NovelToon NovelToon
Villainess Want To Survive

Villainess Want To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Slice of Life / Action / Epik Petualangan / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:820
Nilai: 5
Nama Author: DancingCorn

Ketika aku membuka mata, aku tiba di tempat yang tidak ku kenal.

Cukup yakin, ini novel yang pernah aku baca.

[Freedom The Continent]

[Freedom The Continent] adalah novel yang berpusat pada petualangan beberapa karakter dalam perjalanan mereka membebaskan benua dari kegelapan.

Ada dua tokoh sentral dalam cerita ini. Seorang mage wanita yang diangkut dari dunia lain dan seorang pendekar pedang yang terlahir kembali.

Tapi cukup, abaikan tentang mereka.

Karena aku tidak datang ke dunia ini menjadi salah satu dari mereka!

Aku menjadi bagian dari novel itu sebagai seorang penjahat kejam, mantan tunangan pangeran yang telah diasingkan!

Bahkan namaku hanya muncul beberapa baris dalam paragraf novel itu.

Tipikal Novel abad pertengahan, dimana gadis biasa menjadi saint, dinikahkan dengan pangeran dan mantan tunangan sang pangeran—seorang putri Duke yang menjadi penjahat untuk mendorong perkembangan cinta mereka.

Dan aku, adalah penjahat itu.

"... sial, ini mengerikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 - Dungeon (3)

Di Villa yang tertutup pelindung sihir. Gailian berdiri di atas menara. Dia bisa melihat tujuh orang, pria dan wanita mencoba menghancurkan pelindung. Gailian menyipitkan mata dan melemparkan belati pada pelindung transparan di dekatnya.

Tiinkkk

Suara belati memantul kembali membuat Gailian semakin menyipit.

"Nona, apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan."

Dibawah. Irene dengan santai menemui tujuh orang yang sedang bersama dibalik pelindung.

Dua orang diantaranya berdiam diri dan menganalisa struktur pelindung. Sementara lima lainnya menggunakan senjata yang berbeda-beda membebankan kekuatan mereka pada pelindung.

"AAAAARRGGHH..."

Seorang pria berteriak kesal ketika palu raksasa yang dia gunakan memantul kembali. Dia sudah membebankan semua kekuatannya namun tidak terjadi apa-apa. Tindakannya sangat cepat, dia tidak menyerah dan kembali memukulkan palu berulang kali namun dia hanya mendapatkan hasil yang sama. Palu itu memantul kembali tanpa meninggalkan sisa.

Di sebelahnya, seorang penyihir menggunakan tongkatnya. Lantunan mantra keluar dari mulutnya yang bergerak sangat cepat. Sebelum mulutnya tertutup, sebuah lingkaran sihir raksasa terbentuk.

Crack...

Lingkaran sihir yang dia ciptakan di atas pelindung kembali hancur. Entah sudah berapa kali, tapi penyihir itu tidak terlihat menyerah sama sekali. Bahkan jika wajahnya mulai berubah pucat, dia masih melakukannya.

Wajahnya yang cantik mengerut pucat. Dia mengabaikan itu. Dia menghela nafas perlahan sebelum mempersiapkan sihir lainnya.

Sementara itu, dua orang ahli pedang dan seorang pengguna tombak. Membebankan seluruh kekuatan mereka pada pelindung.

Mereka terus menggunakan apa yang mereka miliki untuk menghancurkan pelindung yang menyelimuti Villa. Bahkan jika mereka berkeringat deras, gemetaran, berdarah. Tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.

Mereka sadar, kekuatan mereka yang bisa menghilangkan sebuah kerajaan ini tidak berguna untuk pelindung itu. Mereka sangat sadar semuanya sia-sia.

Namun mereka tidak bisa berhenti, mereka tidak mau berhenti.

"Hentikan. Sia-sia saja kalian lakukan ini."

"Irene?!"

Ada tatapan sengit diantara Irene dan seorang pria tinggi dan kekar.

Dia adalah orang yang menggunakan palu raksasa. Irene memegang dua belati ditangannya saat pria itu melirik tajam padanya.

Tidak ada satupun dari mereka yang menyerah saat mata mereka bertemu.

Wajah Irene berubah menjadi senyum sinis. Jika pelindung ini lenyap, mereka mungkin langsung bertarung.

"Tenanglah, Fili. Irene benar."

Seorang pria berkacamata mundur dari dekat Shield. Orang lain segera menimpalinya.

"Sebuah Holly Shield raksasa dengan ukiran sihir kuno. Sungguh sangat menarik. Mungkin Paragon yang membuatnya."

"Kau gila?! Penyihir level Paragon itu mirip dengan naga kuno!"

