluar dari kantor,menuju sekolah Indira.
Masih jam setengah satu siang,,waktunya makan siang,namun dia tidak bisa melakukan itu karena tenggorokan nya kembali bermasalah.
Menunggu mereka sampai disekolah Indira,Arjuna mengirim pesan pada Indira.
(Siapkan dirimu,aku hampir sampai,,aku butuh obatku sekarang juga.")
Tidak berapa lama balasan pesannya langsung tiba.
(Baik tuan.)
Lima belas menit berkendara rasanya seperti lima jam,karena Arjuna semakin tersiksa oleh rasa panas yang tidak nyaman di tenggorokannya.
"Lebih cepat lagi Dani..!"
"Baik tuan."
Asisten itu menambah kecepatan mobilnya.
Tidak berapa lama mereka pun sampai.
mereka menunggu Indira di depan gerbang sekolah.
Dari jauh Indira tampak berjalan tergesa.
Belum juga mencapai mobil sang tuan,tiba tiba Bima,kakak kelasnya menghampirinya.
"Hai Indira,,buru buru amat,mau kemana?" mendengar sapaan sang kakak kelas membuat Indira berhenti.
"ehh kak Bima,,anu kak,,aku ada urusan." Indira kembali melanjutkan langkah.
"Ada masalah?" pria itu malah mengikuti Indira dari belakang.
"Tidak kak,,aku hanya ada urusan sebentar." Indira mulai tidak enak hati karena Bima mengikutinya.
Sementara didalam mobil Arjuna melihat interaksi sang wadah.
membuat nafasnya memburu menahan amarah.
Arjuna menelepon Indira,,membuat gadis itu menatap ponselnya lalu memasang wajah pucat.
"Maaf kak,,aku buru buru,," Indira sengaja meninggalkan Bima dengan berlari kecil menuju gerbang sekolah.
jantungnya berdegup kencang memikirkan yang akan terjadi sebentar lagi.
pasti tuannya itu akan memarahinya karena berinteraksi dengan pria.
"Masuk!" titahnya dingin saat Indira sudah sampai di dekat mobil.
"Keluar!" titahnya dingin pada sang asisten.
Dani mengangguk lalu keluar dari mobil.
Setelah pintu mobil tertutup rapat,Arjuna langsung menyingkap seragam Indira keatas,tanpa menunggu lama dia menyesap pucuk berwarna pink itu,mereguk asi yang sudah penuh di wadahnya.
Glek..glek..glekk...!
Indira bisa mendengar tegukan sang tuan.
Dia yakin tuannya pasti sangat kehausan saat ini.
Perlahan Indira mengusap surai hitam tuannya dengan lembut.
Seolah dia sedang menyusui putranya sendiri.
Habis yang satu Arjuna mengganti dada satunya lagi.
Glekk..glekkk...glekkk..!
Air asinya kembali deras diteguk Arjuna.
Indira memejamkan matanya,merasa lega sekaligus ada rasa gelenyar aneh yang menjalar di seluruh nadinya.
Setelah puas Arjuna mulai bermain main di puting milik Indira.
membuat gadis itu menggelinjang geli.
"Kau dekat dengan pria hmm? bukankah sudah ku peringatkan agar kau jangan dekat dengan pria mana pun?" tatapan Arjuna sangat tajam,jauh berbeda saat dia sedang minum tadi.
"Dia yang me nyamperin aku tadi tuan,bukan aku."
"Tidak peduli siapa yang me nyamperin duluan,,aku sudah melarang mu untuk tidak dekat dengan pria,kenapa kau melanggar nya?"
"Aku juga terkejut saat kak Bima menghampiri ku tadi,"
"Kak Bima katamu? kau bahkan sangat hapal nama itu!" dengus Arjuna masih bermain main di pucuk dada Indira yang berwarna pink.
"Iya,namanya memang kak Bima." Indira yang tidak paham sindiran Arjuna malah semakin memperjelas namanya.
"Ckk,,aku tidak perduli siapa nama nama pria itu! jangan ulangi lagi seperti tadi paham?"
Indira merasa bingung,dia bukan siapa siapa nya sang tuan,tapi kenapa tuannya memperlakukan nya seperti seorang istri atau pacar.
"Dengar nggak?" ulang Arjuna dingin.
"Maaf tuan,aku tidak paham kemana tujuan ucapan tuan,kenapa aku tidak bisa berinteraksi dengan pria? kami kan nggak ngapa ngapain?"
Indira mulai protes.
"Kamu membangkang?" Arjuna menggigit pucuk dada Indira sedikit kencang membuat gadis itu memekik kesakitan.
