Aleksander Smith seorang pria berusia 35 tahun,
Ia merupakan seorang bos mafia yang ditakuti dinegara Indonesia. Kekejian dan kekejamannya membuat ia paling ditakuti di dunia Mafia.
____
Agatha Leonor wanita cantik yang selalu terlihat ceria dan periang, namun keceriaan itu seketika hilang ketika tanpa sengaja dia harus berurusan dengan Aleksander Smith dan berakhir menjadi tawanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Bia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Leonor terbangun karena panggilan alam membangun nya, ia bangun dan segera keluar dari gubuk itu melihat kanan kiri memastikan tidak ada orang.
Ia melihat sekeliling nya hutan semua, dan hanya satu kebun saja ditengah hutan ini.
Mendengar suara air mengalir ia kebawa, melihat sungai disana.
Mencuci wajahnya sedikit dan duduk diatas bebatuan besar dipinggir sungai.
'Kenapa tidak pernah kau hampir aku dengan sedikit kebahagiaan Tuhan..aku terkadang iri melihat orang lain bahagia tapi tidak denganku'
batin Leonor sedih.
"Aku rapuh, tapi tidak ada rumah tempat aku pulang dan mengadu. Aku butuh bahu untuk sekedar bersandar dari kerasnya dunia"
Aku sakit Tuhan, tapi sakitku tidak berdarah' lanjut batin leonor.
Leonor menangis terseduh-seduh diatas bebatuan dengan baju bergetar.
Ia terlihat sangat menyedihkan, seperti anak ayam kehilangan induknya.
Duduk cukup lama hingga ia mendengar suara Cakap-cakap dalam hutan.
"Aku sangat yakin non Leonor belum jauh dari sini" ujar salah satu anak buah alex
"Semoga seperti itu, kita harus cepat menemukan nya, kalau tidak...maka kita akan habis ditangan bos alex"
Leonor segera turun bersembunyi diantara bebatuan besar itu.
Menunggu hingga anak buah alex sedikit menjauh baru ia keluar.
"Sepertinya aku harus cepat keluar dari tempat ini" gumam Leonor.
Ia menyusuri sungai ke arah bahwa, mengikuti insting nya.
Anak buah alex menyebar diseluruh hutan untuk mencari Leonor, namun belum menemukan nya.
Alex turun tangan bersama iwan dan Bimo mencari Leonor di pelosok hutan pun mereka sisir untuk mencari.
Alex membayangkan tadi malam hujan turun sangat deras, lalu Leonor tidur dimana? Apakah dia baik-baik saja? Atau dia sudah mati dimakan binatang buas.
Sungguh ia tidak sanggup membahayakan hal-hal buruk terjadi pada Leonor.
Sesampai di tengah hutan mereka berpencar untuk mempercepat pencarian.
Alex menyusuri jalan hingga menemukan sebuah gubuk, cepat melangkah mendobrak pintu itu hingga terbuka, namun gubuk itu kosong tidak ada siapapun.
Namun ia melihat api masih sedikit menyala dan terdapat bungkus mie instan disamping.
Ia menduga bahwa itu adalah Leonor. Iya Leonor menginap disini, pikir nya.
Mengambil selimut tebal yang tergeletak diatas tempat tidur beralaskan kardus dan mencium aroma yang mungkin saja tertinggal diselimut itu.
Mencium aroma tubuh Leonor begitu melekat diselimut lusuh itu, semakin memperkuat dugaan nya.
Alex sangat tahu aroma tubuh Leonor yang begitu menenangkan dan parfume yang begitu lembut tercium di indra penciuman alex.
Berlari keluar melihat jejak kaki kecil mengarah ke sungai, ia berjalan menyusuri sungai mengikuti jejak kaki Leonor yang berbekas ditanah akibat hujan.
Langkah kaki Leonor semakin menjauh ke bahwa sungai.
Leonor duduk sejenak melihat kanan kiri, siapa tahu ada yang bisa ia makan, karena sudah jam 9 pagi.
"Aku sangat lapar! Rasanya aku sudah tidak kuat untuk berjalan lagi" gumam Leonor
Tidak menemukan apapun yang bisa dimakan, Leonor turun meminum air sungai untuk mengganjal perutnya sampai dia bisa keluar dari hutan ini.
Dari kejauhan alex melihat sebuah bayangan samar-samar bergerak.
Ia pelan-pelan mendekati pohon besar didekat sungai, bersembunyi disana melihat Leonor meminum air sungai.
Hatinya tersentil melihat apa yang dilakukan Leonor, melihat penampilan Leonor, ia menduga gadis itu menjalani harinya dengan buruk.
Alex kaluar dari balik pohon besar itu, mendekati Leonor.
Leonor belum melihat alex berjalan mendekati nya.
"Leonor!"
