NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYUSUP DI KAPAL FERI

BAB 6

Tidur yang Dibayar Mahal

Mesin kapal feri meraung rendah, stabil, saat lambungnya membelah Selat Singapura menuju Batam. Langit siang mulai memudar ke jingga. Setelah rangkaian bentrokan berdarah, kelelahan akhirnya menuntut haknya.

Di dek penumpang VIP, rombongan Laura cs menempati kabin tertutup.

Bima membuka rompi taktisnya, menghembuskan napas panjang.

“Lima jam terakhir seperti seminggu.”

Agung tertawa lelah.

“Kalau pulang kampung, orang rumah nggak bakal percaya.”

Dr. Sandi berdiri, menunjuk kamar mandi kabin.

“Mandi dulu. Kita butuh segar.”

Satu per satu mereka membersihkan diri. Air hangat menghapus darah, debu, dan keringat. Luka Eren dibersihkan—memar di wajahnya mulai membiru.

Eren meringis.

“Wajah gue kayak peta konflik.”

Bima menepuk bahunya.

“Medali kehormatan.”

Di ruang makan feri, makanan sederhana tersaji: nasi, ayam, sup panas. Laura makan perlahan, Anisa sudah menguap sejak suapan kedua.

“Kak… aku ngantuk,” gumam Anisa.

Dr. Hadijah tersenyum lembut.

“Tidurlah. Ibu di sini.”

Tak lama, kabin kembali sunyi. Lampu diredupkan. Suara mesin berubah jadi lagu nina bobo yang dalam.

Laura tertidur sambil memeluk tas kecilnya.

Bima bersandar di kursi, mata terpejam—untuk pertama kalinya benar-benar terlelap.

Dr. Sandi duduk di sudut, berniat berjaga… namun kantuk menang.

Mereka tidak tahu—

di dek atas, di balik kaca gelap ruang kru, sepasang mata menatap ke bawah.

Seorang pria kurus berambut cepak, mengenakan seragam teknisi feri, menempelkan headset kecil ke telinganya.

“Target tidur,” bisiknya.

“Mulai.”

Serangan Tengah Laut

Lampu feri PADAM.

Jeritan terdengar dari dek penumpang lain.

Bima terbangun seketika.

“Kontak—!”

PINTU KABIN JEBOL!

Tiga pria bermasker menerobos masuk, tongkat besi dan pisau di tangan.

“AMBIL TAS ITU!” teriak salah satu.

Laura menjerit.

“KAK—!”

Dr. Sandi sudah bergerak. Ia menubruk penyerang pertama, membanting ke lantai. Bima menyapu kaki penyerang kedua, namun yang ketiga berhasil masuk lebih dalam.

Agung bangkit dari tidur, menghantam lawan dengan kursi lipat.

“Cari masalah sama kami?!”

Eren—meski wajahnya lebam—menerjang, menahan pisau dengan lengan.

“ARGH!”

Bima berputar, memukul rahang lawan Eren.

“Jangan sentuh anak buahku!”

Dari lorong luar, suara langkah berat datang bertubi-tubi.

“MASUK SEMUA!”

Sepuluh orang. Lebih. Berseragam kru feri.

Dr. Sandi menyadari.

“Mereka sudah di kapal sejak awal.”

Laura memeluk Anisa di sudut.

“Mereka datang lagi…”

Bima berdiri di tengah kabin, darah di kening, mata menyala.

“Formasi rapat! Jangan biarkan mereka pisah!”

Pertempuran berubah liar.

Lorong sempit jadi neraka:

– Tinju menghantam dinding

– Darah memercik ke lantai

– Tubuh berguling di antara kursi

Dr. Sandi menjatuhkan dua orang dengan teknik cepat—leher, rusuk, lutut.

Bima menghadapi pria besar dengan kunci besi—adu tenaga brutal.

“KAU NGGAK CAPEK?! ” bentak pria itu.

Bima membalas dengan kepala.

“BELUM!”

DUK!

Pria itu ambruk.

Namun dari belakang—

PIS!

Pisau nyaris menusuk Laura.

“LAURA!” teriak Dr. Hadijah.

Dr. Sandi melompat, menahan tangan penyerang, memutar—

KRAKK!

Tangan lawan patah. Jerit memekakkan telinga.

Agung terdorong keluar kabin, bertarung di lorong.

Eren menahan pintu, tubuhnya jadi tameng.

“SERTU— MEREKA BANYAK!”

