Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Setelah kepergian mobil Abi dari halaman rumah, suasana yang tadinya tenang di meja makan seketika berubah menjadi mencekam.
Aroma parfum Abi masih tertinggal di udara, namun hawa dingin mulai menyelimuti ruang tengah.
Liana melangkah perlahan menghampiri Genata yang sedang membereskan piring-piring kotor.
Tidak ada lagi raut wajah manja atau lemah yang ia tunjukkan di depan Abi tadi. Kini, matanya berkilat tajam dan penuh kemenangan.
"Bagaimana, Mbak? Rasanya tidak enak ya, melihat suamimu membela 'mesin' ini tepat di depan wajahmu?" tanya Liana dengan nada suara yang rendah namun menusuk.
Genata menghentikan gerakannya dan meletakkan piring dengan kasar dan berbalik menatap Liana.
"Cukup, Liana! Aku diam bukan berarti aku buta. Aku melakukan ini semua demi wasiat almarhum Papa dan kebaikan kita semua. Tapi kamu selalu sengaja memancing keributan!"
"Kebaikan kita? Atau kebaikanmu yang ingin punya anak tanpa harus mengandung?" Liana tertawa sinis.
"Jangan berpura-pura jadi malaikat, Mbak. Di mataku, kamu hanya wanita egois yang memanfaatkan luka orang lain."
"Aku tidak menyangka kamu sejahat ini, Liana! Di mana Liana kecil yang dulu begitu lembut? Kamu sudah berubah menjadi iblis!" teriak Genata, emosinya pecah.
Pertengkaran hebat pun meledak di ruang makan itu, saling lempar kata-kata pedas yang selama ini terpendam.
Genata yang merasa terdesak dan sakit hati, segera berlari ke arah ponselnya. Dengan tangan gemetar, ia menghubungi Abi.
"Mas, tolong pulang. Liana mengamuk, Mas. Dia menghina aku, dia bilang dia membenci anak yang akan dia kandung nanti, dia bahkan mengancam akan menyakiti dirinya sendiri kalau keinginannya ke Bali tidak dituruti sekarang juga. Aku takut, Mas. Dia seperti orang kesetanan."
Di seberang telepon, jantung Abi seakan berhenti.
Ia mendengar suara amarah Liana di latar belakang.
Bayangan Liana yang terluka atau melakukan hal nekat membuat Abi panik.
"Tenang, Gen! Aku putar balik sekarang! Jangan dekati dia dulu!" seru Abi.
Hanya dalam waktu lima belas menit, suara deru mobil Abi kembali terdengar di halaman.
Ia masuk ke dalam rumah dengan napas memburu dan wajah yang tegang.
Ia melihat Genata terduduk di lantai sambil menangis, sementara Liana berdiri diam dengan wajah datar di sudut ruangan.
"Cukup! Hentikan semuanya!" teriak Abi.
Ia segera menghampiri Genata dan membantunya berdiri, lalu menatap Liana dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Liana, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membuat keributan saat aku baru saja berangkat? Aku minta kalian berdua tenang sekarang!"
Liana hanya terdiam, ia melihat bagaimana Abi begitu mudah memercayai sandiwara Genata.
Genata menyembunyikan wajahnya di dada bidang Abi, bahunya berguncang hebat karena tangis yang dibuat-buat agar terdengar sangat menderita.
"Dia menghinaku, Mas. Dia bilang aku wanita mandul yang hanya memanfaatkannya," isak Genata pilu.
Abi yang sudah terbakar kepanikan dan emosi sejak di telepon, tidak lagi berpikir jernih.
Ia menatap Liana dengan tatapan yang sangat asing, penuh dengan kemarahan yang meluap.
"Cukup, Liana! Dia istriku! Dia wanita yang seharusnya kamu hormati di rumah ini!" bentak Abi dengan suara menggelegar.
Liana berdiri tegak, meski hatinya terasa seperti dihantam palu godam melihat betapa mudahnya Abi tertipu. Ia tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
"Dia istrimu? Lalu aku apa, Paman? Paman percaya dengan perkataan Dia? Lalu, Aku ini apa di rumah ini? Mesin pencetak anak? Atau hanya pelacur yang kamu beli untuk memuaskan nafsumu dan ego istrimu?"
PLAKKK!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Liana hingga kepalanya tertoleh ke samping.
Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan sedikit darah segar.
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan deru napas Abi yang memburu.
Genata, yang masih dalam pelukan Abi, sedikit mendongak.
Di saat Abi tidak melihat, sebuah senyum puas yang sangat tipis terukir di bibirnya. Ia berhasil.
Ia berhasil mengembalikan posisi Liana sebagai musuh di mata Abi.
Liana tidak menangis dan ia memegang pipinya yang terasa panas dan berdenyut, lalu menatap Abi dengan sorot mata yang paling dingin yang pernah ada.
Tatapan itu seolah mengatakan bahwa sisa rasa hormatnya pada pria itu telah mati detik ini juga.
Tanpa sepatah kata pun, Liana berbalik dan melangkah menuju kamar utama di bawah.
BRAKKK!
Ia membanting pintu kamar dengan kekuatan penuh, hingga suara dentumannya menggema ke seluruh penjuru rumah.
Di dalam kamar, Liana merosot di balik pintu, mencengkeram dadanya yang sesak.
Di ruang tengah, Abi mengusap wajahnya dengan kasar.
Rasa bersalah mulai merayap kembali setelah ia mendaratkan tangannya di wajah Liana, namun ia sudah terlanjur termakan narasi Genata.
"Sabar, Mas. Liana memang sedang tidak stabil," bisik Genata sambil mengusap lengan Abi.
Abi menghela napas panjang, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sekretarisnya dengan nada bicara yang tegas namun sarat keletihan.
