#penghianatan
Dia pergi meninggalkan keluarganya karena sakit hati, wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain yang usianya jauh di atas dirinya. Setelah kembali, dia menyadari jika semua yang terjadi pada kekasih hatinya tidaklah seperti yang dinilainya selama ini. Padahal dia sendiri sudah menikahi wanita lain, bahkan memiliki banyak hutang.Apakah benar, hidup sebercanda ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaji Pertama
Gaji Pertama
“Aataghfirullah Bang Gani! Kalau bisa memilih, aku juga nggak mau jadi madu pahit, yang di madu dan yang jadi madu sama-sama pahit, Bang. Sekali lagi jangan menilai orang dari apa yang hanya bisa kita lihat dari luar. Kalau bukan karena Abah dan Ambuk, aku nggak akan mau jadi istri Pak Anwar!”
Setelah bicara seperti itu, Usfi menutup pintu mobil dengan keras, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Gani menggigit bibir bawahnya, karena cemas dan juga menyesal, karena ucapannya sangat jelas membuat Usfi sedih. Dia melihat bulir bening menggenang di mata gadis itu.
Namun, penyesalan Gani tidak akan merubah apa pun dari yang sudah terjadi pada Usfi. Dia hanya bisa mengusap wajahnya kasar, sambil berjalan dan pulang ke rumah.
Di mana rumah adalah tempat ternyaman untuk menumpahkan segala kesal dan amarah, tempat yang paling ideal bagi seseorang untuk bisa jadi diri mereka sendiri, tanpa khawatir ada orang lain di luar sana yang tahu, siapa kita sebenarnya, jika berada di dalamnya.
Semua pembicaraan yang secara tidak sengaja didengar Gani dari Usfi dan Noura tadi, membuat hatinya terpukul, karena kenyataan tidak sama dengan apa yang dia pikirkan dahulu, bahwa, Usfi terlalu materialistis dan, tidak memikirkan hubungan dekat mereka.
Memang dia tidak pernah jujur mengatakan perasaannya tapi, dia selalu menunjukkan pada gadis itu, kalau dia menyukainya dan, tengah berusaha untuk menjadi pria yang pantas menjadi pendampingnya.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau pernikahan Usfi, hanya karena balas budi dan berbakti pada kedua orang tua, seperti perintah dalam agama. Jauh dari prasangkanya selama ini. Dia berharap Usfi pun masih menyukainya sampai sekarang.
Gani menyisir rambutnya dengan jari tangan, saat dia bersimpuh di atas sajadah dan, berusaha mendinginkan hati. Dia sadar, kalau Usfi benar-benar baik dan menikah demi kebaikan pula, sama sekali bukan karena harta.
Dia sangat merasa bersalah dan menyesal, tidak seharusnya dia pergi lalu, jadi manusia tidak berguna seperti saat ini. Harusnya dia berbuat lebih baik dan lebih sukses, lalu, menjaga Usfi dari jauh, karena sampai kapan pun perasaan itu, sepertinya tidak akan hilang begitu saja.
Namun, dia bukan pebinor yang menebar pesona agar seorang istri berpisah dari suaminya, karena tergoda olehnya. Zaman sekarang ketampanan saja tidak cukup, karena di mana-mana para wanita sudah tahu bahwa, mereka tidak akan kenyang dengan makan cinta.
Akh! Gani mendecak pelan, dia tidak akan melakukan perbuatan yang, menjadi prestasi tertinggi bagi setan penggoda manusia, yaitu menghancurkan sebuah rumah tangga.
“Gani, Gani, lebih baik berbuat kebaikan untuk kebaikan juga, daripada mikir yang nggak-nggak, semua yang terjadi pada Onah sekarang, sudah jadi takdirnya aku tidak bisa menggodanya agar berpisah dari Pak Anwar ... Kemungkinan dia pasti akan menjaga pernikahannya, sekuat-kuatnya. Walaupun, dia jadi istri kedua dan mengalami hal yang tidak enak.” Gani berkata pada dirinya sendiri, seraya pergi ke tempat tidur dan merebahkan diri.
Dia lebih khawatir apabila Usfi memecatnya maka, dia tidak tahu harus bekerja apa. Padahal selama ini pun, dia sudah menahan malu sebagai seorang lulusan sarjana, mantan pegawai negeri tapi, sekarang bekerja menjadi kuli.
Malam itu, setelah Gani makan malam dan membersihkan diri Dia menghabiskan waktu, untuk berzikir dan merenungi kembali kehidupannya.