Bima menoleh cepat.

“Kita dorong ke dek terbuka!”

Mereka bergerak mundur sambil bertarung. Pintu dek dibuka—angin laut menghantam wajah.

Di luar, ombak gelap berkilau. Lampu darurat merah menyala.

Pemimpin mereka muncul—pria teknisi tadi, senyum tipis.

“Kalian keras kepala.”

Dr. Sandi menatap dingin.

“Kau salah kapal.”

Ia menerjang. Bima menyusul.

Dua lawan terakhir dihajar bersamaan—

satu terlempar ke pagar dek, satu lagi jatuh menghantam lantai baja.

Pria teknisi mencoba kabur—

Bima menangkap kerahnya, menghantamkan ke pagar.

“Kirim salam ke yang bayar kamu.”

DUK!

Tubuh itu terkulai—pingsan.

Sirene feri menyala. Awak asli datang berlarian. Lampu menyala kembali.

Hening.

Hanya napas berat dan debur ombak.

Laura menangis tertahan.

“Kenapa… tidak pernah berhenti…”

Bima menoleh, wajah keras tapi suara lembut.

“Karena kau masih hidup.Dan mereka belum mendapatkan apa yg mereka inginkan.”

Dr. Sandi berdiri di sampingnya.

“Dan selama itu—mereka akan datang.”

Bima mengangguk.

“Tapi malam ini—kita menang.”

Kapal terus melaju.

Batam semakin dekat.

Namun kini mereka tahu satu hal pasti:

bahkan saat tidur,

bahkan di laut,

perang bisa datang tanpa suara.

Di Antara Ombak dan Keheningan

Mesin feri berdengung stabil, membelah selat dengan ritme menenangkan. Setelah ketegangan panjang, kelelahan akhirnya menang. Satu per satu mereka merebahkan diri di kabin.

Bima duduk bersandar, helm di pangkuan. Matanya terpejam setengah.

“Tidur bergantian,” pesannya pelan. “Dua jam. Lalu tukar.”

Dr. Sandi mengangguk.

“Aku jaga awal.”

Laura, Dr. Hadijah, dan Anisa masuk ke kamar mandi kabin. Air hangat mengalir, menghapus debu, darah, dan ketakutan yang menempel. Beberapa menit kemudian, aroma sabun menggantikan bau solar. Mereka berganti pakaian bersih.

Di ruang makan feri, makanan sederhana terasa istimewa. Nasi hangat, sup bening, teh panas. Tak ada yang banyak bicara—hanya suara sendok dan napas yang mulai teratur.

Eren, wajahnya masih memar, tersenyum tipis sambil menyeruput teh.

“Rasanya… hidup itu bisa sesederhana ini ya.”

Bima menepuk bahunya.

“Menang kecil juga kemenangan.”

Tak lama, kelelahan menang. Mereka kembali ke kabin. Lampu diredupkan. Deru mesin menjadi lullaby. Satu per satu terlelap—tidur nyenyak, tanpa mimpi buruk.

Tak satu pun menyadari—

di dek atas, di balik kaca gelap ruang navigasi,

sepasang mata mengikuti gerak mereka sejak tadi.

Diam. Sabar. Menghitung.

Pagi menjelang. Cahaya keperakan menyusup dari jendela kabin. Udara laut segar. Bima bangun pertama, memeriksa sekitar. Aman. Untuk sementara.

“Bangun,” katanya lembut. “Kita hirup udara.”

Mereka naik ke dek. Angin menyapu wajah. Laut terbentang biru—luas dan tenang. Di kejauhan, lumba-lumba melompat beriringan, punggungnya berkilau diterpa matahari.

Laura terkesiap.

“Masya Allah… indah sekali.”

Anisa bertepuk tangan kecil.

“Mereka seperti mengawal kita.”

Dr. Sandi tersenyum—jarang, tapi tulus.

“Kadang alam memberi jeda. Supaya manusia ingat bernapas.”

Laura berdiri di sisi pagar, memandangi ombak.

“Dok… aku takut,” katanya pelan. “Bukan pada mereka. Tapi pada diriku sendiri. Pada apa yang kubawa.aq takut formula vaksin anti virus corona ini jatuh ke tangan orang jahat. "

Dr. Sandi menatap laut, lalu Laura.

“Takut itu wajar. Yang tidak wajar adalah berhenti karena takut.”

