Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Orang Ke Tiga
"Entahlah, Tuan. Aku tidak tahu."
"Coba cari tahu. CCTV di bandara bagaimana? Sudah diperbaiki?"
"Belum selesai, Tuan. Nanti Saya kabari kalau sudah selesai."
"Pastikan jangan ceritakan ini pada siapa pun. Bahkan pada keluargamu sekalipun. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan."
Vivianna yang mengintip dari tadi di balik pintu, segera menutupnya pelan. Ia bergegas ke kamar dan membuka ponselnya. "Sayang, apa kamu tidak tahu apa pun tentang hilangnya Alessandro?"
"Justru aku tidak tahu, siapa yang menyabotase di tengah-tengah ini. Pasti ada orang ketiga. Aku sudah bilang padamu, ada orang lain lagi dan bukan dari pihak Adrian yang menggagalkan semua usahaku. Aku takut, orang ini juga tahu siapa aku. Untuk sementara, kita jangan berhubungan dulu!"
"Lalu, kalau aku rindu, aku harus bagaimana?" Vivianna tampak merengut.
"Kalau kamu ingin anak kita menduduki tahta Fiore, kamu harus bersabar."
Vivianna menghela napas panjang. Wajahnya terlihat kecewa. "Ya sudah."
"Ok, sampai sini dulu. Kalau ada informasi penting saja, kamu baru boleh menghubungiku. Kecuali aku menghubungimu lebih dulu."
Sambungan telepon pun terputus begitu saja. Vivianna harus bersabar mulai sekarang. Entah sampai kapan.
***
"Mas, itu 'kan gak boleh?" Lana menatap suaminya yang berdiri di depan pintu kamar Sophie.
"Ini satu-satunya cara kita tahu siapa dia. Bisa saja orang yang terlihat baik ternyata sebenarnya dialah yang ingin mengambil keuntungan dari kita."
Mata Lana membola. "Masa?"
"Karena itu, kita harus periksa kamarnya." Fian meraih pegangan pintu dan mulai menekannya. Ternyata pintu kamar itu terbuka. "Lho, tidak dikunci?"
"Mas, ini kamar Sophie. Kita telah melanggar privasinya. Kenapa kita harus mencurigainya, Mas?"
Fian menoleh ke belakang. "Bagaimana kalau ledakan di bandara yang menghancurkan mobil itu karena ulahnya? Dia menjebak kira agar masuk perangkapnya."
"Masa sih?" Lana mengerut dahi.
"Ck, udah sini! Kamu ikut aku. Kita periksa kamarnya." Fian memanggil dengan tangannya.
"Tapi, Mas ...." Lana enggan. Rasanya tidak mungkin Sophie berniat jahat pada mereka.
"Ck, ayo!" Dahi Fian berkerut dengan mata elang menyorot tajam pada istrinya. "Kamu harus patuh sama suami!"
"Ya, tapi aku boleh menentang dong, kalo suami mengajak pada kejahatan." Walau pun begitu, Lana tetap mendatangi Fian.
"Sini!" Fian menarik pinggang ramping istrinya dengan tiba-tiba membuat Lana terkejut. Ia menyentuh hidung mungil istrinya dengan lembut. "Aku melakukan ini juga untuk melindungimu, kelinci jelek!"
"Kembali nama itu lagi ... kenapa dia ingat lagi panggilan itu sih. Apa maksudnya?"
Fian membuka lebar pintu hingga terlihat isi di dalamnya. Kamar itu begitu rapi di tata. Hampir tidak ada barang yang diletakkan di luar. "Ayo kita periksa. Usahakan, setelah diperiksa, diletakkan lagi ditempatkan semula, mengerti?"
Di tempat lain, Sophie tengah melangkah di sebuah koridor panjang sebuah gedung yang tampak besar dengan langit-langit yang tinggi. Ia memakai rok panjang yang lebar dan jas dengan bahan yang sama berwarna abu-abu.
Tiba-tiba terdengar bunyi alarm peringatan yang tidak terlalu keras. Ia meluruskan tangan kanan, lalu melipatnya. Terlihat sebuah jam tangan besar yang melingkar di pergelangan tangannya. Sekali tekan, gambar jarum jam berubah menjadi sebuah layar. Ia melihat kamarnya dimasuki Fian dan Lana. Walaupun masih tetap melangkah, ia tersenyum melihat kedua orang itu tengah membongkar kamarnya. "Cari saja sampai puas. Kalian tidak akan menemukan apa pun kecuali yang keluar dari mulutku." Ia tersenyum lebar.
Sophie mematikan layar dan kembali menatap ke depan. Di depannya kini berdiri tegak sebuah pintu. Setelah mengetuk, ia masuk ke dalam.
