Alya tidak pernah menyangka hidupnya yang biasa akan berubah selamanya saat ia bertemu dengan Rheyan, sosok pria misterius dengan tatapan kelam dan aura yang terlalu menggoda. Ia datang di saat-saat antara hidup dan mati, membawa takdir yang tak bisa dihindari. Tapi yang tak ia duga, sang malaikat maut justru terpikat oleh kelembutan dan keberaniannya.
Di sisi lain, ada Davin, dokter penuh kasih yang selalu ada untuk Alya. Ia menawarkan dunia yang nyata, cinta yang hangat, dan perlindungan dari kegelapan yang perlahan menyelimuti kehidupan Alya.
Namun, cinta di antara mereka bukanlah hal yang sederhana. Rheyan terikat oleh aturan surgawi—malaikat maut tak boleh mencintai manusia. Sementara Alya harus memilih: menyerahkan hatinya pada keabadian yang penuh bahaya atau tetap berpijak pada dunia fana dengan seseorang yang bisa menjanjikan masa depan.
Ketika batas antara surga dan bumi kabur, bisakah cinta mengubah takdir? Atau justru cinta itu sendiri yang akan menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irnu R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsekuensi dari Kedekatan Mereka
Alya duduk di bangku kayu dekat jendela, menatap kosong ke luar. Matanya mengamati jalanan yang basah karena hujan semalam, tetapi pikirannya melayang jauh dari pemandangan itu. Sejak kejadian di kamarnya, sejak bayangan-bayangan itu muncul dan Rheyan membawanya pergi, segalanya terasa semakin aneh.
Dingin masih terasa di kulitnya, meskipun sinar matahari sudah mulai menyelinap masuk melalui kaca jendela. Perasaan itu tidak hilang, seakan menempel di dalam dirinya. Atau mungkin... berasal dari dalam dirinya sendiri?
Dia mengusap lengannya, mencoba menghilangkan perasaan itu. Tapi yang lebih mengganggunya adalah suara terakhir yang diucapkan Rheyan sebelum semuanya berubah.
"Jangan percaya pada siapa pun, bahkan padaku."
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Apa maksudnya? Apa yang sedang disembunyikan Rheyan darinya?
Alya memejamkan mata. Napasnya dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi justru saat dia mencoba berpikir lebih jernih, sesuatu muncul di benaknya.
Kilasan ingatan.
Bukan miliknya.
Seorang gadis berdiri di depan cermin besar, gaun putih panjangnya bergoyang pelan tertiup angin yang datang entah dari mana. Wajahnya tidak jelas, tapi ada perasaan kuat yang menyelimutinya—kesedihan, ketakutan, dan sesuatu yang lain. Gadis itu mengulurkan tangannya ke permukaan cermin, dan saat jarinya menyentuh kaca...
Alya tersentak, terengah-engah.
Tangannya gemetar saat dia menyentuh dahinya. Apa itu barusan? Kenapa dia melihat sesuatu yang tidak dia kenali, tetapi terasa begitu dekat?
Dia berdiri, tubuhnya goyah, lalu berjalan ke arah meja di mana ponselnya tergeletak. Jemarinya mengetik pesan cepat.
Alya: Davin, aku butuh udara segar. Bisa kita pergi ke luar kota sebentar?
Tak butuh waktu lama sebelum pesan balasan muncul.
Davin: Aku menjemputmu satu jam lagi. Bersiaplah.
Alya menghela napas. Setidaknya, menjauh dari sini sebentar mungkin bisa membantunya berpikir lebih jernih.
Davin mengemudikan mobilnya dengan tenang, sesekali melirik Alya yang duduk di sampingnya. Gadis itu diam sejak mereka meninggalkan kota, matanya fokus pada jalanan yang terbentang di depan mereka, tetapi jelas sekali pikirannya tidak ada di sana.
"Apa kau mau membicarakannya?" tanya Davin akhirnya.
Alya mengalihkan pandangannya, menatap pria itu sebentar sebelum kembali melihat ke luar jendela. "Aku hanya... butuh waktu untuk memahami semuanya."
Davin mengangguk pelan. "Aku mengerti. Tapi jika ada sesuatu yang mengganggumu, kau bisa berbicara padaku."
Alya tersenyum kecil. "Terima kasih, Davin."
Dia ingin percaya pada Davin. Tapi... kata-kata Rheyan kembali terngiang di kepalanya.
"Jangan percaya pada siapa pun, bahkan padaku."
Alya menarik napas dalam. Mungkin Rheyan hanya mencoba mengacaukan pikirannya. Atau mungkin, dia benar-benar menyembunyikan sesuatu yang lebih besar.
Mobil terus melaju melewati jalanan yang dikelilingi pepohonan tinggi. Udara terasa lebih segar, tetapi tubuh Alya justru mulai merasa aneh. Ada sesuatu yang berbeda.
Dingin.
Bukan dingin seperti udara pagi di pegunungan, tetapi sesuatu yang lebih dalam, lebih menusuk, lebih... salah.
Dia menyentuh kedua tangannya. Kulitnya terasa lebih pucat dari biasanya. Nafasnya sedikit berat, dan kepalanya mulai terasa ringan.
