Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Motor Samuel melaju membelah malam, membawa Astra menuju sebuah kompleks perumahan yang megah. Gerbang tinggi dengan ukiran klasik, dijaga ketat oleh petugas keamanan berseragam rapi, menjadi penanda pertama kemewahan yang tak biasa. Jalanan di dalamnya beraspal mulus, diapit taman-taman asri dengan lampu-lampu taman temaram yang memancarkan cahaya hangat.
Rumah-rumah di sana berdiri kokoh dengan arsitektur modern minimalis hingga klasik Eropa, masing-masing memiliki halaman luas dan mobil-mobil mewah terparkir rapi. Ini bukan sekadar perumahan, ini adalah enclave bagi para konglomerat.
Astra menoleh ke arah Samuel, sedikit terheran. Ia tidak tahu bagaimana Samuel bisa memiliki akses untuk masuk ke kompleks perumahan elit seperti ini.
Samuel, dengan motor sportnya, tampak begitu santai melintasi gerbang tanpa hambatan. Astra memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Astra mengetik sesuatu di nomor Anya, setelah itu dia menutup room chat nya.
Setibanya di koordinat yang Anya berikan, Samuel menghentikan motornya di depan sebuah rumah besar bergaya modern dengan fasad kaca yang elegan. Pintu rumah terbuka sebelum Astra sempat menekan bel rumah. Pintu rumah sudah terbuka.
"Masuk," ucap Anya dengan nada sopan terkesan hormat. Astra masuk dan Samuel mengikuti dari belakang tubuhnya.
Di ruang tengah rumah, beberapa orang terlihat berkumpul di sana. Ada dua orang pria dan dua orang wanita dewasa setengah baya, lalu ada Bastian, dan seseorang kakek tua duduk di kursi roda yang sepertinya terkena struk.
"Apakah sudah datang?" Dari arah tangga terdengar suara wanita lain yang berumur tidak jauh dari kedua wanita dewasa setengah baya lainnya dan seorang pria yang tidak berbeda dengan pria lainnya.
Atensi mereka bukan pada Astra, melainkan pada Samuel di belakang Astra.
"Samuel? Kenapa kamu di sini?" Tanya Antonio, dan pandangan yang lain pun tertuju pada Samuel.
"Saya hanya mengantarkan Astra saja," ucapnya singkat lalu menatap ke arah kosong seolah tidak ingin di ajak bicara lagi.
Anya sendiri baru sadar jika Samuel berada di belakang Astra, namun bagaimana bisa Samuel mengantarkan Anya? Laki-laki gila-- maksudnya dingin ini kan sangat tidak tersentuh?
"Eh?" Mendengar nama Astra, Antonio dan Emily merasa tidak asing dengan nama itu. Setelah berpikir beberapa detik, mereka akhirnya ingat jika Astra adalah... Orang yang sebelumnya nya akan menjadi korban Greta.
"Astra--"
"Om, Tante, ini Astra... Temen kelas yang Anya ceritain." Ucapnya Anya pada Antonio dan Emily.
"Astra, ini Om Antonio dan Tante Emily. Orang tua Greta, ini Orang tua gue, orang tua Bastian dan Kakek gue." Anya memperkenalkan semuanya.
Astra mengangguk, namun tatapan nya pada Kakek tua di atas kursi roda itu bertahan lebih dari dua detik dari tatapan nya pada anggota keluarga lain. Di antara semuanya yang tidak menyadari, Samuel menyadarinya dan merasa ada sesuatu.
Samuel pikir sampai sekarang dia cukup mengenal orang seperti apa Astra itu, dan itu membuat nya sangat bersemangat dengan aksi yang akan di lakukan gadis itu.
"O-ooo... Jadi ini Astra," ucap Antonio.
Mereka tidak menyangka, seseorang yang Anya dan Bastian katakan itu adalah seorang gadis yang masih SMA. Namun mengingat sangkut pautnya dia dengan Greta, bahkan dia selamat dan baik-baik saja. Maka mereka memiliki harapan kepadanya, terlebih dia dari desa Sulo.
"Ayo kita lihat keadaan Greta," ajak Astra dan semuanya mengangguk.
"Kalian ikut gak akan ada gunanya, malah mungkin bisa nyusahin kalo Greta tiba-tiba mengamuk." Ucap Samuel tiba-tiba, membuat yang lainnya terdiam.
Astra mengerutkan keningnya, 'kenapa cowok ini bisa bicara nggak sopan gitu sama mereka?'
Samuel duduk di sofa di sana dengan santai. 'dan kenapa gak ada yang ngebantah atau nasihatin dia!'
"Yaaahh... Sepertinya benar yang di katakan Samuel, kita tidak akan banyak membantu. Jadi kita menunggu saja di sini..." Ucap Ayah Anya dan di setujui dengan canggung oleh Ayah Bastian.
"Baiklah, kalo begitu. Kami ke atas," Ucap Antonio.
Anya dan Bastian tetap ikut, Astra berada di tengah-tengah di antara depan orang tua Greta dan belakang Anya dan Bastian. Samuel senyum tipis lalu menyusul naik ke atas.
Astra pikir Samuel memiliki identitas lebih tinggi dari mereka, jadi itulah sebabnya Samuel berbicara seperti itu pun tidak ada yang berani membalas.
***
Info apk atau web yang bisa Uji Try out gratis buat belajar SNBT~
Author: Apasih itu namanya?
Readers: adalah pokoknya
Kalo jawab gitu author tampiling ya!!! 😒
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