"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Insiden
"Kau ini manja sekali."
Kalendra tersenyum miring. Kepalanya tertunduk, menatap lucu sang istri yang mendumel kecil, kala perempuan itu memasangkan dasi miliknya dengan raut terpaksa.
Dengan satu tarikan, Kalendra raih pinggang Kanaya semakin mendekat. Mencuri satu kecupan pada bibir mungil yang terus menggerutu itu. Membuat sang empu memekik kesal.
"Kau semakin lancang ya?" ketus Kanaya, meskipun begitu Kalendra dapat melihat pipi istrinya yang memerah samar.
"Apa kau lupa, Kanaya? Majikan bebas melakukan apa saja kepada peliharaannya."
Dia mulai lagi....
Karena perbedaan tinggi mereka, Kanaya harus mendongak ketika ingin menatap wajah dingin Kalendra. Matanya menyipit tak suka bersamaan dengan kerutan pada keningnya.
"Kenapa kau suka sekali menyebutku sebagai peliharaan. Aku tidak suka mendengarnya!"
Satu sudut bibir Kalendra tertarik ke atas. Laki-laki itu sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Kanaya. Setelahnya, dia capit dagu istrinya itu dan menggoyangkan pelan.
"Karena kau adalah tikus kecilku."
Kalendra ingin menegakkan badannya, namun belum sempat terealisasikan, Kanaya sudah menarik dasi yang tadi dipasangnya. Membuat Kalendra mau tau mau bertahan pada posisi semula.
"Aku bukan tikus!" tukas Kanaya semakin kesal.
"Ohh, ya?" bibir Kalendra tersungging mengejek, lalu, "Tapi badanmu kecil, seperti tikus."
"Cih, daripada kau, badanmu sangat besar seperti hulk." balas Kanaya tak mau kalah.
Kalendra mengeluarkan tawa kecilnya. Ia mainkan lidahnya di dalam rongga mulut. "Jika begitu, akan lebih mudah bagiku untuk meremukkan tubuh kecilmu ini."
Kanaya menggertakkan gigi. Ia dorong Kalendra dengan hidungnya yang kembang kempis menahan emosi.
"Dasar kejam!"
"Well, ini bukan pertama kali aku mendengarnya." jawab Kalendra acuh. Tak merasa tersinggung dengan ucapan sang istri.
Kanaya melengos. Bersedekap dada, perempuan itu berujar, "Sebaiknya, kau cepat berangkat ke kantor. Berada di dekatmu membuatku sesak."
"Sesak? Seperti...semalam? Saat bibir kita saling menyatu, begitu?"
Kalendra sialan!
.
.
"Nyonya, anda mau kemana?"
Kanaya menghentikan langkahnya. Menoleh pada sumber suara, dapat dia lihat Ami yang sedang membersihkan rak yang berada di ruang utama.
"Keluar. Di rumah sepanjang hari, membuatku jenuh."
Kanaya berpikir, dia perlu mengistirahatkan pikirannya dari alur novel yang semakin melenceng. Lagipula, sejak jiwanya terperangkap di sini, dia belum pernah bersenang-senang. Kalendra kan kaya. Jadi, akan Kanaya hamburkan uang suaminya itu sebelum dia diceraikan.
Memang, sampai saat ini Kalendra belum menunjukkan ketertarikan pada Zana. Tapi, siapa yang tahu jika protagonis pria itu hanya berpura-pura. Kalendra adalah orang yang menjunjung tinggi harga dirinya. Berselingkuh secara terang-terangan sama saja dengan mengais lubang untuk dirinya sendiri.
Ibarat kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Kanaya hanya tidak mau terlena dan berujung kecewa.
"Sudah minta ijin dengan Tuan Kalendra?"
Kanaya menyipitkan matanya bingung. "Memang harus?" ujarnya sembari menggaruk pipinya yang sebenarnya tak gatal.
Ami tersenyum simpul. Wanita paruh baya itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Menurut Nyonya bagaiamana?"
"Bagaiamana seharusnya sikap perempuan yang sudah menikah saat dia ingin berpergian tanpa suaminya?"
"Eumm, aku---
"Nyonya, dalam sebuah hubungan, komunikasi itu penting. Selain itu, dengan kita mengabari pasangan kita, itu bisa menjadi bentuk saling menghargai dan mempererat hubungan."
Masalahnya, rumah tangganya tidak seperti pada rumah tangga pada umumnya.
"Tapi, Bi Ami tahu sendiri seperti apa Kalendra. Dia tidak akan memberikan aku ijin!" dengus Kanaya. Ia poutkan bibirnya cemberut.
Ami tersenyum geli. Terkadang, majikannya ini sangat menggemaskan. "Nyonya belum mencobanya, tapi sudah berprasangka buruk."
"Jika tetap tidak diberikan ijin, bagaimana?"
"Mungkin, Nyonya bisa....merayunya?" usul Ami yang membuat Kanaya melototkan matanya.
"Apa?!"
Sungguh, Kanaya tidak percaya dengan apa yang baru saja Ami katakan. Merayu Kalendra? Maksudnya--- merayu yang....seperti---
"Nyonya salah paham. Maksud saya bukan merayu yang itu." sela Ami yang menyadari kemana arah pemikiran majikannya. Lantas, wanita paruh baya itu menggeleng pelan dengan senyum tertahan.
"Bilang kepada Tuan Kalendra, Nyonya ingin berkunjung ke kantor. Mungkin, anda juga bisa membawakan makan siang. Saya jamin, Tuan Kalendra akan langsung mengiyakan apapun permintaan Nyonya."
