Laura Scarlett adalah seorang gadis yang tidak diinginkan oleh keluarganya, sehingga mereka membuangnya begitu saja sejak kecil, Laura scarlett tumbuh menjadi seorang gadis cantik ceria dan lembut dia di asuh oleh suami istri Johanson yang berasal dari estonia meskipun dia berasal dari British Utara yang kental.
Suatu hari ayahnya di serang sekelompok perompak, ketakutannya semakin nyata dan dia begitu benci dengan perompak, tetapi sayangnya nasib mempertemukannya dengan seorang perompak bernama Sean Nicholas Hoult bermata safir yang terang, seorang perompak yang membuat hatinya dan tubuhnya hanyut dalam gairah dan kesengsaraan.
Kisah perjalanan hidup dan cinta laura Scarlett bersama dengan pria yang membuat hidupnya sengsara tetapi juga mencintainya
Whisper of the Sea 2
Leona Lewstin adalah seorang gadis yang hidup di sebuah pulau hilang atau di sebut pulau berhantu oleh para bajak laut. Suatu ketika dia melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri berada di bibir pantai, dia lantas menolong pria bernama Edmund Alexander, yang tidak sadarkan diri setelah ombak menggulungnya, apakah menolongnya adalah pilihan yang tepat bagi Leona?
Bijak dalam membaca, Warning !!! bukan bacaan untuk di bawah umur ya!!!
~Vote Coment and like di tunggu ya tmn2 readers, so author lebih semangat nulisnya☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 13
Desa Kaali merupakan desa penghasil barley yang cukup terkenal, meskipun desa itu sangat kecil tetapi mereka memiliki ladang barley yang luas, sehingga makanan pokok mereka yang utama adalah barley yang dapat di buat menjadi tepung untuk roti dan beberapa makanan lezat lainnya. Setiap rumah di desa Kaali memiliki lumbung untuk penyimpanan barley, dan tahun ini barleynya akan siap dipanen.
"Hari ini pesanan roti akan melimpah Laura, kau tahu.. perayaan panen akan segera di mulai dan mereka akan memesan roti untuk perayaan itu, kita akan sibuk sayang".
Laura tersenyum senang, dia sangat menyukai desa ini mereka semua sangat baik dan ramah padanya. Mereka bahkan memberi Laura pakaian-pakaiannya ketika mereka mengetahui tentang keberadaan Laura.
"Kau bisa menjaga toko ini sebentar sayang, sepertinya Bob sudah menungguku di ladang". Dia lalu berkedip genit sambil mengoleskan lipstik merah menyala di bibirnya.
"Jangan khawatir lori aku akan menjaganya."
Dia lalu melambai dan akhirnya pergi dengan bersenandung. Laura memperbaiki letak roti-roti yang baru saja di ambilnya dari panggangan, seketika bunyi lonceng membuatnya berbalik dan menemukan seorang wanita cantik sedang melihat-lihat toko rotinya.
Dia menutup sedikit hidungnya lalu matanya menangkap mata tosca Laura. "Dapatkah makanan ini di makan?" tanyanya angkuh.
Laura mengangguk, "tentu nona, roti ini sangat lezat."
"Benarkah? dia lalu menatap roti yang baru saja selesai di panggang dan menyentuhnya. "Ouch, kenapa kau menaruhnya di sini jika masih panas?" matanya tajam menyalahkan laura.
"Karena tempatnya yang tepat memang di situ."
Suara yang dalam dan lembut membuat Laura menyadari siapa mereka dia lalu berbalik, "Benarkah Edmund? aku tidak tahu", dengan suara manja dia menempelkan tubuhnya ke Edmund, tetapi dengan cepat edmund mendorongnya menjauh.
"Miss aku pesan..., kemana dia?" tanya Edmund menatap kosong tempat itu, Laura berlari sampai ke belakang pintu, dia merasakan jantungnya berdetak kencang, pria itu....pria itu pernah menciumnya di gudang, dia tidak mau bertemu dengannya. Laura berlari dan menabrak tubuh seseorang.