Irene kembali tenang. Wajahnya menjadi ekspresi ketidakpedulian. Sikapnya juga menjadi seperti seorang pelayan baik alih-alih pembunuh.

Tapi jika ada yang melihatnya lebih dekat, mereka bisa tahu Irene mengepalkan belati ditangannya lebih erat.

"An, lama tidak bertemu."

"Begitu juga denganmu, Rene."

Mereka baru saja melakukan kontak. Benjamin kemudian berdiri disebelah Irene. Dia mengangguk ketika matanya bertemu dengan mata mereka. Tapi ada satu yang berbeda.

"Rene. Kalau begitu jelaskan. Jelaskan mengapa Manik milik Clae tiba-tiba hancur. Mengapa ada penghalang sialan ini?! APA SIH YANG TERJADI!!"

"BENJAMIN, BUKANKAH KAU SEHARUSNYA BISA MELINDUNGINYA. KAU SEHARUSNYA BISA MELAKUKAN ITU."

Salah satu pengguna pedang berteriak ketika dia melihat Benjamin yang hanya diam dan berdiri tenang.

Dia sadar dia hanya mengeluarkan emosinya, tidak benar-benar memarahi Benjamin.

Karena terbawa emosinya, dia bahkan tidak melihat dengan jelas Benjamin memiliki memar di salah satu pipinya. Tangan kiri Benjamin juga tergantung begitu saja, seperti patah tidak bisa digunakan.

Penyihir disebelah pendekar pedang menekan kepala pengguna pedang hingga menunduk. Ingin meredam amarahnya.

Tapi pendekar pedang itu keras kepala. Dia tidak menunduk. Dia menatap Benjamin dengan penuh kebencian.

Manik. Benjamin menyentuh lehernya. Tempat kalung dengan liontin mutiara biru muda miliknya tergantung.

Sekarang, liontin itu tidak ada. Hilang menjadi debu bersama angin.

Manik merupakan permata khusus.

Permata itu hanya dapat ditemukan di Palung terdalam samudera. Tempat para Shiren dan Suku Paus tinggal. Dikatakan bahwa Manik didapatkan dari Kerang Ostrinio yang langka.

Manik berfungsi sebagai manifestasi dari hidup seseorang, menunjukkan apakah seseorang masih hidup atau tidak.

Kecuali orang itu mati atau hilang ke tempat yang tidak bisa dicapai, Manik tidak akan hancur. Bahkan jika seseorang sekarat, Manik hanya akan retak, tidak akan hancur.

Manik yang retak atau rusak masih bisa diperbaiki selama orang tersebut hidup kembali. Namun Manik yang hancur......

Orang-orang ini memiliki Manik masing-masing.

Semua Manik mereka ada di tangan Clae. Dan masing-masing dari mereka memegang Manik Clae. Meski Clae sempat menolak, dia akhirnya setuju setelah mereka membuat persyaratan.

Syarat itu adalah memberi Manik ke yang lain untuk mengetahui kondisi satu sama lain.

Jika ada satu yang kesulitan, yang lain harus membantu. Clae juga akan datang pada mereka.

Mereka yang memiliki Manik, juga saling bertukar Manik adalah tujuh orang yang ada diluar penghalang, Gailian, Benjamin, Irene, dan beberapa orang dikediaman utama Duke.

Cara membuat Manik memiliki pemilik sangat sederhana.

Cukup letakkan sehelai rambut darah di atasnya, maka Manik akan berubah warna sesuai rambut orang tersebut.

Saat itu Clae yang harus membuat 20 lebih Manik menolak dengan kuat. Clae takut dia akan botak!

Clae masalah dengan rasa sakit, bersembunyi, kejar-kejaran dan semacamnya.

Ingatan itu, ingatan yang sangat berharga bagi mereka semua.

Namun Manik milik Clae tiba-tiba hancur. Itu berubah menjadi debu. Tidak tersisa dibawa angin.

Setelah mengetahui ini, mereka menghubungi satu sama lain hanya untuk mengetahui hal yang sama terjadi di pihak yang lainnya.

Dengan segera, mereka menempuh perjalanan untuk kembali ke kediaman Clae. Mereka sampai bersamaan sesaat sebelum siang. Tapi mereka tidak menyangka, perjalanan jauh mereka disambut penghalang transparan yang menutup seluruh Villa.

Mereka sudah mencari celah pada pelindung, tapi tidak ada. Menggali tanah juga tidak berhasil. Ditambah, sesaat setelah mereka sampai, mereka tahu nafas Clae tidak bisa ditemukan di manapun.

