Bagaimana jadinya seorang Master beladiri yang terkenal dengan ketegasan dan disiplin tiba-tiba masuk ke dalam dunia novel yang memiliki cerita sedih di mana pemeran utamanya hidupnya tragis.
Kisah di dalam novel itu adalah seorang istri sah mati di tangan pelakor. Semasa hidupnya ia hanya alat tukar uang oleh ibunya dari keluarga suaminya. Bahkan keluarganya tahu kalau suaminya punya istri baru dan tidak peduli jika ia di siksa oleh suami. Yang penting adalah, UANG!
Akhir cerita sad ending yang sangat memilukan membuat para pembaca ikut menangis, tapi setelah sang Master di tarik ke dunia novel, akankah ia bisa mengubah jalan cerita yang menyedihkan itu? Atau tetap mengalami nasib yang tragis?
Yang penasaran dengan kisahnya yuk baca ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
......❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️......
......Happy reading......
......☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️......
"Wah, enaknya makanan ini," gumam Glarissa merasa amat senang. Tak sia-sia ia menolong dia bocah itu tadi, ternyata ia mendapatkan makan enak ini.
"Oh ya Nona Glarissa, mulai kapan Anda berlatih bela diri?" tanya Alzeno penasaran.
Mulut Glarissa berhenti mengunyah dan mengingat masa lalunya. "Oh, itu sejak aku umur lima tahun."
"Wah, masih sangat belia sekali ya, pantas saja Anda sangat kuat bahkan tidak takut berhadapan dengan penjahat memiliki senjata api," puji Alzeno kagum.
"Iya, saya mendengar suara lewat suara angin, jika saya tidak punya kemampuan itu, mungkin sekarang saya yang sudah terbaring di bawah," ucap Glarissa tertawa renyah.
Alzeno tersenyum, ia merasa terhibur oleh ocehan Glarissa. Ia merasa nyaman mendengar cerita Glarissa yang terus mengoceh itu, tanpa sadar cemilan yang seabrek itu habis di makan Glarissa.
Saat Glarissa ingin mengambil lagi, tangannya menyentuh piring yang kosong itu. "Eh susah habis ya. He he he, kalau begitu saya permisi dulu deh Tuan, kapan-kapan kita mengobrol lagi ya, tapi jangan lupa siapin cemilan enak lagi ya," ucap Glarissa cengengesan.
Alzeno mengangguk tersenyum. "Mari Nona saya antar," ucap Alzeno.
Alzeno dan Glarissa pun berjalan keluar dari rumah Alzeno dan Glarissa pun masuk ke dalam mobilnya.
Perlahan-lahan mobil Glarissa melaju di jalanan, setelah mobil Glarissa menjauh, baru Alzeno ingat untuk meminta nomor ponsel Glarissa, Karena agar ia gampang menghubungi Glarissa tetang latihan kedua keponakannya.
"Nona Glarissa! Minta nomor telponnya!" teriak Alzeno. Tapi mobil Glarissa sudah melaju jauh.
"Ehem!" Alfa dan Almost yang melihat pamannya itu yang masih berdiri di depan teras melihat kepergian Glarissa yang sudah hilang dari pandangannya.
Alzeno melihat ke arah kedua keponakan yang sedang mengintip di balik pintu itu sambil cengengesan.
"Ngapain kalian di sana? Kok belum tidur?" tanya Alzeno menatap kedua keponakannya itu.
Alfa dan Almost keluar dari persembunyiannya. "He he he he, kalau kami tidur mana mungkin kami melihat Paman minta nomor ponselnya kak Glarissa," goda Alfa sambil menaikkan turunkan alisnya.
Alzahro menatap keponakan itu dengan tatapan sayu. Entah sejak kapan kedua bocah itu pandai menggodanya.
Alzeno bercekak pinggang. "Heh dengar! Kalau aku tidak minta nomor ponselnya, bagaimana aku bisa menanyakan jadwal latihan kalian." Alzeno pun berjalan melewati kedua anak itu meninggal mereka di teras.
"Eh iya ya, bagaimana kita bisa menghubungi Kak Glarissa, mana tempatnya juga nggak tau di mana! Pamaaaaaaaaaaaaan! Kamu harus mencari alamat rumah kak Glarissa dong!" rengek Alfa dan Almost berlari mengejar Alzeno yang sudah masuk ke dalam kamarnya itu.
Di perjalanan pulang, Glarissa menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Wah benar-benar tidak menyangka, jika di dunia novel ini ada orang yang benar-benar kaya. Kira-kira uang yang aku hasilkan di dunia novel ini bisa nggak ya ku bawa ke dunia nyata ku?" tanyanya berpikir.
Malam semakin pekat, jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Jalan yang di lewati itu juga sudah mulai sepi.
Krasak krusuk!
Terdengar suara dari balik semak-semak, tapi sedikitpun Glarissa tak peduli. Glarissa terus melakukan mobilnya.
Dari kejauhan, ia melihat sebuah motor yang sengaja di letakkan di tengah jalan. Mau tak kau Glarissa memelankan laju mobilnya.
"Hey berhenti!" teriak 4 orang pria yang sedang membawa balok kayu, sepertinya mereka ada tukang begal.
Mobil Glarissa berhenti, seorang pria mendekati jendela mobil Glarissa dan mengetuknya.
Duk! Duk! Duk!
"Hey buka pintunya! Berikan semua uang mu! Kalau kamu tidak mau kami bunuh!" ancam pria tersebut.
Perlahan-lahan jendela mobil Glarissa terbuka, Glarissa mencium ada bau lem dari mulut pria itu, ia menutup hidungnya karena baunya sangat menggangu.
"Ughhhhh! Kamu ngelem ya? Bau banget!" gerutu Glarissa mengibaskan tangannya di dekat hidungnya.
"Maka dari itu, kamu cepat beri uang mu pada kami kalau kamu mau lewat dengan selamat," ucap pria itu sambil meletakkan balok kayu itu di bajunya.
Wajah Glarissa menjadi manyun, ia keluar dari mobilnya. "Cih! Dasar sampah masyarakat! kalo sampah masyarakat ya sampah saja, tapi jangan menganggu kenyamanan orang lain dong!" omel Glarissa tidak menyukai mereka.
Bukan hanya bau lem, tapi juga ada bau alkohol dari bau mulut pria lain.
......❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️......
jadi samsak yang ada dia....
saingan dong sama mba kun-kun...🤭
skalian nyoba2 akting bagus gak 😂😂😂
drama nya......
semoga sukses ya.....💪💅
dikit banget up nya.