"Kau baik-baik saja Miss?" Suara yang dalam memegang tangannya lalu mengangkatnya agar berdiri.
"Te....terima kasih." Laura membersihkan dirinya tanpa memandang pria yang ditabraknya.
"Ternyata kau berada di desa ini? kau tahu aku mencarimu kemana-mana." Laura terkesiap, dia memandang Edmund yang sudah berdiri menatapnya dengan penuh senyum. "Kita bertemu lagi Laura."
Laura menatapnya dengan cemas,
"Er..iya tuan aku tinggal di desa ini". Dia tersenyum tipis, mata coklat karamelnya seakan menari-nari tatkala melihat laura, suasana hatinya tiba-tiba berubah, "Mengapa kau meninggalkan desamu?" tanyanya.
Laura tidak ingin membahas masalahnya dengan pria ini, "Maaf tuan aku harus pergi." Tangan Laura di pegangnya erat, "Bagaimana kalau kau ikut denganku? kita bisa membicarakannya sambil berjalan-jalan." Kata Edmund.
"Maaf, aku harus pergi tuan." Laura melepaskan tangannya dari Edmund dan segera pergi meninggalkannya. "akhirnya aku menemukanmu Laura". Gumam Edmund dengan senang.
~
Sean menjelajahi bukit dan akhirnya tiba di desa Kaali, desa itu lebih padat dibandingkan desa pirita meskipun begitu Sean melihat lebih banyak ladang barley di setiap perjalanannya. Matanya tertuju pada setiap gadis yang berada di jalanan, dia mencari-cari gadis berambut hitam kecoklatan dengan mata tosca yang cerah.
Suasananya sangat riuh, "Sepertinya sebentar lagi desa ini akan merayakan sesuatu." gumamnya, Sean melihat penduduk desa beramai-ramai memasang semacam spanduk perayaan atas panen mereka yang berlimpah tahun ini. Sean mengamati setiap orang di desa itu bagai elang yang mengamati mangsanya.
Laura sedang merapikan toko roti lori, dia begitu terkejut Edmund sudah duduk di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pada Laura.
"Anda ingin memesan apa sir?" tanya Laura yang gugup pada Edmund.
Edmund melengkungkan mulutnya, "Bagaimana kalau aku memesanmu?" tanyanya dengan tenang. Wajah cantik Laura terkejut, dia lalu menepis keterkejutannya.
"Maaf sir, aku sedang menjual roti." Kata Laura kesal. Dia lalu terkekeh, dia menghampiri laura.
"Aku sedang bosan Laura, maukah kau menemaniku Sebentar?" Tanyanya dengan nada sedikit memaksa.
"Maaf sir, aku sedang menjual roti ini jadi...." Tiba-tiba saja lori muncul seperti halnya seorang penyelamat, pikir lori.
"Tentu kau bisa pergi Laura sayang, tenanglah aku bisa menjaga toko ini, pergilah.. pergilah." Sambil berkedip kepada Laura.
Laura menghembuskan napas, kini dia tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Edmund tersenyum senang kepada lori dan menyuruh pelayannya agar membeli seluruh roti yang ada di toko lori.
Edmund berjalan dengan diikuti Laura di sampingnya. Membeli beberapa barang, dan menyuruh Laura untuk membawanya. "Dress ini sungguh menarik", dia lalu memberikannya kepada Laura.
"Pakailah, aku ingin kau memakainya." Kata Edmund tanpa memandang Laura yang ragu-ragu. Edmund berbalik menatap Laura yang masih berdiri di tempatnya.
"Bukankah malam ini akan diadakan perayaan? setidaknya pakailah gaun ini." Kata Edmund membujuknya.
Dengan ragu Laura mengambilnya, dan mengenakannya di ruangan kecil khusus untuk wanita. Laura memandang gaun indah berwarna violet lembut dengan belahan dada yang rendah sehingga belahan dada Laura nampak menonjol menggoda.
