Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Cincin
Sesampainya di rumah, Mona masih nampak termenung. Ia sama sekali belum mengerti dengan maksud yang di katakan Arga. Bahkan, setelah Mona masuk kamar, Mona hanya duduk termenung memandangi jari manisnya yang di lingkari cincin emas putih dengan berlian di tengahnya.
“Pakailah ini!” Arga menggamit lengan Mona, lalu menarik jari manis dan memasukkan cincin hingga melingkar di jari lentik itu.
Mona yang tak mengerti, hanya mengamati benda berkilau itu dengan dahi berkerut. “Ini apa?” tanya Mona sambil melebarkan telapak tangan di udara.
“Tentu saja cincin. Memang kau pikir apa?!” sungut Arga.
Bagi Arga ini bukanlah perkara mudah sebenarnya. Jika yang duduk di sampingnya bukan Mona, dan itu justru wanita lain, mungkin saja Arga akan mendapatkan sebuah tawa hinaan. Bagaimana tidak? Coba lihat! Wajah Arga yang harusnya terlihat gagah tegap dan mempesona, harus luntur karena rasa gugup dengan hal sepele, yaitu ingin menyatakan cinta dengan sebuah cincin.
“Ini untukku?” Mona bertanya lagi.
“Tentu saja....” Arga sudah merasa panas dingin karena gugup dan grogi. “Atau kau tidak mau? Sini biar ku buang saja!”
“Eh, jangan!” Mona menepis tangan Arga yang sedang menarik-narik jemarinya.
Arga mendengus. “Ya sudah, jangan banyak tanya. Kau pakai saja itu!”
Setidaknya dari pembicaraan itu, yang Mona tangkap hanyalah, di haruskan memakai cincin itu. Selebihnya, tentu saja Mona tidak mengerti. Bodoh, memang iya. Itu memang kata yang pas untuk menggambarkan sosok Mona.
“Kau dari mana dengan Mona?” tanya Santi saat melihat Arga sedang berjalan menuju perpustakaan rumah yang berada di samping ruang tengah.
Santi berdiri lalu beranjak menghampiri Arga yang menghentikan langkah. “Duduk, kemari!” pinta Santi.
“Aku mau ke perpustakaan,” tolak Arga.
“Ibu mau bicara.”
“Kita bicara di dalam saja.” Arga nyelonong begitu saja masuk ke dalam perpustakaan. Sambil berdecak, Santi pun ikut ke dalam.
Sesampainya di dalam, Arga langsung mendekati rak besar dengan beberapa deret buku yang berbaris di sana. satu-satu Arga menyusuri buku itu dengan jemarinya. Untuk Santi, dia memilih duduk di kursi sambil meraih buku album yang tergeletak di atas meja.
“Album apa ini?” gumam Santi. Arga yang mendengar langsung menoleh.
“Apa, Bu?”
“Ah, tidak....” Santi masih mengamati sampul album itu. “Coba duduklah kemari. Album siapa ini?” Santi meminta Arga untuk duduk.
Meskipun malas, akhirnya Arga ikut duduk. Toh sedari tadi dia tak kunjung menemukan buku yang di cari.
“Ada apa, ibu?” tanya Arga.
“Ini punya siapa?” Santi mengangkat buku album itu menghadap ke arah Arga. Jika di lihat dari sampulnya, sepertinya ini buku album yang sudah sangat berumur.
“Coba buka saja. Kita akan tahu setelah melihat isinya.
“Benar juga.” Dengan perlahan, jemari Santi mulai membuka halaman awal buku album foto itu.
Di lembaran pertama, yang terpampang di sana, adalah sebuah foto wanita cantik dengan berbalut seragam putih abu-abu. Di sampingnya ada beberapa segerombolan teman-temannya yang juga ikut berfoto.
“Siapa ini?” Arga menunjuk salah satu foto seorang gadis cantik yang sedang duduk termenung di bangku kelas. Wajahnya sungguh cantik, dan sekilas wajahnya hampir mirip dengan Santi.
Meri mengusap-usap foto itu dengan jemarinya sambil tersenyum. “Tentu saja nenekmu.”
“Nenek?” Arga membelalak. Dari dalam mulutnya seperti mengeluarkan tawa ringan. Mungkin Arga sedikit kaget melihat tampilan neneknya dulu.
“Benarkah itu nenek?” tawa Arga semakin mengeras hingga membuat seseorang yang berdiri di ambang pintu merengut.