"Tuan,,sakit,," rengeknya kesakitan.
"Dengarkan aku baik baik,akan kuulangi ucapan ku kemarin,ini yang terakhir kalinya aku mengulanginya,,
Selama aku masih terhubung denganmu,,selama aku masih membutuhkan asimu,jangan sesekali kau berdekatan dengan seorang pria,karena aku tidak mau obatku terkontaminasi kuman dari orang lain." tegas Arjuna.
"Sampai kapan tuan?"
"Sampai waktu yang tidak ditentukan,,sampai aku sendiri yang mengakhiri hubungan ini,"
"Jadi selama itu aku tidak bisa berdekatan dengan pria?"
"Pinter,,itu tahu.."
"Aku tidak bisa tuan,,kalau begitu secepatnya akhiri ini semua,"
"apa?" mata Arjuna terbelalak kaget.
tadinya dia mengira gadis berlesung pipi itu akan menurut apapun yang dikatakannya.
ternyata gadis itu malah mempertanyakan temponya kapan berakhir.
"Kau sudah bosan hah? kau keberatan ku larang berdekatan dengan pria?"
"Teman temanku semua sudah pada punya pacar,,aku juga ingin merasakan hal yang sama,,teman temanku mengejek ku tidak normal,,mereka sudah punya gebetan,sementara aku sekalipun banyak yang mendekati aku,aku harus menghindar karena tuan."
Ujar Indira berani.
lagi lagi Arjuna terbelalak.
gadis kecil dihadapannya mulai berani melawannya.
"Ohhh,,jadi kau lebih memilih mau berpacaran dengan pria tidak jelas ketimbang membantuku sembuh hah? baik! sekarang juga akhiri semuanya! akhiri kontraknya,,dan keluar dari rumahku!" mata Arjuna berkilat kilat karena marah.
Indira terkejut!
Dia tidak mengira ucapannya barusan memicu kemarahan tuannya.
"Tuan,,bukan seperti itu maksud ku,maafkan aku kalau tuan tersinggung dengan ucapan ku tadi,tolong jangan usir kami,," seketika Indira menghiba.
"Baik,aku masih punya belas kasih untukmu,tapi ini peringatan terakhir,,jangan pernah dekat dengan pria lain,apalagi sampai kontak fisik,mengerti?"
"Mengerti tuan," angguknya gemetar.
"Jangan pernah berpacaran dengan siapapun,,apalagi melakukannya diam diam,,karena aku akan mengawasi mu,,paham?"
lagi lagi Indira mengangguk.
Wajahnya masih pucat karena ketakutan,Arjuna bisa rasakan itu.
Cup..
Arjuna kembali mengkenyot puting milik Indira,kali ini diiringi remasan lembut dibagian pangkalnya.
Indira meremas kuat roknya menetralisir gemuruh jantungnya yang bergemuruh.
Tak henti hentinya Indira merapalkan doa agar situasi ini cepat berakhir.
Sepertinya semesta belum mendengarkan doanya. bukannya berhenti,Arjuna malah mengelus punggungnya,membuat bulu kuduknya meremang.
Arjuna juga memainkan lidahnya di pucuk pink milik Indira,membuat intinya basah dibawah sana.
Rasa apa ini? seumur umur Indira belum pernah merasakan gejolak seperti itu.
Cup! kali ini bibir Indira yang diraup pria tampan itu.
Tidak hanya bibir mereka yang menempel,,lidahnya pun dilesakkan masuk dan menjelajah rongga mulut Indira.
Wajah Indira memerah saat ciuman panas mereka terlepas.
"Ini hukuman untukmu karena tadi melawan ku,,," Arjuna menyeka sudut bibir nya lalu bibir Indira menggunakan jempolnya,membersihkan sisa sisa saliva yang tertinggal.
"Jaga seluruh tubuhmu untuk ku,karena selagi kita masih berhubungan satu sama lain,jangan pernah mengotorinya dengan berdekatan dengan pria lain,,"ulang Arjuna tegas.
"Baik tuan." angguknya.
"Kembali ke kelas mu,,nanti malam kita bertemu dirumah." Indira cepat cepat turun lalu membenahi pakaiannya yang sedikit kusut.
Tidak berapa lama mobil mewah milik tuannya beranjak dari sana.
"Sampai kapan aku di awasi seperti ini? aku bahkan tidak bisa bermain lagi dengan teman teman,,aku tidak pernah ikut nonton bioskop lagi." gumamnya berbicara sendiri.
bersambung...