"Sangat cocok untukmu Laura." Seketika Edmund sudah berada di belakangnya, mengamatinya, dia sama sekali tidak malu masuk begitu saja di ruang ganti seorang wanita, meskipun pemilik toko hanya membungkuk diam ketika Edmund melangkah ke arah Laura.
Laura begitu terkejut, sejak kapan dia ada di sana? Mata coklatnya memperhatikan setiap detail gaun yang dikenakannya. "Cantik, sangat cocok untukmu Laura." Dia mengembangkan senyumnya melihat wajah Laura yang melotot memandangnya.
Tangan Edmund seketika sudah berada di pinggangnya, menabrakkan dengan tubuh tingginya. Tangannya dengan tidak sopan langsung menyerang dada Laura yang menyembul, "Aku suka ini, sangat pas untukku." Laura berjengit, dia menepis tangan Edmund cepat.
"Lepaskan aku." Kata Laura dengan nada suara yang mulai tinggi. Edmund menggerakkan Rahangnya, dia begitu saja menyerang bibir Laura yang sedang berbicara. Laura memukul-mukul dada bidangnya, dia menarik Laura dalam pelukannya, mengangkat tubuhnya hingga Laura berdiri seperti melayang.
Tangannya mendorong keras tubuh Edmund, tapi serangan Edmund di bibirnya membuat Laura kesulitan bernapas, tangannya mulai memainkan tubuh Laura membuat Laura meronta-ronta kesakitan.
"Tidak ! lepaskan aku...", Edmund kini melepaskan Laura.
"Aku menunggumu di luar laura sayang." Dia lalu pergi seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Dasar pria mesum." Gumam Laura, Jujur saja dibandingkan ciuman sean, ciuman pria tadi sangat kasar menuntut hanya membuatku kesakitan, sangat berbeda dengan Sean ciumannya meskipun kasar mampu membuatku terbawa gairah bersamanya dan menginginkan lebih lagi. Laura dengan cepat tersadar, apa yang kupikirkan? mengapa aku membandingkan mereka berdua? aku pasti sudah gila.
Suasana di desa itu sedikit gaduh, mereka berpesta menari dan bernyanyi, tampaknya mereka betul-betul merayakan panen yang melimpah ruah tahun ini. Laura ikut tertawa melihat lori menari bersama pria gemuk yang selalu bersama dengannya, namanya Bob.
Mereka menari dan berdansa di tengah jalan, suara musik yang gegap gempita membuat Laura sedikit menjauh, tiba-tiba tangan besar menarik pinggangnya dan mengangkatnya menjauh dari keramaian, Laura memukul-mukul tubuh pria yang menariknya.
Mereka telah sampai di tepi ladang barley, tangannya masih di genggam dengan erat. "Rupanya kau bersenang-senang di sini Laura, aku pikir kau sudah mati di bawa oleh ombak." Suara Sean terdengar lega sekaligus mencekam.
Laura begitu terkejut, "Sean? suara laura teredam rendah. Tanpa berkata-kata Sean lalu mencium laura memagutnya dan memainkannya dibibirnya, dia menggendong Laura dengan masih menciumnya sampai di tepi pantai yang sepi. "Kau tidak bisa lepas lagi dariku Laura !"
GK suka juga sosok Sean klo kasar dng Laura ..dan gak suka dng kelakuannya yg setiap saat memakan Laura..hanya nafsu yg dikedepankan,apakah Krn dia laki2 pelaut Krn kalau pelaut rata2 wataknya kasar dan libidonya kuat harus ada pelepasan setia waktu
padahal cintanya buat Sean
seharusnya dia meronta jng terlena hampir sja si mut2 melancarkan rudalnya.
alah Laura kurang percaya pada cinta sendiri..sdh ditidurin Sean berkali2 masih sja mau dibuai si mut2..
seharusnya pastikan dulu klo Sean benar2. TDK mencintainya juga baru cari cinta yg lain.