Lalu muncullah tekad kalau dia sudah bekerja selama satu bulan dan mendapatkan uang gaji, dia akan kembali ke kota metropolitan mengambil semua barang-barangnya dan menjual motor peninggalan ayah mertua, itu pun kalau disetujui oleh istri dan ibu mertuanya.
Dia berencana menemui istri dan anaknya setelah itu, karena sudah hampir tiga bulan mereka tidak bertemu.
$$$$$$$$
Tanpa terasa satu bulan sudah Gani bekerja menjadi pegawai Usfi di sana. Sejak pertemuan malam itu, mereka berdua bersikap seolah-olah tidak saling mengenal satu sama lain, tidak ada kontak dan komunikasi sekalipun.
Bahkan, sudah sepekan ini Gani tidak melihat Usfi datang di tempat mereka bekerja. Hanya ada Joko yang bertugas menjadi penggantinya. Dia sebenarnya penasaran ke mana wanita itu selama ini, tapi dia enggan menanyakannya pada siapa pun, karena malu sekaligus khawatir dituduh ikut campur urusan orang.
“Apa dia sakit?” tanya Gani pada dirinya sendiri.
Sampai tiba waktunya dia mendapatkan gaji yang dijanjikan, sesuai jadwal hari itu. Semua orang yang bekerja di sana pun mendapatkan jatah mereka masing-masing.
Gani sengaja mengambil urutannya yang terakhir agar bisa bebas menanyakan tentang Usfi pada Joko.
“Ini gajimu ya Gan, sama seperti yang lainnya padahal kamu baru bekerja,” kata Joko sambil memberikan sebuah amplop putih, pada Gani yang berdiri di depan mejanya.
Saat itu, semua orang sudah pergi, tinggal dua orang sopir truk yang belum berangkat membawa barang mereka, karena menghabiskan sisa kopi.
“Kok, begitu, Pak. Apa nggak apa-apa?” tanya Gani.
“Oh, kalau soal gaji bukan aku kok yang ngatur, semua sudah dari Bu Usfi!”
“Oh, terima kasih ya Pak!”
“Ya! Sama-sama!”
“Pak, kalau boleh tanya, memangnya ke mana Bu Usfi, sudah seminggu ini kok nggak kelihatan?” Tanpa lagu-lagu Gani menunjukkan rasa penasarannya yang sudah lama dia simpan selama sepekan ini.
“Wah, mana aku tahu, Gan! Uang gaji para pegawai sudah dia siapkan sebelum menghilang, aku ke rumahnya aja nggak ada, ditelepon juga nggak bisa! Kalau kamu punya nomor Bu Usfi, coba telepon sana, siapa tahu kalau kamu yang telepon Bu Usfi mau mengangkatnya!”
“Nggak, Pak, saya nggak tahu nomornya! Oh ya, Pak ... saya boleh izin seminggu, ada hal penting yang harus saya urus di kota Pak,” kata Gani sambil tersenyum malu-malu karena baru sebentar bekerja sudah minta izin.
“Kenapa, Gan? Kamu kan pegawai baru, udah mau bolos kerja!”
“Maaf, Pak ... saya kemarin pulang itu nggak sempat bawa apa-apa, semuanya masih ada di sana, terus saya langsung kerja sampai sekarang, kalau boleh, bulan depan potong aja gaji saya.”
“Kalau soal gaji itu, sekali lagi urusannya Bu Usfi, termasuk mengizinkan cuti, boleh atau tidak, tapi, karena sekarang Ibu nggak ada ... jadi ya, terserah kamu aja! Kalau kamu nanti pulang, tinggal bilang aja sama Bu Usfi, nggak masalah potong gaji!”
“Iya, Pak, terima kasih!”
Tanpa berpikir panjang lagi, Gani pergi ke kota metropolitan malam itu juga, menggunakan kereta. Pada keesokan harinya dia segera menyelesaikan segala urusan, menjual motor langsung pada tempat jual beli motor bekas.
Setelah itu, dia langsung pergi ke kampung halaman Ibu mertuanya, untuk menyerahkan uang penjualan motor mereka.
Sesampainya di kampung halaman Ibu mertua, pria itu merasa lega. Walaupun, dia belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana, tetapi, Gani tidak kesulitan mencari alamat rumah yang ditinggali oleh keluarganya itu.
“Wah, Gani, kamu di sini?”
Bersambung
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️
lanjut baca dulu ya...