Kanaya menggaruk rambutnya yang sudah tertata rapi. "Memang, iya?"
"Jika tidak percaya, anda bisa membuktikannya."
Mata Kanaya memicing, namun karena penasaran, akhinya dia menuruti saran dari Ami. Mengeluarkan ponselnya dari tas, ia dial nomor suaminya, lantas mendekatkan benda pipih bersegi panjang itu ke telinga.
Cukup lama Kanaya menunggu balasan. Ia kira Kalendra tidak akan mengangkat panggilannya. Ck, sial. Dia sudah menurunkan rasa gengsinya dengan menelpon laki-laki itu, tapi lihatlah balasannya. Lihat saja, akan Kanaya beri pelajaran---
"Halo."
Ehhh??
"Kanaya?"
Mendadak istri Kalendra itu menjadi gugup. Berdehem pelan, ia utarakan tujuannya menelpon sang suami.
"Aku ingin keluar."
Lama Kanaya menunggu jawaban. Kakinya mengetuk lantai tak sabaran.
"Kemana?"
Kanaya mendengus. Menjawab satu kata saja lamanya minta ampun.
"Jalan-jalan. Ke mall. Aku ingin berbelanja."
"Tidak bisa menunggu hari minggu? Aku akan mengantarmu."
"Aku maunya sekarang."
"Tapi---
"Sekalian aku ingin mampir ke kantor. Kau mau bawakan apa untuk makan siang?"
Di seberang sana, Kalendra menelan kembali kalimat larangan yang ingin diucapkannya. Bibirnya berkedut. Membasahi bibirnya, laki-laki itu mengambil salah satu berkas yang menumpuk.
"Apapun yang kau bawa, aku akan memakannya."
"Sekalipun itu racun?"
"Hmm, kita bisa mati bersama. Bukankah itu seru?"
"Ck, dasar gila! Aku tidak mau mati bersamamu." dengus Kanaya. Sejak kapan Kalendra menjadi pandai membual seperti itu.
"Sudahlah, aku mau berangkat."
"Berangkat dengan supir. Jangan nge---
Tut. Panggilan Kanaya matikan secara sepihak, tidak mengijinkan Kalendra menyelesaikan ucapannya. Figuran itu terkekeh geli. Pasti Kalendra sedang kesal di sana.
"Bagaimana saran dari saya, Nyonya. Berhasil?"
Kanaya menyunggingkan senyum, ia acungkan jempol untuk Ami. "Manjur. Terimakasih Bi Ami yang paling cantik!!"
Ami terkekeh. Menatap kepergian Kanaya dengan tatapan hangat, saat itu pula, tak segaja ia melihat Zana yang datang dari luar rumah. Menyapa Kanaya sopan, sebelum akhirnya menghampiri Ami.
"Ami, biar aku saja yang kerjakan." tawar perempuan itu.
"Darimana kau?" selidik Ami, alih-alih menyerahkan lap pada juniornya.
Sesaat, Zana terlihat gugup. Terlihat dari gesturnya merapikan anak rambut sembari tersenyum kikuk.
"Aku dari menyiram tanaman. Sini, biar aku yang selesaikan. Kau beristirahatlah, Ami."
.
.
"Sudah pasang sabuk pengaman, Nyonya?"
Kanaya mengangguk menjawab pertanyaan supir pribadinya. "Sudah."
Setelah itu, dapat dia dengar bunyi starter yang dinyalakan. Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang.
"Oh, iya. Nanti, sambil menungguku, Pak Han mampir saja ke cafe biar tidak bosan. Kemungkinan aku akan lama."
Han--- supir itu hanya mengangguk dengan mata yang fokus menatap jalanan. Jangan sampai ada kesalahan. Secuil saja majikannya ini lecet, sudah pasti dia tidak akan bisa hidup dengan tenang.
"Baik, Nyonya."
Awalnya, semua baik-baik saja. Kanaya tampak santai mendengarkan musik dari audio player. Tidak, sampai mobil mereka melaju semakin kencang. Bahkan saat berada di tikungan, Han sama sekali tidak menurunkan kecepatannya.
"Pak Han, pelan-pelan saja." ucap Kanaya yang merasa takut.
Han tidak menjawab. Namun rautnya terlihat panik. Kedua tangannya mencengkram erat kemudimobil. Mendadak, perasaan Kanaya tidak enak.
"Pak Han, semua baik-baik saja kan?"
"Nyo--Nyonya, remnya tidak berfungsi."
"Ha--apa?! Maksudnya, rem--remnya blong?!"
Han tidak menjawab. Namun saat Kanaya melihat kaki laki-laki itu mencoba menginjak pedal rem, itu sudah cukup menjawab.
"Pak, terus kita harus apa?" wajah Kanaya pias.
Sial sial sial. Tidak mati karena bunuh diri, apakah dia akan mati karena kecelakaan?
Jantung Kanaya berdebar kencang. Tangannya memegang sabuk pengaman erat.
Ternyata, kesialannya tidak sampai di sana. Sebuah truk dari lawan arah, tampak melaju kencang. Kanaya memejamkan matanya erat-erat.
Kemudian, hal naas tak dapat dihindari. Truk itu menghantam mobil yang ditumpanginya keras. Kanaya merasa tumbuhnya seakan melayang. Mobil itu terpental cukup jauh, lalu terguling dengan Kanaya dan Han di dalamnya.
Tubuh Kanaya terasa mati rasa. Darah segar mengucur dari hidungnya. Dengan kesadaran yang hampir terenggut, Kanaya mencoba melepaskan sabuk pengaman.
"Tuhan, jika bisa, tolong kembalikan aku ke dunia asalku."