Ia menambahkan lembut, “Kau tidak sendiri. Dan yang kau lindungi… lebih besar dari rasa takutmu.”

Laura mengangguk, matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih… karena tetap di sini.”

Di sisi lain dek, Dr. Hadijah menghampiri Bima. Ia menunduk hormat.

“Sertu… saya tidak tahu bagaimana membalasnya.”

Bima menggeleng cepat.

“Tugas saya, Dok.”

Dr. Hadijah tersenyum hangat.

“Bukan hanya tugas. Anda menjaga anak saya seperti keluarga.”

Ia menghela napas. “Terima kasih banyak atas jasa jasamu akan saya ingat selalu.”

Bima tersenyum lalu menatap laut, lalu tatapannya kembali pada sang dokter hadijah .

“Kami hanya memastikan mereka yang benar tetap hidup.”

Angin bertiup lebih kencang. Kapal melaju mantap. Tawa kecil terdengar—ringan, jujur. Untuk sesaat, dunia terasa damai.

Namun jauh di atas, di sudut dek yang teduh,

mata itu masih ada—

mengamati, menunggu,

hingga waktu yang tepat

untuk memecah ketenangan.

Di Antara Ombak dan Harapan

Kapal feri melaju stabil, membelah Selat Singapura menuju Batam. Suara mesin berdengung pelan, menenangkan. Setelah rangkaian kejadian brutal, kelelahan akhirnya menang.

Mereka beristirahat.

Di kabin, Laura meletakkan ransel kecilnya, lalu tersenyum tipis.

“Akhirnya… sepi,” katanya.

Dr. Sandi mengangguk.

“Manfaatkan. Tubuh dan pikiran butuh jeda.”

Sertu Bima memastikan keamanan, lalu memberi isyarat pada Agung dan Eren—yang wajahnya masih memar—untuk bergantian jaga.

“Setelah ini, tidur. Kita perlu tenaga,” perintahnya.

Air hangat kamar mandi feri mengalir. Ketegangan luruh bersama uap. Setelah mandi, mereka makan sederhana di kafetaria—nasi hangat, sup, dan teh manis. Tak banyak bicara. Lelah mengambil alih.

Satu per satu tertidur nyenyak.

Tak ada yang menyadari—di dek atas, di balik kacamata hitam dan topi, sepasang mata mengikuti pergerakan mereka sejak awal. Diam. Menghitung. Menunggu.

Pagi merambat pelan.

Angin laut menyapu dek. Langit cerah. Laura keluar lebih dulu, menghirup napas panjang.

“Indah sekali,” gumamnya.

Tak lama, Dr. Sandi menyusul.

“Udara laut selalu jujur. Tak menyimpan dendam.”

Mereka berjalan menyusuri dek. Bima berdiri tak jauh, bersandar pada pagar, memantau tanpa mengganggu. Dr. Hadijah dan Anisa ikut bergabung, membawa roti dan minuman.

Tiba-tiba, sorak kecil terdengar.

“Lumba-lumba!” teriak Anisa.

Beberapa sirip muncul, melompat riang di sisi kapal. Laura tertawa—lepas, tulus.

“Seperti mengantar kita,” katanya.

Dr. Sandi tersenyum.

“Mereka mengingatkan: laut bukan cuma medan, tapi rumah kehidupan.”

Mereka makan bersama. Roti, buah, kopi hangat. Sederhana—namun terasa mewah setelah semua kekacauan.

Dr. Hadijah menghampiri Bima.

“Sertu Bima… sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuan anda menyelenatkan kami semua sampai sejauh ini ,” ucapnya lirih, dengan mata berkaca kaca.

“Tanpa Anda, kami—”

Bima mengangkat tangan.

“Tugas kami, Dok. Dan… manusia menolong manusia. Saya punya ibu mertua yg seusia dengan anda mungkin 50 th an. Anda seperti ibu saya sendiri. Dan sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong keluarga. Kita Indonesia - palestime adalah saudara."

Dr. Hadijah mengangguk, tulus.

Laura dan Dr. Sandi kembali ke pagar, berbicara lebih pelan—lebih dalam.

“Setelah Jakarta,” kata Laura, “aku ingin menyelesaikan semuanya. Tak lari lagi.”

Dr. Sandi menatap laut.

“Kita atur langkah. Pertama: pengamanan dan penyimpanan aman. Kedua: verifikasi. Tak semua orang boleh tahu.”

“Aku ingin vaksin ini benar-benar sampai ke yang membutuhkan,” lanjut Laura.