Pendekar pedang masih menatap pada Benjamin. Tapi tidak lama mata pendekar pedang sedikit terkejut sebelum kembali normal. Ketika dia fokus pada Benjamin, dia akhirnya melihat seluruh tubuhnya.

Dia tidak menyangka, Benjamin, orang yang kekuatannya berada di urutan ketiga dari mereka semua akan mengalami luka semacam itu di wajah dan tangannya.

"EIN!!"

Ein, pendekar pedang itu kembali dari keadaan linglung. Dia membuang muka dari Benjamin.

Bukan hanya mereka yang mengalami kesedihan.

Gailian, Benjamin dan Irene yang ada di dekat Clae mungkin merasakan lebih banyak kesedihan daripada mereka yang datang dari jauh.

"Baiklah, baiklah. Terserah saja."

Pengguna pedang memasukan pedangnya kembali. Dia bisa merasakan teman-temannya melakukan hal yang sama. Kini mereka saling berhadapan dengan Irene dan Benjamin tanpa membawa apapun.

"Nona memintaku untuk percaya padanya. Menunggu sampai matahari terbenam."

Kalimat itu seperti air yang memadamkan kobaran api.

Diam. Semua orang tiba-tiba tenang.

Harus diakui, alasan Benjamin membiarkan ini terjadi karena sebuah kepercayaan bukanlah kesalahannya.

Mereka semua, khususnya Gailian, Benjamin dan Irene, sudah menunggu 7 tahun lebih untuk ini.

"Tuan."

Seorang pria dengan pakaian hitam menutupi tubuhnya muncul di dekat Irene dan Benjamin tanpa peringatan.

Pria lain yang menggunakan pedang melihatnya. Kacamatanya yang bulat berkilau terkena sinar matahari. Dia mengangguk menjawab pria itu.

Pria itu tidak menunda. Dia menjelaskan semua yang sudah terjadi selama tiga hari terakhir padanya.

"Gadis itu, hal aneh apa lagi yang ingin dia lakukan. Apakah dia lelah bermain sebagai sampah."

"Carl, diam."

Carl, itu adalah nama pria dengan kacamata. Dia melihat Benjamin yang memandangnya.

Ini kebiasaan lama mereka. Bahkan jika mereka seumuran, lebih tua, atau lebih muda, mereka semua akan selalu memperlakukan Clae sebagai anak-anak.

Namun, bagi Irene dan Benjamin yang bekerja di kediaman. Mereka mulai mengubah kebiasaan itu. Benjamin dan Carl saling memandang. Carl membuang muka pertama.

Dia merasa sedikit terlalu jauh.

Tapi perasaan mereka tidak bisa dibohongi.

Bahkan jika mereka tidak ada di dekat Clae. Mereka masih menunggu Clae untuk bergantung pada mereka.

Kepercayaan.

Sebuah kata yang sangat penting bagi mereka. Kata abstrak itu, mereka sudah menunggunya begitu lama.

Sreetch, Braakk.

Pria kekar itu, Fili, mulai duduk dan bersandar pada pelindung. Dia memejamkan mata seolah tidak peduli apapun.

"Aku akan menunggu disini."

Pendekar pedang Ein dan yang lainnya juga duduk di sana. Annie tersenyum lembut sebelum menatap Irene. Irene melihat masing-masing dari mereka dengan jijik dan dingin di matanya.

"Baiklah, sepertinya kami juga akan menunggunya disini."

"Ka-kamu, kalian!!!"

Irene menunjuk masing-masing dari mereka dengan jari. Wajahnya kesal, namun matanya merah.

Benjamin meletakkan tangannya yang bebas ke bahu Irene. Benjamin bisa melihat Irene memiliki mata merah ingin menangis.

Adiknya, Irene, sebenarnya adalah orang yang berhati lembut. Dia hanya selalu menyembunyikan itu dibalik wajahnya yang suram.

Irene menghembuskan nafas berulangkali sebelum dia mengendalikan dirinya.

"Permisi, Tuan-tuan, Nona-nona. Apakah kalian melupakan organisasi yang kalian jalankan. Sebagai seorang ketua......"

"Rene."

Irene dan Fili saling melihat. Dia bisa melihat Fili memiliki senyum kecil di mulutnya.

"Jangan khawatir."

"Terserah... Dasar barbar..."

Irene berbalik dengan canggung. Dia melangkah cepat kembali ke Villa.

Mereka semua memiliki ikatan yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu mereka saling bertengkar. Tapi, itu juga yang membuat mereka saling mempercayai dan mendukung. Dan yang mereka lakukan saat ini, hanya karena satu hal.

Clae, nona yang mereka kenal mungkin sudah kembali.

1
ellyna munfasya
UPP lagi thorr😤
Panda
titip jejak kak nanti dibaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!