"Alya?" suara Davin terdengar khawatir.
Alya menoleh, mencoba tersenyum. "Aku baik-baik saja."
Tapi Davin tidak terlihat yakin. "Kau terlihat pucat."
"Aku hanya butuh istirahat sebentar," jawabnya cepat.
Davin menghela napas. "Kita sudah hampir sampai. Kita bisa berhenti di kafe sebentar, kau bisa makan sesuatu."
Alya mengangguk, meskipun dia tidak yakin apakah makanan akan membantu. Yang jelas, semakin jauh dia dari Rheyan, semakin tubuhnya terasa melemah.
Di tempat lain, jauh dari mereka, Rheyan berdiri di tepi gedung tinggi, menatap ke arah cakrawala dengan rahang mengatup.
Dia bisa merasakan Alya menjauh.
Bukan hanya secara fisik, tetapi lebih dari itu. Seolah-olah dunia ini perlahan-lahan menariknya dari Alya, menjauhkannya sedikit demi sedikit.
Dia mencoba melangkah, mencoba mengikuti ke mana Alya pergi. Tapi saat dia mencoba bergerak melewati batas kota...
Sesuatu menghantamnya.
Bukan dalam bentuk fisik, tapi seperti dinding tak terlihat yang menolak kehadirannya.
Rheyan mengerang pelan, merasakan tekanan yang aneh menyelimuti tubuhnya. Semakin dia mencoba menembus batas itu, semakin tubuhnya terasa berat, seolah dunia ini sedang menolaknya.
Dia terhuyung mundur, napasnya memburu.
Sial.
Ini bukan hal yang biasa.
Dunia ini benar-benar menolaknya.
Seolah keberadaannya tidak lagi seharusnya ada di sini.
Matanya menatap ke kejauhan, ke arah di mana Alya berada. Dia tidak bisa menjangkaunya, dan itu... membuatnya takut.
Sebuah suara terdengar di kepalanya, suara yang sudah lama dia coba lupakan.
"Rheyan, kau sudah terlalu jauh terlibat. Sudah saatnya kau memilih."
Dia mengepalkan tangan, berusaha mengabaikan suara itu.
Tapi dia tahu, dia tidak bisa menghindarinya lebih lama lagi.
Sementara itu, Alya duduk di dalam kafe kecil, mengaduk minumannya dengan perlahan.
Davin duduk di seberangnya, menatapnya dengan ekspresi khawatir.
"Jadi," kata Davin, "apakah kau ingin membicarakannya sekarang?"
Alya menatap cangkirnya, berpikir sejenak. Dia ingin berbicara, ingin menceritakan semuanya. Tapi... sesuatu di dalam dirinya menahan.
"Aku..." Alya membuka mulutnya, tetapi tiba-tiba, rasa sakit menusuk kepalanya.
Dia menunduk, menggenggam sisi kepalanya, matanya terpejam erat.
Kilasan ingatan lain muncul.
Cermin. Gadis dalam gaun putih.
Dan suara.
"Kau seharusnya tidak ada di sini."
Alya tersentak, napasnya terengah-engah.
Davin langsung mendekat, tangannya menyentuh bahu Alya. "Alya! Apa yang terjadi?"
Alya menatapnya, matanya penuh kebingungan dan ketakutan. "Aku... aku tidak tahu..."
Davin meraih kedua bahu Alya dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Alya, lihat aku. Apa yang kau rasakan?"
Alya menggeleng, mencoba mengatur napasnya. "Ada sesuatu di kepalaku. Seperti ingatan... tapi bukan milikku."
Davin mengerutkan kening. "Ingatan? Seperti deja vu?"
"Tidak," suara Alya gemetar. "Ini lebih kuat. Seolah aku pernah mengalami sesuatu yang aku sendiri tidak mengingatnya."
Davin diam, jelas mencerna kata-kata Alya dengan serius. "Alya... sejak kapan ini terjadi?"
Alya terdiam sejenak. Haruskah dia memberitahu Davin tentang Rheyan? Tentang semua hal aneh yang terjadi padanya? Tapi... apakah itu keputusan yang tepat?
Sebelum dia bisa menjawab, suara angin kencang tiba-tiba berdesir di luar. Langit yang tadinya cerah mulai tertutup awan kelam, seakan badai akan segera datang. Alya merasakan bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang tidak beres.
Davin juga menyadarinya. Dia menoleh ke luar jendela, ekspresinya berubah tegang. "Alya, kita harus pergi sekarang."
Alya menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. "Kenapa?"
Davin menatapnya, kali ini dengan sorot mata yang lebih dalam. Seakan, dia tahu sesuatu yang tidak Alya ketahui. "Aku hanya punya firasat buruk."
Tapi Alya tahu, ini bukan sekadar firasat. Ini adalah peringatan.
Dan saat itu juga, di tempat lain, Rheyan menatap langit yang semakin gelap.
Dia tahu, dia tidak punya banyak waktu lagi.
Alya semakin jauh, dan jika dia tidak melakukan sesuatu...
Dia benar-benar akan kehilangan Alya.
Untuk selamanya.