“Bukan jadi komoditas barang untuk di penjual belikan .”

“Dan kau?” tanya Dr. Sandi.

“Apa rencanamu, setelah badai ini?”

Laura tersenyum kecil.

“Aku ingin kembali belajar. Kuliah S2 di negaramu. Hidup normal mungkin menikah di usiaku yg akan 23 th . Tapi… kalau dibutuhkan negara ku , aku siap untuk mengabdi lagi.”

Dr. Sandi mengangguk.

“Di Jakarta, kita akan temui pihak yang tepat. Aku temani sampai kau benar benar aman .”

Laura menoleh, menatapnya penuh terima kasih.

“Terima kasih, Dok. Karena menjaga keluarga ku sampai sejauh ini … dan percaya kepadaku.”

Angin berembus. Ombak berkilau. Kapal melaju mantap.

Di kejauhan, sepasang mata itu kembali menghilang di balik bayangan dek—

senyap,

menunggu waktu

ketika ketenangan

akan diuji lagi.

Di Atas Gelombang, Menuju Janji

Mesin feri berdengung stabil, memecah ombak Selat Singapura. Setelah semua kekacauan, kapal besar itu terasa seperti dunia lain—tenang, tertata, dan aman. Pintu-pintu kabin tertutup. Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, mereka beristirahat.

Sertu Bima mandi cepat, air hangat menurunkan ketegangan di bahu dan punggungnya. Dr. Sandi membersihkan luka-luka kecil, lalu memastikan Eren sudah ditangani petugas medis kapal. Laura dan Dr. Hadijah makan sederhana—nasi hangat dan sup—lalu tertidur pulas, kelelahan mengalahkan kecemasan.

Tak satu pun dari mereka menyadari…

sepasang mata mengintai dari lorong belakang dek kendaraan,

mencatat tiap langkah, tiap wajah.

Pagi datang pelan.

Angin laut menyapu dek kapal. Langit biru membentang, matahari memantul di permukaan laut. Suasana berubah santai—nyaris seperti liburan yang tertunda.

Laura berjalan di samping Dr. Sandi, memegang pagar besi.

“Tenang ya, Dok… lautnya cantik.”

Dr. Sandi tersenyum kecil.

“Secantik wajahmu di pagi hari ini dan Laut selalu mengingatkan kita… hidup terus bergerak.”

Mereka makan di kafetaria dek—kopi hangat, roti, dan buah. Tawa kecil muncul. Ketegangan mereda.

Tiba-tiba, teriakan penumpang terdengar.

“Lihat! Lumba-lumba!”

Sekelompok lumba-lumba meloncat di kejauhan, mengikuti feri sejenak. Laura tertegun, matanya berbinar.

“Seperti harapan,” bisiknya.

Di sisi lain dek, Dr. Hadijah mendekati Bima.

“ Sertu bima anda dari mana asalnya?.”

Bima mengangguk hormat.

“Saya dari kesatuan arhanud14 pilang cirebon Jawa barat dok dan tugas kami menjaga perdamaian di tempat yg telah di tentukan komandan kami menurut permintaan PBB . Dan itu di negara anda Palestine. ”

" Oh.. Begitu ya. Saat ini negara saya memang sedang di zilimi oleh tentara isriwil yg ingin sepenuhnya merebut tanah kami. "

"Iya saya tau dok. Makanya pemerinta Indonesia menolak mmbuka hubungan bilateral dengan isriwil. "

" Betul.. " Lalu dokter hadijah mekirik ke sersan eren.

" Sersan eren.. Bolehkah saya merawat luak luka anda. Saya seorang dokter umum. "

Sersan Eren—wajahnya masih lebam—tersenyum malu.

" Apa tidak merepotkan ibu. "

“Tentu tidak . Malah saya sangat berterimakasih pada anda dan rekan rekan anda yg sudah menyerahkan kamu berkali kali dan… saya janji, besok memarnya turun.”

Tawa kecil pecah. Laut tetap tenang.

Laura dan Dr. Sandi kembali menyendiri di sudut dek.

“Setelah Jakarta?” tanya Dr. Sandi pelan.

Laura menghela napas, menatap laut.

“Aku akan menyerahkan flash disk itu… kepada Presiden Palestina. Beliau dan keluarganya sedang mengungsi di Jakarta.”

Ia menggenggam tas kecil di dadanya.