Dua jam berlalu dengan keheningan yang menyesakkan.
Abi duduk di ruang kerja, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.
Bayangan wajah Liana yang tertoleh akibat tamparannya terus menghantui pikirannya. Setelah merasa emosinya cukup stabil, Abi melangkah menuju kamar utama dengan perasaan berat.
Ia membuka pintu secara perlahan. Di sana, Liana sedang duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela.
Pipi kirinya tampak membiru dan bengkak, jejak tangannya masih membekas jelas di sana.
"Li..." panggil Abi lirih.
Ia melangkah mendekat, namun Liana tidak bergerak sedikit pun.
Abi berlutut di hadapan Liana, mencoba meraih tangan istrinya itu, namun Liana menarik tangannya menjauh.
"Li, aku minta maaf. Aku benar-benar khilaf. Aku tidak seharusnya kehilangan kendali dan memukulmu," ucap Abi dengan suara yang penuh penyesalan yang jujur.
Liana perlahan menoleh. Ia menatap Abi bukan dengan amarah, melainkan dengan kekosongan yang membuat Abi justru merasa lebih takut.
Sebuah senyum tipis seperti seringai amarah yang muncul di bibir Liana yang masih terluka.
"Paman Abi..." suara Liana terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengalami kekerasan.
"Ingat tidak, dulu Paman pernah bilang akan menjagaku dari apa pun yang menyakitiku?"
"Liana, tolong..."
"Ternyata, orang yang paling menyakitiku adalah orang yang berjanji menjagaku," lanjut Liana.
Ia menarik napas dalam, seolah mengumpulkan sisa kekuatan terakhirnya.
"Ayo kita bercerai saja, Paman."
Abi tersentak, ia mendongak dengan mata membulat.
"Apa? Tidak, Liana! Apa yang kamu katakan?"
"Aku lelah, Paman. Aku lelah dengan sandiwara ini. Aku lelah menjadi mesin di antara kalian. Aku lelah harus bersaing dengan Mbak Genata untuk mendapatkan perhatian pria yang sebenarnya sudah menghancurkan hidupku," ucap Liana dengan suara yang bergetar namun tegas.
"Lepaskan aku. Biarkan aku pergi. Ambillah segalanya, tapi biarkan aku memiliki diriku kembali."
Abi menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia mencengkeram bahu Liana, tidak mau melepaskannya.
"Tidak akan, Liana! Kamu istriku. Kita sudah terikat janji. Aku tidak akan menceraikanmu, apalagi dalam kondisi seperti ini!"
Liana tertawa getir, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya yang lebam.
"Istri? Kamu menyebutku istri hanya saat kamu butuh melampiaskan rasa bersalah atau nafsumu. Di luar itu, aku hanya pengganggu di antara kamu dan Genata. Jika Paman memang menyayangiku sebagai keponakan yang dulu Paman gendong, tolong lepaskan aku sebelum aku benar-benar hancur."
Abi terdiam, kata-kata Liana menghujam tepat di jantungnya.
Sementara itu, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Genata berdiri mematung.
Ia mendengar kata "cerai" itu, dan anehnya, bukannya merasa menang, ia justru merasa ketakutan yang luar biasa.
Abi menggelengkan kepalanya dengan keras, ia mencengkeram kedua tangan Liana dengan tatapan yang sangat posesif.
Ia tidak akan membiarkan Liana pergi, tidak setelah apa yang terjadi semalam, dan tidak setelah ia menyadari bahwa ia mulai memiliki keterikatan yang lebih dari sekadar tanggung jawab pada gadis ini.
"Tidak ada perceraian, Liana! Tidak akan pernah!" tegas Abi.
"Kita akan tetap pergi ke Bali. Besok. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa membahagiakanmu dan menebus semua kesalahanku."
Abi berdiri dan melangkah keluar kamar dengan rahang yang mengeras.
Ia menemukan Genata yang berdiri tidak jauh dari pintu.
Tanpa melihat gurat kesedihan di wajah istri pertamanya, Abi memberikan perintah yang terasa seperti sembilu bagi Genata.
"Gen, siapkan pakaian Liana. Masukkan ke koper. Kita berangkat ke Bali besok pagi. Tolong siapkan semuanya dengan baik," ucap Abi dingin sebelum ia melangkah menuju ruang kerjanya.
Genata mematung di tengah lorong. Dadanya terasa seperti terbakar.
Menyiapkan pakaian untuk madunya? Menyiapkan perlengkapan untuk wanita yang akan dibawa suaminya bersenang-senang sementara ia ditinggalkan di rumah dalam kesepian?
Dengan langkah penuh amarah dan kecemburuan yang mendidih, Genata masuk ke kamar tempat pakaian Liana disimpan.
Ia melihat deretan baju-baju indah milik Liana, baju yang menurutnya sengaja digunakan untuk menggoda suaminya.
"Kamu ingin bulan madu, Liana? Kamu ingin pamer kemesraan di depan suamiku?" gumam Genata dengan mata yang memerah karena air mata dan kebencian.
Genata meraih sebuah gunting tajam dari meja rias.
Dengan tangan yang gemetar karena emosi, ia mengambil satu per satu pakaian Liana.
Srettt! Srettt!
Ia menggunting bagian punggung, lengan, dan bagian bawah gaun-gaun cantik itu.
Ia memastikan lubang-lubang guntingan itu tidak terlihat mencolok saat dilipat, namun akan hancur saat dikenakan nanti.
Setelah puas merusak hampir seluruh pakaian terbaik Liana, ia melipatnya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam koper besar dengan wajah yang sangat dingin.
"Nikmatilah bulan madumu dengan pakaian compang-camping ini, Liana," bisik Genata sambil menutup ritsleting koper dengan sentakan kasar.