“Kenapa sangat lucu?” Arga kembali tertawa, dan mau tak mau, Santi yang memang sudah tak tahan akhirnya ikut tertawa.
“Puas kalian menertawakanku?” Meri yang saat ini sudah berdiri di belakang mereka, semakin merengut dengan kedua tangan berkacak pinggang.
“Eh, ibu?”
“Nenek?”
“Sejak kapan nenek di sini?” tanya Santi sambil mengelap ujung matanya yang berair.
Sambil mendengus lagi, Meri mendekat, meraih kursi lalu ikut duduk. “Sejak Kalian mulai menertawakanku,” jawab Meri. Kedua orang yang di maksud justru terkekeh geli.
“Kau tidak ingin melihat lembaran berikutnya?” tanya Meri, sambil meraih album itu dari tangan Santi.
“Apa ada yang lebih lucu dari gambar pertama?” Arga masih terkekeh.
“Kau ini!” Santi memukul pundak Arga.
Meri tak menggubris. Ia fokus membuka lembaran untuk mencari sesuatu yang harus di tunjukkan kepada mereka. “Lihat ini!” Meri menggeser album itu ketengah, lalu satu jarinya menunjuk salah satu foto.
“Apa kalian tahu siapa mereka?” tanya Meri. Kedua orang itu saling mengerutkan dahi mencoba untuk menebak siapa gerangan seseorang yang ada di dalam foto tersebut.
“Dia adalah, kakek dan nenek Mona.”
“Ha??” keduanya ternganga.
“Jadi, nenek mengenal Kakek dan nenek Mona?” tanya Arga dengan raut wajah terkejut. Santi diam, sebenarnya dia juga sudah tahu, beberapa tahun yang lalu, Meri memang pernah bercerita tentang hal ini, hanya saja tidak semuanya.
Meri mengangguk. “Tentu saja. Nenek dan mereka berteman sangat baik. Dan mereka sudah sangat berjasa dengan kehidupan kakek dan nenek,” jelas Meri.
Karena sangat penasaran, Arga yang awalnya duduk di samping ibunya, langsung beranjak, berpindah duduk di samping nenek.
“Katakan padaku, sedekat apa nenek dengan mereka,” pinta Arga tanpa berkedip untuk sesaat.
Sebelum menjawab, Meri melempar senyum sambil menatap foto kenangan itu. “Tentu saja sangat dekat. Dekat sekali. Kakek dan nenekmu bisa sukses seperti sekarang ini, tak lain adalah karena bantuan mereka. Namanya Erik dan Susi.”
Arga semakin penasaran. Jika nenek sangat dekat dengan keluarga Mona, lalu kenapa selama ini nenek tidak pernah cerita?
“Ceritakan lebih banyak lagi,” pinta Arga yang sudah tak sabar. Santi yang memang sudah tahu sebagian, juga ingin tahu selebihnya.
“Apa kau tahu, dulu kenapa nenek suka dengan Aura karena apa?” Meri menoleh menatap Arga dan Santi bergantian. Mereka menggeleng.
“Karena aku tahu, Aura adalah cucu Erik dan Susi. Aku pikir, dengan menjodohkanmu dengan dia aku bisa membalas budi kebaikan mereka, tapi aku salah.” Meri terlihat merenung seolah menyesali apa yang pernah di perbuat.
Meri menarik napas sebelum melanjutkan lagi cerita panjangnya. “Aku bersyukur, sungguh sangat bersyukur, karena kau gagal menikah dengan Aura. Karena setelah peristiwa itu, aku jadi tahu, bahwa ada cucu Erik dan Susi yang tidak aku ketahui, yaitu Mona, anak dari Joanda dan Aghata.”
Arga manggut-manggut. Ini sungguh di luar dugaan Arga. Entah kenapa ini seperti sebuah rencana Tuhan untuk keluarga ini.
“Dan perlu kalian tahu, setelah aku kembali ke Indonesia, Aku langsung fokus mencari keberadaan Mona dengan bantuan Tian, kakek Dika atau ayah Baron. Jika nenek jelaskan semuanya, mungkin akan terlalu panjang. Intinya, Mona adalah gadis yang memang nenek jodohkan untukmu.” Meri menatap dalam-dalam wajah Arga yang masih terbengong.
“Dan siapa sangka, kalau ternyata mereka justru saling cinta tanpa tahu kalau sedang dijodohkan.” Santi menimbruk sambil tertawa.
***
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...