“Isinya terlalu penting. Ini bukan milikku.ini hasil riset tim universitas ku bertahun tahun yg di pandu Profesoor Ibnu Qayyim untuk membuat vaksin penyembuh virus corona. "

Dr. Sandi menatapnya lama.

“Kau tahu artinya?”

Laura mengangguk.

“Aku tahu. Risiko belum berakhir.”

“Dan kau tetap maju?”

“Untuk mereka. Untuk anak-anak yang tidak punya pilihan.”

Dr. Sandi tersenyum tipis—bangga.

“Kalau begitu, aku ikut sampai tuntas.”

Angin bertiup lebih kencang. Feri terus melaju.

Namun, perjalanan panjang masih menunggu.

Di balik pintu dek kendaraan, seorang pria menutup ponselnya.

“Target di kapal. Menuju Batam,” bisiknya.

Bayangan bergerak—tenang, sabar.

Di atas gelombang yang tampak damai,

bahaya belum benar-benar pergi.

Jakarta menanti.

Presiden yang mengungsi menanti.

Dan di antara keduanya—

jalan panjang,

penuh ujian,

yang harus mereka lalui

bersama.

Angin laut mengalir lembut di dek feri. Langit biru terbentang luas, ombak berkilau memantulkan cahaya pagi. Setelah malam-malam penuh darah dan kejaran, kapal itu menjadi ruang jeda—seolah dunia memberi napas.

Laura berdiri di pagar dek, rambutnya tertiup angin. Matanya mengikuti gerombolan lumba-lumba yang meloncat di kejauhan.

“Cantik…” bisiknya, senyum kecil mengembang.

Dr. Sandi berdiri di sampingnya, menyandarkan siku.

“Laut selalu mengingatkan,” katanya pelan. “Bahwa hidup masih bergerak.”

Mereka berjalan menyusuri dek. Bau kopi hangat dan roti panggang menguar dari kafetaria. Bima dan tim memilih duduk agak jauh—memberi ruang. Eren, dengan wajah memar yang mulai menguning, tertawa kecil saat seorang kru bercanda dengannya.

Di meja sudut, Laura dan Dr. Sandi duduk berhadapan.

“Setelah Batam… Jakarta,” ujar Laura.

Dr. Sandi mengangguk. “Kedutaan, pengamanan, lalu pertemuan.”

Laura menatap tas kecil di pangkuannya—flash disk itu ada di sana.

Dr. Sandi memandangnya lama.

“Kau tahu risikonyarisikonya jika rahasia formula itu jatuh ke tangan yg salah? "

“Aku tahu.” Laura menarik napas. “Tapi ini harapan. Untuk anak-anak. Untuk mereka yang tak punya suara.”

Dr. Sandi tersenyum tipis—bangga, sekaligus khawatir.

“Perjalanan kita masih panjang sebelum Jakarta.”

Mereka terdiam sejenak. Ombak memukul lambung kapal dengan ritme tenang.

Tak jauh dari sana, Dr. Hadijah menghampiri Sertu Bima. Ia menunduk hormat, suaranya bergetar tulus.

" Sertu bima apa rencana anda selanjutnya setelasetelah mengantarkan kami ke Jakarta … .”

Bima menggeleng pelan.

“Saya akan kembali ke kesatuan saya di TNI AD . Plng dulu ke arhanud14 cirebon mengunjungi i istri dan buah hati saya yg baru 2 th , Bu.”

" Baiklah ,” jawab dr. Hadijah lembut. “Itu tugas seorang ayah .”

Bima menatap laut.

“Kita jaga sampai tujuan.”

Sore menjelang. Matahari condong ke barat. Laura kembali ke dek bersama Dr. Sandi.

“Setelah Jakarta?” tanya Laura.

“Kita amankan penyerahan. Lalu… hidup baru,” jawab Dr. Sandi. “Kau bebas memilih.”

Laura tersenyum kecil.

“Aku ingin belajar lagi. kuliah lagi sampai S3 ku selesai di Indonesia. Juga Membant negaraku bebas dari penindasan isriwil.”

Dr. Sandi mengangguk.

“Kau akan.”

Ia berdiri, menatap lurus ke cakrawala.

“Laura,” katanya serius. “Aku berjanji—apa pun yang terjadi, siapa pun yang datang—aku akan selalu melindungimu.”

