Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STALKING
Malam itu, Putra tak benar-benar menuruti perintah Salma. Buku dan semua materi pelajaran terbuka rapi di hadapannya, halaman demi halaman terlewati tanpa benar-benar ia baca. Matanya menatap teks, namun pikirannya melayang jauh.
Salma.
Nama itu terus berputar di kepalanya, mengusir rumus, definisi, dan catatan yang seharusnya ia hafalkan. Ia masih mengingat bagaimana sore itu berjalan—hujan, perjalanan pulang, dan suasana canggung yang tak biasa. Bukan hanya sentuhan yang ia pikirkan, melainkan kedekatan yang terasa ganjil, perhatian yang terlalu hangat untuk sekadar seorang guru.
Ada rasa gugup yang tak bisa ia jelaskan, perasaan asing yang membuat dadanya sesak jauh dari sekedar berhadapan langsung seperti biasanya dengan salah satu guru favoritnya ini.
Putra kemudian menutup bukunya perlahan sambil menghela napasnya panjang. Tangannya bergerak meraih ponsel di sampingnya. Layar akhirnya menyala, dan tanpa ragu ia membuka galeri. Jarinya berhenti pada satu foto—Salma.
Foto yang sengaja ia simpan, diambil dari unggahan lama, saat sang guru tersenyum sederhana, tak sedang mengajar, tak sedang menegur siapa pun. Tapi berdiri dengan pose yang jauh dari wibawa seorang guru—lebih santai dan anggun dengan balutan dress sederhana.
Ia menatapnya lama.
Ada sesuatu yang berdesir di dadanya, ada gejolak yang sulit ia pahami, ada campuran kagum tapi juga resah. Wajah itu terlihat tenang... dewasa.
Sementara itu,
Salma pun merasakan hal yang sama. Erwin jarang sekali memeluknya, bahkan menyentuhnya. Namun saat Putra dengan refleks melingkarkan jemari pada tubuhnya, sampai saat ini ia masih terus mengusap pinggulnya sendiri, seolah mencoba menghapus sisa getar yang tak kasatmata. Ia menarik napas panjang, menegakkan punggung, menertibkan hati. Apa yang ia rasakan bukan sesuatu yang boleh dibiarkan tumbuh. Itu hanya alarm, pengingat bahwa ia telah terlalu lama menekan kebutuhan emosionalnya sendiri.
"Enggak, Salma sadaaaar!" Gumamnya.
Ia kemudian menatap bingkai foto pernikahan di dinding. Wajahnya di sana tersenyum tenang, seakan menegurnya dengan lembut. Namun semakin ia membisu dalam keheningannya sendiri, perasaan itu justru membawanya semakin jauh.
Salma yang semula berbaring, kini duduk termangu di ranjang sambil merogoh sesuatu dari dalam tasnya, bukan hanya ponselnya melainkan...
Sebuah gelang yang tadi siang Putra berikan untuknya.
Salma masih ingat bagaimana cara Putra memberikan gelang itu untuknya, dihadapan semua murid dengan berani dan nampak begitu tulus.
Hening malam menjadi ruang yang terlalu luas untuk pikirannya, membiarkan kenangan dan kegelisahan berkelindan tanpa kendali. Ia menyadari ada bagian dari dirinya yang lelah—lelah berpura-pura kuat, lelah menerima jarak yang kian terasa dalam rumah tangganya.
Dan malam ini, perasaan itu menyeruak tanpa izin, menuntut untuk diakui, meski tak boleh diberi tempat. Bukan hanya karena sosok tertentu, melainkan karena kekosongan yang terlalu lama ia abaikan.
Sejak memasuki dunia remaja, Salma tidak pernah benar-benar merasakan seperti apa rasanya pacaran—kisah yang selalu terdengar sangat indah di sekitar, tapi tak pernah ia alami sendiri. Sekalinya ia memiliki perasaan terhadap seorang lelaki, cintanya pasti bertepuk sebelah tangan.
Dan ketika bersama Putra, ada sesuatu yang berbeda. Ia merasa seolah kembali ke masa lalu, ke waktu yang seharusnya ia lalui tapi terlewatkan.
Hati dan pikirannya terseret ke perasaan yang ringan namun membingungkan, antara kagum, penasaran, dan kehangatan yang tak biasa. Setiap percakapan, setiap tatapan, sekadar keberadaan Putra di dekatnya, menghadirkan nostalgia yang samar—seolah menumpuk kenangan yang tak pernah ia punya, tapi kini terasa nyata.
Salma kemudian menyalakan ponselnya. Setelah ragu sejenak, ia membuka aplikasi Instagram dan mengetik nama Putra Pradipta di kolom pencarian. Ada. Sebuah akun muncul, dengan foto profil yang diambil dari kejauhan—sosok membelakangi kamera, namun entah mengapa terasa familiar.
Ia lalu membukanya.
Beranda Putra terbuka, menampilkan deretan foto kegiatan yang tak pernah ia duga. Beberapa unggahan memperlihatkan Putra di pusat kebugaran—bukan dengan gaya pamer, melainkan potret-potret singkat latihan, keringat, dan rutinitas yang disiplin.
Salma menghela napas pelan.
Pantas saja tubuhnya tegap. Batinnya tanpa sadar. Ternyata hobinya gym.
Rasa penasaran itu merambat perlahan, membuat jarinya terus menggulir layar ke bawah. Di sela-sela unggahan olahraga, ada foto-foto lain—Putra bersama beberapa temannya tengah mendaki gunung. Langit pagi yang pucat, jalur setapak berbatu, tenda sederhana di tengah kabut. Senyum-senyum lelah namun jujur tertangkap kamera, memperlihatkan sisi Putra yang jauh dari kesan murid mengesalkan di kelas.
Salma terdiam. Ada kedewasaan sunyi di foto-foto itu, ketekunan yang tak pernah ia lihat secara utuh selama ini. Ia pun menyadari sesuatu, Putra bukan sekadar anak yang sering ia tegur, melainkan seorang remaja dengan dunianya sendiri, minatnya sendiri, perjuangannya sendiri.
"Putra..." Lirihnya sendiri. "Kalau di lihat... tampan juga."
Detik berikutnya, ia menggeleng keras. "Enggak!"
"Ya ampun... apa-apaan si aku ini?! Sadar Salmaaaaa! Tapi pleaseee, sikap Putra bikin aku melting. Ya ampuuuun!"
Salma mengutuk diri di tempatnya. Ia menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar. Sungguh, ada rasa menyenangkan sekaligus menakutkan. Menyenangkan karena menghadirkan kesegaran dalam hidupnya yang monoton, menakutkan karena ia tahu batas yang harus ia jaga.
Namun, di dalam diam malam itu, Salma menyadari satu hal, hatinya kini sedang terseret ke masa yang tak pernah ia rasakan dulu, ke dunia yang seharusnya hanya bisa ia kenang dari jauh.
****