Panggil alex dengan pelan, entah kemana sifat egois nya.
Leonor membeku ditempat nya mendengar suara itu, tidak mungkin tidak mengenal suara itu.
Bohong jika ia tidak merindukan suara itu, cairan bening lolos begitu saja dari ujung matanya
Berbalik melihat alex berdiri di pinggir sungai menatap nya.
Belum ada jawaban dari Leonor, ia takut melihat alex disini.
Ia belum siap untuk bertemu lagi dengan alex, namun takdir membawa alex menemukan nya lagi.
"Leonor!" Panggil lagi alex sedikit meninggi, melihat Leonor hanya diam membeku.
Leonor keluar dari sungai mendekati alex, namun takut alex menyakiti nya lagi.
"Tolong jangan menyiksa ku, hukum saja aku dengan cara apapun, tapi jangan menyiksa ku alex" ujar Leonor nada nya sedikit bergetar, ia sangat takut berurusan dengan alex pria kejam ini.
Melihat Leonor menangis ia juga ikut menangis, bingung dengan perasaan nya sendiri.
"Berdiri Leonor, aku tidak menyuruh mu berlutut" Suara alex terdengar dingin.
Leonor masih duduk, tidak berani berdiri. Jika disiksa lagi lebih baik dia langsung ditembak mati saja.
"Bangun!"
Bentak, Alex mencengkram kedua tangan Leonor dengan kasar menarik nya berdiri.
"Kumohon ini sakit" ujar Leonor nyaris seperti bisikan, matanya berkaca-kaca.
"Aku tahu aku salah, karena kabur dari rumahmu kemarin, aku tidak tahan dengan nya" ucap Leonor lagi
Alex baru melihat lebam biru di kelopak mata Leonor, membengkak dan menutupi mata nya.
Ia mengepalkan tangannya melihat luka-luka dan bekas memar yang membiru hampir di seluruh tubuh gadis itu.
"Auhhh...Kumohon! Peganganmu menyakiti ku Alex" pinta Leonor pelan
Mengabaikan permohonan Leonor ia menarik nya, membawa Leonor dari tapi sungai itu kembali namun Leonor bersikeras tidak mau kembali.
"Aku tidak mau kembali kerumah itu Alex..aku mohon padamu! Lakukan apapun yang kau mau, asal jangan membawaku kembali kerumah itu...aku takut" ujar Leonor
"Jangan bermain-main dengan ku"
"Bunuh aku sekarang, akhiri penderitaan ku, aku tidak kuat lagi" Lanjut Leonor air matanya tidak berhenti keluar.
Alex mengambil pistolnya mengarahkan tepat di kening Leonor.
Ia maju mendekati Alex, melihat tatapan mata itu dengan sayu nyaris melemahkan Alex.
"Akhhhh!!.."
DOR! DOR! DOR!
Teriak Alex melampiaskan emosinya dengan menarik pelatuk ke arah pepohonan sampai menghabiskan amunisinya.
Leonor takut melihat kemarahan diraut wajah Alex, ia mundur beberapa langkah takut alex menyakiti nya.
"Berhenti ditempat" Ucap alex tegas
Leonor menggelengkan kepala takut melihat alex, ia mundur dan berlari meninggalkan alex.
Alex berlari mengejar Leonor hingga menarik tangan nya dengan kasar, Leonor reflek berbalik menabrak dada bidang Alex.
"Hiks...lepaskan aku, biarkan aku kembali" ujar Leonor.
"Kembali kemana? Bukankah kau akan kembali bersama ku kerumah"
Leonor menggelengkan kepala nya menolak kembali.
"Kerumahku, biarkan aku menjalani hidup dengan tenang"
"Rumah mana yang kamu maksud? Kolong jembatan? atau pinggir jalan?" ujar Alex mempertahankan posisi Leonor dihadapkan, ia merangkul kuat pinggang Leonor.
ucapan Alex tanpa sengaja menyakiti Leonor, menggoreskan luka lagi di hati perempuan malang itu.
"Ha ha haa, aku hampir lupa, memang aku tidak punya rumah, jadi aku harus tidur dikolong jembatan" Tawa Leonor, walapun tawa itu terdengar hambar dan terpaksa.
"Karena aku tidak punya rumah maka lepaskan aku, biarkan aku tidur dikolong jembatan, aku sudah terbiasa dengan gelapnya malam sendiri" Lanjut Leonor.
"Hidupmu menyediakan sekali nona"
"Menyedihkan sekali sampai kamu mengasihani ku pak Alexander Smith"
ucap Leonor kuat, namun dalam hatinya dia sangat rapuh seperti kayu lapuk, ditekan kuat maka ia akan hancur.
***bersambung***
Heheheh selamat menikmati 🤗
makasih thorr cerita mu sgt bagus