Laura terdiam. Angin membawa kata-kata itu, menancap kuat.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Malam turun. Lampu-lampu feri menyala. Mereka makan malam sederhana, lalu beristirahat. Kabin sunyi. Ombak menjadi nina bobo. Satu per satu terlelap—nyenyak.

Namun jauh di dek atas, sepasang mata mengamati. Bayangan bergerak di balik pilar. Sebuah bisikan masuk ke radio kecil.

“Target aman. Tunggu waktu.”

Kapal terus melaju, memotong laut gelap—

membawa janji, harapan,

dan perjalanan panjang

yang belum usai

menuju Jakarta

Angin laut mengalir lembut di dek feri. Matahari mulai condong, memantulkan kilau keemasan di permukaan air. Setelah rangkaian bentrokan yang menguras tenaga, feri menjadi ruang jeda—seolah dunia memberi mereka napas panjang.

Laura berdiri di pagar dek, memandang jauh ke laut lepas. Dr. Sandi datang pelan, membawa dua cangkir minuman hangat.

“Pegang ini. Angin bisa menipu,” katanya.

Laura tersenyum tipis.

“Terima kasih, Dok.”

Beberapa meter dari mereka, Sertu Bima duduk bersama Eren yang wajahnya masih lebam. Mereka tertawa kecil, membagi roti dan nasi kotak. Dr. Hadijah berdiri di dekat mereka, menunduk hormat pada Bima.

“Terima kasih, Sertu,” ucapnya tulus. “Tanpa Anda… saya tak tahu bagaimana nasib anak saya.”

Bima menggeleng, sederhana.

“Itu tugas saya, Bu. Dan… kehormatan.”

Di kejauhan, sekawanan lumba-lumba muncul, melompat sejenak di sisi feri. Laura terkejut, matanya berbinar.

“Dok! Lihat!”

Dr. Sandi tersenyum—senyum yang jarang muncul di hari-hari penuh bahaya.

“Indah, ya. Laut selalu mengingatkan bahwa hidup tetap berjalan.”

Mereka terdiam sejenak, membiarkan momen itu tinggal.

Laura menarik napas.

“Dok… setelah kita tiba di Jakarta, aku akan menyerahkan flash disk itu.”

“Kepada Presiden Palestina,” sambung Dr. Sandi pelan.

Laura mengangguk.

“Beliau dan keluarganya mengungsi di sana. Data ini… bukan hanya formula. Ini harapan. Vaksin yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa anak-anak di kamp-kamp.”

Dr. Sandi menatapnya, serius.

“Kau sadar, sejak kau membawanya, dunia memburumu.”

“Aku tahu,” jawab Laura mantap. “Tapi aku tidak sendiri.”

Dr. Sandi terdiam sejenak, lalu berkata tegas,

“Aku berjanji. Selama napas ini ada, aku akan melindungimu. Apa pun yang terjadi.”

Laura menatapnya—jujur, tanpa ragu.

“Ada satu hal yang belum aku ceritakan.”

Ia membuka kalung kecil di lehernya. Dari balik liontin, ia mengeluarkan flash disk—kecil, polos, namun berat oleh makna.

“Data ini terenkripsi berlapis. Kunci terakhirnya… ada di memoriku. Kalau terjadi sesuatu padaku—”

“Tidak,” potong Dr. Sandi.

“Jangan lanjutkan.”

Laura tersenyum lembut.

“Aku harus jujur. Aku percaya padamu, Dok.”

Dr. Sandi menutup liontin itu dengan tangannya.

“Dengar aku. Kita akan sampai. Kau akan menyerahkannya sendiri. Dan aku—”

ia menatap lurus, suaranya mantap,

“—akan menjaga flash disk ini dengan nyawaku sampai berada di tangan Presiden Palestina.”

Laura menghela napas lega, air mata tipis berkilau.

“Terima kasih.”

Di belakang mereka, mesin feri berdengung stabil. Laut tenang—namun jauh di balik kaca gelap ruang kemudi, sepasang mata memperhatikan. Sunyi. Menghitung. Menunggu.

Bima berdiri, memandang horizon.

“Jakarta menunggu,” katanya.

Dr. Sandi menggenggam bahu Laura.

“Perjalanan masih panjang. Tapi kita melangkah bersama.”

Feri melaju, membelah laut.

Di atas dek—ada tawa kecil, janji yang diikat, dan harapan yang dijaga.

Di bawah permukaan—bahaya belum sepenuhnya pergi.

Dan kisah ini…

baru saja memulai bab yang lebih besar.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!