***
Adrian menatap pendant di tangan. Pendant dan kalung dari emas yang hanya dibuat dua buah di dunia, kini salah satunya ada padanya. Barang itu diukir dan dipesan khusus untuk orang yang dicintainya. Setiap kali ia melihat benda ini, ia tak kuasa ingin menangis. Kenapa dunia begitu tidak adil? Ia bisa menguasai semua bisnis yang berjalan di Itali tapi kenapa menyelamatkan keluarga sendiri saja, tidak bisa? Ironis. Namun, nyata. Selama bertahun-tahun ia mencari keluarganya yang masih tersisa, kenapa begitu sulit?
"Sayang ...." Vivianna yang masuk ke dalam ruang kerja, tidak disadari Adrian.
Pria itu kaget hingga menyembunyikan pendant itu di kantong jasnya.
"Adrian. Kalung itu lagi?"
"Ini peninggalan yang masih kumiliki." Adrian yang berdiri membelakangi istrinya, mengerjap-ngerjapkan mata agar air matanya tak jadi keluar.
Vivianna memeluk tubuh besar suaminya dari belakang. "Apa tidak ada yang bisa aku bantu?" Ia menyandarkan kepalanya di punggung sang suami pelan.
"Sudahlah. Sudah malam, Vivianna. Kamu cepat tidur. Aku sedang menunggu laporan bawahanku."
"Bagaimana kalau mereka tak bisa menyelesaikannya malam ini? Apa tidak bisa kamu tidur duluan?" Wanita itu mendekap dengan hangat, sang suami.
"Baiklah." Adrian menurut. Ia meletakkan kalung itu dalam sebuah kotak berwarna hitam dan menyimpannya di laci meja kerjanya. "Ayo, kita tidur."
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan Eugine menerobos masuk. Ia terkejut melihat Adrian tengah bersama dengan istrinya. "Eh, maaf, Tuan." Ia menundukkan kepala. "Tapi aku membawa hasil dari CCTV bandara yang telah diperbaiki."
"Ah, bagus!" Adrian menoleh pada istrinya. "Maaf, Vivianna. Sepertinya kamu tidur lebih dulu karena pekerjaanku telah menunggu."
"Oke." Vivianna pergi dengan setengah hati. Ia juga sebenarnya penasaran dengan isi CCTV yang dibawa Eugine, tapi apa daya. Ia harus pergi. Setelah ia keluar, pintu kamar itu pun dikunci. Ia mendengus kesal.
Adrian memperhatikan video di layar laptopnya dengan seksama. Namun, sangat sulit. Asap bekas ledakan dan serpihan reruntuhan bangunan membuat gambarnya jadi tidak jelas. Apalagi sudut tempat CCTV itu kurang menguntungkan. Di pasang di dinding atas toilet mengarah ke jalan. Hanya kejadian mobil datang dan meledak saja yang terekam sedang Fian yang masuk ke toilet bersama Lana, tidak ada kelanjutannya. Berarti keduanya pergi ke arah samping di mana CCTV tidak bisa menangkap ke arah mana perginya mereka.
Adrian memukkul meja dengan telapak tangannya dengan keras. Ia begitu geram. "Sepertinya orang yang menculik anakku, dia sangat tahu bagaimana caranya menghindar dari CCTV." Pria paruh baya itu kembali mengulang video itu. Ia melihat Fian dan berusaha memperbesar gambar. Sayang Fian saat itu memakai kacamata hitam hingga sulit mengenal wajahnya. Padahal Adrian ingin sekali melihat wajah sang anak.
Lalu, ia melihat Lana. "Siapa perempuan berkerudung ini. Apa ini istrinya?" Pria itu menunjuk pada layar.
"Setahu Saya, istrinya model terkenal Lynda La Lune, sekarang mungkin ada di Prancis. Dia tidak ikut karena harus bekerja. Kalau soal wanita ini aku tidak tahu."
"Syukurlah. Jadi anakku tidak ikut agama yang aneh-aneh." Adrian mendengus kesal. "Oya, apa ada CCTV lain misalnya di toilet?"
"Justru di toilet tidak ada CCTV-nya, Tuan, karena tahun lalu pernah diprotes para pengguna wanita karena merasa kehilangan ruang privasinya."
Adrian menghela napas panjang. Jadi siapa sebenarnya yang telah menculik anaknya itu? Ia berpikir sebentar. "Apa mungkin dia melarikan diri? Tapi rasanya tak mungkin."
Eugine terdiam. Kemungkinan itu ada karena ia ingat Fian sempat menolak ajakannya.
"Tapi ada bagusnya juga, dia tidak masuk ke mobil itu. Kalau tidak, tak terbayang hidupku tanpa Alessandro." Tiba-tiba Adrian menoleh dengan bola mata melebar. "Tunggu! Orang yang memasang bom di mobil milikku, pasti orang yang berbeda dengan yang menculik Alessandro, kan? Siapa dia? Apa yang menculik anakku adalah orang yang sama dengan yang sering mengirimiku surat kaleng?"
Bersambung ....